
Akuwu Sendang benar benar bersyukur karena Panji Watugunung tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, namun hari itu mereka diwajibkan membayar sejumlah uang pengganti kerusakan warung makan yang berantakan akibat pertarungan tadi. Juga 3/4 sebagian hasil bumi yang ada di lumbung pangan Pakuwon wajib di bagikan kepada rakyat yang kekurangan.
Dengan keputusan Panji Watugunung, nyaris semua kekayaan istana Pakuwon Sendang hanya cukup untuk bertahan hidup selama 3 purnama ke depan.
Rakyat Sendang bersorak gembira dengan tindakan Panji Watugunung. Selama ini mereka selalu di tindas oleh penguasa Sendang. Tindakan Panji Watugunung benar benar membuat rakyat Sendang bersimpati pada Panji Watugunung dan rombongannya.
2 hari Panji Watugunung terus mengawasi pembagian hasil bumi dan memastikan tidak ada kecurangan dalam pelaksanaan.
"Ini pelajaran untuk kalian, jangan sewenang-wenang terhadap rakyat. Kita hidup bersama rakyat, jangan khianati kepercayaan mereka. Kalau sampai nanti ada berita tentang tingkah laku kalian lagi, akan kupastikan kalian akan ku jebloskan ke penjara", ujar Panji Watugunung menatap tajam kearah Akuwu Sendang.
"Kami kapok Gusti Pangeran, kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi", Akuwu Sendang menundukkan kepalanya.
Usai masalah Sendang berakhir, Panji Watugunung dan rombongannya meneruskan perjalanan mereka. Sepanjang perjalanan rakyat Sendang mengelu-elukan Panji Watugunung.
Tengah hari itu, mereka sampai di gerbang istana Kadipaten Tanggulangin.
Begitu melihat lencana Chandrakapala yang di tunjukkan oleh Panji Watugunung, seorang penjaga gapura segera berlari ke tempat pribadi Adipati Tanggulangin, Adipati Kalang.
Tak berapa lama kemudian, sang Adipati Tanggulangin tergopoh-gopoh menuju balai paseban Kadipaten.
Segera lelaki paruh baya itu bersujud kepada Panji Watugunung.
"Abdi Daha, Adipati Kalang memberi hormat kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung".
Panji Watugunung yang kaget, menatap ke arah Adipati Tanggulangin.
"Darimana Gusti Adipati tau kalau aku pangeran Daha?".
"Adik hamba, Tumenggung Wiguna sudah mengirim surat kepada hamba. Katanya akan ada utusan dari Daha yang berpakaian biasa layaknya pendekar dengan membawa lencana Chandrakapala. Adik hamba memberi tahu bahwa sebenarnya pendekar muda itu, bernama Panji Watugunung yang merupakan putra mantu Maharaja Samarawijaya", ujar Adipati Tanggulangin.
Hemmmm
"Aku dan rombongan menyamar agar perjalanan kami tidak menjadi perhatian telik sandi dari Jenggala", ujar Panji Watugunung segera.
"Hamba mengerti Gusti Pangeran, mari kita berbincang di kediaman pribadi hamba", ujar Adipati Tanggulangin.
Mereka segera menuju ke serambi kediaman pribadi Adipati.
"Adipati Kalang, tujuan ku kesini untuk mengantarkan surat dari Gusti Prabu Samarawijaya. Mohon kau terima dan kau baca baik baik sebelum kau memberikan jawabannya", ujar Panji Watugunung seraya menyerahkan sepucuk surat yang dibungkus kain merah.
Adipati Kalang segera menerimanya. Perlahan Adipati Tanggulangin itu membaca isi surat tersebut dalam hati.
Raut wajah pria itu tampak tenang.
"Hamba sudah membaca surat dari Gusti Prabu Samarawijaya. Hamba siap memberikan dukungan kepada Daha untuk mempertahankan diri dari Jenggala".
"Bagus, aku mewakili Gusti Prabu Samarawijaya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya Gusti Adipati. Nanti tulis jawaban mu di surat. Akan ku haturkan kepada Gusti Prabu langsung", Panji Watugunung tersenyum.
Semua orang nampak lega.
Kemudian Adipati Kalang bertepuk tangan dua kali. 2 orang gadis cantik memasuki serambi kediaman pribadi Adipati Tanggulangin sambil membawa nampan berisi makanan.
"Gusti Pangeran, perkenalkan mereka ini dua putri hamba. Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih. Cukup pantas bukan untuk menjadi istri seorang pangeran??", Adipati Kalang tersenyum penuh arti.
Panji Watugunung terkejut mendengar ucapan Adipati Tanggulangin itu, sementara itu 3 selir nya melotot.
Warigalit dan Ratri terkekeh kecil.
'Resiko punya suami tampan', batin Ratri.
Tanpa di jelaskan pun, mereka memahami niat Adipati Kalang. Jelas Adipati Tanggulangin itu ingin menjodohkan putri nya dengan Panji Watugunung.
Sementara itu, dua putri Adipati Kalang itu hanya menekuk wajahnya mendengar ucapan sang Adipati. Mereka berdua benar-benar geram dengan ulah ayah mereka dan berniat membunuh Panji Watugunung.
"Maaf Adipati, bukan maksudku menolak niat baik mu, tapi aku sudah punya dua istri. Ayu Galuh dan Putri Adipati Seloageng, Dewi Anggarawati.
Aku rasa mereka sudah cukup mengisi hati ku dengan cinta kasih.
Mohon mengerti keadaan ku", tolak Panji Watugunung halus.
"Apa mereka kurang cantik Gusti Pangeran?", Adipati Kalang masih tidak menyerah.
"Mereka cantik, pasti pemuda yang bisa menikahi mereka adalah pemuda yang beruntung. Namun itu bukan aku.
__ADS_1
Kalau aku menikah lagi, maka harus seijin Ayu Galuh dan Dewi Anggarawati. Dan sepertinya itu tidak akan bisa ", Panji Watugunung tersenyum simpul.
Mendengar penolakan Panji Watugunung terhadap mereka, Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih semakin benci kepada Panji Watugunung yang mereka anggap menghina.
Meski begitu, Adipati Kalang masih bersikukuh untuk menjodohkan Watugunung dengan dua putri nya.
Sore segera berganti malam. Langit malam itu begitu cerah dengan bintang berkelap-kelip dan rembulan yang mendekati purnama.
Dari kegelapan malam, dua bayangan hitam melesat cepat diantara atap bangunan besar istana Kadipaten.
Panji Watugunung dan rombongannya di tempatkan di bangsal tamu. Malam ini adalah giliran Dewi Srimpi menemani tidur Panji Watugunung.
Saat mereka akan beranjak ke peraduannya, tiba tiba telinga Panji Watugunung menangkap sesuatu yang ganjil dari arah timur.
"Srimpi, titip raga ku", ujar Panji Watugunung yang segera duduk bersila.
Dewi Srimpi yang memahami situasi segera waspada, saat tubuh Panji Watugunung menjadi kaku.
Sekejap kemudian, sukma Panji Watugunung meloncat ke atas atap bangunan bangsal tamu kadipaten.
"Hawa nafsu membunuh yang besar. Siapa mereka?", ujar sukma Panji Watugunung yang melihat dua bayangan hitam itu.
Saat dua bayangan hitam itu semakin mendekat, barulah kelihatan kalau mereka perempuan. Dengan gerakan ringan mereka mendarat di atap bangsal tamu kadipaten Tanggulangin. Tentu saja mereka tidak menyadari bahwa Panji Watugunung ada diantara mereka.
Sukma Panji Watugunung segera melesat kembali ke raga nya. Tubuh kaku Panji Watugunung kembali pulih seperti sedia kala.
Senyum tipis menghiasi bibir Watugunung. Dia tahu ada pengintip segera memberi kode kepada Dewi Srimpi untuk menyerang dua orang di atap.
Dewi Srimpi segera melirik ke atap bangunan, dan melempar dua pisau kecil yang melesat cepat menuju ke arah dua pengintip.
Sring sringggg
Dua bayangan hitam itu terkejut dan segera melompat menghindari dua pisau kecil dari Dewi Srimpi. Salah satu dari mereka terserempet di punggung nya. Dan segera melompat kabur meninggalkan tempat itu.
Melihat Dewi Srimpi hendak mengejar, Panji Watugunung segera menahan tangan mungil selir termuda nya.
"Jangan di kejar Srimpi, sudah biarkan saja".
Panji Watugunung segera menggelengkan kepalanya. Dewi Srimpi pun mengurungkan niatnya untuk keluar.
Malam itu mereka bercinta dengan membara.
Pagi menjelang tiba di istana Kadipaten Tanggulangin. Suasana sibuk orang bekerja di dapur istana menghasilkan aroma wangi masakan.
Dewi Srimpi segera bergegas turun dari ranjang setelah mencium bibir suami nya yang masih tertidur. Saat keluar menuju tempat mandi dan berpapasan dengan Dewi Retnoningsih, ada kilatan di mata putri Adipati itu.
Tanpa banyak bicara, Dewi Srimpi segera membersihkan diri dan kembali ke kamar Panji Watugunung.
Pagi itu rombongan Panji Watugunung meninggalkan istana kadipaten Tanggulangin setelah Adipati Kalang memberikan balasan surat kepada Samarawijaya. Sebenarnya dia ingin menahan Panji Watugunung untuk sementara waktu namun Panji Watugunung dengan alasan ingin segera menyampaikan kabar baik dari Tanggulangin, maka Adipati Kalang tidak bisa mencegah kepergiannya.
Kuda kuda pilihan mereka melesat cepat menuju ke arah Kadipaten Karanganom di timur Tanggulangin.
Begitu sampai di tepi hutan gunung batu, 4 pasang mata menatap ke arah mereka.
"Guru, dia orang yang melukai ku.
Mohon balaskan dendam ku pada mereka", ujar seorang gadis cantik berbaju biru menunjuk pada Dewi Srimpi yang berkuda di belakang Panji Watugunung.
Sepasang kakek nenek tersenyum sinis memandang kearah Panji Watugunung dan rombongannya yang semakin mendekat.
Tiba tiba...
Whuttttt
Sebuah batu besar melayang ke arah Panji Watugunung dan rombongannya. Dengan cepat, Panji Watugunung segera mengibaskan tangannya yang berubah warna menjadi merah menyala seperti api setelah merapal Tapak Dewa Api.
Sinar merah menyala segera menghantam batu besar.
Blarrrrr!
Batu besar itu langsung hancur berkeping-keping. Meninggalkan asap mengepul di depan rombongan Panji Watugunung.
"Keluar lah Kisanak, jangan main petak umpet seperti anak kecil", teriak Warigalit.
__ADS_1
Sunyi..
Tidak ada jawaban..
Whuttttt
Sebuah batu besar melayang lagi. Kali ini mengincar Sekar Mayang yang ada di samping kiri Panji Watugunung.
Warigalit menghantamkan tangan kanan nya. Sinar merah menyala keluar dari telapak tangan Warigalit dan menghajar batu besar itu.
Blammmm!!
"Cukup sudah kesabaran ku. Kalian yang terlalu memaksa ku".
Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya dan mengambil kuda kuda. Kedua tangan nya berubah menjadi merah menyala seperti api.
Dengan cepat, Panji Watugunung segera menghantamkan kedua tangannya bergantian kearah datangnya batu melayang.
Whuttttt whutttt
Whuttttt
Tiga sinar merah menyala yang keluar dari tangan Panji Watugunung segera menerabas cepat.
Dua orang gadis cantik berbaju biru dan hijau segera melompat menghindari sinar merah itu, sementara itu sepasang kakek nenek tua itu melompat turun dari tebing gunung batu.
"Maaf kakek tua, sepertinya kita baru bertemu. Ada masalah apa sehingga kau mengganggu perjalanan kami?", tanya Panji Watugunung.
"Hehehehe, aku kemari untuk membalas dendam murid ku. Berani sekali kalian melukai nya. Aku Tapak Setan dan ini istriku Dewi Rambi.
Jangan panggil kami Sepasang Setan Sesat dari Laut Selatan jika tidak bisa menghajar kalian", seringai kejam tersungging di bibir kakek tua berambut putih itu.
Hemmmm
'Tidak bisa di diamkan ternyata', batin Panji Watugunung.
"Guru kalian sudah keluar. Apa kalian masih ingin tetap bersembunyi?", teriak Panji Watugunung sambil memandang kearah pohon besar di gunung batu.
Dua bayangan melesat cepat dan berdiri di samping Sepasang Setan Sesat.
Panji Watugunung tersenyum kecut saat Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih berdiri di samping kedua orang tua itu.
"Sudah ku duga, kalian dalangnya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
Jangan lupa dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya.
Selamat membaca 😁😁
__ADS_1