Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Dendam Keturunan Lwaram


__ADS_3

Wisastra yang merasakan sakit luar biasa pada dada nya hanya menatap tajam ke arah Panji Watugunung. Dia menutup rapat-rapat mulutnya.


Karena kesal tidak ada jawaban dari Wisastra, Cempluk Rara Sunti yang kesal langsung menampar pipi pemimpin tertinggi Padepokan Gunung Agung.


Plakkkk!!


Auuuggghhhhh!!!


Wisastra meraung keras. Tamparan keras dari Cempluk Rara Sunti membuat gigi nya tanggal 2 biji. Pria sepuh itu segera meludahkan darah segar bersamaan dengan 2 gigi nya yang copot.


Phuihhhh..


"Cepat jawab atau ku habiskan gigi mu itu pak tua", ancam Cempluk Rara Sunti sambil mendelik tajam ke arah Wisastra. Namun kakek tua itu tak bergeming sedikitpun.


Cempluk Rara Sunti yang geram, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi bersiap menampar lagi Wisastra yang masih membisu. Tapi tangan Panji Watugunung segera mencekal lengan selir bungsu nya itu.


"Cukup Dinda Sunti..


Sudah hentikan saja. Percuma dia tidak akan buka mulut. Serahkan saja urusan ini kepada Tumenggung Ludaka untuk mengurusnya", ujar Panji Watugunung segera.


"Baik Gusti Prabu..


Hai kau kakek tua, kau beruntung Gusti Prabu Jayengrana menghentikan ku. Kalau tidak, sudah copot semua gigi mu", hardik Cempluk Rara Sunti sambil menatap tajam ke arah Wisastra yang masih terkapar di tanah.


Mendengar itu Wisastra terkejut. Dia tidak menyangka bahwa dia tengah berhadapan dengan Maharaja Panjalu yang tersohor sebagai pendekar pilih tanding. Apalagi melihat mayat Resi Tunggak dan Resi Tunggul yang di gotong para prajurit Pakuwon Gedangan untuk di bakar.


Diam-diam ia merogoh pisau yang tersembunyi di balik bajunya. Dia ingin membalaskan kematian Suryanata meski harus mengorbankan nyawa nya. Dengan seluruh tenaga yang tersisa Wisastra melesat cepat kearah Panji Watugunung yang mulai berjalan menjauhi nya dengan menarik lengan Cempluk Rara Sunti.


Saat genting itu, sebuah bayangan melesat cepat memotong pergerakan Wisastra.


Chrraaasssshhh!!


Kepala Wisastra langsung menggelinding ke tanah terpisah dari badannya. Si bayangan hitam yang tak lain adalah Dewi Srimpi langsung menyarungkan kembali Pedang Kelabang Neraka ke sarungnya dengan cepat.


Sedari tadi ia terus waspada terhadap Wisastra yang menurutnya sangat mencurigakan. Dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya, dia melesat cepat saat Wisastra bergerak.


"Aku sudah tau bahwa kau akan berbuat seperti ini", ujar Dewi Srimpi sambil menatap kearah kepala Wisastra dengan mata melotot nya.


Cempluk Rara Sunti yang geram karena usaha pembokongan itu langsung menendang kepala Wisastra ke arah Kali Agung.


Dhassssss..


Kepala Wisastra melayang ke tengah Kali Agung dan hilang di telan arus sungai yang deras itu.


Kematian Wisastra secara tidak langsung menutup petunjuk pada dalang dari usaha penyelamatan Pangeran Suryanata.


Para prajurit Panjalu dan prajurit Pakuwon Gedangan serta prajurit Pakuwon Sambang bersorak gembira melihat keberhasilan mereka mengakhiri petualangan Pangeran Suryanata.


Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung segera mendekat ke arah Panji Watugunung. Dua perwira tinggi prajurit Panjalu itu langsung berlutut dihadapan Panji Watugunung.


"Sembah bakti hamba Gusti Prabu", ujar kedua tumenggung andalan Panjalu itu segera.


"Bangunlah kalian..


Kalian sudah menjalankan tugas dengan baik. Aku bangga dengan hasil kerja keras kalian", titah Panji Watugunung yang membuat kedua perwira tinggi itu tersenyum senang. Mereka segera berdiri di depan Sang Maharaja Panjalu dengan penuh hormat.


Lurah Suro yang melihat itu langsung berlari mendekati Panji Watugunung dan bersujud kepada Panji Watugunung.


"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana, Suro tidak menyambut kedatangan Yang Mulia Maharaja Panjalu di tempat kami..


Mohon menjatuhkan hukuman bagi hamba", ucap Lurah Suro sembari bersujud kepada Panji Watugunung. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Raja Panjalu datang ke Wanua Cenggini dalam misi pengejaran terhadap buronan berbahaya itu.


"Sudahlah Ki Lurah,


Toh semua nya sudah berakhir dengan baik. Kau tidak perlu merasa bersalah dengan ini semua", tutur Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


"Mohon Gusti Prabu Jayengrana berkenan mampir ke gubug hamba barang sesaat. Itu adalah anugerah luar biasa pada kami sebagai warga Kerajaan Panjalu", Lurah Suro masih juga berlutut dihadapan Panji Watugunung. Mendengar itu, Panji Watugunung segera menoleh kearah Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti yang berjalan mendekati nya.


"Dinda Sunti Dinda Srimpi,


Apa barang kita masih ada di rumah Ki Ranu?", tanya Panji Watugunung pada dua selir nya itu segera.


"Iya Denmas Prabu,


Barang barang kita masih di rumah Ki Ranu. Aku dan Sunti akan membereskannya", jawab Dewi Srimpi yang hendak berbalik arah menuju ke rumah Ki Ranu.


"Biar hamba saja yang membereskannya Gusti Selir. Mohon tunggu saja disini", ujar Ki Lurah Suro yang segera berlari menuju ke rumah Ki Ranu.


Melihat kedatangan Ki Lurah Suro, Ki Ranu langsung mencegat nya. Sedari tadi kakek tua bertubuh kurus itu bersembunyi di kandang kuda nya, karena ketakutan setengah mati.


"Ada apa Ki Lurah? Kenapa kemari?", berondong pertanyaan Ki Ranu pada Ki Lurah Suro.


"Kau ini benar-benar keterlaluan, Ki Ranu.


Bisa-bisanya kau menyembunyikan Gusti Prabu Jayengrana di rumah mu ini tanpa memberi tahu aku", omel Ki Lurah Suro sembari masuk ke dalam rumah Ki Ranu.


"Apa maksud omongan mu Ki?


Aku tidak menyembunyikan siapapun di rumah ku. Hanya seorang kenalan lama dan dua orang wanita cantik yang menginap di rumah ku", Ki Ranu kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh Ki Lurah Suro.

__ADS_1


"Dasar bodoh!


Mereka adalah Gusti Prabu Jayengrana dan kedua selir kesayangannya. Kau benar benar tidak bisa melihat dengan jelas", umpat Ki Lurah Suro yang menyambar 3 buntalan kain hitam yang menjadi bawaan Panji Watugunung dan kedua selirnya.


Brrrukkkkkk...


Ki Ranu langsung pingsan mendengar keterangan dari Ki Lurah Suro. Lurah Wanua Cenggini itu hanya mendengus keras lalu berlari menuju ke arah Panji Watugunung dan kedua istrinya yang berdiri di depan.


Malam itu Ki Lurah Suro menjamu para tamu agung nya dengan penuh hormat. Dia benar-benar merasa bangga bisa melayani Raja Panjalu itu.


Hari menjelang pagi. Suasana Wanua Cenggini yang dari kemarin tegang berangsur membaik seperti biasanya.


Pagi buta itu, Akuwu Santiko dari Pakuwon Gedangan dan Akuwu Bratayuda dari Sambang sudah hadir di rumah Ki Lurah Suro hingga menyebabkan keriuhan tak biasa di rumah Ki Lurah Suro.


Mereka ingin sekali bertemu dengan Raja Panjalu yang baru itu. Meski telah mendengar namanya, tapi mereka berdua belum pernah bertemu langsung dengan Panji Watugunung. Keramaian itu menarik perhatian para penduduk Wanua Cenggini hingga mereka memilih untuk sementara waktu menghentikan pekerjaan mereka hanya untuk melihat kedatangan Raja Panjalu di tempat mereka. Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung terpaksa harus membuat pengamanan di sekitar tempat itu agar tidak menggangu kenyamanan junjungan mereka.


Para penduduk Wanua Cenggini duduk bersila dengan rapi di halaman rumah Ki Lurah Suro.


Begitu Panji Watugunung dan kedua istrinya keluar dari dalam kamar peristirahatan nya dan berjalan keluar menuju ke arah serambi depan balai Wanua Cenggini, semua orang segera berjongkok menyembah pada Panji Watugunung.


"Sembah bakti kami Gusti Prabu Jayengrana", ujar semua orang bersama-sama.


"Sembah bakti kalian aku terima. Silahkan duduk kembali", titah Panji Watugunung yang segera membuat seluruh orang di tempat itu duduk bersila dengan rapi.


"Aku berterima kasih kepada kalian semua karena bantuan kalian, Suryanata bisa diadili sesuai dengan kejahatannya.


Karena kalian telah membantu ku, maka akan ku beri hadiah untuk kalian.


Akuwu Gedangan,


Kau ku bebaskan dari pajak bumi selama 2 surya sengkala, pergunakan untuk itu membangun daerah ini menjadi lebih baik.


Akuwu Sambang,


Kau membantuku dengan baik. Ku berikan anugerah 2 surya sengkala tanpa beban pajak bumi.


Lurah Wanua Cenggini,


Kau yang paling banyak menderita karena peristiwa ini. Aku bebaskan kau dari pajak bumi selama satu windu. Bangun kembali daerah ini menjadi daerah yang makmur", titah Panji Watugunung segera.


Ketiga pemimpin wilayah itu segera menyembah pada Panji Watugunung.


"Terimakasih atas anugerah yang diberikan kepada kami Gusti Prabu", ujar ketiga orang itu bersamaan.


"Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung,


Aku perintahkan kepada kalian untuk secepatnya pulang ke Kembang Kuning. Sehabis ini kita akan pulang ke Daha", titah Panji Watugunung segera.


Panji Watugunung dan Dewi Srimpi serta Cempluk Rara Sunti segera berpegangan tangan saat Panji Watugunung merapal Ajian Halimun nya.


Sinar hijau segera membungkus tubuh mereka bertiga dan sekejap mata kemudian Panji Watugunung dan kedua istrinya telah menghilang dari pandangan semua orang.


ZZZRRRRRRRRTTTTTHHHHH!!


Semua orang yang ada di kediaman Ki Lurah Suro melongo melihat itu semua. Mereka mengakui kehebatan ilmu kanuragan Raja Panjalu yang baru itu dengan kekaguman akan kebijaksanaannya.


Di dalam istana Kadipaten Kembang Kuning, Panji Watugunung dan kedua istrinya muncul di balai peristirahatan Kadipaten. Kedatangan mereka mengagetkan Senopati Warigalit dan Senopati Dewangkara yang tengah duduk di sana.


Dua perwira tinggi prajurit itu langsung berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.


"Kakang Warigalit,


Bagaimana dengan tugas yang aku berikan?", tanya Panji Watugunung segera usai dia duduk di kursi kayu nya.


"Mohon ampun Dhimas Prabu Jayengrana,


Semua tugas hampir selesai. Tinggal menunggu tembok istana Kadipaten Kembang Kuning yang kurang sedikit lagi.


Untuk lainnya telah paripurna", lapor Warigalit sambil menghormat.


"Baiklah kalau begitu..


Persiapkan untuk pengangkatan Adipati Kembang Kuning yang baru. Aku ingin segera pulang ke ke Daha", titah Sang Maharaja Panjalu itu segera.


Dan demikianlah, usai pembenahan istana Kadipaten Kembang Kuning, diadakan upacara pengangkatan Adipati baru untuk Kembang Kuning. Istana Kadipaten di hias dengan janur kuning yang di bentuk beraneka ragam. Lampu lampu pelita bertebaran di setiap sudut kota sebagai tanda ikut memeriahkan acara itu.


Dewangkara diangkat sebagai Adipati Kembang Kuning yang baru. Sebagai penguasa wilayah yang baru, dia diwajibkan untuk membangun daerah untuk memakmurkan rakyat di kadipaten itu.


Selepas satu purnama, Panji Watugunung dan kedua istrinya beserta para prajurit Panjalu kembali ke Daha. Prajurit Lasem, Prajurit Kurawan dan Lewa telah terlebih dahulu pulang ke daerah mereka masing-masing usai perang melawan Adipati Mpu Pamadi tempo hari. Dengan kawalan 6 ribu prajurit, Panji Watugunung meninggalkan kota Kembang Kuning menuju ke arah timur. Adipati Dewangkara mengantar mereka hingga tapal batas kota Kadipaten Kembang Kuning.


Demung Gumbreg tersenyum lebar. Dia sangat senang akhirnya bisa pulang ke Kadiri. Perwira prajurit perbekalan itu kangen dengan Juminten dan kedua anaknya.


"Ah akhirnya aku pulang ke Kadiri..


Sudah kangen sama rumah aku", gumam Gumbreg yang sempat terdengar oleh Weleng bawahannya.


"Tumben Gusti Demung bisa kangen sama rumah. Biasanya betah berlama-lama ikut serta dalam peperangan", ujar Weleng sambil tersenyum simpul.


"Lah Yo jelas to Leng..

__ADS_1


Aku juga butuh waktu istirahat dan berkumpul dengan anak istri ku di rumah. Aku bisa tidur nyenyak sepanjang hari tanpa perlu berpikir mengatur perbekalan untuk para prajurit", sahut Gumbreg yang langsung menoleh ke arah Weleng.


"Jadi senang pulang ke rumah itu hanya alasan untuk bermalas-malasan ya Gusti Demung?", Weleng menatap Gumbreg sambil tersenyum tipis. Belum sempat Gumbreg menjawab, sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Dasar pemalas!"


Mendengar ucapan itu, Gumbreg dan Weleng langsung menoleh ke arah sumber suara. Senopati Warigalit yang berkeliling ke arah pergerakan prajurit Panjalu hendak memberikan perintah kepada Gumbreg agar para prajurit bergerak sedikit lebih cepat, mengurungkan niatnya usai mendengar ucapan Gumbreg.


"Eeh ada Gusti Senopati Warigalit,


Ada tugas untuk hamba Gusti?", ujar Gumbreg tergagap karena yakin Warigalit mendengar obrolan antara dia dan Weleng.


"Percepat pergerakan prajurit mu, Gusti Prabu memerintahkan agar sebelum senja kita sudah melewati Pakuwon Semanding.


Satu lagi besok saat kita sampai di Daha, kau urus semua perbekalan yang kita bawa dan sampaikan laporan nya langsung kepada ku. Kalau sampai ada yang tak kau laporkan, aku akan minta Dhimas Prabu Jayengrana untuk memindahkan mu bertugas sebagai Akuwu di Seloageng timur", ancam Senopati Warigalit yang segera bergegas meninggalkan Gumbreg yang langsung lemas mendengar ucapan sang perwira. Ini berarti dia tidak bisa istirahat dengan santai di Kadiri.


Segera Gumbreg mendengus keras lalu mendelik tajam ke arah Weleng.


"Ini semua gara-gara mulut beracun mu Leng..


Kalau sampai aku di pindah jadi Akuwu maka ku pastikan kau akan ikut bersama ku. Saat sampai di Daha, cepat kau hitung berapa banyak perbekalan yang tersisa", geram Gumbreg sambil menatap bengis kearah Weleng.


"Lha kog jadi saya yang mengerjakan Gusti Demung? Kan yang di suruh Gusti Demung", ujar Weleng sambil memelas. Gumbreg acuh tak acuh berkata,


"Karena aku atasan mu"


**


"Kita harus mencegat mereka sebelum sampai ke istana Daha, Paman Mahamantri..


Toh mereka hanya di kawal sedikit prajurit", ujar seorang lelaki bertubuh gempal berkumis tebal dengan rambut gondrong terurai. Mata lelaki itu terlihat tenang meski sebenarnya dia sangat kejam.


"Jayengrana itu bukan orang sembarangan, Martayuda..


Dia adalah titisan Dewa Wisnu karena mampu menguasai perubahan wujud raksasa. Itu tak akan mudah", ujar seorang lelaki sepuh yang beberapa gigi nya telah ompong termakan usia.


"Paman Mahamantri tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan puluhan jagoan pendekar berilmu tinggi dari seluruh tanah Jawa.


Mereka siap untuk membantu kita setiap saat di butuhkan", ujar lelaki bertubuh gempal yang di panggil dengan sebutan Martayuda itu.


"Lantas dimana mereka sekarang?


Aku ingin melihat keberadaan para jagoan yang kau katakan itu. Sebab aku tidak mau gagal. Jika gagal tidak ada tempat lagi untuk kita di negeri ini", ujar lelaki tua yang tak lain adalah Mpu Rikmajenar, sang Mahamantri Panjalu.


"Mereka ada di sebuah tempat yang telah aku siapkan Paman.


Mari kita kesana", ujar Akuwu Cempaka, Martayuda yang segera berdiri dan berjalan keluar dari istana Pakuwon Cempaka. Mpu Rikmajenar mengikuti langkah keponakannya itu. Mereka berdua segera melompat ke atas kuda nya menuju ke wilayah timur Pakuwon Cempaka tepatnya di wilayah hutan Soka yang terkenal angker.


Ya, dengan alasan ingin menjenguk keponakan nya Mpu Rikmajenar berangkat ke Pakuwon Cempaka. Namun rupanya dia ingin melihat benteng pertahanan prajurit Pakuwon Cempaka yang disiapkan oleh Martayuda untuk menghadapi pasukan Panjalu seperti keinginan nya. Dia benar-benar tidak suka Panji Watugunung menjadi Raja Panjalu. Seluruh dukungannya dia berikan kepada Suryanata dan Banjarsari, namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Bahkan upaya nya mendukung pemberontakan Adipati Mpu Pamadi pun menjadi pil pahit yang dirasakan oleh nya, karena Panji Watugunung menumpas habis mereka.


Dasar kebencian terhadap Panji Watugunung adalah dia tidak ingin keturunan wangsa Isyana berkuasa lagi. Rikmajenar adalah keturunan Raja Wurawari yang di kalahkan Prabu Airlangga. Orang tuanya berhasil lolos karena ada di wilayah Lasem ketika Lwaram di musnahkan oleh serbuan prajurit Medang. Ayahnya berhasil menyamar sebagai prajurit Kahuripan untuk menghilangkan jejak.


Selepas pemisahan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, Rikmajenar yang kecerdasan nya diatas rata-rata memilih ikut serta ke Daha demi membalas dendam lama keturunan Lwaram. Dia benar-benar musuh dalam selimut, duri dalam daging di istana Daha.


Setibanya di tempat yang dituju, Mpu Rikmajenar dan Martayuda segera melompat turun dari kudanya.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan mata sebelah ditutup dengan kulit sapi untuk menutupi kecacatan mata kirinya segera mendekati Martayuda.


"Kita bergerak sekarang Gusti Akuwu?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁

__ADS_1


Selamat membaca 🙏😁😁🙏


__ADS_2