
Gumbreg langsung berlari meninggalkan Juminten yang uring-uringan di dalam kamar.
Pria tambun itu sambil berlari terus membenarkan pakaiannya yang acak acakan.
Di serambi utama markas, semua bekel prajurit sudah berkumpul. Gumbreg datang paling akhir dan langsung duduk di belakang Ludaka.
"Sudah hadir semuanya?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke arah Rakai Sanga.
"Sudah Gusti Pangeran", jawab Rakai Sanga sambil menghormat.
"Dengar semuanya,
Besok pagi kita berangkat membantu pasukan Panjalu yang sedang berperang melawan pasukan Jenggala di Lasem.
Kadipaten itu sudah jatuh. Kewajiban kita sebagai prajurit, menjaga tanah air kita dari rongrongan musuh yang menyerang.
Malam ini kita bersiap untuk berangkat. Besok pagi kita menuju ke Kadipaten Anjuk Ladang.
Apa kalian mengerti?", titah sang pemimpin pasukan Garuda Panjalu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", semua perwira tinggi prajurit segera menghormat dan mundur dari serambi utama markas pasukan Garuda Panjalu.
Gumbreg langsung berlari menuju ke arah kediaman nya. Juminten yang masih setengah berpakaian, langsung dia sambar.
"Kang, mau ngapain?", bisik Juminten.
"Meneruskan acara tertunda dhek. Ayo cepetan", jawab Gumbreg yang langsung meloloskan pakaian Juminten.
Tak berapa lama kemudian, Gumbreg dengan siulan riang dan senyum cerah menuju ke gudang perbekalan, meninggalkan si Jum yang tanpa busana di atas ranjang nya.
Pagi menjelang tiba, matahari masih bersembunyi di ufuk timur. Namun kesibukan luar biasa sudah terjadi di markas pasukan Garuda Panjalu.
Saat matahari sudah terbit, Ki Saketi segera mendekati Panji Watugunung dan melaporkan bahwa semua prajurit sudah siap untuk berangkat.
Bende perang berbunyi nyaring.
Panji Watugunung dan keempat istrinya berangkat bersama pasukan Garuda Panjalu meninggalkan markas pasukan.
Juminten melambaikan tangannya ke arah Gumbreg, pria yang telah menanam benih padanya, saat pasukan Garuda Panjalu bergerak meninggalkan markas mereka menuju utara.
Pasukan Garuda Panjalu yang terdiri dari 1500 prajurit, terus memacu kudanya. Setelah melewati Pakuwon Kunjang, mereka terus bergerak ke Utara. Menjelang sore hari mereka sudah sampai di wanua Klakah di tepi sungai Brantas.
Sriti Lanang langsung menyambut kedatangan mereka, dan meminta mereka bermalam di situ.
Panji Watugunung mengiyakan keinginan Sriti Lanang. Malam itu, pasukan Garuda Panjalu bermalam di wanua Klakah dengan jamuan makan dari Sepasang Sriti Perak.
"Gusti Pangeran Panji, Gusti Putri Ayu..
Terimakasih atas kesediaan untuk beristirahat di Klakah. Kami sangat tersanjung dengan kehadiran Gusti Pangeran sekalian di Wanua Klakah ini", ujar Sriti Lanang sambil menghormat pada Panji Watugunung dan Ayu Galuh.
"Jangan sungkan paman,
Kami malah yang berterima kasih kepada seluruh warga wanua Klakah ini karena sudah repot repot menjamu kami", Panji Watugunung segera berdiri.
Begawan Sulapaksi yang turut hadir, memberikan seutas benang tiga warna dengan sebuah buntalan kain kecil di tengahnya pada Ayu Galuh.
"Apa ini Begawan?", tanya Ayu Galuh keheranan.
"Ini jimat agar cepat hamil, Gusti Putri", Begawan Sulapaksi tersenyum penuh arti.
Mendengar hal itu, tiga selir Panji Watugunung segera mendekat kepada sang begawan.
"Untuk saya mana Kanjeng Begawan? Jangan pilih kasih dong", Sekar Mayang protes keras.
"Saya juga mau begawan", ujar Ratna Pitaloka.
"Srimpi juga pengen Kanjeng Begawan", Dewi Srimpi turut mendekat.
Hehehehe
Begawan Sulapaksi tersenyum simpul melihat tingkah ketiga selir Panji Watugunung itu.
"Kalian bertiga memiliki tugas untuk membantu suami kalian menyelamatkan Daha dari Jenggala. Belum waktunya kalian untuk melahirkan keturunan sang penjaga Panjalu.
Nanti bila tiba saatnya, aku sendiri yang akan datang kepada kalian bertiga".
Meski sedikit cemberut, mereka bertiga menerima penjelasan dari Begawan Sulapaksi.
Ayu Galuh langsung memakai gelang tiga warna itu pada tangan kiri nya. Senyuman manis menghiasi wajah cantik sang putri Daha.
Malam berganti pagi begitu cepat. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang di wanua Klakah. Pagi itu, puluhan kapal besar menyebrang dari Wanua Klakah ke Wanua Tajur di utara sungai Brantas.
__ADS_1
Sepasang perempuan muda, terus menatap wajah Panji Watugunung dari warung makan yang ada di sebelah dermaga.
Setelah matahari sepenggal naik, pasukan Garuda Panjalu sudah berkumpul di dermaga Tajur bergerak cepat menuju barat laut. Tujuan mereka satu, sampai ke perbatasan Anjuk Ladang secepatnya.
Dua gadis muda itu segera mendekati pemilik kapal yang baru menyebrangkan pasukan Garuda Panjalu.
"Paman, rombongan pasukan tadi hendak kemana?", tanya si gadis muda itu pada sang pemilik kapal.
"Mereka katanya mau ke perbatasan Lasem. Katanya hendak membantu pasukan Daha yang menghadang pasukan Jenggala", jawab sang pemilik kapal.
Dua gadis muda itu segera bergegas menuju ke sebuah bukit di timur wanua Tajur.
Pasukan Garuda Panjalu terus bergerak cepat menuju perbatasan Anjuk Ladang usai mendengar kabar dari telik sandi.
Sementara itu, kondisi tubuh Senopati Ganggadara yang semakin memburuk akhirnya meninggal dunia. Pasukan Daha yang berkemah menggelar upacara penyucian di pimpin oleh Senopati muda Narapraja.
Api terus membakar tumpukan kayu kering yang membakar jasad Senopati Ganggadara. Bau setanggi dan kemenyan mengepul ke udara. Suasana duka cita terasa di wajah para prajurit Daha.
Menjelang sore, semua perwira tinggi prajurit Daha berkumpul di tenda besar untuk membahas langkah mereka selanjutnya.
"Kakang Narapraja,
Apa sudah datang utusan yang kau kirim ke Daha?", Senopati muda Maitreya bertanya kepada Senopati muda Narapraja.
"Belum Dhimas Maitreya,
Yang aku khawatirkan belum sempat datang utusan itu, pasukan Jenggala sudah mendahului menyerang kita.
Kita harus cepat menentukan pilihan pemimpin pasukan agar kita bisa bergerak", jawab Senopati muda Narapraja sambil menatap wajah Maitreya.
"Di banding dengan Kakang Narapraja, pengalaman perang ku tak ada apa apanya.
Bukankah kakang kemarin sudah memimpin perang besar melawan pasukan Jenggala di Seloageng?", Maitreya menghela nafas panjang.
"Jangan bodoh Dhimas,
Perang kemarin bisa menang karena kecerdasan Gusti Pangeran Panji Watugunung.
Kalau tidak, mana mungkin 7500 prajurit mampu mengalahkan 10 ribu pasukan Jenggala?
Andai saja dia...."
Belum sempat Senopati muda Narapraja menyelesaikan omongannya, seorang prajurit berlari masuk ke dalam tenda besar.
Serombongan pasukan berkuda menuju kesini", lapor sang prajurit.
Senopati muda Narapraja segera berdiri di ikuti Senopati muda Maitreya, Tumenggung Koncar, Tumenggung Ringkasamba, Tumenggung Wasikerta, Tumenggung Lokananta dari Kalingga, Tumenggung Jayanata dari Kembang Kuning, Demung Sukendro dari Bumi Sambara dan Balapati dari Pasukan Garuda Panjalu Utara. Mereka bergegas keluar dari tenda besar dan bersiap siaga.
Balapati yang melihat bendera biru langit yang berhias Garuda emas dari kejauhan langsung menyarungkan kembali pedangnya.
"Tidak perlu khawatir, wahai para perwira. Mereka adalah kawan kita", ujar Balapati sambil tersenyum tipis.
"Apa maksudmu Balapati?", Senopati muda Maitreya langsung menatap wajah Balapati.
"Gusti Senopati perhatikan bendera biru langit itu. Bukankah sama dengan bendera yang ada di tenda pasukan saya?", Balapati menunjuk bendera biru langit yang yang berkibar di tenda pasukannya.
Maitreya segera mengerti apa maksud ucapan Balapati.
Rombongan pasukan itu semakin mendekat ke arah tenda perkemahan pasukan Daha.
Senopati muda Narapraja langsung tersenyum melihat kedatangan Panji Watugunung dan keempat istrinya yang diikuti oleh pasukan Garuda Panjalu Selatan.
"Selamat datang di perkemahan pasukan Daha Gusti Pangeran Panji", ujar Narapraja sambil menghormat pada Panji Watugunung setelah pria itu turun dari kudanya.
Hemmmm
"Kau selalu seperti itu Senopati Narapraja.
Sudah ku bilang aku manusia biasa, jangan menyembah ku", Panji Watugunung segera mendekat ke arah Senopati Narapraja.
"Sudah adat Gusti Pangeran, kita tidak bisa melawannya.
Mari kita berbincang di tenda besar", ajak Narapraja segera.
"Tunggu sebentar Senopati Narapraja.
Paman Saketi,
Minta Gumbreg dan pasukannya untuk secepatnya mendirikan tenda. Hari sudah mulai sore", Panji Watugunung menoleh ke arah Ki Saketi yang ada di belakang nya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Ki Saketi menghormat pada Panji Watugunung dan segera bergegas menuju ke arah Gumbreg dan pasukannya yang ada di belakang.
__ADS_1
Panji Watugunung dan semua perwira tinggi prajurit Daha termasuk Tumenggung Sancaka dan Tumenggung Gati bergegas menuju ke tenda besar yang ada di tengah perkemahan.
Warigalit, Jarasanda, Ludaka dan Rajegwesi mengikuti langkah sang pemimpin.
"Tunggu, dimana Senopati Ganggadara? Kenapa dia tidak ada?", tanya Panji Watugunung segera.
"Gusti Senopati Ganggadara sudah meninggal dunia Gusti Pangeran Panji, kami baru saja melakukan upacara penyucian jiwa untuk beliau", jawab Narapraja sambil menundukkan kepalanya.
Panji Watugunung terkejut mendengar berita itu.
"Bagaimana mungkin? Senopati Ganggadara adalah senopati berpengalaman dalam pertempuran".
"Ada seorang mata mata Jenggala yang menyusup ke pasukan Panjalu Gusti Pangeran, dia menusuk perut Senopati Ganggadara saat beliau lengah", Narapraja menceritakan kejadian itu.
Hemmmm
"Tidak menutup kemungkinan masih ada temannya di dalam pasukan kita. Kita tidak boleh gegabah.
Rajegwesi, Ludaka..
Ajak anak buah mu menyebar ke sekitar tempat ini. Tangkap setiap prajurit Daha yang keluar masuk ke dalam perkemahan kita", perintah Panji Watugunung segera.
Dua bekel prajurit itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan mundur dari tenda besar.
Mereka berdua segera memerintahkan kepada anak buah masing masing untuk menyebar di seputar perkemahan pasukan Daha.
"Jarasanda,
Kau jaga di luar tenda besar ini. Jangan biarkan prajurit masuk tanpa sepengetahuan mu", Panji Watugunung menatap ke arah Jarasanda.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Jarasanda segera keluar tenda besar dan mengusir dua orang prajurit yang berjaga di depan pintu tenda.
"Apa tindakan mu tidak berlebihan, saudara Panji Watugunung?", Balapati menatap ke arah Panji Watugunung.
"Maaf belum sempat memperkenalkan diri. Aku Balapati, pemimpin pasukan Garuda Panjalu Utara", sambung Balapati kemudian.
"Aku hanya berjaga-jaga saudara Balapati, sudah ada kejadian. Kita wajib berhati-hati", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Sepeninggal Senopati Ganggadara, siapa yang akan memimpin pasukan Daha?", tanya Panji Watugunung sambil memandang kearah wajah para perwira tinggi prajurit Daha itu.
"Kami masih menunggu kedatangan utusan yang berangkat ke Daha tadi pagi Gusti Pangeran, tapi setelah kedatangan Gusti Pangeran Panji dan Gusti Putri, rasanya kami tidak perlu repot-repot lagi menunggu utusan itu.
Hanya Gusti Pangeran Panji Watugunung lah yang tepat memimpikan pasukan Daha ini", jawab Senopati Narapraja segera.
Semua orang tersenyum lega sambil manggut-manggut tanda setuju.
Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Terimakasih atas kepercayaan kalian kepada ku,
Besok kita balas pasukan Jenggala"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang sudah memberikan dukungannya, author mengucapkan beribu terima kasih banyak pada
Kakak reader tersayang semuanya 😁😁😁
Lophe pull deh ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁😁🙏🙏😁😁