Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kabur


__ADS_3

**


Pasukan Daha Yang dipimpin oleh Senopati Narapraja bergerak menuju kota Kadipaten Kalingga. Pagi itu saat matahari mulai menyingsing, saat mereka hendak membongkar tenda yang berada di pinggir kota Pakuwon Wadangdowo, sepasukan prajurit Kalingga yang di pimpin oleh Senopati Lokananta menemui mereka.


"Maaf Gusti Senopati,


Gusti Pangeran Panji Watugunung memerintahkan kepada saya jika prajurit Daha tiba, maka di minta langsung ke Pakuwon Banjar", ujar Lokananta sambil menghormat.


"Apa Gusti Pangeran sudah kembali dari Galuh Pakuan, Lokananta?", tanya Senopati Narapraja kemudian.


"Belum ada kabar Gusti Senopati, namun dari berita telik sandi di Rajapura kalau mereka sudah melewati batas negara kurang lebih 10 hari yang lalu.


Jika perhitungan saya tepat, kemungkinan mereka sedang menuju ke wilayah Banjar lewat perbatasan Paguhan. Sebab Gusti Pangeran Panji mengatakan akan bertemu disana", jawab Senopati Lokananta seraya menatap langit selatan.


"Apa kau yakin Lokananta?", Senopati Narapraja memandang wajah tegas Lokananta.


"Saya sudah menempatkan telik sandi di Pakuwon Pandanarum, di barat Pakuwon Banjar. Jika Gusti Pangeran Panji tiba disana, mereka akan segera memberi kabar kepada saya Gusti Senopati", Lokananta tersenyum tipis.


"Baiklah, aku percaya kepada mu Lokananta.


Lantas apa sudah kau persiapkan tempat untuk berkemah para prajurit?" Senopati Narapraja menatap wajah Senopati Lokananta.


"Di utara kota Pakuwon Banjar, ada sebuah Padang rumput yang luas Gusti Senopati, saya sudah memerintahkan kepada 2 tumenggung Kalingga untuk menata tempat. Sekalian disana sudah ada 2 ribu prajurit dari Bhumi Sambara dan Kalingga yang berkemah", ujar Senopati Lokananta sambil membungkuk hormat.


Setelah mendapat penjelasan dari Senopati Lokananta, pimpinan pasukan Daha memerintahkan kepada para prajurit Daha untuk bersiap menuju ke Pakuwon Banjar yang ada di selatan wilayah Wadangdowo.


Pasukan Garuda Panjalu pun segera bersiap.


"Mbreg,


Perintah berubah. Kita tidak menuju kota Kadipaten Kalingga tapi menuju ke kota Pakuwon Banjar", ujar Jarasanda yang baru mendapatkan perintah dari Warigalit.


"Ini bagaimana sih?


Tadi mau ke Kalingga, sekarang kog ganti ke Pakuwon Banjar. Para pimpinan kog plin plan begini", gerutu Gumbreg sambil mengikat tali pada kudanya.


"Memang ada perubahan rencana Mbreg, lagian ini juga perintah dari Gusti Pangeran", Jarasanda mencoba menjelaskan.


"Heleh alasan..


Jadi pimpinan mbok yang tegas. Jadi para warga tidak kebingungan.


Seperti aku nih. Contoh pemimpin rumah tangga yang tegas. Cinta ku hanya untuk Dhek Jum seorang, tidak ke lain hati", ujar Gumbreg yang kumat sombongnya.


"Alah itu cuma alasan mu saja. Coba ada perempuan lain yang mau sama kamu, pasti kamu juga bercabang", potong Ludaka.


"Oh tidak bisa, aku bukan orang seperti itu ya Lu", Gumbreg kekeuh dengan omongan nya.


"Yo wes, kalau gitu Pertiwi si anak pemilik warung makan itu buat aku aja. Kemarin dia ngomong kalau dia suka sama kamu Mbreg", ujar Landung yang ikut nimbrung percakapan.


"Hahhhhh?!


Yang bener Ndung? Pertiwi yang cantik denok deblong itu? Naksir sama aku?", Gumbreg langsung melebar matanya.


"Iya, katanya kamu gagah berani berani seperti Raden Gatotkaca", Landung terus memanasi Gumbreg.


Kepala Gumbreg langsung besar mendengar ucapan Landung.


"Wah ini berat ini..


Dhek Jum mau gak ya dimadu sama Pertiwi?", gumam Gumbreg sambil memijit hidungnya.


"Hla kan ketahuan.


Dasar buaya buntung muka penyok. Bilang setia, tapi dengar ada yang naksir langsung mangkir.


Besok pulang ke Sanggur, tak laporkan sama Juminten kau", ancam Ludaka sambil nyengir kuda.


"Eh Lu, jangan Lu.. Bisa bisa aku disuruh tidur di luar lagi", Gumbreg langsung pucat mendengar ancaman Ludaka.

__ADS_1


"Biar kapok, dan gak sok kegantengan lagi", ujar Ludaka sambil berlalu dengan Landung dan tertawa terbahak-bahak.


Gumbreg lemas seketika.


**


Panji Watugunung dan rombongannya segera mencari tempat bermalam di kota pakuwon Pandanarum. Sehabis pertarungan melawan para perampok kelompok Sepasang Iblis Gading, mereka ingin beristirahat sekalian memulihkan kembali tenaga mereka yang terkuras.


Tak jauh dari pinggiran kota, mereka menemukan sebuah penginapan kecil yang sepi.


Setelah menyerahkan kuda mereka pada para pekatik, mereka bertujuh masuk ke dalam penginapan.


Seorang wanita paruh baya buru buru menghampiri mereka.


"Apa Kisanak sekalian mau menginap?", ujar wanita itu dengan sopan.


"Iya Nyi, kami ingin menginap di sini", jawab Ratna Pitaloka sambil tersenyum ramah.


"Syukurlah, akhirnya ada juga yang menginap disini", wanita paruh baya itu terlihat lega.


"Memang kenapa Nyi?", tanya Sekar Mayang sedikit heran.


Perempuan paruh baya itu segera menghela nafas panjang.


"Semenjak ada berita Adipati Gandakusuma ingin merdeka dari Daha, para pedagang dari luar Paguhan enggan datang ke sini. Mereka takut akan di curigai sebagai mata mata dari Daha karena sudah banyak yang seperti itu. Aku nyaris menutup usaha ku ini karena sepinya tamu yang bermalam.


Ah sudahlah. Oiya apa kalian membutuhkan makanan? Tidak banyak yang bisa dijadikan pilihan. Biar nanti tukang masak ku yang menyiapkan", wanita paruh baya itu segera tersenyum tipis.


"Maaf Nyi, aku mau tanya.


Dari sejak masuk kota ini, aku hanya melihat orang tua dan wanita. Kemana para pemuda yang ada di kota ini Nyi?", tanya Panji Watugunung kemudian.


Perempuan paruh baya itu mendesah pelan, teringat dia putra dan suaminya yang dipaksa menjadi prajurit oleh penguasa Paguhan. Kalau menolak maka ancamannya dihukum mati.


"Mereka mengikuti wajib bela negara. Sebenarnya suami dan anak ku tidak bisa ilmu beladiri, tapi penguasa Paguhan lewat Akuwu Pandanarum mewajibkan setiap orang yang masih muda dan kuat untuk ikut menjadi prajurit demi cita cita Gusti Gandakusuma yang ingin menjadi raja.


Makanya jika kisanak hanya melihat wanita dan orang tua, ya itulah jawabannya", jawab nyai pemilik penginapan itu sambil berlalu meninggalkan mereka. Seorang wanita paruh baya lainnya mengantar mereka ke kamar tidur masing-masing usai Sekar Mayang membayar biaya menginap mereka.


Menjelang tengah malam, sebuah ketukan pelan pada pintu kamar Panji Watugunung terdengar.


Tok tok tok


Panji Watugunung yang sedang tidur di pelukan hangat Dewi Srimpi segera melesat cepat ke pintu kamar nya.


Kriettttt


Saat pintu kamar terbuka, seorang lelaki tua berpakaian biasa berdiri di depan kamar nya.


"Denn...


Kalau hujan reda sebaiknya Denmas segera pergi dari sini. Di depan penginapan, para prajurit Paguhan sedang bersiap menangkap Denmas", ujar lelaki tua itu dengan wajah ketakutan. Dia adalah pekatik kuda penginapan itu.


"Apa maksudnya Ki?", Panji Watugunung segera bertanya.


"Saya tidak tahu Den..


Sepertinya ada yang melaporkan ke Istana Pakuwon, kalau ada orang asing yang menginap disini. Awalnya saya tidak curiga saat prajurit Pakuwon berkumpul di rumah Ki Banu yang depan penginapan ini.


Tapi lama-kelamaan mereka semakin banyak den, tidak kurang 200 prajurit jadi mereka pasti berniat menangkap Denmas.


Kuda kalian sudah saya taruh di belakang penginapan. Kalau nanti keluar, Denmas jalan lurus di tepi Kali Serayu ini. Saat sampai di sungai kecil, Denmas sudah keluar dari wilayah Pakuwon Pandanarum", ujar kakek tua yang kemudian segera bergegas menuju belakang penginapan.


Panji Watugunung segera bergegas membangunkan Dewi Srimpi.


"Dinda Srimpi,


Cepat bangun Dinda".


"Ada apa Denmas? Ini masih malam", ujar Srimpi sambil menggeliat perlahan.

__ADS_1


"Ada ratusan orang prajurit yang ingin menangkap kita. Jangan panik. Bangunkan yang lain, cepat", perintah Panji Watugunung segera.


Mendengar ucapan Panji Watugunung, segera Dewi Srimpi memakai pakaian nya dan segera melompat turun dari ranjang. Dengan cepat dia membangunkan semua orang pengikut Panji Watugunung.


Meski hujan belum mereda, rombongan Panji Watugunung segera bergegas memacu kudanya meninggalkan penginapan itu. Tak lupa sekantong kepeng perak di berikan pada kakek tua pekatik itu sebagai ucapan terima kasih.


"Kenapa tidak kita lawan saja mereka Kakang?", tanya Ratna Pitaloka yang berkuda di samping Panji Watugunung.


"Aku tidak mau ada keributan Dinda Pitaloka, apalagi jika Nyi pemilik penginapan itu sampai ketahuan menerima kita di tempatnya. Bisa bisa dia celaka", jawab Watugunung seraya terus menepuk punggung kudanya.


Ratna Pitaloka akhirnya mengerti.


Rombongan Panji Watugunung bergerak cepat melewati jalan setapak seperti yang di tunjukkan oleh kakek tua itu. Meski hujan terus mengguyur, mereka tetap menggebrak kuda mereka.


Sementara itu, di depan penginapan seorang perwira prajurit memberi tanda pada anak buah nya untuk menyerbu penginapan itu.


Namun ternyata kamar mereka telah kosong.


"Brengsek!


Mereka berhasil kabur", ujar si perwira prajurit dengan nada marah.


"Jangan asal tuduh Ki Bekel. Tidak orang, bagaimana mungkin ada yang kabur? Katakan pada ku, siapa yang sudah membuat laporan palsu itu? Apa Ki Banu? Dia sudah lama memusuhi ku, jadi wajar dia mengada ada supaya prajurit Pakuwon Pandanarum mengacau di penginapan ini", ujar nyai pemilik penginapan itu. Awalnya dia sempat pucat saat para prajurit Pakuwon Pandanarum menyerbu masuk. Namun setelah melihat kamar kosong, dia langsung bernafas lega.


Bekel Prajurit Pandanarum hanya terdiam. Dengan mempertimbangkan penalaran nya, akhirnya dia memilih mendengar ucapan nyai pemilik penginapan. Segera dia memerintahkan para prajurit Pakuwon Pandanarum untuk menangkap Ki Banu yang membuat laporan palsu.


Ki Banu tidak menyangka bahwa laporan nya yang bermaksud untuk mencelakai nyai pemilik penginapan, harus berakhir dengan diseret nya dirinya ke dalam tahanan Pakuwon Pandanarum.


Sementara itu, rombongan Panji Watugunung sudah keluar dari wilayah Pakuwon Pandanarum usai melewati sungai kecil yang menjadi batas wilayah Paguhan dan Kalingga saat mentari pagi mulai muncul di ufuk timur.


Dengan tubuh basah kuyup oleh air hujan, mereka menuju ke sebuah perkampungan yang ada di timur tapal batas wilayah Paguhan.


Di gapura masuk perkampungan, tertulis nama wilayah itu.


'Wanua Ketawang'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya gaess😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like πŸ‘, vote ☝️, favorit ❀️ dan komentar πŸ—£οΈ nya.


Yang tidak suka silahkan skip aja ya πŸ™πŸ™

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2