
Mendengar jawaban Tumenggung Kertawahana, Adipati Mpu Pamadi terkejut bukan main. Dia yang tidak begitu pintar dalam taktik peperangan baru menyadari bahwa kepungan Prabu Jayengrana pada Istana Kadipaten Kembang Kuning hanya untuk mematikan kemampuan perang dan semangat para prajurit Kembang Kuning yang terperangkap di dalam istana itu.
Sementara para punggawa yang lain pun juga akhirnya mengerti kenapa setelah hampir 3 hari mengepung Istana Kembang Kuning, Prabu Jayengrana tidak berusaha menembus tembok maupun gerbang istana Kadipaten.
Kasak kusuk mulai terdengar dari mulut para pembesar istana tentang nasib mereka jika mereka tetap bertahan di dalam istana.
"Keparat Jayengrana!
Kalau begini terus bisa bisa kita mati konyol seperti ikan yang masuk ke dalam bubu.
Rakryan Mantri Soka,
Bagaimana keadaan bahan pangan kita? Masih mampu bertahan berapa lama lagi?", Adipati Mpu Pamadi mengalihkan perhatian pada Rakryan Mantri Soka. Pria paruh baya bertubuh gempal dengan kumis yang hanya tumbuh di atas mulut itu segera menghormat pada Adipati Mpu Pamadi.
"Mohon ampun Gusti Adipati,
Kemampuan pergudangan istana hanya mampu bertahan hingga 3 hari ke depan. Jumlah orang di istana ini sekitar 8 ribu prajurit", lapor Rakryan Mantri Soka dengan cepat.
"Celaka!
Kalau dalam dua hari kita tidak bisa berbuat apa-apa, maka pasti para prajurit kita akan keluar sendiri dari istana Kembang Kuning untuk mencari makan.
Kertawahana,
Katakan kau punya usul apa? Biasanya kau yang punya banyak akal untuk menghadapi masalah seperti ini", Mpu Pamadi berganti menatap wajah Tumenggung Kertawahana. Tumenggung andalan Kembang Kuning yang berusia 4 warsa itu nampak mengerutkan keningnya. Dia nampak berpikir keras bagaimana caranya keluar dari keadaan ini.
Tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas di kepala Tumenggung Kertawahana.
"Mohon ampun Gusti Adipati,
Bukankah kita memiliki jalan rahasia yang bisa keluar masuk istana tanpa di ketahui?", ujar Tumenggung Kertawahana pada Adipati Mpu Pamadi segera.
"Apa maksud mu menanyakan hal itu Kertawahana?
Itu adalah jalan rahasia yang hanya boleh di lewati oleh keluarga adipati", jawab Adipati Mpu Pamadi seraya menatap heran kearah Tumenggung Kertawahana.
"Jalan keluar kita bisa bertahan di dalam istana Kembang Kuning adalah dengan mengeluarkan telik sandi untuk menghubungi Nyi Tepasan, saudagar wanita kaya itu untuk mengirimkan bahan makanan lewat pintu rahasia.
Hamba rasa, itu hanya jalan satu-satunya untuk kita bertahan Gusti", ucap Tumenggung Kertawahana sambil menghormat pada Adipati Mpu Pamadi segera.
Hemmmmmmm...
Mpu Pamadi mendengus keras lalu terlihat memikirkan baik buruknya akibat dari di ketahui nya jalan rahasia. Akhirnya dia menyerah setelah tidak menemukan cara lain untuk bertahan hidup di dalam istana itu.
"Baiklah kalau begitu..
Kirim seorang telik sandi terbaik untuk menghubungi Nyi Tepasan. Begitu berhasil dia harus segera kembali ke dalam istana agar kita bisa menentukan langkah kita selanjutnya", perintah Adipati Mpu Pamadi yang membuat seluruh punggawa istana Kadipaten Kembang Kuning menarik napas lega.
Tumenggung Kertawahana segera mundur dari ruang pribadi adipati usai menerima perintah dari sang penguasa Kadipaten Kembang Kuning. Langkah nya langsung menuju ke arah istana bagian barat. Setelah sampai di sebuah barak, dia langsung masuk ke dalam.
"Barnawa,
Dimana kau?", teriak Tumenggung Kertawahana yang membuat semua prajurit yang berdiam di dalam barak langsung berdiri. Seorang lelaki bertubuh sedikit kurus dengan kumis tipis dan rambut di kuncir kuda segera keluar dari belakang kerumunan orang.
"Gusti Tumenggung mencari hamba? Ada apa Gusti?", tanya si lelaki bertubuh sedikit kurus itu yang bernama Barnawa.
"Ikut aku sekarang. Aku ada tugas untuk mu. Ayo bergegas", perintah Tumenggung Kertawahana sambil berjalan keluar barak prajurit. Barnawa mengekor di belakang tumenggung andalan Kembang Kuning itu segera.
Setelah agak jauh dari barak prajurit, Tumenggung Kertawahana berhenti. Setelah menoleh ke arah kiri kanan, dia mendekati Barnawa.
"Dengar Barnawa, aku punya tugas penting untuk mu. Nasib semua orang disini tergantung pada keberhasilan mu menjalankan tugas ini.
Aku ingin kau mencari saudagar kaya yang bernama Nyi Tepasan. Rumahnya di dekat pasar besar.
Bilang padanya untuk menyelundupkan bahan makanan untuk kita semua", perintah Tumenggung Kertawahana sambil menatap ke arah Barnawa yang sedikit kebingungan dengan tugas nya.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung,
Lantas bagaimana caranya hamba bisa keluar dari istana ini sedangkan para prajurit Panjalu membentuk pagar betis yang mengepung tempat ini? Kemampuan beladiri hamba juga tidak bisa berbuat banyak jika harus menghadapi ribuan prajurit itu", ujar Barnawa yang sedikit khawatir jika harus menghadapi langsung para prajurit Panjalu.
"Bodoh!
Kau pikir aku tidak memikirkan mengenai hal itu? Tentu saja aku punya pemecahan untuk masalah itu Barnawa.
Kau keluar masuk istana lewat jalan rahasia", Tumenggung Kertawahana mendelik ke arah Barnawa yang terlihat lega.
Usai memberi tahu apa apa yang harus dilakukan oleh Barnawa, Tumenggung Kertawahana membawa Barnawa ke dalam istana selir adipati. Sesampainya di sebuah kamar, Tumenggung Kertawahana di bantu Barnawa menggeser sebuah lemari kayu besar.
Ternyata di bawah lemari kayu besar itu ada sebuah lobang yang cukup masuk dua orang.
"Ingat Barnawa,
Begitu Nyi Tepasan setuju, kau segera melapor kemari", ucap Tumenggung Kertawahana yang mendapat anggukan kepala dari Barnawa. Pria bertubuh sedikit kurus itu segera masuk ke lobang itu.
Terowongan yang di buat itu hanya muat untuk dua orang saja. Berbekal obor untuk menerangi gelapnya tempat itu, Barnawa terus menyusuri terowongan.
__ADS_1
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya Barnawa melihat secerah sinar di ujung terowongan. Dengan cepat ia mematikan obor penerangan nya. Dengan hati hati, Barnawa menuju ke arah sinar di ujung terowongan.
Di atas ujung terowongan, ada sebuah lobang yang tertutup sebuah tempat tidur. Barnawa segera merangkak naik ke atas. Usai memastikan bahwa keadaan nya aman, dia keluar dari bawah tempat tidur.
Seorang lelaki paruh baya terkejut melihat kedatangan Barnawa. Segera dia mencabut keris di pinggangnya.
"Si-siapa kau? Kenapa kau bisa keluar dari tempat itu?", tanya si lelaki paruh baya yang merupakan penjaga terowongan rahasia. Tubuh Barnawa yang penuh debu membuat lelaki tua itu pangling.
"Aku utusan Gusti Adipati, Ki Kromo..
Ada tugas khusus dari Gusti Adipati untuk mencari rumah Nyi Tepasan", jawab Barnawa yang mengenali lelaki paruh baya itu sebagai Ki Kromo, bekas telik sandi yang telah mengundurkan diri. Dulu mereka pernah bekerja bersama. Adipati Mpu Pamadi memberinya pekerjaan sebagai penjaga jalan rahasia.
Ki Kromo menarik nafas lega lalu kembali menyarungkan keris ke pinggang nya.
"Dasar gemblung,
Kau bikin aku kaget saja. Kita ada jauh dari tembok istana Kadipaten Kembang Kuning, Barnawa.
Kalau ingin ke rumah Nyi Tepasan, kau harus mengambil jalan memutar untuk menghindari pasukan Panjalu yang mengepung tempat ini.
Berhati-hatilah Barnawa", ujar Ki Kromo sambil menarik nafas panjang.
"Aku mengerti Ki", jawab Barnawa sembari tersenyum tipis. Lalu dengan gerakan lincah, Barnawa menoleh ke arah kiri dan kanan begitu keluar dari pintu rumah Ki Kromo.
Seorang lelaki bercaping bambu dengan pakaian pengemis nampak tidur di jalan depan rumah Ki Kromo. Barnawa melewati nya sembari berjalan dengan penuh kewaspadaan menuju rumah Nyi Tepasan.
Usai Barnawa cukup jauh, pengemis itu segera mengikuti langkah Barnawa dengan hati hati. Sesampainya di tikungan jalan, seorang lelaki lain yang berpakaian layaknya orang gila di jawil oleh si lelaki berpakaian pengemis itu. Setelah si lelaki berpakaian mirip orang gila itu melihat ke arah isyarat yang diberikan oleh si pengemis, dia segera mengikuti langkah Barnawa sambil tetap pura pura gila. Sedangkan si pengemis segera mencari seorang lelaki bertubuh kurus yang memakai pakaian gembel di sudut jalan.
Usai berbisik sebentar pada si gembel, si pengemis segera kembali ke tempat nya di depan rumah Ki Kromo.
Mereka adalah mata mata yang di sebar oleh Tumenggung Ludaka usai pasukan Panjalu mengepung istana Kadipaten Kembang Kuning.
Barnawa yang tidak sadar bahwa ia diikuti terus melangkah menuju ke arah Rumah Nyi Tepasan.
Seorang lelaki brewok berbadan besar nampak duduk di depan halaman rumah Nyi Tepasan di samping pasar besar Kadipaten Kembang Kuning. Dia segera berdiri dari tempat duduknya melihat kedatangan Barnawa.
"Hei Kisanak,
Mau apa kau kemari?", tanya lelaki brewok berbadan besar itu pada Barnawa.
"Maaf Kisanak,
Aku punya urusan penting dengan Nyi Tepasan. Ini adalah perintah Tumenggung Kertawahana", ujar Barnawa segera. Mendengar jawaban itu, buru-buru si brewok berbadan besar itu itu memberi tanda agar Barnawa tidak bicara lagi.
"Sssssttttttttt...
Barnawa mengangguk mengerti dan mereka berdua segera melangkah ke halaman rumah besar Nyi Tepasan, meninggalkan seorang penjaga sendiri di pintu halaman.
Si lelaki berpakaian layaknya orang gila itu terus mengawasi rumah itu.
Nyi Tepasan sedang menghitung jumlah barang yang sudah sampai di gudang nya. Saudagar wanita kaya itu menghitung dengan teliti. Saat wanita cantik itu tengah asyik menghitung, dari arah depan si brewok berbadan besar dan Barnawa masuk.
"Nyi... Ada orang yang mencari mu", teriak si brewok berbadan besar yang membuat Nyi Tepasan segera memperhatikan mereka berdua. Begitu mendekat, Nyi Tepasan langsung bertanya.
"Siapa kau?
Aku tidak merasa mengenalmu", Nyi Tepasan menatap wajah Barnawa yang asing.
Tanpa banyak bicara, Barnawa segera merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan lencana perak bergambar bunga kenanga pada Nyi Tepasan. Saudagar wanita kaya itu tentu saja mengenali lencana perak itu.
"Saya diutus oleh Gusti Tumenggung Kertawahana. Nyi Tepasan diminta mengirimkan bahan makanan ke dalam istana Kembang Kuning. Perkara bagaimana caranya, kita sudah menyiapkan cara nya. Tinggal Nyi Tepasan bersedia atau tidak", ucap Barnawa segera.
"Kau tau sendiri betapa berbahayanya situasi sekarang ini. Aku hanya mau jika Tumenggung Kertawahana bersedia membayar dengan harga tinggi", jawab Nyi Tepasan sambil tersenyum tipis.
"Soal harga Nyi Tepasan tidak perlu takut. Gusti Tumenggung sudah menyiapkan puluhan peti kepeng perak untuk pembayarannya", ujar Barnawa sambil tersenyum simpul.
"Baiklah aku setuju.
Katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa mengirim bahan makanan ke istana Kembang Kuning?", tanya Nyi Tepasan segera. Terbayang keuntungan berlipat ganda dari penjualan padi dan palawija di dalam gudang nya.
"Lewat jalan rahasia Nyi, kalau dari luar kita masuk lewat rumah Ki Kromo", jawab Barnawa sembari tersenyum.
"Hemmmmmmm..
Kalau begitu, nanti selepas tengah malam anak buah ku akan bergerak ke rumah Ki Kromo. Kalau masih sore seperti ini, para prajurit Panjalu akan curiga. Kalian siapkan pembayarannya. Kalau sampai kalian ingkar janji, aku bisa saja melaporkan ini pada prajurit Panjalu. Kau mengerti?", ancam Nyi Tepasan yang membuat Barnawa mengangguk.
"Aku mengerti Nyi", usai berkata demikian Barnawa segera bergegas meninggalkan rumah Nyi Tepasan untuk melaporkan hasil pertemuan nya dengan saudagar wanita kaya itu.
Usai melintasi jalan raya dan sampai di rumah Ki Kromo, Barnawa segera bergegas masuk ke jalan rahasia. Di ujung jalan rahasia Tumenggung Kertawahana sudah menunggu kedatangan Barnawa. Dengan segera Barnawa melaporkan semua nya pada tumenggung andalan Kembang Kuning itu.
Tumenggung Kertawahana tersenyum simpul.
"Kalau begini, kita tidak perlu takut bertahan di dalam istana Kadipaten lagi, Barnawa.
Ayo kita laporkan ini pada Gusti Adipati", ajak Tumenggung Kertawahana segera. Dua orang itu bergegas menuju ke arah ruang pribadi adipati.
__ADS_1
Sementara itu, rumah Nyi Tepasan tiba-tiba di datangi oleh puluhan prajurit Panjalu. Dipimpin oleh Tumenggung Landung, mereka segera menyerbu ke dalam rumah kediaman saudagar kaya itu.
"Apa apaan ini, Gusti Tumenggung?
Apa salah kami hingga para prajurit Panjalu menyerbu ke rumah ini?", tanya Nyi Tepasan yang kaget setengah mati karena tiba-tiba saja rumahnya di kepung prajurit Panjalu.
"Jelaskan nanti di tempat pemimpin kami. Sekarang kau ikut kami baik-baik atau kami perlu memaksa mu?", Tumenggung Landung menatap tajam ke arah Nyi Tepasan.
Karena penasaran dan tak ingin rumah nya hancur oleh pertarungan, Nyi Tepasan segera mengikuti langkah Tumenggung Landung bersama si brewok berbadan besar yang tadi sempat di hajar oleh para prajurit Panjalu karena menghalangi mereka.
Di sebuah rumah besar yang menjadi tempat tinggal Panji Watugunung yang juga merupakan pusat perintah pasukan Panjalu, Nyi Tepasan dan si brewok berbadan besar itu di bawa. Dengan di giring ke dalam rumah, mereka berdua diam diam mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Ini orangnya Gusti Prabu.
Mereka berdua adalah pemilik tempat yang di datangi oleh orang yang kami curigai sebagai mata-mata dari istana Kembang Kuning", ujar Tumenggung Landung sembari menghormat pada Panji Watugunung yang tengah memunggungi mereka.
"Ampun Gusti Prabu Jayengrana, kami mohon ampun..
Kami memang di datangi oleh orang dari istana Kembang Kuning. Mereka ingin kami menyelundupkan makanan dari luar tembok istana.
Kami hanya....", omongan Nyi Tepasan langsung terhenti saat Panji Watugunung berbalik arah menghadap padanya.
"Kau.. Kau...
Bukankah kau pendekar yang tempo hari menyelamatkan nyawa ku?", Nyi Tepasan terkejut bukan main.
"Lancang sekali mulut mu. Beri hormat mu kepada Gusti Prabu Jayengrana, Maharaja Panjalu", gertak Tumenggung Landung yang membuat Nyi Tepasan dan si brewok berbadan besar itu semakin kaget. Mereka berdua sampai melongo mendengar ucapan Tumenggung Landung.
"Malah bengong. Cepat beri hormat kepada Gusti Prabu Jayengrana", imbuh Tumenggung Landung yang membuat dua orang itu langsung menyembah kepada Panji Watugunung.
"Ampuni kami Gusti Prabu, mohon maaf atas ketidaktahuan kami", ujar Nyi Tepasan segera.
"Sudahlah Nyi..
Tempo hari aku sudah bilang bukan kalau kita akan bertemu lagi. Dan kau tentu ingat dengan ucapan mu sendiri untuk membalas budi baik ku padamu?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.
"Hamba masih mengingatnya Gusti Prabu", jawab Nyi Tepasan segera.
"Baiklah kalau masih ingat Nyi karena aku akan menagih janji mu itu sekarang", ujar Panji Watugunung seraya menatap ke arah Nyi Tepasan.
"Apa maksud Gusti Prabu Jayengrana? Hamba sama sekali tidak mengerti", kali ini Nyi Tepasan memberanikan diri untuk menatap wajah Panji Watugunung. Raja Panjalu itu nampak gagah dan berwibawa dengan pakaian kebesarannya, berbeda jauh dengan saat bersama Nyi Tepasan di penginapan tempo hari.
Panji Watugunung tersenyum tipis lalu berkata,
"Aku hanya meminta Nyi Tepasan membantu ku untuk masuk ke dalam istana Kadipaten Kembang Kuning", mendengar itu Nyi Tepasan semakin tidak memahami pemikiran Panji Watugunung.
"Kau bingung bagaimana caranya bukan Nyi?", tanya Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Nyi Tepasan.
"Para prajurit ku akan menyamar sebagai anak buah mu yang mengangkut makanan ke dalam istana Kadipaten Kembang Kuning".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁
__ADS_1
Selamat membaca 😁🙏😁