
Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati diam diam menyesali kebodohan mereka.
Rombongan pasukan akhirnya tiba di Watugaluh tepat tengah hari. Di sambut isak tangis haru dari ayah Dewi Tunjung Biru dan ibunya. Mereka sangat bersyukur putri kedua mereka bisa pulang dengan selamat.
"Ki Kuwu, Saya mengucapkan selamat kepada Ki Kuwu atas keberhasilan menyelamatkan Dewi Tunjung Biru. Kami mohon pamit ingin melanjutkan perjalanan", ujar Panji Watugunung di sambut senyum manis oleh ketiga selir nya.
Akuwu Watugaluh terkejut dengan keputusan Panji Watugunung, dia sebenarnya ingin menahan Panji Watugunung untuk tinggal beberapa hari lagi di Watugaluh.
"Nakmas Watugunung, apa tidak capek setelah menyelamatkan nyawa cucu saya? Saya rasa tidak ada salahnya jika Nakmas Watugunung beristirahat dulu di Pakuwon Watugaluh".
"Maaf Ki Kuwu, bukan maksud menolak keramahan Ki Kuwu, tapi kami sudah di tunggu Guru Resi di Padas Putih. Tak enak kalau terlalu lama kami sampai nya", tolak Watugunung halus.
Akuwu Watugaluh mendesah dan tersenyum.
"Baiklah Nakmas, kakek tua ini tidak bisa berbuat apa-apa jika Nakmas Watugunung punya pemikiran seperti itu.
Mohon terima ini sebagai tanda terima kasih Nakmas Watugunung sudah menolong Tunjung Biru", ujar Akuwu Watugaluh sambil menyerahkan 2 kantong kepeng emas sebagai bekal perjalanan.
Usai berpamitan dengan Tabib Putih, Dewi Kipas Besi dan Tapak Malaikat, rombongan Panji Watugunung menemui Dewi Tunjung Biru sesuai permintaan Kuwu Hangga Amarta.
"Dewi Tunjung Biru, kami mengucapkan selamat tinggal. Kami mohon pamit", ujar Panji Watugunung sambil membungkuk hormat.
"Apakah kakang Watugunung tidak bisa beristirahat sejenak disini?", sahut Dewi Tunjung Biru dengan mata berkaca-kaca.
Cihhhhh
"Kami sudah di tunggu guru. Jadi mohon maaf tidak bisa disini lebih lama", Sekar Mayang sengit.
"Kami mohon pamit Dewi, semoga kau sehat selalu".
Usai berkata, Panji Watugunung segera bergegas melangkah keluar menuju ke kuda hitam nya di ikuti oleh Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
Mereka segera melompat ke atas kuda mereka, dan menggebrak tunggangan nya melesat meninggalkan Pakuwon Watugaluh.
Air mata Dewi Tunjung Biru langsung tumpah saat melihat Panji Watugunung menghilang dari pandangannya.
Rombongan Panji Watugunung terus melesat menuju lereng barat Gunung Penanggungan. Kuda kuda pilihan pemberian Akuwu Watugaluh memang bagus. Sampai sore kuda mereka tetap bugar.
Di sebuah kota kecil Lantir, mereka berhenti.
Senja mulai turun, tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Mereka mencari sebuah penginapan untuk bermalam.
Saat mencapai tengah kota, mereka melihat sebuah penginapan yang lumayan besar bernama "Penginapan Kembang Mawar".
Penginapan itu tergolong besar dan mewah untuk ukuran kota kecil Lantir.
Merasa tertarik, Panji Watugunung dan ketiga selir nya segera turun dari kudanya. Pekatik (perawat kuda) penginapan Kembang Mawar segera menuntun kekang kuda mereka berempat.
"Berikan rumput hijau untuk kuda kuda kami", ujar Watugunung sambil menyerahkan 1 kepeng perak kepada pekatik.
Pria paruh baya itu terlihat senang. 1 kepeng perak sama dengan gaji setengah bulan dia bekerja di situ. Buru buru dia menuntun kuda mereka ke kandang.
Seorang perempuan paruh baya terburu buru mendekati rombongan Panji Watugunung.
"Tuan muda, ada yang bisa di bantu? Saya pemilik penginapan disini".
"Kami ingin menginap di sini untuk 4 kamar tapi sebelumnya kami ingin makan yang enak. Bisa kau siapkan?", Watugunung melihat sekeliling. Rumah makan di depan penginapan mulai ramai.
"Bisa tuan bisa. Tapi maaf biaya menginap dan makan disini tidak murah", ujar sang pemilik penginapan.
"Kau menghina kami ya?", Sekar Mayang mendelik tajam.
"Sekar Mayang diam. Nyonya tenang saja, soal duit kami punya", Panji Watugunung menunjuk pada satu meja di sisi pojok.
"Baik tuan, segera disiapkan. Silahkan saya antar ke meja"
Rombongan Panji Watugunung segera duduk menunggu pesanan mereka.
__ADS_1
Tiba tiba hujan deras turun menyelimuti kota kecil Lantir.
Seorang pria tua berjenggot putih berpakaian serba hijau dan seorang gadis berbaju hijau muda nampak di depan pintu masuk rumah makan.
"Nyonya penginapan, apa kami bisa mendapatkan sedikit makanan? Kami pengelana dari jauh", kakek tua itu mengusap baju nya yang basah terkena air hujan.
"Silahkan pak tua. Apa yang kau ingin pesan?", pemilik penginapan berkata seraya menatap wajah sepuh kakek tua itu.
Kakek tua itu lalu mengeluarkan kantong kain kecil dan menuang isinya. Hanya 10 kepeng perunggu.
"Hanya itu yang kami punya nyonya"
Pemilik penginapan mengernyitkan dahinya.
"Ini hanya bisa membeli sedikit makanan pak tua".
"Tidak apa-apa nyonya, yang penting kami bisa sedikit makan", kata kakek tua dengan sopan.
Pemilik penginapan segera berlalu pergi.
"Ratri, maafkan kakek ya. Kakek tidak bisa menyenangkan mu", ucap kakek tua menyesali ketidakmampuan nya.
"Tidak apa-apa kek, bagi Ratri yang penting kita bisa bersama" , ucap gadis yang dipanggil Ratri.
Mereka duduk tak jauh dari pintu masuk.
Panji Watugunung dari awal memperhatikan semua nya. Lalu berbisik pada Ratna Pitaloka.
Mendengar perintah dari calon suami nya, Ratna Pitaloka menghampiri 2 orang itu.
"Kakek, sepertinya dari jauh. Mari bergabung bersama kami".
Dua orang terkejut. Dengan pandangan menyelidik, kakek tua itu mengamati gadis yang menawarkan jamuan.
Setelah meyakinkan diri bahwa gadis cantik itu orang baik, mereka bergeser ke meja Panji Watugunung.
Ratna Pitaloka memanggil pelayan rumah makan.
"Baik nyonya", Pelayan bergegas ke dapur.
Kakek tua itu sungkan. Dengan malu, dia berkata, "Maafkan kami merepotkan Anda nyonya".
"Tidak merepotkan. Sesama pengelana harus saling membantu", jawab Ratna Pitaloka dengan ramah.
"Kalau boleh tau siapa kakek? Ada keperluan apa disini?", timpal Panji Watugunung.
"Maaf Kisanak, saya Sima dan ini cucu saya Ratri. Kami dari Kalingga", jawab kakek tua memperkenalkan diri.
"Jauh sekali. Ada keperluan apa kek ke Kahuripan?", tanya Anggarawati yang dari tadi diam memperhatikan.
"Kami ingin ke Padepokan Padas Putih di lereng gunung Penanggungan nyonya,
Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan kesana", jawab Ki Sima.
"Wah kebetulan sekali. Kami juga mau ke Padas Putih,
"Bagaimana kalau kesana bersama sama", Sekar Mayang ikut bicara.
"Kami tidak mau merepotkan nyonya", ujar Ki Sima dengan senyum sopan.
"Ki Sima tenang saja. Kami disini tidak ada maksud apa-apa selain membantu sesama pengelana", ucap Panji Watugunung memahami kekhawatiran Ki Sima.
Pelayan masuk menghilangkan makanan yang tergolong mewah. Kakek tua itu terkejut. Begitu juga gadis bernama Ratri.
"Ayo silahkan di makan"
Mereka semua makan dengan lahap.
__ADS_1
Kemudian beberapa saat setelah selesai makan, pelayan datang.
"Tuan, kamarnya sudah siap"
"Tambahkan 2 kamar lagi untuk Kakek ini dan cucu nya"
"Baik tuan, segera di siapkan", ujar pelayan rumah makan itu sambil ke belakang.
Tak berapa lama, nyonya penginapan itu datang.
"Bagaimana tuan? Apakah hidangan kami memuaskan?".
"Masakan mu enak nyonya. Berapa semuanya termasuk 2 kamar untuk Kakek tua dan cucunya ini?", tanya Watugunung sopan.
"Semua nya 1 kepeng emas tuan", jawab si nyonya penginapan.
Kakek tua itu, Ki Sima dan cucu nya hanya saling pandang mendengar 1 kepeng emas.
1 kepeng emas sama dengan 100 kepeng perak. 1 kepeng perak sama dengan 100 kepeng perunggu.
'Mahal sekali' batin mereka.
Karna biasanya makan di rumah makan itu 2 kepeng perak sudah cukup untuk mereka berdua.
Panji Watugunung segera merogoh kantong di balik baju nya. Mengeluarkan 1 kepeng emas dan 5 kepeng perak dan memberikan pada nyonya penginapan.
Nyonya penginapan itu langsung bersinar matanya melihat kepeng emas dan perak di tangan nya tapi kemudian bertanya kepada Panji Watugunung.
"Untuk apa 5 kepeng perak ini tuan?"
"Ambilkan aku arak terbaik mu. Kirim ke kamar ku. Kalau itu kurang, besok pagi aku tambah"
Panji Watugunung segera bergegas menuju kamar yang di tunjukkan pelayan. Di iringi 3 calon istri nya. Kakek Sima dan cucunya mengekor di belakang.
Malam itu mereka beristirahat dengan tenang.
Pagi menjelang. Gelap malam berganti sinar matahari yang terbit dari timur.
Panji Watugunung terbangun saat jendela kamar nya di buka.
"Eh sedang apa kau disini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapa di kamar Panji Watugunung?
__ADS_1
Kepo kan??
Tunggu episode selanjutnya 😁😁😁