Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Ulah Anggarawati


__ADS_3

**


Mpu Barada duduk bersila di depan sanggar pamujan Keraton Dahanapura.


Sebuah kendi air minum dari tanah liat yang di bakar tampak di depan nya, diatas tampah besar berisi sesajen lengkap.


Aroma wangi setanggi dan kemenyan memenuhi seluruh ruangan.


Bunga bunga berteberan di beberapa sudut ruangan sanggar pamujan semakin menambah suasana sakral.


Setelah beberapa lama, Mpu Barada membuka matanya. Wajahnya tersenyum lega.


Hari ini adalah pelaksanaan janji untuk membagi kerajaan Kahuripan.


Di luar sanggar pamujan, kedatangan Mpu Barada disambut Prabu Airlangga yang sudah menunggu dari tadi.


"Sudah siap Guru Resi??", tanya Sang Prabu Airlangga


"Sudah Nakmas Prabu, mari kita berangkat", sahut Mpu Barada


Kedua orang itu mengheningkan cipta, lantas dalam sekejap hilang dari pandangan mata manusia.


Memang Maharesi Mpu Barada sangat sakti mandraguna, begitu pula sang Prabu Airlangga.


Pria yang dipercaya sebagai titisan Batara Wisnu itu memiliki kesaktian tiada duanya.


Mereka berdua muncul di puncak gunung Kelud.


"Nakmas Prabu Airlangga, hari ini penetapan batas wilayah pembagian. Semoga dengan ini kedamaian selalu tercipta di bumi Jawa"


Mpu Barada lalu terbang melintasi lereng gunung Kelud menuju ke selatan sambil menuangkan air dari kendi tanah. Itu adalah daerah perbatasan timur Kadipaten Seloageng.


Terjadi keajaiban. Air yang jatuh ke tanah seketika menjadi sumber mata air yang mengalir menuju selatan ke arah Sungai Brantas. Sedangkan Prabu Airlangga melakukan semedi di puncak gunung Kelud.


Tiba tiba mendung gelap bergulung-gulung datang dan menjadi hujan lebat masuk dalam sungai kecil itu menjadi sungai lebar, menjadi batas alam Panjalu dan Jenggala di selatan Gunung Kelud. Kali itu dinamai Kali Aksa.


Mpu Barada sudah di samping Sang Prabu Airlangga. Lalu terbang menuju ke Utara. Mengucurkan air kendi yang menciptakan sungai kecil. Di ikuti hujan lebat , membentuk sungai Kanta, batas alam Panjalu dan Jenggala di utara Gunung Kelud.


Lalu Mpu Barada kembali terbang ke puncak gunung Kelud.


Sesampainya di sana, Maharesi Mpu Barada duduk bersila melakukan puja semedi bersama Sang Prabu Airlangga.


Menjelang tengah hari, tiba tiba Mpu Barada dan Prabu Airlangga sudah ada di dalam sanggar pamujan Keraton Dahanapura.


"Terimakasih atas bantuannya Guru Resi, semoga Jagat Dewa Batara selalu menyayangi kita semua", ujar sang Prabu Airlangga.


"Sama sama Nakmas Prabu,


karna tugas lelaki tua ini sudah purna, mohon ijin besok pagi kembali ke Penanggungan Nakmas Prabu", kata Mpu Barada sambil memberi hormat.


Dan begitulah, akhirnya batas Panjalu dan Jenggala di tetapkan.


**


Sementara itu,


di perbatasan Kabupaten Gelang-gelang.


Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati memacu kudanya. Cuaca tiba tiba mendung disertai hujan membuat mereka segera mencari tempat berteduh.


Mereka melihat sebuah pondok kayu di tepi hutan kecil. Buru buru mereka menuju kesana.


Begitu sampai, mereka segera melompat turun dari kudanya, dan berlari kecil menuju pondok untuk berteduh.


Ternyata mereka tidak sendiri.


Di sudut lain, ada sepasang laki laki dan perempuan yang ikut berteduh di sana.


"Kenapa hujan tiba tiba turun deras ya Kakang?, kata Anggarawati sambil mengibaskan rambutnya yang basah terkena air hujan tanpa menyadari dua pasang mata yang melihat.


"Ini kan memang sudah mulai penghujan Dinda, ya wajar lah kalau hujan turun", jawab Watugunung sambil melirik pasangan itu.


Seorang pria paruh baya berambut panjang dengan baju hitam dengan pedang besar di punggung, dan seorang wanita yang masih cantik meski sudah berumur.


"Maaf mengganggu kisanak berdua, kami mohon ijin ikut berteduh di sini", ujar Panji Watugunung kepada dua orang yang ada di situ


"Tidak apa-apa anak muda, lagi pula aku juga bukan pemilik tempat ini", jawab pria paruh baya dengan tenang.


"Oiya kalian mau kemana?"


"Kami mau ke kabupaten Gelang-gelang kisanak, mencari saudara jauh yang sudah lama tidak bertemu", jawab Watugunung.

__ADS_1


"Berarti kita searah anak muda, kami juga mau ke kota Gelang-gelang"


Sambil menunggu hujan reda, Panji Watugunung bercakap cakap lelaki paruh baya yang bernama Mahesa Rangkah dan istri nya Parwati. Ternyata tujuan Mahesa Rangkah adalah mencari keberadaan saudara jauh nya, Randupati yang mengabdi kepada Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari.


"Kalau begitu, sebaiknya kita berangkat sama sama paman, nanti sesampainya di Kabupaten Gelang-gelang kita berpisah untuk mencari tujuan masing-masing. Bagaimana?", tanya Panji Watugunung.


Mahesa Rangkah menoleh kearah Parwati, dan perempuan itu mengangguk.


"Baiklah anak muda, setelah hujan reda kita berangkat. Kalau tidak salah di depan adalah Pakuwon Ganter. kita bisa membeli makanan disana"


Setelah hujan reda, mereka berempat bersama melanjutkan perjalanan


Dewi Anggarawati sudah bisa akrab dengan Parwati. Beberapa kali mereka berdua terlihat tertawa bersama entah apa yang di bicarakan.


Menjelang tengah hari,


Rombongan kecil itu memasuki sebuah rumah makan. Suasana sedang ramai, mereka memilih duduk di kursi pojok menunggu pesanan.


Suasana tiba tiba gaduh saat seorang gadis di seret masuk. Seorang pria tidak terlalu tinggi dengan perut buncit, menjambak rambut seorang gadis bermuka lebam bekas pukulan.


Gadis itu meronta namun si pria tampak tak peduli. Pria berperut buncit lalu melemparkannya ke hadapan seorang lelaki tua dengan pakaian bagus.


"Ini juragan orang yang kau cari", teriak si pria berperut buncit


Lelaki tua memandang tajam kearah gadis itu.


Plakk


Satu tamparan keras mendarat di pipi si gadis.


"Berani beraninya kau coba kabur dari ku ha!


Ku jual tubuh mu ke rumah hiburan juga belum cukup melunasi hutang bapakmu".


Si gadis menangis tersedu-sedu.


Tiba tiba Anggarawati berdiri.


Dia dari tadi menahan diri melihat pemandangan memilukan yang di alami si gadis. Naluri bangsawan nya meronta.


"Woy kakek tua!


Lelaki tua itu mendelik, mencari sumber suara.


Setelah menemukan sumber suara, lelaki tua itu tersenyum.


"Lantas kau mau apa?


Disini tidak ada yang berani padaku.


Aku Juragan Gandra, orang paling kaya di Pakuwon Ganter hahahaha"


Phuihhh


"Sombong sekali kau kakek busuk,


Lepaskan wanita itu kalau tidak aku jamin kau pasti menyesalinya", teriak Anggarawati geram


Muka juragan Gandra menjadi bengis


Lalu menoleh ke sebelah kiri meja nya.


Empat orang pria berwajah seram, termasuk si perut buncit merangsek ke meja rombongan Watugunung.


Belum sempat mendekat, Panji Watugunung melempar secuil gelas tanah liat melayang menghantam si perut buncit tepat di pelipis nya. Si perut buncit langsung roboh, tubuh nya menimpa meja dan meja hancur berantakan.


Melihat perut buncit roboh, sisa anak buah juragan Gandra mencabut pedang. Lagi lagi 2 cuil tanah liat menghantam, dan 2 orang itu terkapar dengan benjol sebesar telur ayam pada pelipis dan kening.


Si gadis yang dianiaya terpana melihat dia di bela seseorang.


Juragan Gandra pucat.


Sisa 1 anak buah nya tidak berani maju, melihat temannya roboh.


Dewi Anggarawati tersenyum sinis, mendekati Juragan Gandra yang ketakutan. Di belakang nya Panji Watugunung dan Mahesa Rangkah mengikuti. Sedangkan Parwati tetap duduk di meja sambil tersenyum.


"Bagaimana juragan tengik?


Masih berani kau sombong di depan ku?".


"Ampuni aku pendekar, aku salah. Aku salah menyinggung perasaan pendekar", Juragan Gandra sampai ngompol di celana.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya, berapa hutang bapak gadis itu ha?", teriak Anggarawati


Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum simpul memandang kelakuan wanita cantik itu.


"Jawab !....", Anggarawati menggebrak meja.


"40 kepeng perak pendekar", jawab Juragan Gandra sambil bersimpuh.


Phuihhh


"Baru 40 kepeng perak sudah berani menindas orang"


Anggarawati melangkah ke meja, mengambil sekantong sedang kepeng perak dan melemparkannya ke wajah juragan Gandra.


"Itu 50 kepeng perak, ambil!


Sekali lagi aku melihat kau bikin ulah, tanggung sendiri akibatnya.


Pergi dari sini, sekarang!!"


Juragan Gandra meraih kantong kepeng perak dan segera berlari keluar rumah makan di ikuti centeng centengnya.


Semua orang di rumah makan bertepuk tangan melihat ulah Anggarawati.


Mereka kembali duduk di meja sambil menunggu pesanan. Beberapa pelayan segera membersihkan meja yang hancur, dan seorang lagi mengantarkan makanan ke meja.


Si gadis yang di tolong segera bergegas menuju meja Anggarawati dan rombongan.


Gadis itu berlutut, sambil menangis terharu.


"Terimakasih nisanak, kalau nisanak tak membantu saya, tak tahu lagi nasib ku seperti apa"


"Berdirilah, kita semua sama disini. Jangan berlutut pada ku", ujar Anggarawati lembut.


"Tapi nisanak sudah mengeluarkan banyak uang untuk menolong ku, aku akan menjadi pelayan nisanak seumur hidupku", kata si gadis.


"Ehhh, aku hanya bermaksud membantu. Tidak ada niat lain", sergah Anggarawati bingung sendiri.


"Aku sudah berjanji pada diriku, saat ada yang menolong ku, aku akan mengabdi seumur hidupku padanya"


Anggarawati menoleh kearah Panji Watugunung, seolah meminta pendapat.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis.


Anggarawati lalu memandang kearah si gadis.


"Ya baiklah, terserah apa mau mu"


"Terimakasih Ndoro Putri"


"Siapa namamu?"


"Tantri Ndoro Putri", jawab gadis itu


"Baiklah Tantri, ambil kursi lagi sana.


Pelayan, tambah lagi makanan nya", teriak Anggarawati memanggil pelayan.


Lalu mereka makan dengan lahap.


Setelah membayar makan dan biaya pengganti meja yang hancur, mereka melanjutkan perjalanan menuju ibukota Gelang-gelang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2