
Dua orang pengintai itu terus berlari. Begitu sampai pada kuda mereka yang di tambatkan pada pohon di tepi hutan, mereka segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kudanya untuk keluar dari Pakuwon Bedander.
Di Utara Siwatantra Palah, mereka berhenti. Dan berjalan kaki menuju sebuah rumah di balik pepohonan. Seorang kakek tua dan seorang lelaki muda tampak disana.
"Katiwasan Ki, Maktal tewas di bantai", ujar seorang pengintai melapor kepada kakek tua berjenggot panjang itu.
"Apa? Bagaimana bisa Setan Merah di bantai?", ujar kakek tua setengah tak percaya.
Lalu dua orang pengintai itu menceritakan tentang pasukan kejam yang membantai seluruh anak buah Setan Merah tanpa ampun.
"Hemmmm.. Pasukan prajurit? Bagaimana bisa sehebat itu?", ujar kakek tua berjenggot panjang.
"Mereka di pimpin seorang lelaki muda Ki, sepertinya bangsawan di lihat dari cara berpakaian. Tapi kemampuan kanuragan nya luar biasa. Maktal tewas hanya dengan 5 jurus saja", pengintai itu menceritakan kejadian yang menewaskan Setan Merah.
"Siapa bangsawan ini? Kalau Setan Merah sampai tewas dengan 5 jurus, berarti kemampuan nya setara dengan Dewa Maut. Ini gawat.. Kalian terus intai pergerakan mereka, dan cepat lapor jika ada hal penting", kakek tua berjenggot panjang gugup.
"Siap Ki, kami pamit dulu", dua orang pengintai bergegas meninggalkan tempat itu.
"Balasambu, segera laporkan hal ini ke markas besar. Aku khawatir pasukan itu memburu kegiatan yang kita lakukan", perintah kakek tua berjenggot panjang pada pemuda yang bernama Balasambu..
Balasambu menghormat pada kakek tua itu dan melompat ke atas kuda nya, melesat cepat meninggalkan Pakuwon Palah menuju utara.
'Siapa sebenarnya pemuda bangsawan ini? Kalau dia mampu membunuh Setan Merah dengan 5 jurus, dia pasti pendekar dunia persilatan. Tapi tidak ada pendekar muda yang hebat akhir-akhir ini, kecuali....'
Ribuan pertanyaan memenuhi otak kakek tua berjenggot panjang itu..
**
Sementara itu, pasukan Garuda Panjalu mengumpulkan semua mayat-mayat di rumah besar dan membakar markas itu.
Harta dari hasil perampokan mereka, telah di kumpulkan Gumbreg dan 3 orang teman yang menjadi bawahan nya.
Selembar kain surat di berikan kepada Panji Watugunung.
Sedangkan mayat salah satu anggota mereka, mereka kubur di sebelah luar markas.
Setelah memastikan markas itu terbakar habis, pasukan Garuda Panjalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana pakuwon Bedander.
Akuwu Madangkungan segera menyambut mereka. Para prajurit yang terluka segera mendapat pengobatan dari para tabib istana Pakuwon Bedander. Semakin menambah kecurigaan terhadap Akuwu Madangkungan.
Ki Saketi yang memahami ekspresi wajah Panji Watugunung, segera bergegas meminta Jarasanda, Landung dan Ludaka keluar istana pakuwon Bedander mengamati sekeliling istana dan orang orang yang mencurigakan.
"Kalian jangan sampai ketahuan mengamati situasi sekeliling istana pakuwon. Bisa bisa rencana kita gagal untuk mengungkapkan kebusukan Akuwu Madangkungan".
"Baik Ki", ujar Ludaka, Landung dan Jarasanda kompak. Mereka segera bergegas keluar istana pakuwon dengan alasan ingin melihat keramaian kota.
Panji Watugunung berbisik pada Dewi Srimpi untuk menyiapkan penawar racun. Gadis bercadar hitam itu mengangguk dan segera menghilang ke dalam kamar untuk membuat obat.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang diminta bergaul dengan istri Madangkungan dan selir-selirnya sambil mengamati situasi di dalam istana Pakuwon Bedander.
Gumbreg yang mengurus perbekalan mendapat perintah untuk memancing Madangkungan melihat harta dari markas Setan Merah.
Mata Madangkungan melebar melihat tumpukan kepeng perak dan emas yang di jaga Gumbreg dan 3 kawannya.
'Ikan besar ini akan tertangkap basah nanti malam', Panji Watugunung tersenyum melihat tingkah Akuwu Madangkungan.
Menjelang senja, semua pembawa laporan berkumpul di tenda perbekalan.
"Gusti Panji, beberapa tempat di sekitar istana Pakuwon Bedander ini mencurigakan. Di sebelah utara tembok istana, sepertinya ada jalan tembus yang di samarkan dengan tumpukan kayu", laporan Ludaka.
"Semenjak pulang dari markas pengacau, setidaknya ada 5 orang yang terus mengamati kegiatan di istana", Jarasanda menimpali.
__ADS_1
"Hemmmm rupanya begitu kelakuan nya", ujar Watugunung sambil tersenyum simpul.
"Kelihatannya Akuwu butuh banyak uang Kakang Watugunung, selir selir nya semua nya berpakaian serba mahal dan berganti perhiasan di pagi dan sore hari", Ratna Pitaloka membuat semua orang terpana kecuali Panji Watugunung dan Sekar Mayang. Mereka tak menduga bahwa perkiraan Panji Watugunung tidak meleset sama sekali.
"Malam ini kita bagi tugas. Landung, Jarasanda ajak pengawal depan minum arak, untuk mengalihkan perhatian. Gumbreg, atur orang mu dengan penjagaan longgar. Ludaka, ajak Arimbi, Rajegwesi dan Laras menyelinap di tempat gelap. Ki Saketi dan yang lainnya akan bersikap biasa", ujar Panji Watugunung membagi tugas.
"Srimpi,
Mana penawar racun nya?".
Dewi Srimpi segera mendekat ke Panji Watugunung dan menyerahkan botol keramik berisi pil kecil berwarna kecoklatan.
"Ini pil penawar racun, dugaan ku tidak meleset. Madangkungan sepertinya ingin mengambil harta ini, dan berita dari Dinda Mayang, mereka akan memasukkan obat tidur ke dalam makanan.
Kalian semua akan tetap terjaga meski memakan obat tidur itu, tapi untuk Gumbreg dan yang menjaga perbekalan aku minta kalian pura pura tidur selepas makan malam".
Semua orang mengangguk tanda mengerti dan melaksanakan kegiatan seperti biasa.
Selepas rona merah di langit barat menghilang, puluhan dayang mengantar makanan ke Panji Watugunung dan rombongan pasukan Garuda Panjalu.
Akuwu Madangkungan menyeringai lebar melihat anggota pasukan Garuda Panjalu makan dengan lahap.
Menjelang tengah malam, bulan selepas purnama masih separuh lebih.
Sepuluh orang berpakaian hitam dengan penutup wajah, bergerak hati hati di kegelapan bayangan malam. Gerakan mereka sangat lincah seperti terbiasa.
Mereka tidak menyadari empat pasang mata terus mengikuti gerakan mereka.
Jarasanda dan Landung yang pura pura mabuk, sekilas melirik ke mereka.
Ki Saketi yang dalam posisi tertidur di serambi bangsal pun hanya melirik sebentar.
Saat memasuki tenda perbekalan, tampak Gumbreg dan 3 orang anak buah nya tertidur. Salah satu bayangan itu menggoyangkan tubuh Gumbreg namun kelihatannya Gumbreg benar benar tertidur.
Ayo kita ambil semua harta ini. Cepat!", seorang pria memberi perintah kepada orang orang berbaju hitam.
Dengan cepat mereka menggotong peti kecil kepeng uang dan perhiasan serta kain sutra mahal keluar tenda perbekalan.
Belum sampai 5 langkah, suara berat menghentikan langkah mereka.
"Kalian mau bawa kemana peti itu?"
Ki Saketi beserta prajurit-prajurit Garuda Panjalu sudah mengepung tempat itu.
Orang-orang berpakaian hitam itu tersentak melihat mereka sudah terkepung.
"Bukankah kalian kalian sudah kena obat tidur?", suara tergagap keluar dari salah satu orang berpakaian hitam dan memakai penutup wajah.
"Tenang saja, obat seperti itu tak akan berpengaruh terhadap kami Akuwu Madangkungan"..
Degg...
Suara Panji Watugunung benar benar membuat Akuwu Madangkungan pucat pasi. Panji Watugunung berjalan pelan diikuti 2 selir dan 1 pelayan nya.
"Kau pikir aku tidak tau, siapa yang membocorkan rahasia kedatangan kami ke markas pengacau keamanan itu?", Panji Watugunung melempar kain surat ke Akuwu Madangkungan.
"Menyerah atau kami tangkap dengan paksa"
Akuwu Madangkungan benar benar tidak menduga sebelumnya, bahwa rencana sempurna nya akan gagal total malam itu.
"Daripada menyerah lebih baik melawan,
__ADS_1
Ayo Lawan mereka", Akuwu Madangkungan mencabut keris dari pinggang nya.
Seluruh anak buah nya pun mencabut senjata masing-masing.
"Ki Saketi, tangkap mereka hidup atau mati", teriak Panji Watugunung yang membuat Ki Saketi melompat maju.
Pertarungan sengit tapi tak berimbang segera terjadi. Meski imbang jumlah, tapi kemampuan kanuragan prajurit pasukan Garuda Panjalu jauh diatas para pencuri itu.
Dalam beberapa gebrakan, mereka sudah tak berdaya. Akuwu Madangkungan geram segera melompat mengincar Watugunung. Belum sempat menyentuh, sebuah tendangan keras dari Sekar Mayang menghajar perut lelaki itu.
Akuwu Madangkungan terlempar dalam posisi berlutut. Perutnya sakit luar biasa. Sebelum berdiri, sebuah pedang sudah menempel di leher Akuwu Madangkungan.
"Bergerak sedikit, ku tebas batang leher mu"
Ki Saketi memandang kearah Akuwu Madangkungan dengan wajah datar.
"Bawa mereka semua ke penjara!", titah Panji Watugunung segera.
Pasukan Garuda Panjalu menggiring Akuwu Madangkungan dan ke sembilan orang pengikutnya ke penjara di dekat alun-alun kota.
Suasana pagi pakuwon Bedander gempar, saat tahu Akuwu Madangkungan mencoba merampok harta rampasan dari markas para pengacau keamanan.
Namun istri dan putranya berhasil lolos lewat jalan rahasia, di bawah tempat tidur nya. Sementara para selir tidak bisa berbuat apa-apa.
Para prajurit pakuwon Bedander bersumpah setia dan mendukung siapapun yang menjadi Akuwu Bedander selanjutnya.
Panji Watugunung segera mengirim surat ke Kadipaten Seloageng, meminta pengganti Akuwu Bedander segera. Ludaka dan Rajegwesi yang bertugas mengirim surat.
Untuk sementara, kedudukan Akuwu Bedander kosong, tapi urusan pemerintahan di pegang Ki Saketi sambil menunggu Akuwu Bedander yang baru.
Setelah semua terkendali, Panji Watugunung ditemani 2 selir dan 1 pelayan nya serta beberapa orang seperti Landung, Jarasanda, Marakeh dan Rakai Sanga melesat ke selatan.
"Mau kemana kita kakang Watugunung?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo mau kemana MC nya?
Ada yang tau??
Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung
__ADS_1
Untuk yang sudah memberikan dukungannya author mengucapkan terima kasih.👍👍
Happy reading guys 😁😁