
Panji Watugunung terbangun saat teriakan Ratna Pitaloka membangunkan nya. Dewi Anggarawati tersenyum malu dan buru buru menggeser posisi nya. Sekar Mayang yang tidur di sebelah kanan Panji Watugunung juga ikut melek.
"Kalian selalu mengambil kesempatan saat aku lengah. Mulai hari ini harus adil", Ratna Pitaloka masih gusar,
"Hari ini giliran ku menemani kakang Watugunung, selanjutnya Mayang dan terakhir kau putri manja".
Watugunung segera berdiri dan menyambar pinggang Ratna Pitaloka menjauhi rumah besar tempat bermalam. Gerakan secepat kilat. Setelah melesat cukup jauh, mereka berdua berhenti di bawah pohon rindang.
"Kenapa Kakang Watugunung tega sekali padaku? Hiks", tangis Ratna Pitaloka pecah.
"Maafkan aku dinda, memang seperti ini keadaan ku. Bukankah dinda sudah setuju berbagi cinta ku dengan Sekar Mayang dan Anggarawati?", Watugunung segera memeluk tubuh Ratna Pitaloka.
Gadis itu masih sesenggukan di dalam pelukan hangat lelaki yang di cintai nya.
"Iya aku tahu, tapi akhir akhir ini kakang kurang perhatian pada ku, dan putri manja itu selalu menempel pada kakang".
Hemmmm
"Dinda Pitaloka cemburu ya?", senyum tipis menghiasi bibir Watugunung.
Ratna Pitaloka segera mendorong tubuh Watugunung dan memutar tubuhnya menghadap arah lain.
Semburat merah menyala terlihat jelas di wajahnya.
"Tentu saja tidak. Kakang saja yang tidak memahami perasaan ku"
Bibir Ratna Pitaloka masih menyangkal.
"Ya sudah kalau tidak cemburu ya tidak apa-apa. Aku kembali saja sama Anggarawati", goda Panji Watugunung.
"Kakang!!!!!"
Ratna Pitaloka memutar tubuhnya dan mendelik marah mendengar kata kata Panji Watugunung.
"Iya iya Kakang paham.
Makanya jangan diam saja. Kalau memang kakang tidak adil, kamu harus bicara dinda", senyum manis Watugunung melelehkan hati gadis cantik itu.
Ratna Pitaloka segera memeluk Panji Watugunung.
"Aku mencintaimu Kakang"..
Tanpa jawaban, Panji Watugunung mencium lembut kening Ratna Pitaloka.
"Hari ini aku mau berkuda dengan kakang, makan bersama Kakang Watugunung dan nanti malam kakang Watugunung harus tidur dengan memeluk ku. Pokoknya hari ini kakang milikku seorang", ujar Ratna Pitaloka tegas.
"Iya hari ini kakang hanya milikmu", jawaban Watugunung membuat gadis itu berbunga bunga.
"Ayo kita kembali ke rumah tua".
Selesai berkata, Panji Watugunung sudah melesat ke rumah tua di ikuti oleh Ratna Pitaloka.
Di rumah tua, nampak semua orang sudah siap melakukan perjalanan.
Hari ini Anggarawati harus merelakan Ratna Pitaloka berkuda bersama Panji Watugunung.
Walau kesal, tapi dia juga sadar Panji Watugunung bukan miliknya sendiri.
Sekar Mayang tersenyum simpul.
'Biar Kangmbok Pitaloka seharian tidak aku ganggu. Yang penting besok giliran ku", batin Sekar Mayang berseri seri.
Sepasang Sriti Perak merasa aneh dengan tingkah laku mereka bertiga, sedangkan Ki Sima dan Ratri hanya geleng-geleng kepala.
Setelah menyusuri jalan melintas hutan kecil, rombongan Panji Watugunung berhenti di persimpangan jalan.
__ADS_1
"Pendekar muda, budi baik mu akan kami kenang selalu. Kami mohon pamit, akan ke Padepokan Anggrek Bulan. Semoga Jagat Dewa Batara masih memberikan kesempatan kita untuk bertemu kembali", ucap Sriti Lanang sambil memberi hormat.
"Jaga baik-baik calon calon istri mu ya tuan Pendekar Pedang Naga Api. Mereka gadis gadis istimewa", sambung Sriti Wadon sambil tersenyum penuh arti.
"Kalian juga hati hati paman, setelah Anggrek Bulan, paman dan bibi harus ke Padas Putih", kata Watugunung di sambut anggukan kepala dari Sriti Lanang.
Sepasang Sriti Perak menggebrak kuda, mengambil jalur kanan menuju ke Padepokan Anggrek Bulan.
Sedangkan rombongan Panji Watugunung mengambil jalur kiri menuju ke Pakuwon Bandar yang merupakan jalur terdekat menuju Padepokan Padas Putih.
Tanpa banyak hambatan, mereka tiba di Pakuwon Bandar pada lewat tengah hari. Jalan di seputar Pakuwon Bandar lebar. Rumah rumah tersusun rapi.
Banyaknya orang berlalu lalang di jalan Pakuwon, tanda tempat ini tempat persinggahan ramai. Rata rata yang mereka yang menuju ke gunung Penanggungan atau sebaliknya menjadikan tempat ini sebagai tempat pemberhentian nya.
Tak jarang murid-murid Padas Putih juga membeli kebutuhan nya di Pakuwon Bandar.
Panji Watugunung dan rombongannya berhenti di sebuah rumah makan yang ramai. Di belakang rumah makan, ada juga tempat menginap untuk para pelancong.
Usai menyerahkan kuda pada pekatik, mereka masuk ke rumah makan. Sebentar lagi senja dan mereka memutuskan makan dan bermalam disitu. Memaksakan perjalanan ke Padepokan Padas Putih berarti mereka harus bersiap tidur di hutan.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka.
Melihat tampilan pendekar, pelayan tersebut berhati-hati dan memilih bersikap ramah.
"Permisi tuan, ada yang bisa hamba bantu?", tanya pelayan ke Panji Watugunung. Karna bagaimana pun terlihat bahwa pemuda itu pimpinan rombongan.
"Kami ingin makan dan menginap di sini. Bisa kan?", Panji Watugunung melirik suasana di situ.
"Oh tentu bisa tuan, berapa kamar yang di butuhkan? Akan hamba siapkan", pelayan itu sopan.
"5 kamar saja. Sekalian makan untuk 6 orang", jawab Watugunung. Ratna Pitaloka tersenyum lebar sedangkan Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati cemberut.
"Iya tuan. sekarang hamba antar tuan ke meja", pelayan bergegas menuju sebuah meja besar dengan 6 kursi di sekeliling.
Di sebelah belakang meja Panji Watugunung nampak 3 orang lelaki dengan pakaian serba merah bercakap-cakap.
"Aku dengar itu dari para pedagang yang melintas dari Tamwelang. Menurut berita, mereka adalah orang-orang Watugaluh yang di pimpin langsung Akuwu Watugaluh", lelaki dewasa berjenggot tipis itu mengelus jenggotnya.
"Tapi aku dengar kang, Akuwu Watugaluh hanya memimpin pasukan. Yang menarik perhatian bukan Akuwu Watugaluh, tapi seorang pendekar muda yang bergelar Pendekar Pedang Naga Api yang ikut menyerbu markas Kalajengking Biru. Katanya, pendekar itu sangat sakti, bahkan Tangan Kalajengking yang hebat saja mampu di habisi", timpal lelaki berambut gimbal di sebelahnya.
"Pemimpin kita saja, belum tentu menang melawan Tangan Kalajengking. Bukankah itu artinya dia luar biasa?".
Lelaki berjenggot tipis mendengus panjang.
"Kudengar dia juga menghabisi tangan kanan Dewa Maut yang mencoba membunuh Bupati Gelang-gelang. Padahal kita tau kehebatan Mahesa Rangkah seperti apa", sambung lelaki berjenggot tipis.
"Tapi pemimpin tertinggi perguruan kita, Pangeran Alas Larangan sudah mewanti-wanti kita agar berhati-hati dalam memilih lawan. Bagaimana pun rencana besar Raja muda Mapanji Garasakan harus dilaksanakan", sahut si lelaki muda berpedang pendek.
"Jaga bicaramu adik, kita di tempat ramai malah kau ngoceh masalah rahasia. Kalau ketahuan guru, leher kita bisa di keekkkk", pria berjenggot tipis menaruh telunjuk di leher dan menarik nya.
Lelaki muda berpedang pendek bergidik.
"Maaf kakang maaf, keceplosan ngomong.
Tapi malam ini kita menginap di sini kan kang?"
"Tentu saja, besok pagi kita pulang ke Gunung Wilis", sahut lelaki berjenggot tipis.
Panji Watugunung yang dari tadi mendengar obrolan mereka, terdiam memikirkan sesuatu.
'Rencana besar Raja muda Mapanji Garasakan? Kenapa orang-orang golongan hitam dari Alas Larangan bisa tau? Rencana besar apa itu?
Aku harus mencari tau'
"Kakangng Panji Watugunung, ayo makan''
__ADS_1
Suara merdu Ratna Pitaloka membuyarkan lamunan Panji Watugunung.
"E-eh iya dinda iya, ayo makan", Panji Watugunung tergagap berbicara.
Ratna Pitaloka mengernyitkan keningnya.
'Sepertinya Kakang Watugunung sedang memikirkan sesuatu'
Malam itu, usai makan, mereka bergegas menuju kamar masing-masing.
Ratna Pitaloka yang sekamar dengan Panji Watugunung berdebar kencang jantung nya.
Dia hanya duduk di kursi dalam kamar. Sebentar sebentar melirik Panji Watugunung di atas ranjang.
"Kenapa masih di situ? Katanya mau menemani tidur ku malam ini", ucapan Watugunung bagai gelegar petir menyambar dada Ratna Pitaloka.
"A-aku masih belum mengantuk kakang", kegugupan Ratna Pitaloka membuat Panji Watugunung tersenyum.
"Ya sudah aku pindah ke kamar Anggarawati saja".
Ratna Pitaloka segera bergegas menuju ranjang dan memeluk tubuh Panji Watugunung.
"Tidak boleh tidak boleh", ucap Ratna Pitaloka.
Panji Watugunung terkekeh geli melihat tingkah Ratna Pitaloka.
' Tadi pagi garang banget, sekarang seperti anak kucing jinak'.
"Lha kenapa tidak boleh??", ucap Panji Watugunung menggoda Ratna Pitaloka.
Dengan wajah merah seperti tomat matang, Ratna Pitaloka berucap,
"Kamu milik ku malam ini".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author gak kuat kalau nulis romantis seperti ini guys 😁😁😁😁
Bikin panas dingin tak menentu hihihihi 🤭🤭
Happy reading yah..
__ADS_1
See you next episode