
Tiga hari sudah Panji Watugunung tinggal di tempat kediaman Warok Suropati. Setelah hari pertama Panji Watugunung mendapat ilmu Ngrogoh Sukmo, hari selanjutnya Warok Suropati menurunkan Ajian Waringin Sungsang. Ilmu kanuragan ini sangat ampuh, karna mampu menyerap daya hidup dan tenaga dalam seseorang.
Pada hari ketiga, Brotoseno datang ke rumah Warok Suropati. Kali ini dia tidak sendiri, seorang lelaki tua berbaju hitam mendampinginya. Wajah kakek tua itu selalu menunduk seakan menyembunyikan wajahnya.
"Paman Suropati,
Aku datang memenuhi janji.
Ayo, mana jagoan yang kau janjikan melawan ku??", teriak Brotoseno sambil berkacak pinggang di halaman rumah Warok Suropati.
Warok Suropati yang sedang berkumpul dengan rombongan Panji Watugunung di serambi kediaman nya, terkekeh geli mendengar suara Brotoseno berkoar.
Lurah Wanua itu segera berdiri dan berjalan keluar dari serambi kediamannya di ikuti Panji Watugunung dan yang lainnya.
Melihat kakek tua di samping Brotoseno, Warok Suropati tertawa terbahak-bahak.
"Rupanya membawa bantuan kau Brotoseno, hahahaha..
Sekian tahun tak bertemu, rupanya kau masih hidup Kalamaruta??".
Si kakek tua itu tersenyum sinis.
"Hehehehe mata mu cukup awas juga Suropati..
Aku sudah lama tidak turun gunung. Murid ku meminta aku menemaninya. Katanya ada jagoan tua yang tidak tahu diri mempermalukan dirinya. Ternyata kau".
"Hehehehe jadi dia murid mu, pantas jumawa di depan ku.
Kebetulan aku juga mau melihat sampai di mana batas kemampuan murid baru ku", ujar Warok Suropati memandang kearah Panji Watugunung.
"Majulah Broto", teriak Kalamaruta yang membuat Brotoseno melesat cepat menuju Warok Suropati.
Panji Watugunung pun tidak tinggal diam. Segera dia menghadang laju Brotoseno dengan jurus silat Padas Putih andalannya.
Brotoseno segera menyambar leher Panji Watugunung dengan jurus cakar nya. Panji Watugunung menghindar sedikit ke samping dan melayangkan pukulan tangan kanan nya ke perut Brotoseno.
Putra Akuwu Tapa itu memutar badannya, sedikit menunduk dan kembali mengincar leher Panji Watugunung dengan cakar nya.
Panji Watugunung mundur selangkah dan menghantam cakar dengan telapak tangan kiri nya.
Bukkkkk..
Mereka sama-sama mundur selangkah lalu saling menyerang dengan pukulan dan tendangan.
Warok Suropati tersenyum simpul memandang kearah gerakan Panji Watugunung yang kelihatan masih main main dalam bertarung, sedangkan Kalamaruta terus mengamati gerak-gerik muridnya.
'Murid Suropati ini masih belum mengerahkan seluruh kemampuan rupanya', batin Kalamaruta.
Setelah hampir 15 jurus, Panji Watugunung melayangkan pukulan ke arah dada Brotoseno yang membuat lelaki itu terdorong mundur dua langkah. Dadanya sesak.
Putra Akuwu Tapa itu geram.
Brotoseno segera memusatkan tenaga dalam dan seketika tangan nya di liputi sinar merah.
Panji Watugunung segera waspada. Dia segera merapalkan Ajian Sepi Angin nya.
'Cadasgeni.....'
Hiyaaaaaatttttt...
Sinar merah menyala melesat keluar dari tangan kanan Brotoseno mengarah ke Panji Watugunung.
Shuuttt
Blammmm!
Gerakan cepat Panji Watugunung menghindari sinar merah itu membuat sinar merah menghantam tanah. Ledakan dahsyat terjadi di halaman luas Warok Suropati.
Brotoseno yang gusar karena serangannya berhasil di hindari, kembali menghantamkan tangan kanan nya berulang kali ke arah Panji Watugunung..
Shuuttt shutt
Shuuttt..
Blam! Blammmm!
Blammmm!
Kembali ajian Sepi Angin nya benar benar membuat gerakan Panji Watugunung sangat ringan dan lincah menghindari serangan Brotoseno.
Semua orang menahan nafas melihat pertarungan itu.
__ADS_1
Brotoseno geram melihat serangan nya terus berhasil di hindari Panji Watugunung.
"Keparat!
Jangan cuma menghindar saja. Hadapi aku jika kamu laki laki sejati".
Panji Watugunung tersenyum, lalu menoleh kearah Warok Suropati. Melihat laki laki itu mengangguk, Panji Watugunung segera memusatkan tenaga dalam nya dan menggunakan Ajian Tameng Waja andalannya.
Brotoseno kembali melayangkan sinar merah dari Ajian Cadasgeni andalannya. Sinar merah melesat cepat menuju Panji Watugunung. Namun, kali ini Panji Watugunung tidak menghindari.
Cempluk Rara Sunti tanpa sadar berteriak.
"Awas Kakang"
Shut Shuuttt
Blarrrrr! Blarrrrr!
Ledakan dahsyat terjadi saat dua sinar merah Ajian Cadasgeni menabrak tubuh Panji Watugunung. Asap mengepul dari tubuh Panji Watugunung.
"Mampus kau", Brotoseno menyeringai lebar melihat kepulan asap dari tubuh Watugunung. Kalamaruta pun ikut tersenyum melihat Ajian Cadasgeni telak menghantam Watugunung.
Namun itu tidak berlangsung lama.
Saat asap mulai menghilang, Panji Watugunung masih tetap berdiri dan tersenyum lebar. Dari tubuh nya sinar kuning keemasan melindungi seluruh tubuhnya.
Semua orang terkejut melihat itu, tak terkecuali Warok Suropati. Dia tau Panji Watugunung berilmu tinggi, namun Ajian Tameng Waja benar benar di luar dugaan nya. Hanya Warigalit, Ratri dan ketiga selir Panji Watugunung saja yang tetap tenang.
Cempluk Rara Sunti pun terkagum-kagum. Pemuda itu menunjukkan pesona sebagai pendekar sakti mandraguna kepadanya.
Brotoseno yang sangat yakin dia sudah menghabisi nyawa Panji Watugunung melotot matanya. Kalamaruta pun terkejut.
'Ajian Tameng Waja. Pendekar muda ini berbahaya', batin Kalamaruta.
Brotoseno yang semula yakin bisa mengalahkan Panji Watugunung mulai menyadari bahwa lawannya belum serius melawannya. Dari tadi lawannya hanya menghindar dan bertahan, belum menyerangnya dengan tenaga dalam.
Rasa takut mulai menghinggapi hati Brotoseno.
Putra Akuwu Tapa itu segera memandang kearah Kalamaruta guru nya. Kalamaruta mengangguk.
Brotoseno segera memusatkan tenaga dalam nya. Tapak tangannya seketika berubah warna menjadi merah menyala seperti api. Kuku tangan nya memanjang seperti kuku binatang buas. Dia merapalkan Ajian Cakar Geni.
Panji Watugunung memejamkan matanya sesaat, lalu mengambil nafas dalam sebelum kuku kuku Brotoseno menyentuh kulit nya. Sinar kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuhnya.
Cringg
Kuku Brotoseno yang dilambari tenaga dalam tingkat tinggi Ajian Cakar Geni seperti mencakar baja yang keras.
Brotoseno terkejut bukan main. Cakar Geni yang biasanya bisa menghancurkan tulang dan besi sekarang tidak ubahnya seperti cakar ayam yang tak ada gunanya melawan Ajian Tameng Waja.
Panji Watugunung tersenyum tipis.
'Akan ku coba ilmu baru ku'
Panji Watugunung segera mengambil nafas dan mulai merapal Ajian Waringin Sungsang yang baru di turunkan oleh Warok Suropati. Seketika sinar hijau kebiruan melapisi seluruh tubuh.
Brotoseno yang masih mencoba menancapkan kukunya mulai merasakan tenaga dalam nya tersedot ke arah Panji Watugunung.
Semakin lama semakin kuat.
Rasa sakit mulai menyerang seluruh urat nadi dan sendi sendi tulang Brotoseno.
Perlahan darah mulai mengalir dari sudut bibir Brotoseno. Kalamaruta yang melihat itu semua segera melompat ke arah Panji Watugunung, namun Warok Suropati segera menghadang nya. Sambaran tangan Kalamaruta di tangkis tangan kanan Warok Suropati.
Deshh
Benturan tenaga dalam tingkat tinggi membuat keduanya mundur dua tombak.
"Jangan coba-coba berani ikut campur Kalamaruta.
Atau kau akan berhadapan dengan ku", ancam Warok Suropati memandang kearah Kalamaruta.
Kakek tua itu mendelik tajam kearah Warok Suropati namun dia tidak berani melangkah. Berurusan dengan adik Adipati Wengker ini sama dengan mencari mati. Warok Suropati yang terkenal dengan sebutan Simo Tapa bukan Pendekar kacangan.
Darah sudah mengalir dari mulut, dan hidung Brotoseno. Panji Watugunung yang tidak ingin membunuh putra Akuwu Tapa itu, segera menendang perut Brotoseno untuk melepaskan tubuh Brotoseno dari Ajian Waringin Sungsang.
Bukkkkk
Tubuh Brotoseno terhempas ke belakang dan Kalamaruta segera melompat menangkap tubuh murid nya.
"Pendekar muda, suatu saat dendam ini akan ku balas", ujar Kalamaruta sambil memandang tajam kearah Panji Watugunung.
__ADS_1
Kalamaruta memapah tubuh Brotoseno yang terluka dalam serius keluar dari halaman rumah Warok Suropati. Bisa dipastikan akan memakan waktu lama untuk Brotoseno bisa kembali seperti sedia kala.
Ajian Waringin Sungsang sudah menghancurkan sebagian urat nadi dan melukai beberapa persendian Brotoseno. Ajian itu benar benar mengerikan.
Panji Watugunung segera menghela nafas panjang. Sinar hijau kebiruan dan kuning keemasan segera menghilang. Segera dia mendekat ke arah Warok Suropati.
"Kau benar-benar berbakat bocah.. Padahal baru semalam, kau sudah bisa menguasai ilmu itu. Aku saja butuh 10 tahun untuk menguasainya", ujar Warok Suropati memandang kearah Panji Watugunung.
"Kalau tanpa kemurahan hati dari Paman, mungkin aku juga tidak bisa menguasai ilmu ini", Panji Watugunung menghormat.
"Mulutmu manis sekali bocah,
Hahahaha aku suka sikapmu yang seperti ini", Warok Suropati tertawa terbahak-bahak.
Mereka semua kembali ke serambi kediaman Warok Suropati untuk melanjutkan sarapan mereka yang tertunda karena Brotoseno.
Sarapan pisang rebus dan gethuk di temani wedang jahe membuat suasana menjadi sahdu.
Cempluk Rara Sunti kini tidak memandang remeh Panji Watugunung lagi. Malah sering mencuri pandang ke arah Pendekar Pedang Naga Api itu.
Siang itu, Warok Suropati mendapat undangan ke salah satu rumah warganya. Nyi Ratih dan si Cempluk ke tegal untuk memetik sayuran.
Panji Watugunung duduk di temani ketiga selir nya dan Warigalit serta Ratri di serambi kediaman Warok Suropati.
"Dhimas, sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan ke Wengker. Perjalanan kita masih panjang. Bisa dikatakan, begitu sampai di Wengker, kita baru menempuh separuh jalan", ujar Warigalit.
"Benar Kakang Warigalit, perjalanan kita masih jauh. Kalau tertunda lebih lama, aku khawatir keadaan semakin gawat", Panji Watugunung memandang kearah langit biru di arah timur.
"Sebaiknya kita segera pamit pada Ki Warok Suropati, Kakang. Setelah Wengker kita harus ke Tanggulangin, Karang Anom, Seloageng dan terakhir Gelang-gelang", ujar Ratna Pitaloka.
Panji Watugunung hanya menganggukkan kepalanya.
Menjelang malam, Warok Suropati di temani Nyi Ratih dan putrinya Rara Sunti berkumpul di serambi bersama Panji Watugunung dan rombongannya. Usai makan malam, mereka berbincang hangat.
"Paman, kami sangat berterimakasih atas kebaikan keluarga Paman kepada kami.
Budi baik ini aku tidak akan pernah melupakannya.
Tugas kami masih sangat panjang Paman, semakin lama kami disini, takutnya keadaan di Daha semakin tidak terkendali.
Besok kami mohon pamit, ingin meneruskan perjalanan ke kota Wengker".
Baru Warok Suropati hendak bicara, suara Cempluk Rara Sunti sudah dulu keluar.
"Kenapa harus buru buru pergi?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wahhh lha ini? GAWAT!!
Tambah lagi gak ya istrinya Kang Panji??😁
Jangan lupa dukung author terus semangat menulis dengan like vote share dan komentar nya ya guys 👍👍
Selamat membaca 😁😁
__ADS_1