Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Siluman Buaya Gadungan


__ADS_3

Malam menjelang tiba di Pakuwon Tawing. Suasana semakin mencekam. Kabut turun pertanda akhir musim penghujan semakin membuat suasana begitu sunyi.


Beberapa pekan ini warga wanua Gondang di teror oleh desas-desus munculnya siluman buaya yang berkeliaran mencari mangsa. Banyak wanita dan gadis gadis menghilang.


Tiba-tiba lolongan serigala bersahutan.


Ratna Pitaloka yang menemani tidur Panji Watugunung, terbangun dari tidurnya. Ternyata Panji Watugunung sudah terjaga lebih dulu.


Tok tok tok


Ketukan pintu kamar Panji Watugunung mengagetkan mereka berdua.


"Siapa diluar?", Ratna Pitaloka yang ketakutan segera bangun dari tempat tidur nya.


"Aku Kangmbok, Mayang dan Srimpi", ucap lirih Sekar Mayang dari luar pintu.


Ratna Pitaloka segera membungkus tubuh nya dengan selimut dan bergegas menuju ke pintu kamar.


Begitu pintu kamar terbuka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi segera menghambur masuk.


"Kenapa kalian kesini?", Ratna Pitaloka setengah berbisik pada kedua madunya.


Terlihat raut muka Sekar Mayang yang ketakutan.


"Kami takut Kangmbok Pitaloka".


Dewi Srimpi segera menutup pintu kamar.


Huhhhhhh


'Dasar pengacau. Padahal baru mau babak kedua', gerutu Ratna Pitaloka dalam hati.


Tiga selir Panji Watugunung segera mendekati Panji Watugunung. Pria tampan itu hanya senyum senyum saja.


'Kalau begini baru bisa rukun tidak ribut melulu'


Kembali lolongan panjang serigala bersahutan. Ketiga selir itu kaget dan langsung memeluk tubuh Panji Watugunung.


Suara aneh tiba tiba muncul dari arah rawa di timur wanua Gondang. Kemudian di tengah kabut tebal, muncul 4 bayangan hitam bergerak menuju ke arah wanua.


"Dinda sekalian,


Akan ku periksa keadaan sekitar. Tolong jaga raga ku".


Panji Watugunung segera merapal Ajian Ngrogoh Sukmo nya. Sekejap kemudian, Sukma Panji Watugunung segera melesat cepat menuju ke arah rawa.


4 bayangan hitam itu terus bergerak saat Panji Watugunung tiba disana.


"Dasar penipu.


Beraninya menakuti orang dengan kulit buaya mati", ujar sukma Panji Watugunung.


4 bayangan hitam itu segera menghentikan langkahnya. Sekilas tampilan mereka mirip dengan buaya dengan kulit buaya yang menutupi punggung mereka. Juga topeng kepala buaya yang menutupi wajah.


Mendengar ada suara tanpa wujud, 4 bayangan hitam itu segera celingukan mencari sumber suara.


Sukma Panji Watugunung segera kembali ke raganya. Tubuh yang semula kaku kembali pulih seperti sedia kala.


"Bagaimana Kakang? Apa yang kakang Watugunung lihat di luar sana?", tanya Ratna Pitaloka yang penasaran. Perempuan cantik itu sudah memakai pakaian nya.


"Hanya beberapa penjahat yang memakai kulit buaya untuk menakuti orang. Akan ku beri mereka pelajaran", jawab Watugunung yang segera turun dari ranjang nya dan melesat cepat menuju rawa di timur wanua.


"Kakang Watugunung, tunggu aku ikut", teriak Ratna Pitaloka yang segera menyusul Panji Watugunung. Sekar Mayang dan Dewi Srimpi pun segera melesat cepat mengikuti langkah Ratna Pitaloka.


4 bayangan hitam itu segera berhenti saat Panji Watugunung melayang turun ke hadapan mereka. Disusul Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi.


Melihat 3 gadis cantik itu, 4 bayangan hitam itu saling mengangguk.


"Rupanya kita tidak perlu repot-repot masuk ke wanua ini kakang, sudah ada yang bersedia untuk ikut serta dengan sukarela", ujar si bayangan hitam bertopeng buaya yang paling ujung. Dari suaranya kelihatan kalau dia lelaki.


"Benar adik. Malam ini kita bisa pulang lebih cepat hahahaha", tawa bayangan hitam yang ada di tengah.


Rembulan malam yang tinggal separuh, membuat pandangan mata yang terbatas. Namun bisa dipastikan mereka bukan siluman buaya tapi manusia biasa yang memakai topeng.


"Bedebah!

__ADS_1


Ternyata kalian hanya siluman buaya gadungan yang suka menculik gadis gadis di wanua ini.


Akan ku buat kalian menyesal telah datang ke tempat ini", teriak Ratna Pitaloka yang geram dengan gangguan dari mereka.


Perempuan cantik itu segera melesat cepat menuju salah satu bayangan hitam. Si bayangan hitam itu yang melihat serangan segera memutar tubuhnya dan pukulan tangan kanan Ratna Pitaloka menghantam punggungnya.


Deshhhhh


Pukulan Ratna Pitaloka seolah menghantam batang kayu. Kulit buaya itu rupanya tameng untuk mereka.


Melihat serangan nya mental, Ratna Pitaloka segera memutar tubuhnya dan dengan cepat melayangkan tendangan keras ke arah perut bayangan hitam itu.


Bukkkkk


Si bayangan hitam itu terhuyung huyung ke belakang. Sedangkan Ratna Pitaloka melompat mundur ke samping Panji Watugunung.


"Srimpi, Mayang..


Jangan serang mereka pada kulit buaya yang menutupi punggung mereka. Cari celah yang tidak ada kulit buaya nya", ujar Ratna Pitaloka yang kemudian segera melompat maju menerjang kearah bayangan hitam yang baru bertarung dengan nya.


Sekar Mayang segera melompat maju di ikuti oleh Dewi Srimpi. Mereka berdua segera menyusul Ratna Pitaloka yang sudah lebih dulu menerjang kearah bayangan hitam bertopeng buaya itu.


Panji Watugunung pun tidak tinggal diam. Segera dia menghambur ke arah pertarungan. Satu lawan satu.


Tak sampai 10 jurus, Panji Watugunung dan ketiga selir nya sudah di atas angin. Beberapa pukulan dan tendangan sudah mendarat di tubuh lawan mereka.


Melihat situasi tidak menguntungkan bagi pihak nya, si bayangan hitam bertopeng buaya yang merupakan pemimpin kelompok itu, segera mengisyaratkan kepada rekannya untuk mundur.


Panji Watugunung yang melihat gelagat itu, segera merapal Tapak Dewa Api. Tangan kanan nya berubah warna menjadi merah menyala.


Dengan gerakan secepat kilat, dia menghantam dada si pemimpin kelompok yang sedang lengah.


Dhuarrrr!!


Bayangan hitam yang lain, melihat pemimpin kelompok nya tewas, segera berupaya kabur. Dewi Srimpi segera melempar 3 jarum beracun nya ke arah mereka.


Sring sringggg sringgg..


2 orang tertancap jarum Kelabang Neraka. Langsung terjungkal dan tewas dengan mulut berbusa, sedangkan seorang berhasil lolos karena jarum menancap di kulit buaya yang menutupi punggung nya.


dan menghilang.


Ledakan keras akibat pukulan Tapak Dewa Api mengundang perhatian dari warga wanua Gondang. Puluhan orang dengan membawa senjata tajam dan obor bergerak mendekati Panji Watugunung dan ketiga selir nya.


Melihat 3 orang berpakaian hitam dengan kulit dan topeng buaya, mereka terkejut.


Seorang lelaki tua yang merupakan sesepuh kampung itu, mendekati Panji Watugunung.


"Maaf Kisanak, bukankah mereka ini siluman buaya yang sering menculik gadis gadis di wanua kami?".


"Benar kakek tua. Tapi mereka bukan siluman buaya, mereka hanya gerombolan penculik yang memakai kulit buaya untuk menakuti kalian semua", ujar Panji Watugunung sambil membuka topeng buaya yang menutupi wajah lelaki yang dia pukul dengan Tapak Dewa Api nya.


"Bangsat, rupanya kita di tipu. Untung saja mereka sudah tewas", sesepuh kampung itu geram.


"Masih ada seseorang yang lolos, dia melompat ke rawa itu. Sebaiknya kalian berhati-hati", Panji Watugunung menunjuk bekas tempat lolosnya si bayangan hitam.


"Terimakasih atas bantuannya pendekar. Mari kita kembali ke wanua", ajak sesepuh kampung itu yang segera bergegas menuju wanua di ikuti oleh Panji Watugunung dan ketiga selir nya. Seluruh warga mengikuti langkah mereka.


Dari kejauhan, si bayangan hitam yang berhasil lolos menatap mereka dengan geram.


"Akan ku laporkan ini pada Nyi Lampet".


Bayangan hitam itu segera berjalan membelah rawa yang mulai dangkal. Begitu sampai ke tepi, bayangan hitam itu segera melompat ke atas kuda nya dan menggebrak kuda lalu menghilang di balik gelapnya malam.


Sementara itu, Panji Watugunung dan ketiga selir nya kembali ke tempat menginap mereka.


Pagi menjelang tiba.


Akibat kejadian semalam, di pagi buta lurah wanua Gondang di iringi sesepuh kampung dan beberapa warga mendatangi tempat menginap Panji Watugunung.


"Maaf mengganggu pagi mu pendekar muda.


Mewakili warga Gondang, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan yang kalian berikan", ujar Lurah Gondang sambil menghormat.


"Tidak perlu sungkan Ki Lurah. Kami hanya membela diri dari gangguan mereka", Panji Watugunung merendah.

__ADS_1


"Sebagai wujud terima kasih kami, ijinkan kami menjamu kalian pendekar muda. Hanya itu yang bisa kami berikan. Kami mohon kalian tidak menolaknya", Lurah Gondang tersenyum sambil menghormat.


Akhirnya Panji Watugunung dan rombongannya menerima jamuan makan dari lurah Gondang.


Usai makan, Panji Watugunung dan rombongannya segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke kota Kadipaten Karang Anom.


Lurah Wanua Gondang dan beberapa warga mengantar mereka sampai di perbatasan desa.


Rombongan Panji Watugunung terus memacu kudanya menuju ke arah timur. Setelah melewati Pakuwon Tawing, mereka berbelok ke utara menuju ke istana Kadipaten Karanganom.


Sesampainya di gerbang istana Kadipaten, Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya. Begitu Panji Watugunung memperlihatkan lencana Chandrakapala dari emas, penjaga gapura istana segera mengantar mereka menemui Adipati Karang Anom, Windupati.


Adipati yang masih berusia muda itu segera menyambut kedatangan rombongan Panji Watugunung.


"Ampun Gusti Adipati, mohon maaf jika saya mengganggu pisowanan ini. Saya utusan Gusti Prabu Samarawijaya. Tujuan kami kemari untuk mengantarkan surat dari beliau. Mohon diterima", ujar Panji Watugunung yang segera mengulurkan surat yang dibungkus kain merah dengan kedua tangannya.


Seorang emban segera bergegas mengambil surat dari tangan Panji Watugunung dan menyerahkan pada Adipati Windupati.


Usai membaca surat itu, Windupati tampak berpikir keras.


"Aku akan merundingkan masalah ini dengan punggawa Kadipaten Karang Anom lebih dulu.


Patih Sengguruh, untuk malam ini, jamu mereka di bangsal Kepatihan. Kau tahu bukan bangsal tamu sedang di perbaiki".


"Hamba mengerti Gusti Adipati", jawab Patih Sengguruh.


"Antar mereka ke Kepatihan. Lepas itu, kembali ke sini segera", titah sang Adipati.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati".


Usai berkata demikian, Patih Sengguruh segera menyembah kepada Adipati Windupati dan segera bergegas keluar dari bangsal paseban di ikuti oleh Panji Watugunung dan rombongannya.


Mereka berjalan kaki menuju ke arah Kepatihan yang ada di sisi barat istana pribadi Adipati.


Begitu masuk ke serambi Kepatihan, Patih Sengguruh yang berusia sepuh itu berteriak memanggil istrinya.


"Nyi... Nyi Lampet..


Ada tamu Nyi"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lahhh kog bisa ketemu sama ketua gerombolan penculik nya??


Hehehehe...


Ikuti terus kisah selanjutnya guys


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2