Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Perkemahan Yang Kosong


__ADS_3

Usai berkata demikian Senopati Mpu Mardewa segera melesat cepat kearah Warigalit yang bersiap untuk melanjutkan pertarungan.


Keris pusaka Luk 13 yang terselip di pinggang kanan Mpu Mardewa segera tercabut dari sarungnya, dan dengan cepat di tusukkan ke arah perut Warigalit.


Tak mau gegabah, Warigalit menjejak tanah dengan keras dan melompat mundur sambil menangkis sabetan keris pusaka Mpu Mardewa.


Tringgggg!!


Denting nyaring terdengar dari benturan dua senjata mereka. Warigalit mundur dengan ringan karena Ajian Sepi Angin nya membuat tubuhnya seringan kapas. Mpu Mardewa terus memburu Senopati Kadiri itu dengan sabetan keris pusaka nya.


Tanpa membuang waktu, Warigalit segera melenting tinggi ke udara dan mendarat sejauh 3 tombak menjauhi Senopati Mpu Mardewa dan dengan cepat merubah gerakan dengan memutar tubuhnya.


Dengan Tombak Angin di sebagai ujung serangan, putaran tubuh Warigalit menciptakan gelombang angin kencang yang menderu kearah Mpu Mardewa.


Whuuussshh


Senopati Jenggala itu dengan cepat menjatuhkan tubuhnya ke tanah untuk menghindar dari tusukan Tombak Angin yang mengincar nyawanya.


Warigalit segera mendarat tak jauh dari Mpu Mardewa dan berdiri tegak sambil memutar mutar Tombak Angin di tangan kanannya.


Sementara itu Mpu Mardewa segera bangkit dari tanah sambil menatap tajam kearah Warigalit.


"Darimana kau peroleh senjata itu, Wong Panjalu?", tanya Senopati Mpu Mardewa sambil menggerakkan keris pusaka nya.


"Ini adalah pemberian guru ku, Mpu Sakri dari Padas Putih.


Memang ada urusan apa denganmu?", jawab Warigalit sambil terus memutar senjata nya.


"Jadi kau murid Si Tangan Api?


Tombak Angin adalah senjata kakak seperguruan ku. Guru mu yang merebut nya setelah membantai kakak seperguruan ku. Hari ini akan ku ambil lagi Tombak Angin dari tangan mu", teriak Mpu Mardewa sambil menatap tajam ke arah Warigalit.


Phuihhhh


"Kau hanya mengaku-ngaku. Tidak ada bukti dari ucapan mu.


Kalau memang hebat, ambil saja kalau kau bisa", ucap Warigalit dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


"Bangsat!


Jumawa sekali kau. Bersiaplah berangkat ke neraka", usai berkata demikian, Senopati Mpu Mardewa segera melesat cepat kearah Warigalit. Kali ini gerakan tubuhnya dua kali lipat lebih cepat dari yang sebelumnya.


Warigalit segera menaiki tingkat Ajian Sepi Angin nya.


Saat sabetan keris Mpu Mardewa nyaris menyentuh kulit nya, tiba-tiba saja Warigalit bergerak cepat bagai kilat. Tubuhnya seperti menghilang dari pandangan Mpu Mardewa. Senopati Jenggala itu terkejut bukan main.


Saat Mpu Mardewa masih belum sepenuhnya menyadari, tiba-tiba sebuah pukulan tangan kiri menghantam punggung laki laki paruh baya itu dari samping kanan.


Deshhhh..


Aughhhh!!!


Mpu Mardewa meraung keras. Tubuh gempal nya terpental ke samping kiri dan menabrak seorang prajurit Jenggala yang sedang bertarung melawan seorang prajurit Panjalu.


Walhasil, si prajurit Jenggala yang apes terdorong ke arah prajurit Panjalu yang bersenjatakan pedang. Pedang si prajurit Panjalu langsung menancap pada perut lawan nya yang sedang sial.


Jleepppp..


Ougghhh!


Si prajurit Jenggala melengguh sesaat sebelum tewas dengan pedang menancap di perutnya.


Sementara itu Mpu Mardewa segera bangkit, dadanya sesak akibat hantaman pukulan tangan kiri Warigalit. Dari sudut bibirnya, darah segar mengalir keluar.


Melihat darah segar yang baru di usap dari bibirnya, Mpu Mardewa marah besar.


Segera dia menyarungkan keris pusaka nya. Tangan kanannya segera dia angkat ke udara. Sebuah sinar merah kekuningan segera melingkupi seluruh tangan kanannya. Mpu Mardewa merapal mantra Ajian Tapak Surya.


Warigalit yang sadar akan hal itu, segera merapal Ajian Tapak Dewa Api tingkat tinggi nya. Seketika tangan kiri nya di liputi oleh sinar merah menyala seperti api.


Sambil berteriak lantang, Mpu Mardewa menghantamkan tangan kanannya ke arah Warigalit.


'Ajian Tapak Surya..


Chiyyyaaaattttt!!!!'


Seberkas sinar kemerahan menerabas cepat kearah Warigalit. Murid Mpu Sakri itu segera menghantamkan tangan kiri nya ke arah serangan Mpu Mardewa.


Shiiiuuuuuuutttt...


Blammmmm!!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian andalan itu. Mpu Mardewa terdorong mundur beberapa langkah kebelakang begitu juga Warigalit.


Melihat lawan yang dihadapi berilmu tinggi, Warigalit segera menancapkan Tombak Angin ke tanah. Kedua tangan Warigalit bersilangan di depan dada. Mulut Senopati Kadiri itu komat-kamit membaca mantra. Dia akan menggunakan Ajian Surya Pamungkas. Tubuh berotot Warigalit seketika berubah warna menjadi merah menyala seperti warna matahari.


Mpu Mardewa yang sudah gelap mata, langsung melesat cepat kearah Senopati Warigalit sambil menghantamkan tangan kanannya yang sudah berubah warna menjadi merah kekuningan.


Warigalit dengan cepat segera menghantamkan tangan kanannya ke arah Mpu Mardewa. Sebuah sinar merah menyala berbentuk bola yang memancarkan hawa panas segera melesat cepat kearah Mpu Mardewa.


Whuuuuttt


Dhuuuaaaaarrrrrr!!


Ledakan dahsyat terdengar. Mpu Mardewa terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.

__ADS_1


Tubuh gempal Senopati Jenggala itu menghitam seperti baru terbakar api. Dia tewas seketika.


Melihat sang pemimpin tertinggi pasukan Jenggala tewas, seorang perwira tinggi prajurit Jenggala yang tersisa, Demung Mpu Loma segera berteriak lantang.


"Mundur!!!!


Kita mundur!!", teriak Mpu Loma sambil melompat ke arah Kali Aksa. Mendengar perintah itu, dan melihat tewasnya pemimpin pasukan, para prajurit Jenggala segera berlari menuju ke arah Kali Aksa.


Tiga ribu prajurit Jenggala yang tersisa mengikuti langkah Demung Mpu Loma.


Warigalit yang memimpin pasukan Panjalu, langsung mengangkat Tombak Angin yang baru di cabut dari tanah.


"Tak perlu di kejar,


Biarkan mereka kabur. Masih ada kesempatan untuk menghancurkan mereka", perintah Warigalit dengan cepat. Para prajurit Panjalu yang sudah bersiap untuk memburu segera menghentikan langkah mereka.


Sorak sorai para prajurit Panjalu terdengar dari mulut yang bersyukur atas kemenangan yang mereka peroleh hari itu.


Tiga ribu prajurit Panjalu tewas hari itu. Mereka gugur sebagai pahlawan Daha. Para prajurit Panjalu yang masih hidup, segera menggali lobang untuk mayat mayat kawan mereka. Sedangkan untuk mayat prajurit Jenggala mereka kumpulkan dan dibakar.


"Apa rencana Selanjutnya, Gusti Senopati?", tanya Tumenggung Landung sambil menatap ke arah tumpukan mayat prajurit Jenggala yang tengah terbakar api.


"Sesuai perintah Dhimas Pangeran Jayengrana, kita harus menyusul mereka ke Kunjang. Dengan menggabungkan kekuatan, kita akan menahklukan Jenggala", ujar Warigalit sambil menatap ke langit Utara.


**


"Celaka Gusti Senopati,


Pasukan Panjalu sudah bergerak kemari", ujar seorang prajurit telik sandi yang melapor kepada Senopati Jambuwana yang tengah pusing karena menunggu kabar dari istana Kahuripan.


APAAAAAA?!!


"Bajingan!


Saat kita tengah kebingungan seperti ini mereka malah bergerak", Senopati Jambuwana langsung berdiri dari tempat duduknya. Beberapa perwira prajurit Jenggala yang ada di dekatnya langsung ikut terkejut mendengar laporan itu.


Senopati Pungging dari Pasuruhan segera menghormat pada Senopati Jambuwana.


"Kakang Senopati,


Sebaiknya kita mundur. Perbekalan kita tinggal cukup untuk hari. Itupun kita mengurangi jatah makan menjadi setengah dari biasanya. Kalau kita memaksakan diri untuk melawan mereka, aku takut kita hanya akan mati konyol sia-sia", ujar Senopati Pungging dengan cepat. Sebagai prajurit yang berpengalaman, dia tahu bahwa makanan adalah kunci keberhasilan dalam peperangan.


"Tapi Adhi,


Kalau kita mundur sekarang, bukankah akan sangat memalukan bagi kita?", Senopati Jambuwana sambil menatap ke arah adik sepupu nya itu.


"Lebih baik malu Kakang Senopati, tapi masih punya kesempatan untuk mengalahkan mereka dari pada bertahan tapi mati konyol sia-sia.


Aku mohon pertimbangkan saran ku", Senopati Pungging segera berjongkok dan menyembah pada Senopati Jambuwana. Tumenggung Adyaksa dari Matahun dan Tumenggung Mpu Kajar langsung mengikuti langkah Senopati Pungging.


"Baik kita mundur,


"Wilayah ini masuk wilayah Matahun, Gusti Senopati.


Sebaiknya kita menyusun ulang rencana kita disana", ujar Tumenggung Adyaksa dari Matahun segera.


Hemmmm...


"Baiklah,


Kalian bertiga cepat atur pasukan. Kita mundur ke Matahun", ujar Senopati Jambuwana dengan cepat.


Tiga perwira prajurit Jenggala itu segera menghormat dan bergegas keluar dari tempat itu. Malam itu juga, Pasukan Jenggala meninggalkan tempat itu. Mereka meninggalkan tenda, pedati, dan peralatan lainnya karena khawatir memakan waktu.


Menjelang pagi, Pasukan Panjalu sampai di barat perkemahan para prajurit Jenggala. Saat matahari mulai terbit di ufuk timur, Panji Watugunung dan pasukan Panjalu telah mencapai perkemahan para prajurit Jenggala.


Melihat perkemahan yang kosong, Panji Watugunung segera mengumpulkan para perwira prajurit Panjalu.


"Sepertinya perkemahan ini ditinggalkan dengan terburu-buru, Gusti Pangeran.


Bara di perapian belakang tenda perbekalan masih ada. Ini membuktikan bahwa mereka belum lama meninggalkan tempat ini", ujar Tumenggung Ludaka sambil menunjuk ke arah belakang tenda.


Hemmmm


"Rupanya mereka telah mencium kedatangan kita.


Coba kau selidiki kemana mereka pergi, Ludaka", perintah Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Ludaka segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera bergegas menuju ke arah luar tempat perkemahan itu.


"Kalian para perwira,


Gunakan tempat ini untuk berkemah sementara. Atur penjagaan secara ketat di sekitar tempat ini. Jangan lengah", perintah Panji Watugunung segera.


Para perwira prajurit Panjalu segera menghormat pada Panji Watugunung dan melaksanakan perintah Sang Yuwaraja Panjalu.


Pasukan Lowo Bengi langsung bergerak menyebar mencari jejak para prajurit Jenggala yang meninggalkan tempat. Saat tengah hari, Demung Marakeh datang menghadap kepada Panji Watugunung.


"Ada berita penting apa yang kau bawa, Marakeh?", tanya Panji Watugunung dengan cepat. Melihat raut muka Marakeh yang riang, sepertinya kabar baik yang dia bawa.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Pasukan Senopati Narapraja telah berhasil mengalahkan prajurit Jenggala yang menyerang lewat Utara", jawab Demung Marakeh sambil menyembah.


"Bagus,

__ADS_1


Kabarkan kepada mereka untuk bergerak ke timur. Taklukan Kadipaten Bojonegoro", perintah Panji Watugunung sambil tersenyum tipis. Dia melirik ke arah Ratna Pitaloka yang duduk di sebelah nya.


"Kau tidak keberatan kan Dinda Pitaloka?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum simpul menatap ke arah Ratna Pitaloka.


"Aku tidak keberatan Kakang,


Toh sepupu ku itu juga tidak berhak atas takhta Kadipaten Bojonegoro. Meski aku juga tidak menginginkan nya, tapi karena Bojonegoro ada di wilayah Jenggala, maka sebagai istri mu, aku mendukung sepenuhnya tindakan mu.


Tapi aku minta Kakang menahklukan Bojonegoro dengan damai. Kalau mereka menolak, Kakang Watugunung bisa mengambil tindakan apapun yang diperlukan", jawab Ratna Pitaloka dengan senyum manisnya.


Panji Watugunung mengangguk, kemudian menoleh ke arah Demung Marakeh.


"Kau sudah mendengar sendiri ucapan istri ku, Marakeh.


Sampaikan ini kepada Senopati Narapraja", titah Panji Watugunung segera.


Demung Marakeh segera menghormat pada Panji Watugunung dan bergegas keluar dari tenda besar yang menjadi tempat tinggal Panji Watugunung dan keempat istri nya.


Dengan cepat, Marakeh segera melompat ke atas kuda nya dan menggebrak kudanya menuju ke arah Utara. Dua prajurit pengiringnya mengekor di belakang.


Lepas tengah hari, Tumenggung Ludaka sudah kembali ke tempat perkemahan itu bersama para pasukan Lowo Bengi.


Mereka segera bergegas menuju ke tenda besar yang ada di tengah perkemahan.


Usai menyembah, Tumenggung Ludaka dan para pasukan Lowo Bengi duduk bersila di hadapan Panji Watugunung.


"Katakan pada ku,


Apa sudah kalian temukan arah pelarian para prajurit Jenggala?", tanya Panji Watugunung yang menatap ke arah Tumenggung Ludaka dan para bawahannya.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Berdasarkan berita dari para telik sandi dan warga yang melihat, para prajurit Jenggala menuju ke arah kota Kadipaten Matahun", lapor Tumenggung Ludaka sambil menghormat.


"Kadipaten Matahun?


Hemmmmmmm...


Sepertinya mereka berniat untuk menahan kita disana. Kota Kadipaten Matahun itu dikelilingi oleh rawa yang merepotkan. Kalau mereka hanya bertahan di tembok istana, itu akan membutuhkan waktu lama. Kita harus menyiapkan pasukan besar untuk mengepung mereka.


Ludaka,


Apa sudah ada berita dari pasukan yang dipimpin Kakang Warigalit?", Panji Watugunung menatap ke arah Tumenggung Ludaka.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Sampai saat ini belum ada berita. Sepertinya kita harus menunggu sampai ada kabar dari telik sandi yang hamba kirim", ujar Tumenggung Ludaka seraya menyembah pada Panji Watugunung.


Saat mereka sedang asyik bercakap, dari arah luar tenda seorang lelaki bertubuh tegap masuk ke dalam tenda.


"Wirata,


Kau sudah datang. Berita apa yang kau bawa dari Seloageng?", tanya Ludaka dengan cepat.


"Mohon ampun Gusti Tumenggung, Gusti Pangeran Jayengrana..


Para prajurit kita berhasil mengalahkan prajurit Jenggala. Mereka dalam perjalanan kemari", ujar Wirata, sang telik sandi.


"Bagus sekali..


Kita tunggu kedatangan Kakang Warigalit", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Jika mereka sudah tiba, kita serbu Kadipaten Matahun!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2