
Anggarawati tersenyum saat mendengar perkataan Mpu Narasima.
"Aku siap Mpu, asal Kakang Watugunung bisa berlatih. Toh kalau nanti aku jadi istri nya, pasti aku lebih terlindungi kalau Kakang Watugunung menjadi lebih hebat", ujar Dewi Anggarawati sambil tertunduk malu.
"Jadi kau belum jadi istri nya?", Mpu Narasima memandang kearah Panji Watugunung.
"Kakang Watugunung bilang kalau sudah jelas tujuan guru memanggil nya, dia akan menikahi ku Mpu", jawab Anggarawati sambil melirik Watugunung yang hanya senyum-senyum.
Ratna Pitaloka segera berkata, "Dinda Anggarawati, bukan kau saja yang akan jadi istrinya. Aku dan Mayang juga".
Semua orang terkejut mendengar kata kata Sekar Mayang. Mpu Sakri hanya tersenyum simpul, sedangkan Warigalit melongo.
Mpu Sakri sudah merasa saat Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang memaksa nya untuk mengijinkan mengirim surat kepada Bupati Gelang-gelang tempo hari.
"Sebenarnya tujuan ku memanggil kalian semua adalah agar kalian berlatih keras. Ada sebuah rencana jahat yang tersusun saat ini", ucap Mpu Sakri dengan mimik wajah serius.
"Rencana jahat apa guru?", Warigalit langsung bertanya.
Huhhhhhh..
Resi Mpu Sakri menghela nafas panjang.
"Ada sebuah rencana dari raja muda Mapanji Garasakan untuk menyatukan Kahuripan lagi".
"APAAAAA???!!"
Semua orang berteriak kaget.
"Bukankah itu berarti akan terjadi perang saudara guru?", Panji Watugunung segera paham.
Mpu Sakri mengangguk pelan.
Semua orang terdiam memikirkan semua nya.
"Yang lebih buruk, Mapanji Garasakan mengumpulkan tokoh tokoh dunia hitam untuk membantu tujuan nya", Mpu Sakri memandang kearah langit .
Mpu Narasima kemudian berkata", Tidak ada cara lain selain berlatih keras untuk melindungi diri dari bahaya peperangan ini".
"Kita hanya punya waktu selama Prabu Airlangga masih belum turun dari tahta Kakang", sahut Mpu Sakri.
"Aku tau Sakri, mulai besok aku akan khusus melatih murid mesum mu ini dengan keras hehehehe", Mpu Narasima terkekeh kecil.
Panji Watugunung memerah wajahnya, hanya menunduk malu.
"Paman Guru, mohon jangan menghina kakang Watugunung. Dia orang baik. Kami sendiri yang memilih nya untuk menjadi suami kami. Tidak ada yang memaksa kami dan malah kami yang memaksa Kakang Watugunung menerima kami", ujar Sekar Mayang yang dari tadi tak banyak bicara.
"Aku tau aku tau, aku hanya iseng meledeknya", Mpu Narasima tertawa kecil.
Suasana di sore itu semakin meriah. Setelah puas bercakap cakap, semua menjalankan kegiatan masing-masing.
Sekar Mayang, Dewi Anggarawati dan Ratna Pitaloka menata dan membersihkan kamar tidur mereka.
Sedangkan Panji Watugunung, Mpu Sakri, Mpu Narasima, Warigalit dan Ratri bergegas menuju kediaman Mpu Wanabaya, melaporkan kedatangan mereka.
Mpu Wanabaya, sesepuh Padepokan Padas Putih begitu gembira melihat Mpu Narasima kembali ke padepokan.
"Adik Narasima, aku bahagia sekali kau pulang. Beban hatiku serasa hilang", Mpu bicara dengan mata berkaca-kaca.
"Aku hanya melaksanakan wasiat menantu ku kakang, sampai kapan aku disini aku tidak tau", sahut Mpu Narasima kemudian.
"Setidaknya kita sudah berkumpul kembali, aku harap adik kerasan tinggal di sini", Mpu Wanabaya penuh harap.
"Iya Kakang, tapi untuk saat ini aku akan tinggal di tempat Sakri bersama cucu ku".
"Baiklah, yang penting adik kerasan di sini.
__ADS_1
Adi Sakri, aku titip Adik Narasima di tempat mu", ujar Mpu Wanabaya.
"Iya Kakang Wanabaya, terima kasih untuk kepercayaan kakang", jawab Mpu Sakri tersenyum.
Mpu Wanabaya kemudian memandang kearah Panji Watugunung.
"Watugunung aku berterimakasih kepada mu".
Semua orang di serambi kediaman Mpu Wanabaya terkejut.
"Untuk apa paman guru berterimakasih pada murid?, Murid tidak merasa melakukan bakti untuk padepokan", Watugunung kebingungan.
"Hehehehe, jangan kira aku tak tau. Pendekar Pedang Naga Api yang mengobrak abrik markas Kalajengking Biru kau kan orangnya?", Mpu Wanabaya tersenyum penuh arti.
Semua orang kembali terpana.
"Maaf paman guru dengar darimana?", kembali Watugunung bertanya.
"Berita itu sudah tersebar luas. Saat kau melakukan nya, Dewi Kalajengking Biru dan beberapa sesepuh nya sedang di Lewa. Di pertemuan para pendekar golongan hitam. Kau kesana menyelamatkan nyawa murid ku, Tunjung Biru. Dari itu, aku berterimakasih kepada mu", Mpu Wanabaya menjelaskan semuanya.
"Murid hanya membantu Akuwu Watugaluh paman guru, jadi murid tidak sendiri", Panji Watugunung merendah.
"Hehehehe aku tau, tapi kau mampu menghabisi Tangan Kalajengking. Itu bukan hal mudah.
Adik Sakri, murid didikan mu luar biasa. Kau harus menambah ilmu kanuragan nya agar kelak mampu menjadi jagoan tanpa tanding dan mengharumkan nama Padepokan Padas Putih", ujar Mpu Wanabaya kemudian.
"Aku mengerti Kakang", Mpu Sakri tersenyum bangga.
Mereka berbincang sampai senja. Selepas itu, mereka mundur dari kediaman Mpu Wanabaya.
Malam itu semua orang telah beristirahat, kecuali Panji Watugunung dan Mpu Narasima yang masih di serambi kediaman Mpu Sakri.
"Bocah bagus, malam ini akan ku mulai menurunkan ilmu ku Ajian Tameng Waja pada mu.
"Baik paman guru", Panji Watugunung segera duduk bersila. Membuka pancandriya, mengosongkan pikiran, dan memusatkan tenaga dalam nya di satu titik.
Mpu Narasima kemudian memusatkan tenaga dalam Ajian Tameng Waja di tangan kanan nya.
Sinar kuning keemasan muncul keluar melingkar di tangan Mpu Narasima, lalu pria sepuh berbadan kekar itu segera meletakkan tangan kanan nya diatas kepala Watugunung.
Sinar kuning keemasan segera melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung. Rasa panas menyengat dirasakan Panji Watugunung di sekujur tubuh. Keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya. Seluruh pori pori tubuh nya terasa hangat.
Mpu Narasima segera menarik tangan. Menghela nafasnya dan menata tenaga dalam nya.
Sinar kuning keemasan yang melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung perlahan memudar dan merasuk ke dalam tubuhnya.
Panji Watugunung menghela nafas lega.
"Bocah bagus, tidak sia sia aku menurunkan Ajian Tameng Waja ku pada mu. Tenaga dalam mu tinggi, akan mempercepat proses penguasaan ilmu ini", ujar Mpu Narasima tersenyum tipis.
"Terimakasih paman guru", Panji Watugunung bersujud kepada Mpu Narasima.
"Bocah bodoh, sekarang kau sudah menguasai Ajian Tameng Waja tahap pertama. Namanya Waja Bumi. Tubuh mu tidak akan terpengaruh pukulan dengan tenaga dalam rendah. Semua nya ada Empat tahap. Waja Bumi, Waja Petir, Waja Langit dan Waja Dewa. Saat kau menguasai ilmu ini sampai tahap Waja Dewa, tubuh mu tidak akan terluka oleh serangan ilmu kanuragan tingkat tinggi maupun benda pusaka ampuh sekalipun" , jelas Mpu Narasima.
"Dengan tenaga dalam mu sekarang, kau akan bisa cepat menguasai tahap Waja Dewa dalam waktu dua bulan. Malam ini bersemedi lah, biarkan tenaga dalam Tameng Waja menyebar merata di setiap bagian tubuh mu", timpal Mpu Narasima.
"Perintah paman guru akan murid laksanakan", ujar Panji Watugunung hormat.
Mpu Narasima kemudian bergegas menuju kamar peristirahatan nya.
Sementara Panji Watugunung tetap duduk di serambi rumah kediaman Mpu Sakri. Dia bersemedi sampai pagi menjelang.
Demikianlah, selama dua bulan Panji Watugunung dilatih oleh Mpu Narasima. Sedangkan Mpu Sakri melatih ketiga muridnya dan membantu Dewi Anggarawati melatih ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam nya.
**
__ADS_1
Sementara itu di Dahanapura, hari itu , tahun 1042 Masehi atau Surya Sengkala Kembar Tirta Sirnaning Nata, Sang Prabu Airlangga mengumumkan pengunduran diri dari tahta kerajaan Kahuripan.
"Dengan ini, aku mengumumkan kepada segenap rakyat Kahuripan,
Bahwa aku Sri Maharaja Rakai Halu Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa mengundurkan diri dari keduniawian dan takhta Kahuripan.
Kahuripan aku bagi dua, di Kahuripan barat menjadi kekuasaan putra ku Sri Maharaja Samarawijaya.
Sedangkan Kahuripan timur menjadi kekuasaan putra ku Sri Maharaja Mapanji Garasakan.
Selanjutnya aku akan menjadi pertapa di lereng gunung Penanggungan dengan nama Resi Aji Paduka Mpu Sang Pinaka Catraning Buana".
Seluruh pembesar istana Kahuripan menangis mendengar suara dari Airlangga.
Kemudian Airlangga turun dari singgasananya, berjalan mengendarai gajah meninggalkan istana Kahuripan menuju pertapaan di lereng gunung Penanggungan.
Semua abdi setia termasuk Mpu Narotama dan Ranggawangsa mengiringi perjalanan beliau. Narotama memilih mengikuti langkah Airlangga menjadi pertapa sesuai sumpah janji nya.
Sedangkan beberapa pembesar istana seperti Dyah Bayunata diangkat menjadi Patih kerajaan Jenggala. Jayakerti menjadi pendukung setia Samarawijaya dan diangkat menjadi Patih kerajaan Panjalu.
Sejarah mencatat peristiwa itu sebagai titik balik untuk dua putra Airlangga berdamai tapi merupakan awal perang saudara di Kahuripan.
Mapanji Garasakan sangat bernafsu untuk menyatukan wilayah Kahuripan di bawah pemerintahannya, namun Samarawijaya tidak tinggal diam dengan nafsu angkara murka saudara tirinya.
**
Panji Watugunung menghembuskan nafas panjang usai memastikan tahap empat ilmu Tameng Waja sudah sempurna di tubuhnya.
Tebasan pedang bertenaga dalam tinggi Ratri hanya mampu merobek bajunya. Padahal ilmu kanuragan Ratri setingkat dengan ilmu Sekar Mayang. Sinar kuning keemasan terlihat melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung saat pedang Ratri mengincar dada Watugunung.
Mpu Narasima tersenyum puas melihat kemampuan ilmu Tameng Waja dari Watugunung.
'Bocah bodoh ini akan menjadi pendekar pilih tanding'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau ada kesalahpahaman dalam pembahasan sejarah, author minta maaf guys.
Ini hanya cerita novel sejarah menurut pandangan author pribadi, tidak mewakili opini pihak manapun.
Happy reading guys 😁🙏😁🙏
__ADS_1