
Ayu Galuh menatap ke arah Panji Watugunung yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Kangmas Panji ini main pergi begitu saja,
Kangmas tau tidak kalau seisi istana Katang-katang gempar karena Kangmas menghilang di tengah paseban?", tanya Ayu Galuh dengan nada sedikit mengomel pada Panji Watugunung.
"Aku di bawa Resi Begawan Wisrawa, Dinda Galuh.
Resi itu adalah wadah Ajian Triwikrama yang diturunkan kepada ku. Usai menurunkan ilmu itu, Begawan Wisrawa moksa ke Swargaloka", jawab Panji Watugunung yang segera duduk di kursi nya.
Mendengar jawaban itu, Ayu Galuh terdiam beberapa saat lamanya. Wajah cantik nya mencoba berpikir keras untuk memahami maksud dari perkataan Panji Watugunung.
"Ucapan Kangmas membuat ku pusing.
Sebaiknya Kangmas cepat mandi dan kumpulkan lagi para pembesar istana Kadiri agar mereka menjadi tenang", ucap Ayu Galuh seraya tersenyum manis.
Panji Watugunung segera mengangguk mengerti.
Saat matahari mulai tergelincir ke langit barat, para punggawa Kayuwarajan Panjalu berkumpul di istana pribadi sang Yuwaraja. Mereka begitu antusias ingin bertemu dengan junjungan mereka yang baru saja diculik oleh Resi Begawan Wisrawa.
Begitu melihat kedatangan Panji Watugunung, para punggawa Kayuwarajan Panjalu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti kami kepada Gusti Pangeran Jayengrana", ujar para pembesar istana Kadiri dengan penuh hormat.
Setelah Panji Watugunung duduk di kursi dan mengangkat tangan kanannya, mereka segera duduk bersila di lantai istana pribadi Yuwaraja.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Hamba hanya ingin menanyakan keadaan Gusti Pangeran, apakah baik baik saja?", tanya Patih Saketi sambil menyembah pada Panji Watugunung.
"Paman Patih tenang saja,
Aku tidak ada masalah sama sekali", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Lantas bagaimana dengan pertapa penculik itu Gusti Pangeran? Apa Gusti Pangeran mengalahkan nya?", tanya Penasehat Rakeh Kepung segera. Bekas Akuwu Kunjang itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi tadi pagi.
"Aku tidak mengalahkan nya, Paman Rakeh..
Dia malah memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada ku. Dengar kalian semua, aku baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku minta kalian semua tetap tenang, dan jangan sampai membuat berita yang bisa menggoyahkan masyarakat Kota Kadiri.
Apa kalian mengerti?", Panji Watugunung menatap ke arah para bawahannya.
"Kami mengerti Gusti Pangeran", ujar para punggawa Kayuwarajan Panjalu sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Sekarang,
Aku ingin mendengar laporan telik sandi yang kita sebar di wilayah perbatasan Jenggala.
Apa sudah ada laporan masuk mengenai kegiatan para prajurit Jenggala?", tanya Panji Watugunung segera.
Warigalit segera menghormat.
"Ampun Dhimas Pangeran Jayengrana,
Menurut berita yang aku terima, ada tiga tempat yang menjadi markas para prajurit Jenggala.
Di Utara Pakuwon Lwaram, setidaknya sepuluh ribu prajurit Jenggala sudah melakukan latihan perang.
Di tengah, mereka berkumpul di Pakuwon Setrawulan di selatan Kadipaten Matahun. Jumlah mereka terus berkembang, hingga mencapai 10 ribu prajurit.
Di selatan, mereka memusatkan kekuatan di barat wanua Lawor di barat Tumapel. Menurut kabar, mereka di pimpin Senopati yang merupakan sesepuh Padepokan Gunung Angin di wilayah Lamajang", lapor Senopati Warigalit sambil menghormat.
Hemmmm..
"Sepertinya mereka telah bersiap untuk menyerang kita.
Sejauh ini bagaimana perkembangan para prajurit yang dikirim oleh para Adipati daerah?", Panji Watugunung menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Ampun Gusti Pangeran,
Sampai hari ini, ada beberapa kadipaten yang sudah mengirimkan pasukan bantuan.
Karang Anom dan Wengker masing-masing mengirim seribu prajurit tempo hari. Kurawan dan Anjuk Ladang sudah mengirim 2500 prajurit beserta beberapa pedati bahan makanan yang cukup untuk sebulan.
Adipati Balapati dari Muria mengirimkan 2000 prajurit dengan 100 pedati bahan makanan, sedangkan Lasem mengirim 1000 prajurit dan 70 pedati bahan makanan.
Para Adipati daerah barat berjanji paling lambat pekan ini pasukan mereka sampai di Kadiri Gusti Pangeran", Tumenggung Ludaka menyudahi laporan nya dengan menghormat pada Panji Watugunung.
"Jika kita main hitung berapa banyak jumlah para prajurit, setidaknya kita butuh 30 ribu prajurit untuk bertempur melawan Jenggala.
Semoga semua sesuai perhitungan ku, tapi untuk menghadapi para prajurit Jenggala yang datang dari selatan, kita butuh bantuan dari Pangeran Arya Prabu untuk mengacaukan perahu yang melintas di Sungai Brantas.
Rakai Sanga,
Apa kau siap untuk aku utus ke Lodaya, menagih janji Pangeran Arya Prabu?", Panji Watugunung memandang ke arah Rakai Sanga yang ada di belakang Warigalit.
"Apapun tugas dari Gusti Pangeran hamba siap melakukannya", Rakai Sanga segera menghormat pada Panji Watugunung.
__ADS_1
"Bagus,
Besok pagi berangkat lah ke Lodaya. Bawa surat dari ku, biar nanti Dewi Kenanga yang menemani perjalanan mu ke Lodaya", titah Panji Watugunung yang membuat Rakai Sanga segera menghormat pada sang Yuwaraja Panjalu.
"Paman Saketi,
Utus orang kita ke Seloageng. Berikan surat ku kepada Romo Adipati Tejo Sumirat. Aku tidak mau kalah cepat dengan gerakan para prajurit Jenggala. Setelah membaca surat ku, Romo Adipati Tejo Sumirat pasti mengerti apa yang harus dia lakukan.
Juga kirim orang ke Gelang-gelang. Katakan pada Romo Bupati untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi situasi yang mungkin bisa terjadi segera.
Landung,
Kau yang bisa bergerak cepat. Besok datangi Akuwu Kunjang, Watugaluh dan Kadri untuk menyiapkan beberapa prajurit tambahan yang kita cadangkan", mendengar ucapan Panji Watugunung, dua petinggi Kayuwarajan Panjalu itu segera menghormat pada Sang Yuwaraja.
"Yang lain, persiapkan diri kalian sebaik-baiknya. Ingat jangan menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Lakukan dengan tenang tanpa membuat warga Kadiri panik.
Apa kalian mengerti?", ujar Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap para punggawa Kayuwarajan Panjalu bersamaan.
**
"Bajingan kau, Bermana..
Bisa bisa nya kau mengkhianati perjodohan kita demi perempuan laknat itu", teriak seorang wanita muda berbaju hijau sambil menunjuk ke arah seorang lelaki muda bertubuh tegap yang tengah melindungi seorang wanita muda di belakang nya dari amukan si wanita berbaju hijau.
"Siapa yang mengkhianati mu Rumani?
Aku menolong perempuan ini dari para perampok yang yang ingin memperkosa nya? Apa aku salah jika aku menolong seseorang?", Bermana menatap wajah cantik Rumani yang tengah merah padam menahan amarahnya.
"Cukup Bermana,
Kau sudah mengkhianati kepercayaan ayahku. Lihat saja Bermana, kau akan membayar penghinaan terhadap ku ini dengan harga mahal", teriak Rumani dengan keras. Perempuan asal wanua Rengkoh di wilayah Tamwelang itu benar benar murka karena merasa di khianati cintanya oleh Bermana, pemuda asal wanua Kamulan yang berada di wilayah Watugaluh.
"Terserah padamu, Rumani..
Yang jelas aku tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan ini. Aku hanya menolongnya, tidak lebih. Percaya atau tidak itu bukan urusan ku", balas Bermana yang mulai muak dengan sifat keras kepala Rumani.
Ya, Bermana dan Rumani adalah sepasang kekasih yang di jodohkan oleh kedua orang tua mereka yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Ayah Bermana adalah Lurah Wanua Kamulan yang bernama Mpu Reksawira. Sedangkan ayah Rumani adalah Lurah Wanua Rengkoh yang bernama Mpu Walangan. Mereka masih saudara karena mereka adalah cucu dari bekas Akuwu Tamwelang.
Dengan berurai air mata, Rumani berlari menuju kearah Wanua Rengkoh yang berbatasan langsung dengan Wanua Kamulan. Dua wilayah itu dipisahkan oleh sebuah sungai kecil yang menjadi batas wilayah Panjalu dan Jenggala.
Sesampainya di rumah, Lurah Wanua Rengkoh yang sedang berbincang dengan kakak kakak Rumani, yang bernama Gambuh dan Gandru, melihat putrinya menangis sesenggukan langsung menghampiri nya.
"Ada apa Rumani? Kenapa kau menangis?", tanya Mpu Walangan dengan penuh perhatian.
"Bermana, Romo.. Bermana hiks..", ujar Rumani sambil terus menangis.
"Kenapa dengan Bermana, Ngger? Bicaralah dengan tenang, jangan terus menangis", tanya Mpu Walangan dengan lembut.
"Bermana mengkhianati ku Romo, dia berselingkuh dengan wanita lain", ujar Rumani di sela sela tangisnya.
"Kurang ajar!
Ini tidak bisa dibiarkan,Romo. Kita harus meminta pertanggungjawaban Mpu Reksawira untuk perbuatan Bermana", ujar Gambuh, kakak sulung Rumani.
"Benar Romo, perbuatan Bermana sama dengan melecehkan kita. Kita harus ke Kamulan sekarang juga", timpal Gandru berapi-api.
Dua bersaudara itu segera bergegas menuju ke arah kandang kuda. Dengan di temani oleh dua orang anak buah nya, mereka segera menuju ke arah Wanua Kamulan.
Saat menjelang tengah hari, mereka telah sampai di rumah Lurah Wanua Kamulan.
"Mpu Reksawira, keluar!
Pertanggungjawabkan perbuatan anakmu Bermana", teriak Gambuh dengan lantang.
Mendengar teriakan itu, Mpu Reksawira yang ada di dalam rumah segera keluar.
"Ada apa ini, Gambuh?
Mengapa kau berteriak keras di depan rumah ku? Mana sopan santun mu ha?", hardik Mpu Reksawira dengan marah.
"Aku tidak peduli dengan sopan santun, Mpu Reksawira!
Anakmu sudah melukai hati adik ku. Bawa dia kemari, jika tidak maka akan ku hancurkan tempat ini", teriak Gambuh dengan lantang.
Phuihhhh..
"Jumawa sekali kau!
Coba buktikan omongan mu, bocah bau kencur", tantang Mpu Reksawira yang mulai geram dengan tingkah laku Gambuh.
Gambuh segera melompat turun dari kudanya dan berlari cepat kearah Mpu Reksawira sambil mengayunkan pedang yang terselip di pinggangnya.
Whuuussshh
Mendapat serangan itu, Mpu Reksawira yang merupakan bekas prajurit Daha langsung menghindari sabetan pedang Gambuh.
__ADS_1
Melihat serangan nya berhasil di hindari, Gambuh semakin bernafsu untuk membunuh Mpu Reksawira.
Mereka bertarung jurus demi jurus.
Setelah menghindari sabetan pedang Gambuh yang mengincar kakinya, Mpu Reksawira yang bersalto di udara memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah punggung Gambuh.
Deshhhh
Ougghhh
Gambuh terjungkal ke depan. Melihat kakaknya jatuh, Gandru dan kedua pengiringnya segera mengeroyok Mpu Reksawira.
Bermana yang baru pulang mengantar gadis yang ditolongnya, langsung melompat ke udara dan menendang punggung seorang pengiring dari Rengkoh
Bukkkkk
Si pengiring dari Rengkoh langsung terjungkal ke depan, Mpu Reksawira tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan cepat lurah Wanua Kamulan itu mencabut keris di pinggangnya dan menusuk ulu hati si pengiring.
Jleepppp..
Arrgghhhh!!
Si pengiring menjerit keras lalu ambruk ke tanah. Sementara Gandru yang ilmu beladiri nya rendah, menjadi bulan bulanan Bermana yang jago silat.
Melihat itu, salah satu pengiring dari Rengkoh melompat kabur meninggalkan tempat itu. Segera dia memacu kudanya menuju ke arah Rengkoh.
Sesampainya di rumah Lurah Wanua Rengkoh, si pengiring langsung melaporkan kejadian itu pada Mpu Walangan.
Mendengar itu, Mpu Walangan langsung marah besar.
"Biadab kau Reksawira,
Kumpulkan semua orang yang bisa bertarung. Kita serbu rumah Reksawira", perintah Mpu Walangan dengan penuh amarah.
Sore itu, Mpu Walangan menyerbu ke rumah Lurah Wanua Kamulan. Dengan jumlah ratusan orang, mereka menyerang wanua tetangga mereka. Dengan berjalan kaki mereka menuju ke arah kediaman Mpu Reksawira. Di depan rumah, sepuluh orang warga Wanua Kamulan menjaga Gambuh dan Gandru yang babak belur di hajar Mpu Reksawira dan Bermana. Melihat keadaan kedua putranya yang mengenaskan, amarah Mpu Walangan semakin tinggi.
"Reksawira,
Bebaskan putra putra ku. Kau benar benar biadab Reksawira, menyiksa bocah kecil yang belum bisa membuang ingus", ucap Mpu Walangan dengan lantang.
"Putra mu sendiri yang mencari gara-gara, Walangan. Kau tidak mendidik nya dengan benar, hingga dia berani berbuat onar di depan rumah ku", balas Mpu Reksawira tak mau kalah.
"Bedebah!
Kau berani menghina ku, Reksawira. Jangan sebut namaku Walangan jika hari ini tidak ku ratakan rumah bobrok mu.
Kalian semua,
Serang mereka!!!", teriak Mpu Walangan yang membuat ratusan orang wanua Rengkoh menerjang maju ke arah Mpu Reksawira dan Bermana.
Pertarungan sengit segera pecah di halaman rumah besar itu.
Karena kalah jumlah, Mpu Reksawira dan para prajurit nya tewas di tangan Mpu Walangan dan para penduduk Wanua Rengkoh.
Bermana yang berhasil lolos, terus berlari meninggalkan rumah Lurah Wanua Kamulan. Karena Bermana lolos, Mpu Walangan melampiaskan kemarahannya dengan membakar rumah itu. Asap tebal membumbung tinggi ke udara dari rumah Mpu Reksawira yang terbakar.
Dari kejauhan, Bermana menitikkan air matanya saat melihat asap tebal dari rumah nya. Semampu nya, dia terus berlari menuju ke arah kota Pakuwon Watugaluh untuk meminta bantuan kepada Akuwu Setyaka, penguasa Pakuwon Watugaluh.
Setyaka penguasa Pakuwon Watugaluh menerima kedatangan Bermana yang melaporkan kejadian yang menimpa keluarga mereka.
Keesokan harinya, dengan di temani oleh prajurit Pakuwon Watugaluh, Bermana memimpin pembalasan dendam kematian Lurah Wanua Kamulan. Mereka menyerbu wanua Rengkoh dan berhasil membantai Mpu Walangan dan Gambuh. Gandru dan Rumani yang melarikan diri, meminta bantuan kepada Akuwu Tamwelang, Tunggul Wulung dengan mengatakan prajurit Watugaluh menyerbu wanua mereka. Permasalahan itu terus melebar kemana-mana.
Kisah Bermana dan Rumani menjadi penyulut awal perang besar selama 60 tahun antara Panjalu dan Jenggala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏