Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Lurah Perampok


__ADS_3

Ayu Galuh benar benar liar malam itu. Dan Panji Watugunung pun tak kalah. Pengaruh minuman yang di berikan Ayu Galuh luar biasa. Hampir sepanjang malam mereka bercumbu.


Panji Watugunung bangun saat matahari sudah tinggi. Tidak biasanya dia seperti ini.


'Kemana Srimpi? Kenapa dia tidak membangunkan aku?'


Panji Watugunung menatap Ayu Galuh yang masih tidur dengan memeluk nya. Tubuh putri Daha itu mulus tanpa sehelai benang pun menutupi. Panji Watugunung teringat akan kejadian tadi malam. Dia tersenyum tipis.


Pelan saja, Panji Watugunung memindahkan tangan Ayu Galuh. Kemudian menutup tubuhnya dengan selimut. Garwa patmi kedua nya ini memang cantik dan anggun namun sedikit keras kepala.


Segera Panji Watugunung memakai pakaiannya, dan membuka pintu kamar. Dua orang prajuritnya berjaga di depan pintu kamar nya.


"Apa yang kalian lakukan disini?", tanya Panji Watugunung.


"Maafkan kami Gusti Pangeran, kami di suruh Gusti Putri untuk berjaga disini. Kata Gusti Putri, jika sampai ada yang masuk dari luar, kepala kami akan di penggal", ujar prajurit penjaga itu dengan nada ketakutan.


Panji Watugunung tersenyum simpul.


'Dasar licik Ayu Galuh. Pantas saja Srimpi tidak bisa masuk'.


Panji Watugunung segera menuju tempat mandi dan membersihkan diri. Usai mandi badan nya terasa segar. Dia langsung menuju kamar tidur Sekar Mayang.


Wanita itu begitu senang saat Panji Watugunung masuk.


"Kakang, akhirnya kau bisa lepas juga dari pelukan putri liar itu".


"Sssstttttt jaga bicaramu Mayang. Di istana ini dia yang berkuasa. Semua kuping disini adalah kuping nya. Sudah ku bilang, kalian mengalah dulu selama disini", bisik Panji Watugunung.


"Tapi kang,..."


"Tidak ada tapi tapian. Kau mau aku dipersulit lagi oleh dia??", Panji Watugunung menatap mata Sekar Mayang. Diantara 3 selir nya, Sekar Mayang yang paling sudah di kendalikan.


"Ya tidak Kakang Watugunung, cuma....", Sekar Mayang tak meneruskan kalimatnya.


"Cuma apa?", Panji Watugunung mengernyitkan dahinya.


"Jatah ku bagaimana?", Sekar Mayang menunduk malu.


"Sabar dulu, saat nanti kita sudah keluar dari istana Daha, kau yang pertama", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum penuh arti.


Sekar Mayang hanya manggut-manggut mencoba untuk mengerti.


Selanjutnya selama sepekan Ayu Galuh benar benar menguasai Panji Watugunung. Para selir hanya bisa bersabar walau dalam hati mereka geram.


Panji Watugunung sudah mendapatkan lencana emas berukir chandrakapala, lambang tertinggi sebagai wakil raja. Surat untuk masing-masing kepala daerah sudah tertata rapi di buntalan kain. Hari ini upacara sepasaran manten sudah di laksanakan artinya besok Panji Watugunung sudah bisa memulai tugasnya.


Pagi begitu cerah di atas istana Dahanapura.


Panji Watugunung membuka matanya perlahan. Dilihat nya Ayu Galuh yang masih memejamkan mata memeluknya. Saat Panji Watugunung hendak memindahkan tangan Ayu Galuh, tangan putih e menahan nya.


Ayu Galuh ternyata sudah bangun.


"Bisakah Kangmas tidak berangkat hari ini?", ucap Ayu Galuh sambil tetap memejamkan matanya.


"Dinda, aku itu menjalankan tugas penting dari Gusti Prabu Samarawijaya. Dinda tidak boleh egois. Toh hanya satu purnama. Tidak akan lama Dinda", jawab Watugunung sambil tersenyum.


"Kangmas mau berjanji akan kembali untuk ku?", mata indah Ayu Galuh terbuka dan berkaca-kaca. Dia sangat mencintai suaminya itu.


"Iya, Kangmas janji pasti kembali kepada mu Dinda", ucap Panji Watugunung segera mengelus kepala Ayu Galuh dan mengecup kening putri Daha itu.


"Kangmas...."


"Hemmmmm..."


"Kangmas Panji Watugunung belum mengucapkan nya?", Ayu Galuh mengelus dada bidang sang suami.


"Mengucapkan apa Dinda Galuh?", Panji Watugunung mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Ihhhh Kangmas belum bilang kalau Kangmas mencintai ku", Ayu Galuh mengerucutkan bibirnya yang mungil.


Hemmmmm


'Putri Daha ini ternyata memiliki sifat manja juga'.


"Aku mencintaimu Dinda Galuh".


Mendengar ucapan mesra dari suami nya, membuat Ayu Galuh tersenyum bahagia.


"Lagi Kangmas".


"Sudah cukup. Aku mau mandi", ujar Panji Watugunung segera melompat turun dari ranjang dan bergegas menuju ke tempat mandi.


Ayu Galuh berlari menyusul nya.


Usai mandi dan membersihkan diri, Panji Watugunung segera berganti baju. Namun kali ini dia tidak memakai pakaian bangsawan nya.


Jarit berwarna ungu kecoklatan, celana pendek hitam, centing hitam, sabuk berujung besi. Panji Watugunung memakai itu semua tanpa baju. Ikat kepala hitam dan tali rambut juga berwarna hitam tanpa hiasan emas. Gelang akar bahar hitam juga semakin menegaskan dandanan nya sebagai pendekar.


Tanpa busana bangsawan pun, Panji Watugunung masih tetap tampan. Ayu Galuh yang membantu suaminya berdandan tersenyum tipis.


Usai berdandan dan sarapan pagi, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya. Di ikuti Warigalit, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Ratri. Ki Saketi sudah pulang ke Gelang-gelang setelah Panji Watugunung dan Ayu Galuh menikah.


Ayu Galuh melambaikan tangannya. Panji Watugunung tersenyum tipis dan segera memacu kudanya melesat meninggalkan keputran menuju ke arah Anjuk Ladang di sebelah barat.


Air mata Ayu Galuh menetes jatuh saat Panji Watugunung menghilang dari pandangan mata nya.


Di barat istana Daha, sebuah dermaga besar menyediakan jasa penyeberangan sungai Brantas.


Watugunung segera melompat turun dari kudanya, mendekati seorang pekerja yang sedang membantu mengangkat barang bawaan dari atas perahu.


"Kisanak, apa perahu ini bisa menyeberangkan kami?"


"Bisa kisanak. Sekali jalan 2 kepeng perunggu, kalau dengan kuda 3 kepeng perunggu".


"Oh tentu, mari aku antar kisanak", jawab pekerja itu dengan sopan.


Perahu segera berlayar menyeberang sungai Brantas. Ada 10 orang penumpang dan 6 ekor kuda.


Usai membayar dan turun dari perahu, Panji Watugunung dan rombongannya segera melesat meninggalkan tepi sungai Brantas. Setelah setengah hari perjalanan, mereka berhenti di sebuah wanua kecil di tepi kota Pakuwon Berbek.


Diujung Wanua ada sebuah warung makan yang lumayan ramai. Panji Watugunung segera melompat turun dan menambatkan kuda nya di ikuti oleh semua orang pengikut-pengikutnya.


Melihat wanita cantik yang baru masuk mengikuti langkah Panji Watugunung, dua pasang mata menatap ke arah mereka. Setelah saling mengangguk dua pasang mata itu segera bergegas keluar warung makan.


Makanan di warung makan itu lumayan enak. Mereka berenam makan dengan lahap.


"Kisanak, setelah makan, sebaiknya kau segera meninggalkan tempat ini", ujar pemilik warung sedikit berbisik-bisik pada Panji Watugunung.


"Kenapa Nyi? Apakah saya salah?", tanya Watugunung heran.


"Tidak, kau tidak salah. Tapi 2 orang yang baru saja keluar itu melihat terus pada gadis itu.


Mereka anak buah Lurah Sumoranu, lurah Wanua ini. Mereka pasti mengincar gadis itu untuk di berikan sebagai pemuas nafsu lurah bejat itu", ujar si pemilik warung makan sambil menunjuk ke arah Ratna Pitaloka.


"Nyi tenang saja, kami akan baik baik saja", jawab Watugunung sambil meneruskan makan nya.


"Terserah padamu anak muda, aku hanya mengingatkan kalian semua agar berhati-hati", tukas si pemilik warung makan yang di sambut anggukan kepala dari Panji Watugunung.


Usai membayar, Panji Watugunung dan rombongannya segera melompat ke atas kuda. Mereka menggebrak kuda mereka menuju Pakuwon Berbek. Selepas Wanua kecil itu mereka melewati hutan kecil di selatan kota Pakuwon Berbek.


Tiba tiba puluhan orang berbaju hitam menghadang perjalanan mereka.


"Berhenti kalian! Cepat turun! ", teriak seorang lelaki berbadan besar yang kelihatan sebagai pemimpin gerombolan itu.


Warigalit langsung melompat turun. Di ikuti Panji Watugunung dan ketiga selir nya serta Ratri.

__ADS_1


"Serahkan harta kalian kalau kalian ingin selamat", ucap si pemimpin perampok itu kasar.


Phuihhh


"Kami tidak punya harta, kalian minggir saja", teriak Warigalit keras.


"Kalau tidak punya harta, serahkan saja perempuan perempuan itu biar ku jadikan selir ku hahahaha", si pemimpin perampok tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh anak buah nya.


"Sudah ku duga kalian akan seperti ini. Kenapa masih menutupi wajah mu Lurah Sumoranu?", Panji Watugunung tersenyum sinis.


Pemimpin perampok itu terkejut. Dia tidak menduga akan terbongkar penyamarannya. Dengan gusar, Sumoranu berteriak lantang.


"Bunuh mereka semua!"


Puluhan orang berbaju hitam segera mencabut pedang mereka masing masing dan menerjang maju ke arah rombongan Panji Watugunung.


Pertarungan sengit segera terjadi.


Namun mereka bukan lawan berat bagi Panji Watugunung dan kawan kawan. Dalam beberapa jurus saja, Ratna Pitaloka sudah membuat seorang perampok tewas bersimbah darah.


Ratri pun sama, gerakan nya yang lincah membuat seorang perampok pingsan setelah menerima tendangan keras nya.


Sekar Mayang juga tidak kalah. Satu persatu perampok itu dia hajar sampai muntah darah.


Dewi Srimpi yang terlihat tenang justru paling kejam. Jarum jarum kecil beracun milik nya dengan cepat menghabisi nyawa perampok dengan sekali lempar.


Sedangkan Warigalit berhadapan dengan Sumoranu, si Lurah perampok itu.


Gerakan Warigalit yang cepat sudah bisa mendesak Sumoranu mundur. Satu pukulan Warigalit bahkan sudah mendarat di dada kiri Sumoranu. Dari sudut bibirnya, ada darah segar mengalir keluar.


Mata Sumoranu berkilat marah. Pedang besar di tangan nya dia pegang erat dan melesat cepat menuju ke arah Warigalit.


"Kubunuh kau!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍👍


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2