
Usai berkata demikian, Surti segera melompat tinggi ke udara. Melompati tembok istana untuk meloloskan diri.
Whhhuuuuuttttthhhh...
Semua prajurit penjaga istana yang mengepung Surti hanya melongo melihat itu semua.
Panji Watugunung yang baru saja sampai, langsung bertanya kepada para prajurit itu.
"Kemana dia kabur?", tanya Panji Watugunung pada para prajurit itu dengan cepat.
"Kesana Gusti Pangeran,
Surti melompati tembok istana ini", jawab salah satu prajurit penjaga istana. Mendengar jawaban itu, Panji Watugunung segera melompat ke atas tembok istana Daha. Dari sana dia melihat sebuah bayangan berkelebat cepat kearah timur. Panji Watugunung segera melesat mengejar nya.
Sedangkan para prajurit penjaga istana Daha, segera bergegas menuju ke balik tembok istana untuk mengejar sang pembunuh.
Surti bergerak cepat laksana angin, melompat dari satu atap bangunan di kota Daha ke atap bangunan yang lain. Gerakannya begitu ringan menandakan bahwa ilmu meringankan tubuh nya tinggi.
"Hahahaha,
Prajurit prajurit Panjalu, kejar dan tangkaplah aku jika mampu", ujar Surti dengan senyum penuh kemenangan saat melihat tapal batas timur kota Daha sudah begitu dekat.
Saat hendak mencapai tapal batas timur kota Daha, sebuah bayangan berkelebat cepat menyapukan kaki kanan nya dengan cepat kearah pinggang perempuan itu.
Whhhuuuggghhhh..
Surti yang melihat itu, terpaksa memutar gerakan tubuhnya menghindari serangan yang mengancam nyawa nya.
Setelah berhasil mendarat agak jauh, Surti segera membalik badan nya menatap tajam ke arah orang yang menyerangnya sambil memaki keras.
"Bajingan!
Siapa kau? Kenapa tiba-tiba membokong ku ha?", bentak Surti dengan suara berat.
"Harusnya aku yang bertanya pada mu, hai pembunuh.
Wujud mu memang perempuan, tapi sebenarnya kau adalah laki-laki. Siapa kau sebenarnya?", tanya si penyerang yang tidak lain adalah Panji Watugunung seraya menatap ke arah Surti dengan tatapan mata penuh selidik.
"Hahahaha,
Matamu jeli juga melihat ku. Aku tidak perlu lagi untuk menyembunyikan diri ku dengan wujud ini", jawab Surti yang segera bersedekap tangan di depan dada besar nya.
Perlahan wujud Surti berubah. Rupanya dia adalah Iblis Seribu Muka yang menyamar sebagai Surti, sang dayang istana Istana Daha. Lelaki paruh baya berbaju hitam dengan kumis tebal dan ****** lebat itu menyeringai lebar ke arah Panji Watugunung.
"Sekarang kau sudah melihat wujud ku yang sebenarnya, tapi ini akan kau bayar dengan nyawa mu, hai wong istana Daha.
Bersiaplah", usai berkata demikian Iblis Seribu Muka langsung melesat cepat kearah Panji Watugunung seraya menghantamkan tangan kanannya.
Whuuussshh!!
Dengan tenang Panji Watugunung berkelit ke samping menghindari serangan Dadung Awangga yang menggunakan ilmu silat tingkat tinggi nya.
Melihat serangan nya dengan mudah di hindari oleh Panji Watugunung, Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka ubah gerakan tubuhnya. Dengan cepat dia merendahkan tubuhnya lalu menyapu kaki Panji Watugunung.
Putra Bupati Gelang-gelang itu segera melompat ke udara mendarat tak jauh dari Dadung Awangga. Pendekar dari Gunung Mahameru itu terus mengejar Panji Watugunung dengan serangan serangan berbahaya.
Iblis Seribu Muka menggeram marah. Serangan demi serangan nya hanya menghantam udara kosong. Dia mulai memperhatikan lawan nya dengan seksama. Sudah lebih dari lima jurus namun tidak satupun serangan nya mengenai Panji Watugunung.
"Bangsat!
Siapa kau sebenarnya? Dari kemarin aku tidak melihat keberadaan mu di istana Daha", tanya Dadung Awangga sambil menatap tajam ke arah Panji Watugunung. Usai serangan terakhir nya yang berhasil di hindari oleh Panji Watugunung, dia mengambil jarak 2 tombak dari Panji Watugunung. Selama ini tak satupun pendekar kelas menengah yang mampu selamat dari serangannya lebih dari 5 jurus.
'Bajingan ini pasti pendekar berkemampuan tinggi. Aku tidak boleh ceroboh', batin Iblis Seribu Muka sambil terus memperhatikan gerak-gerik lawannya.
"Aku hanya seorang perwira menengah dari Kadiri. Kau sudah melukai Gusti Prabu Samarawijaya.
Menyerahlah,
Biar Dharmadyaksa yang memutuskan hukuman apa yang harus kau dapatkan", ujar Panji Watugunung yang membuat Iblis Seribu Muka marah besar.
"Bangsat!
Kau pikir kau sudah menang dari ku ha? Kurang ajar kau. Akan ku hancurkan tubuh mu", teriak Iblis Seribu Muka sambil melesat cepat kearah Panji Watugunung.
Tangan kanannya sudah di lapisi sinar kebiruan yang membekukan terarah pada dada Panji Watugunung.
Whhhuuuuuttttthhhh!!
Panji Watugunung segera berkelit menghindari serangan Dadung Awangga. Sinar tangan kanan Iblis Seribu Muka itu menghantam pohon waru yang ada di belakang Panji Watugunung.
Blaaarrrhhh!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat sinar kebiruan itu menghantam pohon waru. Seketika itu juga, pohon waru itu meledak dan terbakar lalu roboh menimpa sebuah pondok kayu di bawahnya.
Melihat itu, Panji Watugunung segera meningkatkan kemampuan ilmu kanuragan nya. Selain Ajian Sepi Angin, Yuwaraja Panjalu itu juga mengerahkan Ajian Tameng Waja untuk melindungi diri nya dari serangan Iblis Seribu Muka yang mengincar nyawanya.
Ledakan dahsyat tadi juga terdengar jauh hingga timur tapal batas kota Daha. Rara Wiru dan Wulupaksi yang menunggu kedatangan Iblis Seribu Muka saling berpandangan sejenak sebelum berbicara.
"Kangmbok Rara Wiru,
__ADS_1
Sepertinya itu adalah suara orang yang tengah bertarung", ujar Wulupaksi dengan raut muka cemas.
"Benar Wulupaksi,
Jangan jangan itu Kakang Dadung Awangga yang tengah bertarung melawan para prajurit Panjalu. Ayo kita kesana", ujar Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam sambil menarik tali kekang kudanya menuju kearah sumber suara yang mereka dengar tadi.
Mereka segera menggebrak kuda tunggangan mereka masing-masing.
Benar saja, begitu sampai di tempat pertarungan antara Panji Watugunung dan Iblis Seribu Muka, mereka melihat dua orang itu tengah mengadu ilmu kesaktian.
Iblis Seribu Muka yang mengandalkan Ajian Gunung Beku melompat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanannya ke arah punggung Panji Watugunung.
Whhhuuuggghhhh..
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan dahsyat terdengar lagi saat Ajian Gunung Beku dari Iblis Seribu Muka menghantam punggung Panji Watugunung. Asap tebal menutupi tubuh Panji Watugunung yang membuat Iblis Seribu Muka melompat mundur beberapa tombak ke belakang sambil menyeringai lebar.
"Mampus kau, perwira sombong!
Rasakan bagaimana tubuhmu membeku hingga ke tulang tulang mu hahaha", Iblis Seribu Muka tertawa keras melihat asap tebal menutupi seluruh tubuh Panji Watugunung.
Namun saat asap tebal itu mulai menghilang dari pandangannya, mata pendekar dari Gunung Mahameru itu melotot lebar.
Bagaimana tidak, punggung Panji Watugunung yang terkena Ajian Gunung Beku sama sekali tidak tergores sedikitpun. Sedangkan seluruh tubuh Panji Watugunung justru diliputi oleh sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata.
Pun demikian Wulupaksi dan Dewi Pedang Hitam yang sedari tadi menyaksikan pertarungan itu. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang telah mereka saksikan.
"Ba-bagaimana mungkin?
Kau.. Siapa kau sebenarnya?", tanya Iblis Seribu Muka dengan terbata-bata. Pria paruh baya itu begitu terkejut melihat lawan nya memiliki ilmu kedigdayaan yang pernah kondang di masa lalu. Memang, Ajian Tameng Waja menjadi puncak ilmu pertahanan diri paling sempurna di masa Begawan Mantyasa dan para Pendekar sepuh di masa Prabu Airlangga. Dadung Awangga pernah mendengar ilmu itu dari cerita sang guru.
Panji Watugunung hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Dadung Awangga. Putra Mahkota Kerajaan Jenggala itu dengan tenang mendekati Dadung Awangga.
"Tadi sudah ku minta kau baik-baik untuk menyerah tapi kau malah ngotot untuk bertarung melawan ku..
Kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi untuk menghadapi mu", ujar Panji Watugunung sambil terus melangkah.
"Jangan takut Kakang,
Kita keroyok dia pasti bisa mengalahkan nya", teriak Dewi Pedang Hitam yang muncul dari samping kanan Iblis Seribu Muka. Perempuan itu rupanya tidak tahan untuk menahan diri lebih lama.
Wulupaksi terpaksa mengikuti langkah sang kakak seperguruan untuk membantu Iblis Seribu Muka sebab dia sudah pernah mendengar tentang ksatria tangguh Panjalu yang berilmu tinggi sampai para senopati negri Jenggala berguguran di tangan nya, bahkan pendekar luar biasa sekelas Adipati Danapati dari Matahun harus meregang nyawa di hadapannya. Wulupaksi pun segera tahu bahwa perwira prajurit Panjalu di hadapannya itu adalah orang yang selama ini menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Jenggala.
"Tahan Kangmbok Rara Wiru,
Dia adalah Pangeran Jayengrana, orang yang sudah berhasil menghabisi nyawa Gusti Adipati Danapati dan Gusti Prabu Garasakan", ucap Wulupaksi yang membuat Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru itu terkejut bukan main.
Bukankah mereka seharusnya masih dalam perjalanan kemari?", sergah Dewi Pedang Hitam sambil terus menatap ke arah Panji Watugunung yang tersenyum tipis.
"Tidak Kangmbok, aku tidak asal bicara..
Hanya Pangeran Jayengrana saja yang menguasai ilmu Ajian Tameng Waja. Bukankah dulu guru juga bercerita kepada mu tentang ilmu itu dan ciri-ciri nya. Sekarang kau lihat sendiri, Ajian Gunung Beku andalan Kakang Dadung Awangga tidak bisa menggores kulit nya.
Kita serang bertiga pun tak akan ada gunanya. Lebih baik kita cari cara untuk kabur dari tempat ini", ujar Wulupaksi yang membuat Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru itu saling berpandangan sejenak.
"Jadi kalian orang-orang Jenggala rupanya.
Aku tidak akan sungkan lagi dengan kalian", ucap Panji Watugunung yang segera melesat cepat kearah mereka bertiga.
Rara Wiru segera mencabut pedang hitam nya, Iblis Seribu Muka langsung meraih Keris Naga Pragola warisan Begawan Mantyasa sedangkan Wulupaksi mencabut Golok Setan andalannya.
Pertarungan sengit satu lawan tiga segera terjadi.
Sabetan Pedang Hitam dari Rara Wiru mengincar leher Panji Watugunung namun Yuwaraja Panjalu itu sama sekali tidak menghindar malah melayangkan pukulan keras kearah perut Wulupaksi yang terlambat menghindar.
Thrrriiinnnggggg!!
Mata Rara Wiru melotot lebar saat Pedang Hitam pusaka nya seperti membentur logam keras saat menyabet leher Panji Watugunung. Perempuan paruh baya bahkan merasakan tangan kanannya kesemutan akibat getaran pedangnya.
Dhiiieeeessshh...
Ougghhh!!
Wulupaksi terpelanting ke belakang sejauh beberapa tombak akibat kerasnya tendangan Panji Watugunung. Dari mulut Wulupaksi mengalir darah segar pertanda bahwa dia menderita luka dalam.
Iblis Seribu Muka yang mencoba menusukkan Keris Naga Pragola ke pinggang Panji Watugunung hanya bisa melongo melihat keris pusaka warisan Begawan Mantyasa itu seperti menusuk lempengan baja. Satu sikutan keras dari Panji Watugunung kearah dada Iblis Seribu Muka membuat Dadung Awangga meraung keras saat terlempar beberapa langkah ke samping.
Huuuuooogggghhh!!
Dadung Awangga muntah darah segar namun dengan cepat dia berdiri dari jatuhnya. Mata pria berpakaian serba hitam itu mendelik marah.
Segera dia merapal ilmu pamungkas nya, Ajian Tundung Nyawa. Kabut hitam segera keluar dari tubuh lelaki paruh baya itu. Dari kedua tangan nya muncul cahaya biru kehijauan yang menakutkan.
"Kakang Awangga,
Jangan gunakan ajian itu!", teriak Rara Wiru berusaha untuk mencegah Dadung Awangga memakai Ajian Tundung Nyawa karena dia tahu selepas Dadung Awangga menggunakan ilmu itu maka Dadung Awangga pasti mati.
"Tutup mulut mu, Adik Wiru..
__ADS_1
Dia sudah merendahkan harga diri pendekar gunung Mahameru. Dia harus mati", jawab Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka dengan keras.
Tubuh Dadung Awangga terus mengeluarkan asap hitam yang mematikan.
Melihat itu semua, Panji Watugunung langsung merapal Ajian Waringin Sungsang ajaran Warok Suragati yang juga mertua nya dari Wengker. Sinar kuning telur berbaur dengan sinar hijau kebiruan melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung.
Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka melompat tinggi ke udara dan dengan cepat melesat turun ke arah Panji Watugunung.
"Matilah kau!!!...
Chhhhhiiiiiiiiaaaaattttttt....."
Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar dari benturan dua ilmu kanuragan tingkat tinggi itu. Namun tangan kanan Iblis Seribu Muka yang menghantam dada Panji Watugunung justru menempel erat.
Dengan cepat sinar hijau kebiruan mulai melingkupi seluruh tubuh Iblis Seribu Muka.
Rasa sakit yang luar biasa mulai di rasakan oleh Dadung Awangga. Murid pertama Begawan Mantyasa itu berusaha keras untuk melepaskan diri dari sinar hijau kebiruan Ajian Waringin Sungsang.
AAAARRRGGGHHHH!!!
Teriakan keras terdengar dari mulut Dadung Awangga. Bagaimana tidak, Ajian Waringin Sungsang menyedot daya hidup dan tenaga dalam nya. Rasa sakit yang dirasakan hingga ke seluruh sendi sendi tubuhnya.
Dewi Pedang Hitam berupaya untuk menyelamatkan nyawa Iblis Seribu Muka dengan mengayunkan pedangnya kearah kepala Panji Watugunung, namun belum sempat Pedang Hitam menyentuh kulit Sang Yuwaraja Panjalu, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat kearah nya sambil menebaskan pedangnya kearah lengan kanan Rara Wiru.
Chrraaasssshhh...
Aarrrggghhhhhhhhh!!
Rara Wiru menjerit keras saat sebuah pedang memotong lengan kanannya. Perempuan itu terhuyung huyung mundur beberapa langkah menahan sakit akibat luka di tangan kanannya. Dia berusaha menotok jalan darah nya agar tidak terus keluar.
Ratna Pitaloka yang baru saja sampai, begitu melihat Rara Wiru hendak membokong Panji Watugunung langsung bergerak cepat.
Sementara itu, tubuh Dadung Awangga perlahan mengering dan menghitam. Panji Watugunung dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah dada Dadung Awangga.
Hiyyyyaaaaaaaatttttt...
Blllaaammmmmmmm!!!
Tubuh Dadung Awangga seketika hancur menjadi debu. Pendekar dari Gunung Mahameru itu tewas mengenaskan. Usai menghabisi nyawa Iblis Seribu Muka, Panji Watugunung menoleh ke arah Ratna Pitaloka yang tengah mengacungkan pedangnya kearah Rara Wiru yang meringis menahan sakit sambil terus membekap luka di lengan kanannya.
Wulupaksi yang melihat keadaan buruk ini berupaya untuk melarikan diri. Baginya, melawan sepenuh tenaga pun juga percuma karena dua kakak seperguruannya sudah kalah melawan Panji Watugunung. Ditambah kehadiran perempuan berbaju biru itu semakin membuat nyali Wulupaksi menciut. Dengan segenap tenaga dalamnya dia melesat kearah timur.
Belum genap dua tombak dia melesat, sebuah tendangan keras menghentikan upaya pelarian Wulupaksi.
"Mau kemana kau?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan komentar 🗣️, like 👍, vote ☝️ nya yah agar author semangat untuk terus menulis 😁😁🙏
Selamat membaca 🙏😁😁🙏