Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kadipaten Matahun Jatuh


__ADS_3

Dewi Naganingrum yang baru saja sadar dari pingsannya mengangguk lemah. Di punggung perempuan cantik itu sebuah bekas cambukan tampak menghitam.


Mata Panji Watugunung berkilat penuh amarah. Segera dia berdiri tegak sambil menatap ke arah istana Kadipaten Matahun yang porak poranda akibat amukan Butha Agni yang merupakan penjelmaan Ajian Triwikrama nya.


"Hancurkan mereka semua!


Jangan beri ampun!", teriak Panji Watugunung dengan lantang.


Mendengar perintah sang Yuwaraja Panjalu, semangat pasukan Panjalu semakin membara. Mereka menjadi beringas memburu para prajurit Jenggala yang sudah hancur nyali bertempur nya karena kematian Adipati Danaraja yang merupakan ksatria terkuat di pasukan Jenggala.


Warigalit terus mengayunkan Tombak Angin nya. Tubuh gempal Senopati Kadiri itu sudah memerah oleh darah para perwira Jenggala yang tewas di tangan nya.


Tumenggung Ludaka pun tidak tinggal diam. Pemimpin pasukan Lowo Bengi itu benar benar mengamuk bagai banteng ketaton.


Sudah puluhan prajurit Jenggala tewas di pedang pendek nya, pun ada yang gugur dengan senjata rahasia nya.


Sementara para prajurit Panjalu mengamuk, Dewi Srimpi terus berupaya untuk melanjutkan pengobatan terhadap Dewi Naganingrum.


Dengan Ilmu Tujuh Obat Mujarab nya, dia terus berupaya untuk mengobati permaisuri ketiga Panji Watugunung itu di bantu Ratna Pitaloka. Sekar Mayang terus berjaga di sekitar tempat mereka mengobati luka sang putri bungsu Prabu Darmaraja.


Panji Watugunung terus memimpin pasukan Panjalu dari dekat keberadaan keempat istri nya.


Dewi Sekardadu yang melihat kematian sang suami, segera melesat ke arah Panji Watugunung untuk bela pati kematian suaminya.


Sesungguhnya, dia adalah seorang pendekar wanita yang punya nama di dunia persilatan sebelum akhirnya menjadi permaisuri Adipati Matahun. Dengan julukan Pendekar Pedang Jingga, dia dikenal sebagai pendekar golongan putih terkemuka pada masanya..


Dengan cepat perempuan paruh baya itu segera mengayunkan pedangnya yang berwarna jingga kearah Panji Watugunung.


Whuuussshh..


Panji Watugunung segera berkelit ke samping kemudian melompat mundur beberapa langkah.


"Pemimpin pasukan Daha,


Akan ku balas kematian Kangmas Adipati Danaraja. Bersiaplah!", teriak Dewi Sekardadu yang baru saja memutar tubuhnya.


Dengan cepat, perempuan cantik itu melesat ke arah Panji Watugunung sambil membabatkan pedang nya.


Sreeeetttt!


Sebuah bayangan berkelebat cepat menangkis sabetan pedang Dewi Sekardadu.


Thrrriiinnnggggg!!


Benturan keras dua senjata mereka menciptakan bunyi nyaring di sertai bunga api kecil dan gelombang kejut yang membuat Dewi Sekardadu dan si penangkis terdorong mundur beberapa langkah kebelakang.


"Aku tidak ada urusan dengan mu,


Menjauhlah dari sini,


Kalau tidak...."


Belum sempat Dewi Sekardadu menyelesaikan omongannya, si bayangan yang tidak lain adalah Ratna Pitaloka segera memotong ucapan nya.


"Kalau tidak apa??


Kau mengancam nyawa suami ku, apa kau pikir aku akan diam saja ha?", hardik Ratna Pitaloka segera.


"Aku sudah memperingatkan mu, jangan sesali apa yang sudah kau putuskan", ujar Dewi Anggarawati yang dengan cepat melesat ke arah Ratna Pitaloka.


Pedang Jingga di tangan kanannya membabat ke arah Ratna Pitaloka yang segera memutar Pedang Bulan Kembar di tangan kanannya.


Whuuuggghhh


Dengan menepak tanah memakai pedang di tangan kiri, Ratna Pitaloka melenting tinggi ke udara dan melesat turun dengan memutar tubuhnya bagai gasing kearah Dewi Sekardadu.


Permaisuri Matahun itu berusaha untuk menghadapi serangan Ratna Pitaloka dengan Ilmu Putaran Pedang Jingga andalannya.


Tringgggg tringgggg!!


Benturan pedang berulang kali terdengar saat dua senjata mereka beradu dengan cepat.


Puluhan jurus telah berlalu.


Terlihat Ratna Pitaloka mampu mengimbangi permainan pedang istri Adipati Danaraja itu.


Dewi Sekardadu menebaskan pedangnya kearah leher Ratna Pitaloka yang baru menyabetkan pedang nya namun berhasil di hindari oleh perempuan cantik paruh baya itu.


Dengan cepat Ratna Pitaloka menekuk lutut nya menghindari sabetan pedang Jingga Dewi Sekardadu. Tangan kiri Ratna Pitaloka segera menusukkan Pedang Bulan Kembar di tangan kiri nya ke arah perut Dewi Sekardadu.


Chrreeeppphh...


Aaarrghhh!!!


Dewi Sekardadu menjerit keras saat Pedang Bulan Kembar menembus kulit perut nya. Perempuan itu terhuyung huyung ke belakang sambil membekap perutnya yang berdarah.


Tak ingin menyiksa lawan lebih lama, Ratna Pitaloka melenting tinggi ke udara usai memutar tubuhnya. Dan...


Chrraaasssshhh!


Sabetan Pedang Bulan Kembar di tangan kanannya mengakhiri hidup Dewi Sekardadu dengan menebas leher sang istri Adipati Danaraja. Dewi Sekardadu roboh dengan leher nyaris putus.


Usai menghabisi nyawa istri Adipati Danaraja itu, Ratna Pitaloka segera menghampiri Panji Watugunung yang sedang menyalurkan tenaga dalam nya ke Dewi Naganingrum yang mulai membaik keadaan nya.


Melihat raut muka Dewi Naganingrum yang mulai memerah, Ratna Pitaloka menarik nafas lega.


Peperangan di dalam istana Matahun dimenangkan oleh para prajurit Panjalu.


Sisa prajurit Jenggala di istana Matahun yang terdesak segera bergabung dengan pasukan Jenggala pimpinan Senopati Jambuwana.


Patih Matahun, Rakryan Saka yang memimpin sisa prajurit Jenggala mendekati Senopati Jambuwana yang baru saja menghabisi nyawa seorang prajurit Panjalu.


"Istana Kadipaten Matahun sudah jatuh, Gusti Senopati.

__ADS_1


Adipati Danaraja dan Dewi Sekardadu sudah tewas di tangan musuh", lapor Patih Rakryan Saka dengan raut muka penuh kesedihan.


"APAAAAAA??!!!


Bagaimana itu bisa? Mereka adalah orang sakti mandraguna. Bagaimana bisa mereka dikalahkan?", ujar Senopati Jambuwana yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.


"Pemimpin pasukan Daha itu memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, Gusti Senopati..


Kita harus mundur jika tidak ingin mati konyol", saran Patih Matahun yang sudah berambut putih itu segera.


"Posisi kita terjepit, Patih Saka..


Tidak mungkin mereka membiarkan kita lolos dengan mudah", ujar Senopati Jambuwana sambil menatap ribuan prajurit Panjalu yang ada dihadapannya.


Patih Rakryan Saka menatap ke sekeliling nya. Raut wajah sepuh nya tampak berkerut seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di kepala nya.


"Kita gempur pasukan Panjalu yang ada di sisi selatan itu, Gusti Senopati.


Pusatkan para prajurit Jenggala yang tersisa untuk membuka jalan bagi kita untuk mundur dari kota Kadipaten Matahun. Jika berhasil lolos maka kita akan kembali ke Matahun lagi dengan bantuan Gusti Maharaja Garasakan", ucap Patih Rakryan Saka dengan menunjuk pada sisi lemah prajurit Panjalu.


Senopati Jambuwana mengangguk mengerti.


Segera dia memerintahkan para prajurit Jenggala bergerak menuju ke sisi selatan pasukan Panjalu yang nampak menipis.


Panji Watugunung yang melihat keadaan Dewi Naganingrum membaik, segera memimpin pasukan pengepung dari dalam istana. Bersama Senopati Warigalit, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan sejumlah perwira prajurit Panjalu, Panji Watugunung terus mendesak maju.


Melihat pergerakan prajurit Jenggala ke sisi selatan, Yuwaraja Panjalu itu nampak mengernyitkan dahinya.


Hemmmm..


'Mereka berniat kabur rupanya', batin Panji Watugunung.


"Kakang Warigalit, kau ikut aku..


Ludaka, Gumbreg.


Pimpin para prajurit Panjalu untuk terus menekan para prajurit Jenggala", perintah Panji Watugunung segera. Ludaka dan Demung Gumbreg mengangguk mengerti.


Panji Watugunung segera menjejak tanah dengan keras, tubuh Yuwaraja Panjalu itu melenting tinggi ke udara bagai terbang diatas udara. Warigalit pun segera mengikuti langkah sang adik seperguruan nya.


Taphh taphhh!!


Dua jagoan Kayuwarajan Panjalu itu segera mendarat tepat di depan Senopati Jambuwana dan Senopati Pungging yang bergerak menuju kearah selatan.


Jlegg jlegg...!!


"Mau kemana kalian?", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Senopati Jambuwana.


Senopati Jambuwana terkejut bukan main melihat kedatangan Panji Watugunung dan Warigalit. Begitu pula dengan Senopati Pungging ada disampingnya.


Setelah berhasil menguasai perasaannya, Senopati Jambuwana segera menyeringai lebar.


"Ah pucuk dicinta ulam pun tiba.


Adhi Pungging,


Ayo kita habisi mereka!", ujar Senopati Jambuwana sambil melesat cepat kearah Panji Watugunung. Tangan kekar nya terkepal erat seolah menyatakan bahwa dia akan menghabisi nyawa Panji Watugunung.


Senopati Pungging mengikuti langkah sang kakak, maju ke arah Warigalit. Senopati Kadipaten Pasuruhan itu mencabut pedangnya dan mengayunkan nya pada kakak seperguruan Panji Watugunung yang segera memutar tombak pendek nya.


Thriiiinnngggggg!!


Terdengar suara nyaring saat dua senjata Senopati Pungging dan Senopati Warigalit beradu.


Warigalit segera memutar tubuhnya setelah beradu senjata dengan Senopati Pungging. Tangan kanannya yang memegang gagang Tombak Angin dengan cepat menyabet ke arah leher Senopati Pungging.


Shreeeeeeeetttthhh..


Senopati Pungging dengan cepat menunduk menghindari sabetan bilah tajam mata Tombak Angin sambil menghantamkan tangan kiri nya ke arah Warigalit.


Senopati Kadiri itu dengan cepat berkelit ke samping dan segera mengarahkan siku tangan kanannya ke arah pinggang Senopati Pungging.


Duuukkkkkhhh!!


Ougghhh!


Senopati Pungging melengguh saat sikut tangan kanan Warigalit menghantam pinggang nya. Rasanya seperti di timpa batu besar. Senopati Pungging terhuyung mundur.


Warigalit yang melihat celah, langsung melayangkan tendangan keras kearah perut si perwira tinggi prajurit Jenggala itu.


Dhieeesssshhhhh..


Aaarrghhh!!


Senopati Pungging terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Lambung nya sakit sekali, perlahan dari sudut bibirnya ada darah yang menetes.


Dengan gusar, Senopati Pungging mengusap darah di sudut bibirnya dengan kasar. Mata Senopati Pungging membelalak marah pada Warigalit.


"Keparat!


Akan ku bunuh kau!", teriak Senopati Pungging yang segera melempar pedangnya ke tanah.


Kedua tangan perwira tinggi prajurit Jenggala itu segera merentang ke samping. Tiba-tiba saja muncul seberkas sinar biru terang di kedua tangan sang Senopati Pasuruhan. Dia menggunakan Ajian Kendali Langit.


Segera Senopati Pungging menghantamkan tangan kanannya ke arah Warigalit. Sinar biru terang dengan cepat menerabas ke arah Warigalit.


Shhhhiiiiuuuuuttt...


Warigalit segera melenting tinggi ke udara menghindari sinar biru terang yang mengarah kepadanya.


Blaaammmmmmmm!!


Seorang prajurit Jenggala yang sedang sial terhantam Ajian Kendali Langit dari Senopati Pungging langsung tewas setelah tubuhnya meledak dan terbakar.

__ADS_1


Warigalit yang melihat lawannya menggunakan ilmu andalannya, segera merapal Ajian Sepi Angin yang dipadu dengan Ajian Tapak Dewa Api tingkat akhir di tangan kiri nya.


Senopati Pungging kembali menghantamkan Ajian Kendali Langit andalannya ke arah Warigalit, namun Senopati Kadiri itu dengan cepat bergerak menuju ke arah Senopati Pungging dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata biasa.


Dengan cepat Warigalit menghantam dada Senopati Pungging dengan Ajian Tapak Dewa Api nya.


Dhuuuaaaaarrrrrr!!


Senopati Pungging terpental jauh ke belakang dan kembali menghantam tanah dengan keras. Namun kali ini dia tidak bangun lagi. Di dada kanan Senopati Pungging tercipta bundaran yang menghitam seperti baru terbakar api.


Sementara itu, Senopati Jambuwana terus memburu Panji Watugunung yang terlihat begitu tenang menghadapi Senopati Jambuwana.


Whuuuuttt..


Serangan cepat dari tangan kanan Senopati Jambuwana mengincar kepala Panji Watugunung.


Yuwaraja Panjalu itu hanya menggeser sedikit posisi tubuhnya dan dengan cepat menghantam dada Senopati Jambuwana.


Bukkkkk..


Ougghhh..


Senopati Jambuwana terhuyung-huyung ke belakang. Dadanya sakit seperti baru ditimpa kayu besar.


Senopati Jambuwana segera mencabut sepasang kapak dari pinggang nya kemudian berlari cepat kearah Panji Watugunung dan mengayunkan kapak di tangan kanannya.


Whhhuuuggghhhh...!!!


Panji Watugunung segera melompat ke samping kanan, namun kapak di tangan kiri Senopati Jambuwana segera mengarah ke leher nya.


Shrraaakkkkk..


Dengan cepat, Panji Watugunung segera merendahkan tubuhnya dan menghantam perut pria berbadan kekar yang menjadi lawannya itu.


Dessshhhhh!!!


Ougghhh!


Kembali terdengar jeritan kesakitan dari mulut Senopati Jambuwana. Panji Watugunung yang melihat lawannya sedikit terpojok, segera merapal Ajian Guntur Saketi. Tangan kanannya berubah warna menjadi putih kebiruan seperti petir.


Dengan menjejak tanah keras, Panji Watugunung segera melompat tinggi ke udara dan melesat turun sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah dada Senopati Jambuwana.


Perwira tinggi prajurit Jenggala yang sempat melihat pergerakan Panji Watugunung segera menyilangkan kedua kapaknya di depan dada.


Cliinnngggg..


Blammmmm!!


Senopati Jambuwana terpental jauh ke belakang dan sebuah kapaknya hancur berkeping keping.


Melihat senjata kesayangannya hancur, Senopati Jambuwana marah besar. Dia segera merapal Ajian Kendali Langit. Tangan kanannya menjadi berwarna biru terang akibat sinar yang melingkupi nya.


Dengan melesat cepat, Senopati Jambuwana langsung menghantamkan tangan kanannya ke dada Panji Watugunung yang tubuhnya telah bercahaya kuning keemasan.


"Mampus kau!", teriak Senopati Jambuwana saat Ajian Kendali Langit andalannya menghajar telak Panji Watugunung.


Thriiiinnngggggg..


Dhuuuaaaaarrrrrr!!!


Asap mengepul dari tubuh Panji Watugunung. Senopati Jambuwana tersenyum penuh kemenangan karena mengira Panji Watugunung telah tewas.


Saat asap mulai menghilang, mata Senopati Jenggala itu melotot lebar. Tubuh Panji Watugunung masih utuh dan segar bugar. Dari wajahnya terlihat senyum yang manis.


"Giliran ku sekarang", ujar Panji Watugunung yang segera melesat cepat kearah Senopati Jambuwana sambil menghantamkan tangan kanannya yang sudah berwarna putih kebiruan seperti petir menyambar.


Whuuussshh..


Blaaammmmmmmm!!


Senopati Jambuwana yang tak sempat menghindar, hanya bisa pasrah saat Ajian Guntur Saketi telak menghantam dada nya yang langsung bolong tembus punggung. Dia tewas seketika dengan luka menganga di dadanya.


Melihat kedua pemimpin tertinggi pasukan Jenggala tewas, Patih Rakryan Saka segera melemparkan senjata nya ke tanah sebagai tanda menyerah diikuti oleh seluruh prajurit Jenggala yang tersisa.


Hari itu, Kadipaten Matahun jatuh ke dalam kekuasaan Panji Watugunung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf jika up nya lambat 🙏🙏

__ADS_1


Author sedang sibuk bekerja 😁😁🙏🙏


__ADS_2