
Sesampainya di kota Pakuwon Bedander, Panji Watugunung dan pasukannya memasuki istana pakuwon. Sang Akuwu Bedander, Sindupati, menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di Pakuwon Bedander Gusti Pangeran. Sindupati menyambut kedatangan Gusti Pangeran", Sindupati berjongkok dan menyembah kepada Panji Watugunung.
"Berdirilah Akuwu Sindupati,
Aku bukan dewa. Jangan berlaku seperti itu", ujar Panji Watugunung segera.
"Hamba mengerti Gusti,
Apa ada hal yang perlu di bicarakan Gusti Pangeran?", Sindupati menatap wajah Panji Watugunung segera.
"Apa kau tidak mempersilakan kami masuk?", Panji Watugunung tersenyum. Dia tahu Sindupati pasti kaget melihat kedatangan prajurit dalam jumlah besar itu dan melupakan sopan santun dan tata krama bangsawan.
"Ahhh hamba lupa. Mari silahkan masuk dulu ke dalam Gusti Pangeran. Maafkan kebodohan Sindupati", Akuwu Bedander itu membungkukkan badannya.
Panji Watugunung di ikuti 4 istri nya, Warigalit, Ratri, Ki Saketi, Semua bekel prajurit Garuda Panjalu, Tumenggung Adiguna, Tumenggung Koncar, Tumenggung Gati dan Tumenggung Sancaka masuk ke istana Pakuwon Bedander.
Mereka segera duduk bersila di lantai bangsal pisowanan Pakuwon Bedander.
"Sindupati,
Akan ku jelaskan situasi yang akan terjadi. 10 ribu pasukan Jenggala sedang menuju kemari.
Aku ingin meminta bantuan mu untuk menjadikan Istana Pakuwon Bedander sebagai pusat persiapan melawan penyerbuan Jenggala", ujar Panji Watugunung segera.
Akuwu Sindupati langsung pucat mendengar ucapan Panji Watugunung tentang 10 ribu prajurit Jenggala itu. Sebagai Pakuwon di perbatasan, sudah barang tentu daerahnya akan menjadi wilayah pertama yang di lewati oleh musuh.
"Apa kau keberatan Akuwu Sindupati??", Panji Watugunung memandang wajah Sindupati yang pucat.
"Hamba sama sekali tidak keberatan jika Gusti Pangeran menginginkan demikian, namun yang hamba bingungkan hanya persediaan bahan makanan untuk semua prajurit ini Gusti Pangeran.
Pakuwon Bedander tidak memiliki kemampuan untuk menjamin makan semua prajurit", Sindupati menghormat pada Panji Watugunung.
Putra Bupati Gelang-gelang itu segera tersenyum tipis.
"Urusan makan, kau tidak usah khawatir. Para prajurit kami memiliki perbekalan yang cukup untuk bertahan hidup selama 1 purnama. Kau tidak perlu khawatir soal itu.
Kami hanya perlu tempat mu untuk menyusun rencana dalam upaya menghadang serbuan pasukan Jenggala ini".
"Hamba mengerti Gusti Pangeran, hamba siap membantu apapun yang dibutuhkan", Sindupati segera menghormat.
Siang itu, semua di tata dengan cermat. Sementara Panji Watugunung dan keempat istrinya menempati balai peristirahatan Pakuwon Bedander sebagai tempat tinggal. Istana Pakuwon Bedander di tetapkan sebagai pusat markas pasukan.
3000 prajurit berkemah di luar kota Pakuwon, tepatnya di dekat hutan bambu betung sebelah sendang Weru.
300 perwira tinggi dan menengah termasuk pasukan Garuda Panjalu yang berjumlah 200 orang, tinggal di istana Pakuwon Bedander.
Panji Watugunung mengutus Ki Saketi menghadap pada Adipati Seloageng untuk menyampaikan berita ini.
Wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu itu di temani Jarasanda segera melompat ke atas kuda mereka, memacu kudanya melesat cepat menuju ke kota Kadipaten Seloageng. Sambil menunggu kedatangan Ki Saketi, Panji Watugunung di temani Ratna Pitaloka berkuda bersama menuju Kali Aksa.
Setelah melihat perkemahan pasukan di Sendang Weru, mereka terus memacu kudanya menuju Kali Aksa.
Di sebuah tebing batu di tepi sungai itu, mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Sebuah batu besar yang rata, menjadi tempat duduk mereka berdua.
Ratna Pitaloka menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Angin semilir dari selatan berhembus, menghilangkan gerah tubuh dari berkuda tadi.
"Sudah lama sekali kita tidak duduk berdua seperti ini Kakang", ujar Ratna Pitaloka sambil menatap hamparan pasir hitam di Kali Aksa.
Panji Watugunung hanya tersenyum tipis saja
"Apa Kakang Watugunung tidak merindukan saat bersama ku?", Ratna Pitaloka kembali berucap.
"Bicara apa kau ini Dinda?
Tentu saja aku merindukan saat saat kita berkelana bersama. Memetik buah dan sayur dari belakang kediaman guru di padepokan.
Berburu ayam hutan bersama.
Itu saat paling damai dalam hidup ku".
__ADS_1
Ucapan Panji Watugunung segera membuat Ratna Pitaloka tersenyum manis.
Dulu saat masih di padepokan, kemanapun mereka selalu berdua. Walaupun ada gangguan dari Sekar Mayang, tapi mereka tetap bersama.
Ratna Pitaloka segera menoleh kearah Panji Watugunung, dan segera mencium bibir sang putra Bupati Gelang-gelang itu dengan cepat.
"Nakal..
Mencari kesempatan dalam kesempitan", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum penuh arti.
"Aku tidak peduli Kakang. Aku mencintaimu, dan akan terus berlanjut hingga akhir waktu", tangan kiri Ratna Pitaloka segera merangkul leher Panji Watugunung. Perempuan itu segera mencium bibir Panji Watugunung dengan sedikit liar.
Lama kelamaan, ciuman itu berubah menjadi cumbuan panas dan mesra.
Sebagai lelaki normal, terang saja naluri lelaki itu terpancing juga. Dengan lembut ciuman panas Panji Watugunung turun ke leher jenjang Ratna Pitaloka. Memberikan beberapa tanda merah kepemilikan disana. Semakin turun dan terus turun.
Selanjutnya hanya terdengar suara rintihan dan erangan kenikmatan dari sana. Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka mendaki puncak hubungan suami istri disana.
Matahari mulai tergelincir ke arah barat.
Panji Watugunung masih mengatur nafas nya. Ratna Pitaloka tersenyum bahagia sambil mulai memakai pakaian nya. Mereka bercinta lebih dari satu kali.
"Kakang Watugunung memang perkasa", ujar Ratna Pitaloka sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Panji Watugunung tidak menjawab, laki laki itu hanya tersenyum saja.
"Sebaiknya kita segera kembali Dinda,
Sudah sore", Panji Watugunung segera bangkit dari atas batu. Ratna Pitaloka segera mengikuti gerakan suaminya itu.
Mereka berdua segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kudanya melesat ke arah istana Pakuwon Bedander. Sepanjang perjalanan, dua orang itu terlihat senang. Senyum tak lepas dari wajah mereka berdua.
Begitu memasuki istana Pakuwon Bedander, mereka langsung di sambut oleh para istri Panji Watugunung dan para perwira prajurit termasuk Ki Saketi, Jarasanda dan Tumenggung Wiguna.
Tumenggung muda itu rupanya sudah sampai di Seloageng dan mengikuti langkah Ki Saketi dan Jarasanda untuk bergabung dengan pasukan Panji Watugunung.
Sementara Panji Watugunung sedang sibuk, tiga istri Panji Watugunung menatap curiga pada Ratna Pitaloka.
"Iya, kalian berdua pergi lama sekali. Pasti tidak mungkin hanya berkeliling saja", timpal Ayu Galuh sambil memicingkan matanya.
"Kami hanya jalan jalan saja, melihat Kali Aksa sambil melihat situasi", Ratna Pitaloka mengulum senyumnya. Melihat itu Sekar Mayang semakin curiga dengan Ratna Pitaloka.
Dewi Srimpi yang jeli, segera membisiki Sekar Mayang. Mata Sekar Mayang langsung tertuju pada pangkal leher Ratna Pitaloka yang di tutupi selendang. Sebuah tanda merah mengintip dari sana.
Sekar Mayang segera menarik selendang itu, dan beberapa tanda merah segera terlihat di leher Ratna Pitaloka yang putih.
"Kau mau berkelit bagaimana lagi Kangmbok Pitaloka?", Sekar Mayang menatap dingin pada Ratna Pitaloka.
"Terus dimana salahnya kalau aku dan Kakang Watugunung bercumbu? Dia suami ku, kalau kami mau bercinta ya sah sah saja kan?", Ratna Pitaloka mencebikan bibirnya.
"Giliran Kangmbok kan sudah tadi malam, kenapa masih nambah lagi?", gerutu Sekar Mayang.
"Bukan aku yang mau, Kakang Watugunung yang menginginkan. Apa aku harus menolaknya? Ya sayang lah kalau di tolak", Ratna Pitaloka mengulum senyumnya lagi.
Ketiga nya langsung diam seketika. Kalau suami mereka yang ingin, mereka juga tidak mungkin menolak, bukan?
Sementara para istri masih ribut gara gara tanda merah, Panji Watugunung sibuk mendengar laporan masing-masing utusan.
"Gusti Adipati Seloageng bersedia mengirimkan pasukan tambahan untuk kita Gusti Pangeran, besok pagi mereka berangkat kesini", lapor Ki Saketi tentang hasil pertemuan nya dengan Adipati Tejo Sumirat.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya ada tambahan untuk menjaga sisi sungai Brantas.
Kita butuh pasukan yang mampu bergerak cepat.
Tumenggung Wiguna,
Berita apa yang kau bawa dari Daha?", Panji Watugunung menatap Tumenggung Wiguna.
"Senopati muda Narapraja akan membantu kita disini Gusti Pangeran, sedang Senopati Ganggadara akan bergabung dengan pasukan Balapati di Utara. Rupanya, selain dari Tumapel, pasukan Jenggala juga bergerak dari Lwaram menuju Daha dari Utara sungai Brantas", jawab Tumenggung Wiguna sambil menghormat.
Hemmmm
__ADS_1
"Berapa jumlah pasukan yang di perbantukan untuk kita?", tanya Panji Watugunung segera.
"Senopati Narapraja akan memimpin pasukan dari Karang Anom, Tanggulangin, Wengker, dan Kurawan. Semua berjumlah 4 ribu prajurit Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Wiguna sambil menundukkan kepalanya.
Semua orang terperangah mendengar penjelasan Tumenggung Wiguna. 10 ribu pasukan melawan 7500 prajurit. Untuk memenangkan pertarungan ini akan sulit.
Panji Watugunung menghela nafas panjang.
'Ini tidak akan mudah'
**
Sementara itu, pasukan Jenggala pimpinan Senopati Socawarma sudah memasuki wilayah Lahor.
10 ribu prajurit yang terdiri dari 1000 pasukan menaiki perahu, 4 ribu pasukan berkuda, 5000 pasukan berjalan kaki, 500 penarik pedati dan 500 prajurit pemanah itu beristirahat di lembah sungai Lahor yang hijau.
"Berapa lama lagi kita sampai di Kali Aksa, Larantapa?", tanya Senopati Socawarma pada Tumenggung Larantapa. Sebagai penduduk asli Pakuwon Tumapel, dia tau persis keadaan alam dan di sekitar wilayah ini.
"Kalau tidak ada halangan, 3 hari kita sampai di perbatasan Gusti Senopati. Kalau lewat perahu, akan lebih mudah Gusti", jawab sang Tumenggung sambil menyembah.
"Gandara,
Bagaimana keadaan keamanan pasukan kita?", tanya Senopati Socawarma pada Tumenggung Gandara yang duduk di sebelah kiri nya.
"Ampuni Gusti Senopati,
Pasukan kita dalam kondisi yang baik", Gandara segera menghormat.
"Wangkas,
Bagaimana kondisi perbekalan kita??", Socawarma menatap Tumenggung Wangkas.
"Aman Gusti Senopati,
Perbekalan kita cukup untuk bertahan selama 1 purnama", Wangkas, Tumenggung berbadan bongsor itu segera menghaturkan sembah.
Senopati Socawarma terus memeriksa keadaan pasukannya lewat para perwira tinggi yang menjadi pengikutnya.
Sementara itu, dari rimbun pepohonan hijau, dua pasang mata terus menatap ke arah perkemahan para prajurit Jenggala.
"Kita harus bergegas, sebelum terlambat"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah semakin dekat...😱😱
Ikuti terus kisah selanjutnya ya guys 😁😁
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya dari para kakak reader tersayang terhadap cerita ini ya ❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁🙏🙏