Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Masalah Keluarga Warigalit


__ADS_3

"Warigalit?


Maksud Brahmana Kakang Warigalit itu saudara brahmana?", tanya Panji Watugunung dengan penuh penasaran.


"Benar kisanak.


Warigalit itu adik ku. Perkenalkan nama ku Warigagung. Kakak kandung dari Warigalit.


Kalau boleh tau, siapa kisanak ini?", tanya brahmana muda yang mengaku bernama Warigagung itu segera.


"Aku adik seperguruan Kakang Warigalit, Kisanak.


Kalau kau ingin menemui adikmu, aku bisa mengantar mu ke tempat tinggal kakak seperguruan ku itu", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum.


"Kalau tidak merepotkan mu, aku sangat berterimakasih kisanak", Brahmana muda itu segera membungkuk dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Mari aku antar kesana", ujar Panji Watugunung sambil melangkah menuju ke kediaman Warigalit. Brahmana muda itu segera mengikuti langkah Panji Watugunung.


Tak berapa lama kemudian, mereka memasuki sebuah rumah yang besar di barat istana Katang-katang.


Dua orang penjaga gapura langsung memberikan jalan kepada Panji Watugunung saat Yuwaraja Panjalu itu masuk kesana. Warigagung sedikit terkejut melihat itu semua.


Sesampainya di serambi kediaman Warigalit, si empunya rumah sedang asyik bercakap dengan istri nya yang sedang hamil 4 bulan.


Melihat kedatangan dua orang itu, Warigalit terkaget sejenak. Segera dia berjalan mendekati Panji Watugunung dan Warigagung.


"Dhimas Pangeran Jayengrana,


Kenapa kemari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?", tanya Warigalit segera.


Mendengar pertanyaan itu, Warigagung terbelalak matanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau lelaki tampan yang berbaju bangsawan ini adalah Pangeran Jayengrana, Yuwaraja alias Raja Muda Panjalu.


"Ah sudahlah Kakang, aku hanya mengantar brahmana muda ini. Katanya dia mengaku sebagai saudara mu, makanya aku mengantar nya kemari", jawab Panji Watugunung dengan santainya.


"Selamat datang di Dalem Kasenopaten, Gusti Pangeran Jayengrana.


Mohon maaf jika sambutan nya kurang berkenan", ujar Ratri yang sudah berbadan dua. Wanita cantik ini berusaha untuk menyambut kedatangan Yuwaraja Panjalu itu.


"Ini lagi. Berulang kali sudah ku katakan, jangan terlalu banyak adat di hadapan ku. Ingat kita itu masih saudara seperguruan.


Jadi Kangmbok Ratri jangan terlalu bersikap seperti itu kepada ku", sergah Panji Watugunung segera.


"Maaf jika tadi hamba merepotkan Gusti Pangeran Jayengrana. Jujur saja hamba tidak tahu berhadapan dengan siapa", sahut Warigagung sambil membungkuk hormat.


"Sudahlah brahmana muda.


Kakang,


Kau tidak mempersilakan kami duduk?", tanya Panji Watugunung segera.


"Aih sampai lupa.


Mari silahkan Dhimas Pangeran dan Kakang Warigagung", ujar Warigalit sambil tersipu dengan omongan Panji Watugunung.


Mereka kemudian segera duduk bersila di lantai serambi kediaman Warigalit, sementara Ratri melangkah menuju ke dapur. Dua wanita yang merupakan dayang di Dalem Kasenopaten segera membantu Ratri menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk para lelaki yang ada di serambi kediaman Warigalit.


"Jadi benar brahmana muda ini adalah saudara mu Kakang Warigalit?", tanya Panji Watugunung sembari menatap ke arah brahmana muda itu.


"Benar Dhimas Pangeran,


Dia adalah kakak kandung ku yang diangkat anak oleh Mpu Sukmaningrat dari Pertapaan Gunung Srabah di wilayah Kadipaten Karang Anom.


Mpu Sukmaningrat adalah kakak kandung ayahku, Resi Maespati dari Pertapaan Lembah Hijau di Utara Sungai Brantas, di selatan Pakuwon Janti Kabupaten Gelang-gelang", Warigalit menerangkan tentang asal usul nya pada Panji Watugunung.


Hemmmm


"Lantas ada angin apa yang membawa mu jauh-jauh kemari saudara Warigagung? Tentu kau kemari tidak hanya sekedar berkunjung bukan?", tanya Panji Watugunung pada Warigagung yang duduk di sebelah Warigalit.


Warigagung sedikit berubah raut wajahnya saat mendengar pertanyaan Panji Watugunung. Brahmana muda yang berkumis tipis itu nampak menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Adik kami, Dewi Landhep akan di nikahkan dengan putra Akuwu Jungbiru di wilayah Kadipaten Karang Anom.


Tapi putra Akuwu itu menghilang sepekan sebelum dinikahkan. Ada cerita dia diculik oleh gerombolan Gagak Merah karena putri pimpinan nya jatuh hati pada putra Akuwu Jungbiru.


Kanjeng Romo Mpu Maespati meminta bantuan ku, untuk menemukan calon suami adik kami. Tapi aku hanya seorang brahmana, tidak memiliki kuasa atas kekuatan pemerintahan.


Lantas aku dengar bahwa Adhi Warigalit diangkat sebagai Senopati di wilayah Kayuwarajan Kadiri. Aku ingin minta tolong bantuan Adhi Warigalit untuk membantu menemukan putra Akuwu Jungbiru itu, karena markas Gagak Merah ada di wilayah Kadipaten Karang Anom, Gusti Pangeran", cerita Warigagung sambil menghormat. Wajah nya nampak sekali mengharapkan bantuan kepada Panji Watugunung.


Hemmmm


Panji Watugunung segera menghela nafas panjang. Kalau masalah ini dibiarkan, maka pemikiran Warigalit akan terpecah menghadapi persiapan besar-besaran untuk menanggulangi perang besar yang mungkin segera terjadi. Sedangkan Warigalit adalah tulang punggung utama pasukan Kayuwarajan Kadiri. Jika dia tidak dalam keadaan tenang, tentu akan berpengaruh terhadap kinerja nya.


"Akan ku bantu mengatasi permasalah ini.


Besok kita berangkat ke Lembah Hijau, sore setelah menyeberang sungai Brantas pasti sudah sampai di Kota Kadipaten Karang Anom. Kakang Warigalit sebaiknya berangkat sendiri, karena Kangmbok Ratri sedang hamil.


Urusan pemerintahan, Paman Patih Saketi dan para punggawa Kayuwarajan Panjalu sudah bisa menjalankan nya", Panji Watugunung menatap wajah Warigalit dan Warigagung yang langsung cerah mendengar ucapan Panji Watugunung.


Setelah berbincang hangat beberapa saat, Ratri dan 2 dayang Dalem Kasenopaten datang membawa minuman dan makanan untuk mereka.


Setelah puas bercakap-cakap, Panji Watugunung berpamitan kepada Warigalit dan Warigagung. Mereka berdua mengantar Panji Watugunung sampai di gapura Dalem Kasenopaten.


Malam itu, di istana pribadi nya Panji Watugunung memanggil semua istrinya untuk membicarakan masalah ini.


"Lantas, bagaimana tanggapan mu Dinda Anggarawati?", tanya Panji Watugunung pada permaisuri pertama nya itu.

__ADS_1


"Kangmas Panji sebaiknya berangkat. Kakang Warigalit itu saudara kita, susah senang bersama saat di Padepokan Padas Putih dulu. Kakang tidak boleh membiarkan dia dibebani masalah ini sendirian.


Ini menyangkut harga diri keluarga. Betapa malunya orang tua Kakang Warigalit jika putri mereka batal menikah", jawab Dewi Anggarawati dengan nada berapi-api.


"Benar Kangmas, Senopati Warigalit sudah banyak berkorban untuk kepentingan Kangmas, sudah selayaknya Kangmas membantu masalah ini sampai tuntas", sambung Ayu Galuh, Sang permaisuri kedua.


"Akang Kasep,


Harus bantu masalah eta sampai selesai. Senopati Warigalit teh tangan kanan Akang", timpal sang permaisuri ketiga, Naganingrum.


Keempat selir Panji Watugunung juga mengangguk tanda setuju.


"Kalau Akang Kasep berangkat, Naganingrum ikut ya Akang. Naganingrum teh tidak bisa jauh dari Akang Kasep", ujar Dewi Naganingrum sambil tersenyum malu-malu.


Huuuuuuu..


Terdengar riuh cemoohan dari para istri Panji Watugunung.


"Eh putri Sunda,


Bukan kamu saja yang tidak mau jauh dari Kangmas Panji, kami juga tidak mau", sergah Ayu Galuh sambil mendelik ke arah Naganingrum.


"Sudah jangan ribut.


Biar Naganingrum, Dewi Srimpi dan Kangmbok Pitaloka yang menemani Kangmas Panji Watugunung ke Karang Anom.


Yang lain, bantu mengawasi jalannya pemerintahan di Kadiri", pungkas Dewi Anggarawati dengan tegas. Semua istri Panji Watugunung langsung terdiam mendengar ucapan Dewi Anggarawati.


Mereka juga menyadari bahwa keputusan Dewi Anggarawati bukan atas dasar kemauan pribadi, tapi juga untuk kepentingan semuanya.


Dewi Srimpi adalah ahli racun dan pengobatan, itu sangat bermanfaat di saat Panji Watugunung dalam situasi berbahaya. Naganingrum petarung jarak dekat, bisa membantu jika ada musuh menyerang, sedangkan Ratna Pitaloka adalah pendekar wanita yang kemampuan nya setara dengan Warigalit, tentu sangat berguna dalam membantu menghadapi lawan berat.


Malam segera berganti pagi.


Pagi itu, Jarasanda yang dipanggil Panji Watugunung ke istana Kadiri, ikut berangkat ke Karang Anom dengan membawa 20 prajurit terlatih Pasukan Garuda Panjalu. Warigalit dan Warigagung ikut bergabung, setelah Warigalit berpamitan pada Ratri. Setelah itu, rombongan Panji Watugunung segera bergerak menuju ke arah selatan.


Setengah hari perjalanan berkuda, mereka sudah sampai di Pakuwon Janti. Dengan langkah cepat kuda kuda mereka, mereka menuju ke arah kediaman Mpu Maespati di Pertapaan Lembah Hijau.


Mpu Maespati segera berdiri dari duduknya saat seorang cantrik mengabarkan bahwa serombongan orang berkuda dengan pakaian bangsawan sedang memasuki pertapaan mereka.


"Kau tidak tahu siapa mereka, cantrik?", tanya Mpu Maespati pada anak murid nya itu.


"Maaf Kanjeng Resi,


Saya tidak sempat menanyakan nya", ujar si cantrik dengan nada bersalah.


Hemmmm


Kakek tua berjenggot lebat itu mengelus jenggotnya yang memutih, kemudian melangkah menuju ke arah gapura Pertapaan Lembah Hijau.


Aku pulang", ucap Warigalit yang segera bersujud kepada Resi Maespati.


"Oalah Ngger Cah Bagus..


Tak kira siapa yang datang. Ternyata putra ku sendiri yang mengunjungi ku.


Jagat Dewa Batara,


Inikah pertanda burung prenjak kemarin? Terima kasih Jagat Dewa Batara", ujar Resi Maespati yang langsung memeluk tubuh Warigalit. Mata tua kakek sepuh itu langsung berkaca-kaca.


Setelah hampir 10 tahun berpisah, kepulangan Warigalit ke Lembah Hijau benar benar membuat Resi Maespati bahagia.


Warigalit yang tersadar dari keharuan nya, segera mengusap air matanya.


"Romo,


Perkenalkan ini adalah Dhimas Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu. Dia adik seperguruan ku di Padas Putih", ujar Warigalit yang segera memperkenalkan Panji Watugunung pada Resi Maespati.


Mendengar nama Pangeran Jayengrana, Resi Maespati segera membungkuk hormat pada Panji Watugunung.


"Selamat datang di Pertapaan Lembah Hijau, Gusti Pangeran Jayengrana. Mohon maaf, Resi tua ini tidak menyambut kedatangan Gusti Pangeran Jayengrana dengan baik", ucap Resi Maespati dengan sopan.


"Tidak apa-apa Paman Resi. Toh kedatangan ku ini juga untuk membantu kepentingan Senopati Kadiri", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Senopati Kadiri? Apa maksudnya Gusti Pangeran?", tanya Resi Mpu Maespati segera.


"Adhi Warigalit ini sudah diangkat menjadi Senopati Kayuwarajan Panjalu di Kadiri Romo", sahut Warigagung yang ikut bangga dengan pencapaian Warigalit.


"Jagat Dewa Batara..


Begitu besar anugerah mu terhadap keluarga kami", Resi Maespati begitu senang mendengar ucapan Warigagung mengenai Warigalit.


"Gusti Pangeran Jayengrana, mari silahkan masuk.


Mohon maaf jika tempat kami sempit dan kotor, tidak seperti istana Kadiri", ujar Warigagung yang mempersilakan Panji Watugunung memasuki serambi kediaman Resi Mpu Maespati. Mereka segera melangkah menuju ke sebuah rumah besar yang menjadi kediaman keluarga Warigalit.


Kedatangan rombongan Panji Watugunung ke pertapaan segera memancing perhatian para cantrik dan warga di sekitar Lembah Hijau. Mereka berduyun-duyun datang ke Pertapaan Lembah Hijau hanya untuk melihat kedatangan Sang Yuwaraja Panjalu.


Nyi Ambarukmi, istri Resi Maespati dan Dewi Landhep turut bersukacita dengan kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya. Apalagi setelah mengetahui bahwa Warigalit diangkat menjadi Senopati Kadiri.


Siang itu, para prajurit pengawal mengamankan sekeliling pertapaan, sedang Panji Watugunung, Warigalit, Warigagung, Ratna Pitaloka, Dewi Srimpi, Naganingrum, Jarasanda dan Resi Maespati berbincang di serambi kediaman Resi Maespati.


Saat mereka sedang asyik bercakap, dari dalam rumah Dewi Landhep keluar membawakan makanan di bantu beberapa cantrik perempuan.


Kecantikan wanita itu langsung membuat Jarasanda terpana beberapa saat.

__ADS_1


Setelah mereka makan, Panji Watugunung segera mengutarakan maksud kedatangan mereka.


Resi Maespati menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Hamba sangat berterimakasih kepada Gusti Pangeran Jayengrana yang turun tangan untuk membantu masalah keluarga kami.


Akuwu Jungbiru sendiri sudah angkat tangan untuk masalah ini. Sebenarnya hamba sudah pasrah Gusti Pangeran untuk menerima malu karena gagalnya pernikahan putri bungsu kami", ujar Resi Maespati dengan wajah sendu.


"Paman Resi tidak usah berkecil hati.


Aku yakin Adipati Karang Anom tidak akan berdiam diri saja jika aku yang datang kesana. Mohon doa restu dari Paman Resi agar perjalanan ini bisa berhasil mengembalikan kehormatan keluarga Paman Resi", ujar Panji Watugunung bijaksana.


"Terima kasih atas bantuannya Gusti Pangeran,


Hamba akan berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar perjalanan Gusti Pangeran nantinya menjadi jalan untuk mengembalikan kehormatan keluarga kami", Resi Maespati segera menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Panji Watugunung tersenyum tipis.


Setelah berbincang beberapa saat, Panji Watugunung dan rombongannya segera berpamitan kepada Resi Maespati untuk melanjutkan perjalanan ke Karang Anom. Resi Maespati mengantar mereka sampai di dermaga penyeberangan menuju Kadipaten Karang Anom.


Saat kapal penyeberangan mulai bergerak menuju ke seberang sungai, Resi Maespati menengadahkan tangan nya berdoa kepada Hyang Tunggal.


Selepas menyeberang sungai Brantas, Rombongan Panji Watugunung segera menggebrak kuda kuda tunggangan mereka menuju ke selatan.


Kuda kuda mereka berpacu mengejar waktu.


Saat menjelang sore, mereka telah sampai di kota Kadipaten Karang Anom. Mereka terus memacu kuda kuda mereka menuju ke istana Kadipaten Karang Anom.


Tepat sebelum senja, rombongan Panji Watugunung sudah sampai di depan pintu gerbang istana Kadipaten Karang Anom yang dijaga 4 orang prajurit.


Begitu sampai, Warigalit langsung melompat turun dari kudanya dan berjalan menuju ke para penjaga gerbang istana.


Tanpa banyak bicara, Warigalit segera mengeluarkan lencana perak Chandrakapala dari kantong baju nya.


"Sampaikan kepada Adipati Karang Anom, Gusti Pangeran Jayengrana Yuwaraja Panjalu ingin bertemu dengan nya", ujar Warigalit pada seorang prajurit penjaga gerbang. Si prajurit penjaga itu segera berlari menuju ke dalam istana Kadipaten Karang Anom.


Adipati Karang Anom, Windupati sedang menikmati waktu sore hari nya bersama permaisuri nya di taman sari saat prajurit penjaga gerbang itu menghadap kepada nya.


"Ada prajurit penjaga? Apa ada sesuatu yang penting?", tanya Adipati Windupati setelah sang prajurit menghormat pada nya.


"Mohon ampun bila hamba mengganggu waktu Gusti Adipati.


Serombongan orang dengan pakaian bangsawan Daha datang di depan pintu gerbang istana Kadipaten Karang Anom. Mereka berkata, bahwa Gusti Pangeran Jayengrana Yuwaraja Panjalu datang berkunjung", ujar sang prajurit dengan sopan.


"APAAAAA??!


Dimana mereka sekarang?", Adipati Karang Anom segera berdiri dari tempat duduknya. Dia begitu kaget mendengar berita itu.


"Mereka masih di luar pintu gerbang istana Kadipaten Gusti Adipati", ujar sang prajurit segera.


"Dasar bodoh!


Kenapa tidak kalian persilahkan masuk? Kalian benar-benar membuat ku dalam masalah", gerutu Adipati Windupati sambil berlari menuju ke arah pintu gerbang istana Kadipaten Karang Anom.


Dia begitu ketakutan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca kak 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2