
Panji Watugunung segera meninggalkan Dewi Anggarawati yang ketiduran di tempat tidur.
Putra Bupati Gelang-gelang itu tersenyum melirik istri nya.
'Hampir saja kalah aku', batin Panji Watugunung seraya memakai pakaian nya.
Saat pria itu menutup pintu kamar nya dari luar, tiga selir nya sudah berdiri di depan kamar.
"Sejak kapan kalian disini?", tanya Panji Watugunung yang kaget melihat mereka.
"Sejak tadi pagi, saat putri manja itu minta nambah", Sekar Mayang dingin tatapan nya.
Panji Watugunung memerah wajahnya. Pasti semua wanita itu mendengar suara yang dia buat dengan Anggarawati.
"Lantas kenapa kalian masih disini kalau sudah tahu apa yang terjadi??".
"Ingat tugas kakang, kita harus cepat ke Daha dan menyerahkan surat surat dari penguasa daerah. Urusan pribadi bisa kita lakukan setelah itu", jawab Ratna Pitaloka.
"Iya aku paham Dinda. Romo Bupati juga sudah menyiapkan surat balasan untuk Gusti Prabu Samarawijaya. Hari ini kita berangkat ke Daha", Panji Watugunung tersenyum. Tak menyangka bahwa ketiga selir nya disiplin dalam bekerja.
Panji Watugunung segera bergegas menuju ke tempat mandi. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian dia segera menghadap ke Bupati Gelang-gelang di ruang pribadi nya.
"Ini Ngger Cah Bagus, Romo titipkan surat untuk Baginda Prabu Samarawijaya. Berhati-hatilah dalam perjalanan", ujar Panji Gunungsari seraya menyerahkan sepucuk surat.
Panji Watugunung segera menerima surat itu dan menyimpannya di dalam bajunya.
"Ananda mohon pamit untuk ke ibukota Panjalu Kanjeng Romo. Titip istri ku Dewi Anggarawati. Mohon maaf jika ananda merepotkan Kanjeng Romo", Panji Watugunung segera menyembah kepada Bupati Gelang-gelang itu.
Panji Gunungsari segera tersenyum lebar. Dia bangga putranya yang berjuang untuk menjalankan tugas penting dari istana Daha.
Panji Watugunung segera kembali ke Keputran Gelang-gelang. Dewi Anggarawati yang sudah bangun, tersenyum manis saat suami itu mendekati nya.
"Dinda Anggarawati, Kangmas pamit dulu. Tugas dari Gusti Prabu Samarawijaya harus segera di selesaikan, jika nanti tugas telah selesai, Kangmas janji akan segera menjemput Dinda Anggarawati", ujar Panji Watugunung sambil memeluk tubuh istrinya itu.
"Berangkatlah Kangmas, aku dan anakmu akan setia menunggu kepulangan mu", Dewi Anggarawati tersenyum tipis.
"Kangmbok Pitaloka, Kangmbok Mayang, dan kau Srimpi. Jaga baik-baik suami kita. Kalau sampai ada apa apa, aku tidak akan memaafkan kalian semua".
Tiga selir Panji Watugunung segera mengangguk tanda mengerti. Panji Watugunung mencium lembut kening Dewi Anggarawati kemudian bergegas melompat ke atas kuda nya diikuti oleh ketiga selir nya. Mereka berempat memacu kuda mereka meninggalkan istana Kabupaten Gelang-gelang menuju ke barat, ke arah istana Daha.
Dewi Anggarawati terus memandangi kuda Panji Watugunung yang perlahan mulai menghilang di keramaian kota.
Sementara itu, Warigalit yang sedang asyik berbincang dengan Ki Saketi di kejutkan oleh kehadiran seorang prajurit telik sandi.
"Ampun Gusti Bekel, baru saja ada berita penting dari istana Pakuwon Watugaluh. Menurut telik sandi mereka, di Tamwelang mulai bermunculan orang orang dari beberapa perguruan aliran hitam. Sepertinya mereka membentuk satu kelompok di bawah perintah Bukit Jerangkong", lapor sang telik sandi.
"Gawat!
Apa yang dikhawatirkan oleh Gusti Pangeran Panji Watugunung rupanya benar adanya. Hubungi pos pengawasan di Watugaluh dan Kunjang. Minta mereka melaporkan kejadian sekecil apapun yang terjadi di dalam wilayah masing masing Pakuwon", perintah Ki Saketi.
Telik sandi itu segera menghormat pada Ki Saketi dan Warigalit, lalu bergegas keluar dari kediaman utama markas Pasukan Garuda Panjalu.
"Sepertinya rencana besar Mapanji Garasakan mulai dijalankan. Kita harus cepat. Saudara Warigalit, apakah kita tidak bisa meminta bantuan dari Padas Putih?", tanya Ki Saketi sambil menatap wajah Warigalit.
"Akan ku coba. Sebaiknya lewat utusan Ki, kalau aku sendiri yang berangkat, takutnya saat kita di serang, kita akan kelabakan", jawab Warigalit yang segera di balas anggukan kepala dari Ki Saketi.
Suasana semakin panas.
Panji Watugunung dan ketiga selir nya sudah memasuki wilayah kota Daha. Mereka terus memacu kudanya menuju ke arah istana Daha dan langsung ke bangsal paseban agung.
Sang Prabu Samarawijaya sedang duduk di atas singgasana berhadapan dengan para pembesar istana. Mereka sedang membahas situasi perbatasan Panjalu dan Jenggala yang kembali memanas.
Seorang penjaga segera menghormat pada sang Prabu Samarawijaya.
"Mohon ampun Gusti Prabu. Kanjeng Pangeran Panji Watugunung sudah kembali dan mohon untuk menghadap"
"Antar mereka masuk kesini", titah sang Prabu Samarawijaya.
__ADS_1
Sang penjaga segera menghormat dan mundur dari bangsal paseban agung. Tak lama kemudian, Panji Watugunung dan ketiga selir nya masuk dan segera duduk bersila menghadap Prabu Samarawijaya.
"Sembah bakti saya untuk Gusti Prabu Samarawijaya, sang raja Panjalu", Panji Watugunung segera menghaturkan sembah kepada Sang Prabu Samarawijaya di ikuti oleh ketiga selir nya.
"Bangunlah Dhimas Panji. Sembah bakti mu aku terima", ujar Sang Prabu Samarawijaya.
Panji Watugunung segera kembali duduk bersila.
"Bagaimana tugas yang ku berikan Dhimas? Apa sudah selesai?", tanya Sang Prabu.
"Ampun Gusti Prabu, semua nya sudah saya lakukan. Semua penguasa daerah menyatakan mendukung penuh semua kebijakan pemerintah Daha.
Untuk lebih jelasnya, saya sudah membawa semua surat dari para penguasa daerah di Panjalu selatan", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Sekar Mayang.
Selir kedua Panji Watugunung itu segera membuka buntalan kain yang berisi beberapa kantong berwarna merah dan biru. Panji Watugunung segera menyerahkan surat dari masing-masing pemimpin daerah.
Setelah membaca semua surat, Samarawijaya tersenyum penuh arti.
"Dengar kalian semua.
Berdasarkan surat dari masing-masing pemimpin daerah, mereka bersedia membantu rencana kita menahan serangan Jenggala.
Pucuk pimpinan pasukan, akan ku serahkan pada Senopati Ganggadara untuk menata pasukan Panjalu di bantu oleh Tumenggung Wiguna dan Ardanata.
Sedangkan Pasukan Garuda Panjalu bertugas sebagai pasukan lapis kedua. Mereka berhak menerima anggota pasukan baru, untuk memperkuat daya tempur.
Tumenggung Adiguna, Tumenggung Sindupraja, Demung Tantripala, Demung Ranuwa dan Demung Supa. Kalian bertugas menjaga keamanan di ibukota Panjalu. Laporan kalian akan di tangani langsung oleh Mapatih Jayakerti.
Apa kalian sudah mengerti tugas kalian?", titah sang Prabu Samarawijaya.
"Kami sudah mengerti Gusti Prabu", jawab semua orang di bangsal paseban agung.
Usai berkata demikian, Prabu Samarawijaya segera kembali ke dalam ruang pribadi Raja.
Pisowanan di bubarkan dan masing-masing orang segera kembali ke tugas yang diberikan oleh Prabu Samarawijaya.
Panji Watugunung segera menuju keputran Daha. Ayu Galuh sudah menunggu nya disana.
Cihhh
"Tidak di Gelang-gelang tidak di Daha, semuanya sama saja", gerutu Sekar Mayang.
"Apa maksudmu Kangmbok Mayang?", Ayu Galuh menatap tajam ke arah Sekar Mayang.
Ratna Pitaloka segera menginjak jempol kaki Sekar Mayang.
"Wadaaaauuuuhhhh"
Teriak Sekar Mayang yang kesakitan akibat injakan kaki Ratna Pitaloka.
"Mulutmu itu perlu di didik rupanya. Kau mau kita semua di keroyok prajurit Daha?", bisik Ratna Pitaloka geram dengan ulah Sekar Mayang.
Selir kedua Panji Watugunung segera menggeleng cepat. Dia sering keceplosan ngomong, dan itu berbahaya bagi mereka.
Lagi lagi, mereka harus mengalah dulu selama berada di Daha. Malam itu Ayu Galuh menguasai Panji Watugunung sepenuhnya.
Pagi menjelang tiba di Istana Daha.
Pagi itu, Panji Watugunung segera bersiap untuk melanjutkan tugas sebagai kepala pasukan Garuda Panjalu Selatan. Dia sudah melompat ke atas kuda nya saat Ayu Galuh berlari mendekati nya.
"Kangmas Panji, tunggu..
Aku ikut Kangmas".
"Kita itu bersiap berperang melawan Jenggala, bukan jalan jalan", ujar Panji Watugunung segera.
"Pokoknya ikut. Aku tidak mau ditinggal Kangmas pergi lagi.
__ADS_1
Penjaga, bawakan aku seekor kuda terbaik kesini. Cepat", perintah Ayu Galuh.
Segera seorang penjaga tergesa-gesa membawa seekor kuda berwarna hitam. Panji Watugunung segera menggebrak kuda nya diikuti oleh Ayu Galuh dan juga ketiga selir Panji Watugunung. Kuda mereka bergerak cepat menuju ke arah markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur.
Menjelang tengah hari, mereka sudah sampai di markas pasukan Garuda Panjalu.
Panji Watugunung begitu senang melihat markas mereka. Sangat mirip dengan Puri Agung Gelang-gelang. Warigalit dan Ki Saketi menyambut kedatangan mereka di serambi utama.
"Hasil kerja mu bagus Paman Saketi. Aku suka tempat ini", puji Panji Watugunung sambil tersenyum puas.
"Saya bersyukur kalau Gusti pangeran menyukainya. Semua ini atas bantuan dari Daha dan Gelang-gelang", Ki Saketi segera menghormat pada Panji Watugunung.
Markas pasukan Garuda Panjalu terlihat kokoh dengan benteng kayu gelondongan yang besar besar. Semua penunjang juga sudah terlihat rapi dan bersih. Mulai hari itu, markas pasukan Garuda Panjalu mulai berjalan setelah pemimpin mereka, Panji Watugunung kembali dari tugasnya.
Puluhan pemuda dari sekitar Sengkapura, Randu dan Kunjang berbondong-bondong datang untuk mendaftar sebagai prajurit Garuda Panjalu yang terkenal dengan kemampuan luar biasa nya. Reputasi mereka yang mampu membasmi Gunung Kematian sampai ke pemimpin tertinggi perguruan aliran hitam itu, membuat pemuda pemudi desa tertarik untuk bergabung.
Ludaka memimpin kelompok telik sandi di bantu Manahil. Rajegwesi memimpin kelompok pasukan pemanah, di bantu Laras dan Arimbi.
Landung memimpin pasukan berkuda yang membawa bendera biru langit dengan sulaman benang emas berukir burung Garuda. Jarasanda memimpin kelompok pasukan gerak cepat dengan bantuan Rakai Sanga dan Marakeh.
Gumbreg di bantu Weleng, Gubarja dan Widarba memimpin kelompok pasukan perbekalan. Juminten sangat bangga saat lelaki tambun itu diangkat menjadi kepala pasukan perbekalan.
"Dengar ya, jangan sampai kita mengecewakan hati Gusti Pangeran. Kalau beliau puas dengan kinerja kita, bisa dipastikan kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi", ujar Gumbreg sok memberi perintah.
"Maaf Ki Bekel, apa kita harus bersiap menghadapi perang ini dengan sebaik-baiknya", seorang prajurit baru bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Ya harus. Pokoknya kalian hitung semua barang ini. Jangan sampai ada yang kelewatan atau hilang", perintah Gumbreg di hadapan para prajurit baru itu.
"Kalau ada yang hilang bagaimana Ki Bekel?", tanya prajurit baru itu.
Belum sempat Gumbreg menjawab, Ludaka yang kebetulan lewat segera menyahut.
"Gak mungkin hilang. Wong malingnya jadi pemimpin kalian kog".
Gumbreg langsung mendelik sewot ke arah Ludaka.
"Brengsek kau Lu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
__ADS_1
Yang masih merayakan lebaran, minal aidzin wal Faidzin yak🙏🙏
Selamat membaca guys 😁😁