
Pasukan Garuda Panjalu bergerak cepat. Menjelang tengah hari mereka sudah sampai di kota Pakuwon Kunjang. Di sana mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan namun segera melanjutkan perjalanan menuju Gelang-gelang.
Menjelang sore mereka memasuki wilayah Pakuwon Sengkapura, salah satu Pakuwon wilayah kekuasaan kabupaten Gelang-gelang yang berbatasan dengan Pakuwon Randu.
Mereka masuk ke Wanua Sanggur.
"Gusti Pangeran, sepertinya kita harus bermalam di Wanua Sanggur. Hari sudah mulai senja", saran Ki Saketi sambil menunjuk gapura wanua.
"Benar Paman, lagi pula kalau kita meneruskan perjalanan kasihan Dinda Anggarawati. Sekarang pasti dia sangat lelah", jawab Watugunung seraya menoleh ke arah kereta kuda di belakang nya.
Para penjaga gapura wanua Sanggur, melihat rombongan Panji Watugunung segera menghadang jalan.
"Berhenti!".
Landung dan Ludaka yang membawa bendera di depan, segera menarik kekang kuda mereka masing-masing. Seluruh rombongan pun melakukan hal yang sama.
Ludaka segera turun dari kudanya di ikuti Landung. Marakeh yang berasal dari Pakuwon Sengkapura juga ikut melompat turun.
"Maaf Kisanak, ada tujuan apa kalian lewat Wanua kami?", ujar sang penjaga gapura.
"Maaf Kisanak, kami rombongan Pangeran Daha hendak ke kota Gelang-gelang. Sekarang ingin bermalam disini. Tolong antar kami ke rumah Lurah Wanua ini", ujar Ludaka sambil menunjukkan lencana perak berlambang burung Garuda.
Mendengar Pangeran Daha, penjaga gapura itu segera berlutut di hadapan Ludaka dan meminta maaf. Setelah itu dengan sigap dia mengantar rombongan Panji Watugunung menuju ke tempat Lurah Wanua Sanggur.
Ki Saketi dan Panji Watugunung mengenali tempat itu. Lurah nya Garbapati pernah menjamu mereka saat mengantar Anggarawati pulang ke Seloageng.
Mereka berhenti di halaman rumah Garbapati saat penjaga wanua itu berlari masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama Lurah Wanua Sanggur itu berlari tergopoh-gopoh menuju ke depan rumah.
"Lurah Sanggur, Garbapati menyambut kedatangan rombongan Gusti Pangeran", laki laki bertubuh gempal itu membungkuk hormat.
"Ki Lurah, lama tidak bertemu".
Ucapan Ki Saketi membuat Garbapati mendongakkan kepalanya.
"Lha ini kan Ki Saketi dari Seloageng? Lha Gusti Pangeran nya mana?", tanya Garbapati kebingungan.
"Aku ada disini", ucap Panji Watugunung yang muncul dari belakang punggung Ki Saketi.
"Lho bukannya ini pendekar muda yang waktu itu?", Garbapati masih tak percaya.
"Benar Ki Lurah, dan dia adalah putra mantu Maharaja Samarawijaya. Putra Bupati Gelang-gelang", sahut Ki Saketi.
Garbapati segera bersujud kepada Panji Watugunung.
"Ampuni hamba Gusti Pangeran, mohon maaf jika pernah salah dengan Gusti Pangeran".
"Kau ini bicara apa Ki lurah, berdirilah.
Aku sangat berterimakasih kepada mu untuk jamuan mu tempo hari. Sekarang kami kemalaman di jalan, ingin bermalam di rumah mu. Apa kau bisa memberikan tempat untuk kami?", tanya Panji Watugunung kemudian.
"Bisa tentu bisa Gusti Pangeran. Mohon maaf jika tempat hamba kurang layak untuk Gusti Pangeran.
Mari kita masuk Gusti", Garbapati dengan sopan mempersilahkan mereka masuk ke serambi kediaman nya.
Usai mereka beristirahat di serambi, Garbapati segera bergegas menuju ke belakang. Seluruh pelayan dan keluarga nya dia minta menyiapkan jamuan makan malam.
Malam itu, mereka bermalam di rumah Garbapati. Karena tidak cukup tempat, Gumbreg dan anggota nya mendirikan tenda perbekalan dan tenda tidur di halaman rumah Lurah Wanua Sanggur.
Para wanita, Panji Watugunung, Ki Saketi dan Warigalit mendapat kamar istirahat sedangkan 20 prajurit pasukan Garuda Panjalu tidur di tenda tenda.
Malam itu, suasana di kediaman Lurah Garbapati benar benar ramai.
Tiga anak gadis Wanua Sanggur sangat menarik perhatian para anggota pasukan Garuda Panjalu terutama Gumbreg, Ludaka, Landung dan Marakeh.
Gerak gerik mereka seperti memancing perhatian. Namun sebenarnya mereka bermaksud menarik perhatian Panji Watugunung.
"Lu, itu perempuan cantik sebenarnya tertarik dengan siapa ya? Dari tadi mondar mandir tidak jelas begitu", ujar Landung penasaran.
"Iya Ndung, dari tadi sepertinya memberikan isyarat aneh. Tampak nya dia tertarik dengan salah satu anggota kita", sahut Marakeh.
"Aku juga heran Keh, aku perhatikan dari tadi loh mereka bertingkah seperti itu", jawab Ludaka sambil mengunyah pisang rebus nya.
Gumbreg melirik kearah mereka bertiga.
__ADS_1
"Sudah pasti mereka melirik aku lah, wong aku yang paling ganteng di sini", ujar Gumbreg penuh percaya diri.
Huahahaha
Tawa keras mereka pecah mendengar ucapan sombong dari Gumbreg.
"Kenapa kalian tertawa? Benar kan omongan ku?", Gumbreg masih tetap ngeyel.
"Eh Mbreg, dengar ya. Kalau kamu orang paling tampan di pasukan kita, terus Gusti Panji Watugunung itu apa? Arca? Percaya diri boleh Mbreg, tapi juga harus bisa berkaca", sahut Ludaka yang mulai kesal dengan kekonyolan Gumbreg.
"Lha bukti nya jelas. Dhek Jum saja terpikat dengan ketampanan ku", Gumbreg sombong.
"Iya karna si Jum itu matanya rabun. Tidak bisa membedakan mana kaca mana berlian", potong Ludaka sambil berlalu pergi.
"Huuuhhhh dasar syirik", gerutu Gumbreg sambil melempar kayu ke arah api unggun.
Malam semakin larut. Desir angin sepoi-sepoi menambah sepi suasana.
Pagi menjelang tiba
Panji Watugunung dan rombongannya melompat ke atas kuda mereka mulai bergerak meninggalkan Wanua Sanggur setelah berterima kasih kepada Garbapati.
Setelah melewati Pakuwon Sengkapura, mereka memasuki wilayah kota Gelang-gelang.
Suasana terasa semakin ramai dikunjungi oleh para pedagang dari luar wilayah Daha. Terlihat beberapa orang asing seperti pedagang dari dinasti Song dari daratan Tiongkok dan pedagang dari kerajaan Chola dari daratan India.
Rombongan Panji Watugunung mulai memasuki wilayah istana Kabupaten Gelang-gelang. Para prajurit penjaga gapura segera membungkuk hormat saat rombongan itu melintas.
Sesampainya di alun alun Kabupaten Gelang-gelang, mereka masing-masing segera melompat turun dari kudanya. Dewi Anggarawati, Ayu Galuh, Ratna Pitaloka, Dewi Srimpi dan Sekar Mayang serta Ratri turun dari kereta kuda.
Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati tersenyum bahagia melihat kedatangan putra dan Menantu mereka.
"Selamat datang di Gelang-gelang putra ku", ujar Panji Gunungsari sambil tersenyum simpul di apit Dewi Pancawati.
"Watugunung menghaturkan sembah sujud kepada Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu", Panji Watugunung bersujud kepada Panji Gunungsari.
Seluruh istri dan selir selir Panji Watugunung juga turut menghormat pada Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati.
"Ada apa kau kemari Ngger Cah Bagus?", tanya Panji Gunungsari sang Bupati Gelang-gelang.
Pria paruh baya itu terlihat gagah di atas singgasana Gelang-gelang.
"Maaf Kanjeng Romo. Kedatangan ku kesini ingin minta bantuan Romo Bupati", jawab Watugunung seraya menghormat.
"Bantuan? Bantuan apa yang kau minta Ngger Cah Bagus?", Panji Gunungsari mengernyitkan keningnya merasa aneh.
"Maaf Kanjeng Romo, saya ingin menitipkan istri ku Dewi Anggarawati disini Kanjeng Romo, dia sedang hamil muda jadi tidak mungkin saya ajak menjalankan tugas penting dari istana Daha", jawab Watugunung sambil menunduk.
Panji Gunungsari saling berpandangan sejenak dengan Dewi Pancawati. Lalu mereka berdua tertawa kecil.
"Ada apa Kanjeng Romo, Kanjeng Ibu? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?", Watugunung kebingungan.
"Oalah Ngger Cah Bagus, kamu itu lucu. Masak istri mau di titipkan di rumah sendiri? Ngger Cah Bagus, Gelang-gelang itu rumah mu. Nanti setelah Romo lengser, kau yang akan menjadi Bupati Gelang-gelang selanjutnya. Lagi pula yang di kandung Anggarawati itu cucu ku, cucu Kakang Adipati Tejo Sumirat. Sudah selayaknya aku dan ibumu merawat Anggarawati dengan baik", Panji Gunungsari tersenyum tipis
"Sekarang kalian semua boleh beristirahat, pasti capek setelah perjalanan jauh.
Penjaga, antar mereka semua ke balai peristirahatan".
Dua orang penjaga segera mendekat dan membungkuk hormat kepada Panji Gunungsari. Lalu berjalan keluar dari paseban kabupaten Gelang-gelang di ikuti oleh Warigalit, Ki Saketi dan seluruh anggota Pasukan Garuda Panjalu.
Sedangkan Dewi Anggarawati digiring Dewi Pancawati menuju keputren di ikuti Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka.
Panji Watugunung di ikuti Dewi Srimpi dan Ayu Galuh melangkah ke arah keputran Gelang-gelang di antar Panji Gunungsari. Ada hal penting yang perlu di bicarakan.
Sesampainya di serambi keputran, Panji Gunungsari segera mendudukkan Panji Watugunung sedangkan Dewi Srimpi dan Ayu Galuh berdiri.
"Aku masih penasaran dengan tugas mu dari istana Daha. Tugas apa itu Ngger?", tanya Panji Gunungsari penasaran.
"Ayu Galuh, jelaskan pada Kanjeng Romo", ujar Panji Watugunung sambil melirik ke arah Ayu Galuh.
"Tunggu dulu, dia ini siapa?", Panji Gunungsari mengernyitkan dahinya.
"Aku Ayu Galuh, Putri ayahanda Samarawijaya dan Larasati. Memberi hormat kepada ayah mertua", Ayu Galuh segera membungkuk hormat kepada Panji Gunungsari.
__ADS_1
Panji Gunungsari terkejut bukan main. Dia menoleh wajah Panji Watugunung seakan meminta jawaban. Panji Watugunung tersenyum dan mengangguk pada Panji Gunungsari.
Setelah berhasil menguasai diri dari keterkejutan nya, Panji Gunungsari segera berkata,
"Berdirilah Gusti Putri, tidak pantas seorang putri Gusti Prabu Samarawijaya membungkuk hormat kepada hamba".
"Aku adalah calon istri Kangmas Panji Watugunung, sudah sepantasnya memberi hormat kepada calon mertua", ujar Ayu Galuh belum juga berdiri.
"Baiklah baiklah Gusti Putri, silahkan berdiri. Saya terima hormat dari calon mantu ku, bukan dari Putri Daha", ujar Panji Gunungsari.
Ayu Galuh segera berdiri dan tersenyum tipis.
"Terimakasih atas restu Kanjeng Romo. Waktu kami masih di Watugaluh, ada utusan dari istana Daha yang mendatangi kami dan menyampaikan pesan kepada Kangmas Panji Watugunung bahwa Ayahanda Prabu Samarawijaya memanggil kami ke istana Daha. Tidak di jelaskan apa tugas nya, namun kami menduga ada kaitannya dengan situasi di Jenggala yang mulai memanas Kanjeng Romo".
Hemmmm
"Sudah ku duga sebelumnya. Terus apa rencana kalian selanjutnya?", Bupati Gelang-gelang itu menatap wajah Panji Watugunung.
"Aku minta bantuan Kanjeng Romo untuk mendirikan markas Pasukan Garuda Panjalu di Sengkapura, tepat nya di wilayah Sanggur. Dari situ pasukan Garuda Panjalu bisa bergerak cepat jika ada serangan di Seloageng, Gelang-gelang, Kunjang maupun Watugaluh karna letaknya di persimpangan jalan", tutur Panji Watugunung yang disambut anggukan kepala dari Panji Gunungsari.
Malam semakin larut. Semua orang sudah ke tempat peristirahatan masing-masing.
Panji Watugunung menatap ke arah langit kamar tidur nya. Dewi Anggarawati mengerti kegelisahan suaminya.
"Kangmas, ada yang menggangu pikiran mu sekarang?", tanya Anggarawati sambil tersenyum.
Panji Watugunung menghela nafas panjang.
"Maafkan aku Dinda Anggarawati, aku terpaksa meninggalkan mu disini. Aku masih belum tau apa tugas dari Maharaja Daha. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan mu dan Panji kecil yang ada di kandungan mu ini Dinda".
Dewi Anggarawati tersenyum bahagia. Walau merasa sedih atas kepergian suaminya, tapi sebagai istri seorang prajurit, dia mengetahui bahwa setiap saat suaminya berangkat bertugas, dia harus merelakan nya.
"Kangmas Panji tidak perlu khawatir padaku, ada Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu bersama ku, aku akan baik-baik saja Kangmas".
Dengan halus, Dewi Anggarawati mengelus wajah lelaki tampan itu.
"Kangmas jangan khawatir,
Aku menunggu kedatangan mu kembali"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍
Selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1