
Gumbreg meringis menahan sakit pada dengkul kanan nya yang terantuk kayu dipan. Juminten pun sesak nafas ketiban tubuh Gumbreg yang tambun. Rambut panjang yang basah kotor lagi terkena debu lantai.
Mereka berdua segera bergegas berpakaian. Juminten lari ke belik, untuk mencuci tubuh nya yang kotor sedangkan Gumbreg mengobati dengkul kanan nya dengan obat yang ada di ruang depan rumah nya.
Tok tok tok
"Siapa? Masuk saja tidak di kunci", teriak Gumbreg dari dalam rumah nya.
Wajah Ludaka menyembul saat daun pintu rumah terbuka. Bekel prajurit pengintai itu menatap Gumbreg yang sedang asyik mengobati dengkul kanan nya yang berdarah.
"Kaki mu kenapa Mbreg?", tanya Ludaka yang terus mengamati gerak-gerik teman nya itu.
"Biasa Lu, kesandung tadi", Gumbreg berbohong. Dia lupa kalau Ludaka itu ahli membaca gerak gerik lawan bicaranya.
"Bohong..
Kalau kesandung, pasti jempol kaki mu yang terluka. Ini dengkul kanan, berarti kau jatuh dengan menyangga tubuh mu.
Apa jangan jangan dipan mu patah lagi?", Ludaka tersenyum geli.
Gumbreg langsung merah wajah nya. Ucapan Ludaka memang benar, ini sudah ketiga kali nya dipan nya patah.
"Gak jawab, berarti benar. Besok kau gak usah pakai dipan Mbreg, tata saja kayu gelondongan untuk alas tidur mu hahahaha", Ludaka tertawa terbahak-bahak.
"Kampret kau Lu!
Tukang perabot nya yang goblok. Sudah di bilang pesan yang kuat, masih juga patah", gerutu Gumbreg sambil mengikat dengkul kanan nya dengan sobekan kain.
"Malah menyalahkan orang lain. Kau itu yang kegendutan bego. Ukuran tubuh mu itu sudah mirip kerbau pembajak sawah.
Mulai besok kurangi makan mu, biar tubuh mu sehat", nasehat bijak Ludaka pada kawan seperjuangannya itu.
"Lha sudah tak kurangi Lu,
Begini ya Lu, mulanya satu piring penuh. Lalu tak ambil sedikit demi sedikit. Kan akhirnya tinggal sedikit Lu. Tapi tetap aja gak susut tubuh ku ini", ujar Gumbreg dengan ngotot.
Ludaka hampir mengumpat keras mendengar jawaban Gumbreg. Dengan kesal dia melengos pergi keluar rumah Gumbreg dan berkata,
"Terserah kamu Mbreg, suka suka kamu lah".
"Yeh malah marah, dasar Ludaka geblek", Gumbreg bersungut-sungut.
Pagi itu Panji Watugunung dan keempat istrinya berniat menuju ke Kabupaten Gelang-gelang.
"Paman Saketi,
Aku titip markas pasukan Garuda Panjalu kepada mu. Selama aku tidak ada, tolong kau kelola semua hadiah dari Daha", perintah Panji Watugunung pada Ki Saketi.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Ki Saketi segera menghormat pada Panji Watugunung.
"Kau tidak mengajak ku ke Gelang-gelang Dhimas?", tanya Warigalit kemudian.
"Kenapa Kakang niat sekali ke Gelang-gelang?
Apa ada perlu Kang?", Panji Watugunung balik bertanya sambil tersenyum penuh arti. Dia tau apa maksud ucapan Warigalit.
"Ah itu hanya urusan kecil Dhimas, nanti kau juga tau", Warigalit malu-malu.
"Baiklah Kakang,
Kau boleh ikut", ujar Panji Watugunung segera.
Panji Watugunung yang berkuda bersama Ayu Galuh, diapit oleh ketiga selir nya, Warigalit, Ratri dan Tumenggung Sancaka memacu kudanya menuju ke arah kota Gelang-gelang. Cuaca terik matahari di musim kemarau membuat udara terasa kering. Angin dingin dari puncak gunung Kelud terasa sejuk mengiringi langkah kaki kuda mereka menuju ibukota Gelang-gelang.
Dewi Anggarawati sedang mengelus perutnya yang buncit seraya tersenyum tipis di kursi depan ruang peristirahatan nya. Dua pelayan nya, Tantri dan Wandansari setia menemani sang permaisuri Panji Watugunung. Usia kandungan Dewi Anggarawati sudah 8 bulan lebih. Perempuan itu begitu bahagia menunggu masa persalinan nya.
Wandansari memang akhirnya bekerja di istana Gelang-gelang sebagai pelayan untuk Dewi Anggarawati. Resi Widagdo diangkat menjadi anggota Dharmadyaksa ring Kasaiwan yang mengurus upacara keagamaan di istana Gelang-gelang.
Selama berada di istana Gelang-gelang, Dewi Pancawati dan Dewi Anggraeni begitu menjaga Dewi Anggarawati. Mertua dan adik iparnya itu sangat menyayangi dirinya.
Hari itu burung cemblek berkicau riang di depan pintu tempat peristirahatan nya di keputren Gelang-gelang, seolah memberikan tanda akan datangnya seorang yang penting.
"Yunda Anggarawati,
Ada berita penting Yunda", teriak Dewi Anggraeni sambil berlari kecil ke ruang peristirahatan Dewi Anggarawati.
"Ada apa Dinda Anggraeni?
Kenapa kau sampai berlari seperti itu?", tanya Dewi Anggarawati yang berusaha bangun dari kursi nya. Wandansari buru buru membantu Dewi Anggarawati.
"Itu huh huh huh...
Kangmas Panji Watugunung datang Yunda", ujar Dewi Anggraeni sambil menata napas nya.
Senyum lebar segera menghiasi wajah Dewi Anggarawati. Dengan perlahan, Dewi Anggarawati berjalan menuju ke arah depan keputren dengan di bantu oleh Tantri dan Wandansari. Dia menyambut kedatangan Panji Watugunung.
Panji Watugunung datang dengan memapah tubuh Ayu Galuh yang terlihat pucat. Perempuan itu semenjak hamil setiap makan selalu muntah muntah.
"Ini Dinda Galuh kenapa Kangmas?
Kenapa pucat begitu?", tanya Dewi Anggarawati yang heran melihat keadaan sang putri Daha.
"Dia hamil Putri Manja,
__ADS_1
Huhhh benar benar menyusahkan. Makan sedikit pasti muntah", sahut Sekar Mayang. Ratna Pitaloka segera menginjak kaki Sekar Mayang saat Panji Watugunung melotot ke arah Sekar Mayang. Sambil menahan sakit, Sekar Mayang langsung menunduk.
Dewi Anggarawati tersenyum tipis mendengar Ayu Galuh hamil. Dengan perlahan dia mendekat ke arah Ayu Galuh.
"Ayo Dinda kita masuk. Jangan dengarkan omongan Kangmbok Mayang. Dia memang seperti burung gagak..", ujar Dewi Anggarawati sambil membantu Ayu Galuh yang pucat berjalan menuju ke tempat peristirahatan di keputren Gelang-gelang.
Ayu Galuh sangat terharu dengan perilaku Dewi Anggarawati yang memperlakukan nya dengan baik.
"Hai apa kau mengataiku Putri Manja?
Jangan kira karena kau hamil aku tidak tega menghajar mu ya.
Apa kau.."
Sekar Mayang yang sedang mengomel panjang lebar langsung terdiam seketika setelah Panji Watugunung menatap tajam kearah nya.
"Mulut mu kenapa lancar sekali marah marah?
Apa kau sama sekali tidak bisa menjaganya, Dinda Mayang?", Panji Watugunung terlihat gusar.
"Ma-maaf Kakang Watugunung,
Lha tadi Putri Manja itu mengataiku, aku terpancing emosi", Sekar Mayang tertunduk ketakutan.
"Kau ini lebih dewasa dari Dinda Anggarawati, kenapa tidak bisa bersikap bijak seperti dia?
Kalau hanya membuat onar, sebaiknya Dinda Mayang diam saja di keputran", Panji Watugunung berlalu menuju ke dalam keputren Gelang-gelang menyusul dua istri nya.
"Tadi sudah ku peringatkan kau Mayang, ini istana bukan medan tempur.
Tata krama bangsawan berlaku disini.
Jaga baik-baik mulut mu, agar tidak jadi masalah", nasehat Ratna Pitaloka.
"Terus sekarang bagaimana Kangmbok?
Kakang Watugunung sudah terlanjur marah padaku", Sekar Mayang terlihat ketakutan akhirnya.
"Sebaiknya Kangmbok Mayang minta maaf pada Den Ayu Anggarawati dan Den Ayu Galuh di hadapan Denmas Panji,
Srimpi yakin, mereka berdua mau memaafkan Kangmbok Mayang", sahut Dewi Srimpi yang biasanya tenang saja.
Ratna Pitaloka segera mengangguk tanda setuju dengan pendapat Dewi Srimpi. Mereka bertiga segera menyusul Panji Watugunung yang sedang duduk bersama dua istri nya yang sedang hamil itu.
"Anggarawati, Galuh...
Maafkan kekasaran ku tadi ya. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan mulutku.
Panji Watugunung terkejut bukan main melihat itu, begitu pula Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh.
"Apa yang kau lakukan Kangmbok Mayang?", teriak Dewi Anggarawati panik melihat darah dari bibir Sekar Mayang. Buru buru istri pertama Panji Watugunung segera menghampiri Sekar Mayang.
"Aku menyesal karena tidak bisa mengendalikan mulutku, Anggarawati.
Kakang Watugunung memarahi ku, aku takut Kakang Watugunung meninggalkan ku Anggarawati", tangis Sekar Mayang pecah dalam pelukan Dewi Anggarawati.
"Kangmas,
Kenapa Kangmas seperti ini? Bukankah Kangmas sudah lama mengenal Kangmbok Mayang? Kenapa Kangmas tega memarahi nya?", Dewi Anggarawati menatap tajam ke arah Panji Watugunung.
"Bukan maksudku untuk menyakiti Dinda Mayang, aku tadi hanya memperingatkan nya agar tidak marah marah Dinda Anggarawati.
Aku hanya..".
Belum selesai Panji Watugunung bicara, Dewi Anggarawati sudah memotong ucapan nya.
"Cukup Kangmas..
Sekarang Kangmas kembali saja ke Keputran. Aku tidak mau melihat Kangmas disini".
Panji Watugunung dengan raut wajah sedih berdiri dan meninggalkan keputren Gelang-gelang.
"Tenang Kangmbok Mayang,
Sudah jangan menangis. Kalau Kangmas Panji sampai meninggalkan Kangmbok Mayang, aku juga akan meninggalkan nya.
Sudah jangan menangis lagi", hibur Dewi Anggarawati sambil memeluk Sekar Mayang yang sesenggukan di dalam pelukan nya.
"Tantri,
Ambilkan obat untuk mengobati bibir Kangmbok Mayang", perintah Dewi Anggarawati pada Tantri, pelayan nya.
"Baik Gusti Putri", Tantri segera bergegas menuju tempat penyimpanan obat. Tak berapa lama kemudian, dia kembali dengan secangkir obat yang sudah di seduh air dan kain bersih.
Dengan penuh perhatian, Dewi Anggarawati menyelupkan kain bersih ke ramuan obat dan perlahan mengoleskan pada bibir Sekar Mayang yang bengkak.
Sekar Mayang meringis menahan perih.
"Kangmbok Pitaloka, Dinda Srimpi..
Sebaiknya kalian menyusul Kangmas ke Keputran", pinta Dewi Anggarawati sambil tersenyum tipis.
Dua selir Panji Watugunung itu segera mengangguk tanda mengerti dan bergegas keluar dari keputren Gelang-gelang.
__ADS_1
Panji Watugunung duduk di serambi keputran Gelang-gelang. Tatapan matanya kosong menatap langit. Tak pernah dia duga, bahwa Dewi Anggarawati bisa marah seperti itu.
Menakutkan.
"Wedang jahe nya Denmas".
Ucapan Dewi Srimpi membuyarkan lamunan nya.
Dewi Srimpi meletakkan nampan berisi wedang jahe kesukaan Panji Watugunung di meja. Segera dia dan Ratna Pitaloka duduk di sebelah Panji Watugunung.
"Aku tidak menduga bahwa kemarahan ku pada Dinda Mayang akan membuat Dinda Anggarawati marah besar kepada ku", ujar Panji Watugunung sambil menghela nafas panjang.
"Kakang Watugunung tidak salah, sudah sewajarnya bersikap seperti itu.
Tapi yang di katakan Anggarawati ada benarnya juga. Sebagai suami dari kami berlima, seharusnya kakang memahami sifat dan perasaan kami. Mayang memang seperti itu, dia arogan, keras kepala dan seenaknya sendiri. Tapi di balik itu semua, dia pribadi yang baik dan ringan tangan.
Dan yang paling penting dia sangat mencintai Kakang Watugunung seperti kami. Tentu dia takut Kakang tinggalkan. Itu sebabnya ia berbuat nekat seperti itu", Ratna Pitaloka tersenyum tipis.
"Lantas apa yang sebaiknya aku lakukan Dinda Pitaloka", tanya Panji Watugunung sambil memandang kearah selir tertua nya itu.
"Kakang Watugunung sebaiknya ke keputren, maafkan Mayang. Anggarawati itu wanita pintar. Dia seperti itu pasti ingin Kakang Watugunung memaafkan Mayang. Sebagai pemimpin para istri, dia akan melakukan upaya agar semuanya tetap rukun Kakang", jawab Ratna Pitaloka seraya tersenyum penuh arti.
Panji Watugunung mengangguk tanda setuju.
Menjelang sore, Panji Watugunung dan dua selir nya datang ke keputren Gelang-gelang.
"Dinda Mayang,
Maafkan aku ya. Kakang tidak seharusnya memarahi mu seperti tadi. Maafkan Kakang Watugunung", Panji Watugunung tersenyum melihat Sekar Mayang yang menatapnya dengan tatapan takut. Sekar Mayang segera menoleh ke arah Dewi Anggarawati. Melihat perempuan itu tersenyum manis dan mengangguk, Sekar Mayang segera berdiri dan memeluk tubuh Panji Watugunung.
"Maafkan Mayang, Kakang, maafkan Mayang.
Mayang janji Mayang tidak akan sembarangan lagi. Mayang akan patuh pada Kakang Watugunung asal Kakang tidak meninggalkan Mayang hu hu huu...", Sekar Mayang terisak lirih sambil membenamkan wajahnya ke dada Watugunung.
"Iya Dinda, Kakang sudah memaafkan Dinda. Sudah jangan menangis. Malu di lihat saudara saudara mu yang lain", ujar Panji Watugunung sambil membelai rambut hitam Sekar Mayang.
Perlahan perempatan itu menghentikan tangisannya. Panji Watugunung menghapus air mata Sekar Mayang dan mencium kening sang selir kedua.
"Dinda Anggarawati,
Masih marah dengan Kakang?", Panji Watugunung mengalihkan pandangannya pada Dewi Anggarawati. Perempuan cantik yang sedang hamil tua itu tersenyum manis dan mendekati suaminya.
"Siapa bilang aku marah Kangmas?
Kalau aku tidak bersikap seperti itu, pasti Kangmas akan lama memaafkan Kangmbok Mayang".
Panji Watugunung tersenyum lega. Ayu Galuh yang sedang berbaring juga lega. Tiga selir Panji Watugunung tersenyum manis. Kesalahpahaman antara mereka berakhir dengan bertambahnya pengertian dari masing-masing istri dan Panji Watugunung.
"Ada apa ini? Kenapa semua berkumpul disini?", tanya Panji Gunungsari, sang mertua.
"Kami sedang bercanda Kanjeng Romo", ujar Dewi Anggarawati disambut tawa para istri Panji Watugunung.
"Ada apa Kanjeng Romo? Kog tumben kesini?", tanya Dewi Anggarawati kemudian.
"Ada yang mencari Watugunung. Seorang gadis bernama Rara Sunti dari Wengker. Dia sudah 3 hari disini", jawab Panji Gunungsari.
Tiga selir Panji Watugunung segera menekuk wajahnya mendengar ucapan Panji Gunungsari.
Hemmmmm
'Mau apa dia sampai menyusul kesini?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga singa betina mulai pasang tampang seram ini 🦁🦁🦁
Terimakasih author ucapkan kepada kakak reader tersayang semuanya atas dukungannya terhadap cerita ini ❤️❤️❤️
Selamat membaca guys 😁😁😁😁
__ADS_1