
Panji Watugunung segera mendekati Resi Wasista sambil tersenyum tipis.
"Kenapa Resi begitu sungkan? Kami hanya berlatih saja", ujar Panji Watugunung sambil melemparkan pedang di tangan nya kearah Landung. Pedang melesat cepat kearah tangan kiri Landung yang sedang memegang sarung pedangnya.
Sreeetttttt
Pedang masuk sempurna ke sarungnya. Saking cepatnya, semua orang sampai tidak melihat pergerakan pedang. Landung baru menoleh ke tangannya saat ada bunyi di sarung pedang nya. Semua orang terkejut melihat kejadian itu termasuk Resi Wasista dan ketiga murid nya.
Dari kejadian itu, Taranggana sadar. Jika tadi Panji Watugunung sungguh sungguh meladeninya, maka pasti dia sudah meregang nyawa.
"Pendekar muda, kau sungguh luar biasa.
Kalau boleh tau, siapa nama mu? Dan darimana asal mu?", tanya Resi Wasista sambil menghormat.
Sebelum Panji Watugunung menjawab, Gumbreg langsung memotong pembicaraan mereka berdua.
"Ini Gusti Pangeran Panji Watugunung. Putra mantu Maharaja Samarawijaya, putra Bupati Gelang-gelang.
Di dunia persilatan, dia di kenal dengan sebutan Pendekar Pedang Naga Api, Brahmana Tua", ujar Gumbreg sambil tersenyum pongah. Panji Watugunung segera melotot kearah Gumbreg yang membuat laki-laki tambun itu langsung mengkerut.
Resi Wasista dan ketiga muridnya terkejut mendengar ucapan Gumbreg. Mereka segera berjongkok dan menyembah kepada Panji Watugunung.
"Ampuni hamba Gusti Pangeran..
Hamba yang bodoh, tidak bisa melihat seorang bangsawan hebat di depan mata tua ini", ujar Resi Wasista sambil menghormat.
Buru buru Panji Watugunung segera mengangkat tangan Resi Wasista.
"Seorang brahmana hanya berlutut kepada Dewa, Resi.
Berdirilah, aku bukan dewa yang layak mendapat sembah mu", ujar Panji Watugunung segera.
Resi Wasista tersenyum dengan penuh kekaguman. Pemuda ini masih muda tapi memiliki kesaktian dan penghormatan tinggi terhadap para brahmana, batin Resi Wasista dalam hati.
"Terimakasih Gusti Pangeran, semoga Hyang Maha Tunggal selalu memberkati setiap langkah Gusti Pangeran", Resi Wasista mengangguk pelan.
"Kita berbincang di serambi peristirahatan Pakuwon saja Resi. Mari kita kesana", ujar Panji Watugunung sambil melangkah menuju ke tempat yang ia tunjuk.
Resi Wasista menoleh ke arah ketiga muridnya, dan segera ketiga nya mengikuti langkah sang Resi menuju ke serambi peristirahatan.
Setelah Resi Wasista mengikuti langkah Panji Watugunung, semua prajurit Daha membubarkan diri. Gumbreg langsung berlari menuju ke tempat mandi. Ludaka dan Landung segera menyusulnya.
Sampai di serambi, Dewi Srimpi sudah menunggu kedatangan Panji Watugunung dengan air hangat daun sirih untuk mencuci muka sang suami. Segera Panji Watugunung membasuh muka nya, dan mengeringkan dengan kain yang sudah di persiapkan Dewi Srimpi.
Panji Watugunung kemudian membisikkan sesuatu kepada Dewi Srimpi, perempuan itu mengangguk tanda mengerti dan segera mundur dari serambi peristirahatan.
"Hamba benar benar malu tidak bisa mendidik murid hamba dengan baik", ujar Resi Wasista.
"Sudahlah Resi, kami hanya berlatih. Mengadu ilmu itu bukan untuk saling mengalahkan tapi juga untuk menjajal kemampuan.
Ini hari terakhir kami. Setelah ini aku dan pasukan Daha akan melanjutkan perjalanan. Mohon Resi bersedia menemani ku untuk sarapan bersama", ujar Panji Watugunung segera.
"Hamba merasa tidak pantas untuk makan bersama dengan Gusti Pangeran", Resi Wasista menunduk.
"Eh aku tidak mau ada penolakan Resi. Kita semua sama sama manusia. Pangkat dan jabatan hanya sebuah gelar", Panji Watugunung tersenyum tipis.
Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang datang ke serambi seraya membawa pelbagai jenis masakan. Pagi itu mereka makan bersama layaknya teman dekat.
Setelah persiapan sudah cukup, pasukan Daha bergerak meninggalkan istana Pakuwon Kinanti menuju ke Kadipaten Lasem.
Sepanjang perjalanan rombongan besar pasukan Daha mendapat perhatian dari penduduk di setiap wanua dan Pakuwon yang mereka lewati.
Di tapal batas wilayah Kalingga sebuah sungai kecil yang lumayan lebar menghentikan langkah kaki kuda kuda mereka. Lawana memberikan hormat kepada Panji Watugunung. Tugasnya sebagai pengawal perjalanan Panji Watugunung di wilayah Kalingga sudah berakhir. Lawana menarik tali kekang kudanya, menggebrak kuda nya kembali ke istana Kadipaten Kalingga.
Seberang sungai adalah wilayah Kadipaten Lasem. Perlahan mereka menyeberangi sungai kecil itu. Begitu seluruh pasukan Daha sudah menyeberang sungai, Senopati Narapraja segera menggebrak kuda mereka menuju ke sebuah Wanua yang menjadi wilayah Pakuwon Cempaka. Para penduduk Wanua Pesanggaran ketakutan melihat kedatangan ribuan prajurit yang masuk ke wilayah mereka.
Lurah Wanua Pesanggaran, Wangsareja segera mendekati pasukan Daha yang berhenti di ujung wanua.
"Ampun Gusti,
Ada hal apa yang membuat Gusti Perwira datang ke tempat kami?", tanya Wangsareja dengan sopan.
"Kami berniat untuk menyebrang sungai Bengawan Solo ini Ki Lurah, bukankah di wanua ini ada dermaga penyeberangan nya?", Tumenggung Wiguna menatap wajah pria tua itu.
"Oh ada ada Gusti perwira,
__ADS_1
Dermaga penyeberangan kami menghubungkan antara wilayah Kadipaten Lasem dan Kadipaten Anjuk Ladang. Namun mohon maaf Gusti, sungai Bengawan Solo sedang meluap. Sangat berbahaya jika ingin menyeberang saat ini", jawab Ki Wangsareja sambil menghormat.
Tumenggung Wiguna segera menoleh ke arah Senopati Narapraja dan Panji Watugunung.
"Apa boleh buat, kita dirikan perkemahan disini sambil menunggu air mereda", ujar Panji Watugunung segera.
Para prajurit Daha segera membangun tenda perkembangan di tanah lapang yang ada di luar Wanua. Sementara Panji Watugunung dan keempat istrinya menginap di rumah Ki Wangsareja.
Selama 2 hari mereka terpaksa menginap di wanua itu karena banjir Bengawan Solo. Pada hari ketiga, saat air sungai mulai surut, pasukan Daha berhasil menyeberangi sungai Bengawan Solo. Kemudian mereka menuju ke selatan, kearah kota Kadipaten Anjuk Ladang.
Setelah melewati Pakuwon Locaratna, pasukan Daha terus bergerak menuju ke selatan ke arah kota Kadipaten Anjuk Ladang. Menjelang sore, mereka tiba di istana Kadipaten Anjuk Ladang.
Mendengar berita pasukan Daha tiba di istana Kadipaten, Adipati Anjuk Ladang Gunawarman segera keluar menyambut kedatangan mereka.
Melihat Panji Watugunung diantara para pemimpin pasukan Daha, Gunawarman mengernyitkan keningnya. Seingatnya Panji Watugunung hanya seorang utusan yang mengantarkan surat dari Prabu Samarawijaya.
"Selamat datang di Kadipaten Anjuk Ladang Gusti Senopati Narapraja, Gusti Senopati Maitreya", ucap Gunawarman sambil menghormat.
"Maaf Gusti Adipati, bukan kami yang lebih berhak kau sapa lebih dulu. Ada seorang yang lebih penting daripada kami disini", Senopati Maitreya menatap wajah Gunawarman yang nampak kebingungan, sedangkan Panji Watugunung hanya tersenyum tipis.
"Apa maksudnya Gusti Senopati Maitreya? Siapa yang lebih berhak?", tanya Adipati Gunawarman segera.
"Tentu saja Gusti Pangeran Panji Watugunung, Gusti Adipati Gunawarman. Dia adalah pemimpin tertinggi pasukan Daha saat ini", mendengar ucapan Senopati Narapraja serta merta Adipati Gunawarman berlutut kepada Panji Watugunung.
"Ampuni hamba Gusti Pangeran..
Hamba begitu bodoh tidak bisa mengenali Gusti Pangeran", teringat kejadian tempo hari saat menerima surat, Gunawarman semakin ketakutan.
"Sudahlah Gusti Adipati, berdirilah.. Jangan seperti itu", mendengar ucapan Panji Watugunung, dengan segera Adipati Gunawarman berdiri.
Malam itu, mereka bermalam di istana Kadipaten Anjuk Ladang. Dua putri Gunawarman, Wulandari dan Wulansari yang melihat kedatangan para perwira Daha, terkejut melihat Panji Watugunung ada diantara mereka.
Segera mereka bertanya kepada ayahnya yang menjamu para perwira di sasana boga Kadipaten Anjuk Ladang.
"Kanjeng Romo, kenapa orang itu ada diantara para perwira tinggi prajurit Daha?", bisik Dewi Wulandari pada Gunawarman.
"Husssttt..
Jangan macam-macam terhadap dia. Dia itu pangeran Daha, suami Gusti Putri Ayu Galuh", ujar Gunawarman segera. Wulandari terkejut bukan main.
Setelah menyeberangi sungai Brantas, Pasukan Panjalu akhirnya mencapai wilayah Kotaraja Dahanapura. Para prajurit Daha langsung di kembalikan ke kesatrian Kadri sedangkan para perwira tinggi prajurit bergerak menuju Istana Dahanapura.
Sesampainya di istana, mereka bergegas menuju ke balai paseban agung karena sudah ditunggu Prabu Samarawijaya disana.
"Sembah bakti hamba untuk Gusti Prabu Samarawijaya, sang Maharaja Panjalu", ujar Panji Watugunung dan semua orang yang bersamanya.
"Bangunlah..
Aku bangga dengan para pahlawan yang sudah berjasa mempertahankan wilayah Panjalu dari para pemberontak", ujar Prabu Samarawijaya sambil tersenyum simpul.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Kami tidak mungkin bisa mempertahankan wilayah Panjalu tanpa bantuan para prajurit Daha yang sudah mempertaruhkan nyawa mereka demi negeri", ujar Panji Watugunung sambil menyembah kepada Prabu Samarawijaya.
Raja Panjalu itu tersenyum mendengar ucapan Panji Watugunung.
"Dhimas Panji Watugunung memang rendah hati,
Seorang prajurit memang berjasa mempertahankan wilayah Panjalu, tapi tanpa seorang panglima perang yang cakap, mereka tidak akan bisa berbuat banyak bukan?
Sekarang beristirahat lah dulu di keputran Dahanapura.Besok aku akan memberikan hadiah yang ku janjikan kepada mu. Putri ku sudah menunggu kedatangan mu disana Dhimas", titah Sang Prabu Samarawijaya segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Panji Watugunung segera menghormat pada Prabu Samarawijaya diikuti oleh para perwira tinggi yang menemaninya. Mereka segera mundur dari bangsal paseban agung.
Prabu Samarawijaya menatap kepergian mereka dengan senyum.
Panji Watugunung bergegas menuju ke Keputran Daha diikuti oleh keempat istrinya. Warigalit menuju ke bangsal tamu sedangkan Narapraja, Maitreya dan Tumenggung Wiguna menuju kediaman mereka di kesatrian Kadri.
Ayu Galuh yang sedang hamil 5 bulan langsung berdiri dan melangkah ke depan Keputran saat Panji Watugunung melangkah masuk ke serambi keputran.
Perempuan cantik itu langsung memeluk tubuh suaminya itu. Air mata nya bercucuran. Dia sangat bahagia.
"Kenapa kau menangis Dinda Galuh?", goda Panji Watugunung segera.
"Aku-aku sangat merindukan mu Kangmas,
__ADS_1
Lihatlah putra mu dia juga senang ayahnya datang", ujar Ayu Galuh sambil menarik tangan Watugunung dan meletakkan nya di perut Ayu Galuh yang buncit. Benar saja, ada tendangan dari dalam perut perempuan itu saat tangan Panji Watugunung menyentuh perutnya.
Panji Watugunung tersenyum bahagia.
"Kangmas Panji,
Siapa dia?", tunjuk Ayu Galuh pada Dewi Naganingrum.
"Dia putri Prabu Darmaraja dari Galuh Pakuan Dinda, dia saudara mu", jawab Watugunung sambil tersenyum.
Dengan pandangan sengit, Ayu Galuh mendekati Dewi Naganingrum.
"Hei kau,
Sudah tau aturan menjadi istri Kangmas Panji?", Ayu Galuh mendelik tajam kearah Naganingrum.
"Abdi atos aturan na Ceu, sudah di beri tahu Ceu Mayang dan Ceu Pitaloka", jawab Naganingrum segera.
"Hemmmm,
Ingat ya kalau sampai kau ribut dengan urusan jatah waktu menemani Kangmas Panji, Kangmbok Anggarawati tidak akan segan-segan mengusir mu. Mengerti kau?", Ayu Galuh mendelik ke arah Naganingrum.
Tiga selir Panji Watugunung hanya tersenyum melihat tingkah Ayu Galuh.
Malam itu mereka beristirahat di keputran Daha, tentu saja dengan Ayu Galuh yang menemani sang suami beristirahat.
Pagi menjelang tiba di Istana Dahanapura. Pagi itu semua pembesar istana Daha hadir di balai paseban agung termasuk Panji Watugunung yang sudah berdandan layaknya seorang bangsawan.
Semua orang berjongkok dan menyembah, saat Prabu Samarawijaya memasuki balai paseban agung. Dengan gagah, pria yang mulai terlihat sepuh itu segera duduk di singgasana Panjalu.
"Sembah bakti hamba untuk Gusti Prabu Samarawijaya, Maharaja Panjalu", ujar semua orang yang hadir di balai paseban agung.
"Semoga Hyang Agung selalu bersama kita. Sekarang duduklah dengan tenang", ujar Prabu Samarawijaya yang kemudian segera dilakukan oleh semua pembesar istana Daha.
"Hari ini, aku punya pengumuman penting bagi kalian semua.
Panji Watugunung, duduklah di depan", mendapat perintah dari Prabu Samarawijaya, Panji Watugunung segera duduk dan bersila di hadapan Prabu Samarawijaya.
"Ini adalah putra mantu ku, anak dari paman ku Panji Gunungsari. Dia sudah berulang kali menyelamatkan Daha baik dari serangan Jenggala maupun dari rongrongan pemberontak Paguhan.
Hari ini, dia aku angkat sebagai Pangeran Daha secara resmi dengan gelar Pangeran Jayengrana. Kenapa dia ku beri gelar Jayengrana? Karena dia selalu menang (jaya) dalam setiap peperangan (rana).
Selanjutnya, sebagai Pangeran Daha, dia akan memerintah daerah Kadri, Kunjang dan Watugaluh sebagai kediaman keluarganya", titah Sang Prabu Samarawijaya.
Semua orang di istana Dahanapura tersenyum tipis mendengar ucapan Prabu Samarawijaya, kecuali satu orang.
Ranggawangsa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Selamat membaca kak 😁😁😁
__ADS_1