
Panji Watugunung menunduk malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Prabu Samarawijaya tersenyum tipis.
"Sesuai perintah Gusti Prabu Samarawijaya, Panji Watugunung siap melaksanakan", ujar Panji Watugunung segera menghaturkan sembah dan segera mundur dari ruang pribadi raja.
Suka tidak suka, mau tidak mau Panji Watugunung kembali ke keputran Daha. Bersiap untuk kembali ke Pakuwon Kunjang.
Dan gadis itu sudah menunggu nya dengan dua orang emban.
Panji Watugunung mendelik tajam kearah Ayu Galuh.
"Kau pikir ini jalan-jalan ya?", Panji Watugunung ketus.
"Aku harus ada yang melayani, jadi membawa 2 orang emban ku", jawab Ayu Galuh santai.
"Kalau mau ikut, harus ikut aturan ku. Sekarang kau tinggal pilih. Ikut aku tanpa emban, atau tinggal disini dengan emban istana?", sahut Panji Watugunung geram.
Dan akhirnya, Ayu Galuh memilih untuk ikut tanpa emban nya.
Pagi itu juga, Panji Watugunung diikuti oleh Ayu Ratna dan Dewi Srimpi meninggalkan Keraton Dahanapura. Prabu Samarawijaya sebenarnya menawarkan pengawal namun Panji Watugunung dengan halus menolak.
Rombongan Panji Watugunung memacu kuda mereka. Sampai tengah hari, setelah melewati wanua panumbangan, mereka berhenti di pinggir kali kecil. Dewi Srimpi membuka perbekalan, sementara Ayu Galuh memilih berteduh di bawah pohon kosambi.
Usai bersantap, mereka melanjutkan perjalanan ke Pakuwon Kunjang.
Sementara itu di wilayah pakuwon Kunjang, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang sedang berpatroli ke wilayah Wanua kecil Padelegan. Mereka yang melewati jalan diapit bukit batu.
Wilayah itu merupakan wilayah sisi barat Pakuwon Kunjang.
"Antek antek Samarawijaya, berhenti!"
Suara menggelegar itu seketika menghentikan langkah pasukan patroli. Dari tebing bukit batu, orang melayang turun seperti terbang.
Mereka berdua adalah 2 tokoh dunia persilatan aliran hitam yang dikenal sebagai Lowo Abang dan Lowo Ijo. Tokoh sesat yang suka memperkosa para wanita. Kadang mereka merampok pedagang, hanya untuk merampas wanita cantik yang ikut rombongan para pedagang.
"Sepasang penjahat cabul, mau apa kalian?", teriak Ratna Pitaloka.
"Kenapa kau galak sekali gadis cantik? Jangan marah marah, nanti cantik mu berkurang", ujar Lowo Abang sambil mengedipkan matanya.
Phuihhh
"Untuk manusia laknat sepertimu, tidak perlu repot-repot bermuka manis. Minggir kau jangan halangi jalan kami", Ratna Pitaloka memandang jijik kepada Lowo Abang.
"Kalau kami tidak mau, kau bisa apa ha?", sahut Lowo Ijo mulai gusar.
"Lowo Ijo, jangan galak sama perempuan itu, dia itu bisa membuat kita bergairah diatas ranjang loh, hehehehe", tukas Lowo Abang sambil menyapu bibir nya dengan lidah.
Cihhhhh
"Penjahat mesum seperti kalian pantasnya di kirim ke neraka", sahut Sekar Mayang dengan geram.
"Cantik cantik mulutmu pedas juga. Sini kau, biar ku ajari bersikap pada laki-laki", teriak Lowo Ijo mulai geram.
Lowo Ijo lalu mulai tertawa. Suara tawanya membuat telinga yang mendengar terasa sakit.
Para prajurit pakuwon Kunjang meraung keras .
Melihat itu, Sekar Mayang melesat cepat dari atas kudanya sambil mengibaskan Selendang Es nya.
Angin dingin menderu kencang menerabas cepat kearah Lowo Ijo.
Whussss..
Lelaki berpakaian hitam dengan jubah hijau itu segera melompat ke atas menghindari angin dingin. Angin menderu kencang menghajar tebing batu.
Blammm!
Ledakan keras terdengar ke semua arah mata angin. Lowo Ijo terkesiap melihat ledakan keras. Lowo Abang pun tak menduga sebelumnya bahwa gadis itu ternyata memiliki tenaga dalam yang tinggi.
"Lowo Ijo, jangan gegabah. Gadis itu berilmu tinggi", ucap Lowo Abang tanpa melepas kewaspadaan.
"Benar Lowo Abang, kita hanya ingin sedikit bersenang senang. Kalau salah bisa bisa rencana kita gagal total", balas Lowo Ijo.
Para prajurit pakuwon dan Pasukan Garuda Panjalu segera membentuk formasi perang. Meskipun hanya dua orang, 2 tokoh golongan hitam ini tidak bisa di anggap enteng.
Ratna Pitaloka segera melompat turun dari kudanya dan berdiri di samping Sekar Mayang.
"Mayang, hati hati. Ilmu meringankan tubuh dua penjahat cabul itu tinggi. Kita tidak bisa berbuat ceroboh karena emosi", kata Ratna Pitaloka yang di jawab anggukan kepala dari Sekar Mayang.
__ADS_1
Sekar Mayang lalu memutar selendangnya yang berubah menjadi pilinan kain kaku. Segera gadis itu melompat ke arah Lowo Ijo.
Melihat gerakan Sekar Mayang, Lowo Ijo tidak menghindar namun menangkis nya.
Deshhhhh..
Tusukan Selendang Es dari Sekar Mayang beradu dengan pukulan tangan Lowo Ijo, membuat kedua terdorong mundur beberapa langkah. Dari benturan tadi, Lowo Ijo merasakan dingin dan kesemutan pada tangan nya sedang Sekar Mayang hanya terdorong mundur. Tanda tenaga dalam Sekar Mayang berada sedikit di atas Lowo Ijo.
Sekar Mayang lalu menerjang kearah Lowo Ijo dengan cepat. Namun meski tenaga dalam Sekar Mayang lebih tinggi, pengalaman bertarung Lowo Ijo berada diatasnya.
Jurus demi jurus sudah dilewati.
Ratna Pitaloka yang sudah kesal, mencabut satu pedang nya dan melesat cepat menuju Lowo Abang yang mengamati situasi pertarungan Lowo Ijo.
Sabetan pedang Ratna Pitaloka mengincar leher Lowo Abang. Pria paruh baya berjubah merah itu melompat mundur menghindari sabetan pedang Ratna Pitaloka.
Melihat serangan nya lolos, Ratna Pitaloka memutar tubuhnya dan menyerang dad Lowo Abang dengan pukulan tangan kiri nya. Lowo Abang melompat ke udara dan sambil bersalto tangan nya mencakar punggung Ratna Pitaloka
Gadis itu segera menunduk dan menyabetkan pedang kearah pinggang Lowo Abang.
Whutttt..
Lowo Abang menghindar dari sabetan pedang Ratna Pitaloka, melesat cepat mengincar dada Ratna Pitaloka. Sebuah anak panah dari Arimbi menerjang kearah tangan Lowo Abang. Pria itu terkejut dan menarik tangan kanannya, serta menghantam anak panah itu dengan tangan kiri nya.
Brakk..
Anak panah hancur berkeping keping namun karna itu perhatian Lowo Abang jadi kacau. Ratna Pitaloka yang melihat kesempatan, langsung mencabut pedang dengan tangan kiri nya dan menyabet perut Lowo Abang.
Sreeetttttt
Aarrgghhh
Lowo Abang terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang terluka..
Lowo Ijo melihat Lowo Abang terluka segera mundur menjauhi Sekar Mayang dan mendekati Lowo Abang yang sedang berusaha menghentikan pendarahan nya.
"Lowo Abang, kau tidak apa-apa?", teriak Lowo Ijo sambil melihat kondisi perut Lowo Abang.
Lowo Abang tak menjawab, wajahnya meringis menahan sakit akibat sabetan pedang Ratna Pitaloka.
"Kurang ajar. Akan kubunuh kau perempuan laknat", teriak Lowo Ijo geram sambil melesat ke arah Ratna Pitaloka. Namun sebuah bayangan berkelebat cepat layaknya kilat menyongsong serangan Lowo Ijo.
Ledakan keras terjadi dan tubuh Lowo Ijo terlempar ke tanah dengan dada gosong seperti terbakar. Penjahat cabul itu tewas tanpa sempat berteriak.
Seorang pemuda tampan dengan tangan kanan berwarna merah menyala seperti api berdiri di tengah arena pertarungan. Matanya menatap tajam kearah tubuh Lowo Ijo yang sudah tak bernyawa.
"Kakang Watugunung"
Teriak Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang melihat siapa yang datang.
Lowo Abang yang terpana melihat Lowo Ijo tewas, seketika melompat hendak melarikan diri. Namun sebuah jarum kecil berwarna biru melesat cepat menancap di lehernya.
Crepp
Rasa panas menyengat seperti terbakar segera menjalar ke seluruh tubuh Lowo Abang. Pria paruh baya itu melotot sesaat sebelum tewas dengan mulut terbuka dan busa mengalir dari mulut nya.
Dewi Srimpi tersenyum tipis, lalu menarik tangan Ayu Galuh yang hanya melongo melihat kehebatan mereka.
Panji Watugunung dan Dewi Srimpi serta Ayu Galuh yang mendengar ledakan dahsyat tenaga dalam, segera melompat turun dari kudanya. Mereka bertiga bergerak diantara tebing batu dan melihat pertarungan tadi.
Dua gadis cantik selir Watugunung segera memeluk tubuh suaminya bersamaan.
"Kog kakang Watugunung tahu kami bertarung di sini?"
"Tidak sengaja, waktu aku mau melintasi jalan ini, ada ledakan keras. Dan aku serta Srimpi bergegas melihat, ternyata kalian yang bertarung", jawab Watugunung untuk pertanyaan Sekar Mayang tadi.
"Itu siapa kakang?", tanya Ratna Pitaloka melihat ada gadis cantik yang masih muda di samping Dewi Srimpi.
"Nanti di Pakuwon Kunjang aku jelaskan. Sekarang kita ke pakuwon dulu sebelum gelap tiba", sahut Panji Watugunung.
Pasukan Garuda Panjalu dan Pakuwon Kunjang segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing mengikuti langkah kuda sang Panglima Pasukan Garuda Panjalu menuju istana Pakuwon Kunjang.
Langit barat mulai merah saat mereka tiba di istana Pakuwon Kunjang.
Usai membersihkan diri, mereka berkumpul di serambi peristirahatan Pakuwon Kunjang. Akuwu Rakeh Kepung juga hadir disana.
"Semuanya dengarkan aku, ada seseorang yang akan memperkenalkan diri diantara kita, dan itu akan menjawab semua pertanyaan kalian semua", ucap Panji Watugunung sambil melirik ke arah Ayu Galuh.
Gadis itu mengangguk dan segera berdiri dari kursi nya.
__ADS_1
"Namaku Ayu Galuh. Aku putri Sang Prabu Samarawijaya dari Daha".
Semua orang terkejut mendengar kata kata Ayu Galuh dan segera berlutut memberikan hormat kepada Ayu Galuh.
"Hormat kami kepada Gusti Putri Ayu Galuh".
"Berdirilah kalian semua, aku tidak terlalu suka dengan sikap hormat kalian", jawab Ayu Galuh.
"Mohon maaf jika lancang Gusti Putri. Hamba Akuwu Kunjang buta tidak bisa membedakan mana putri raja Daha. Mohon ampuni hamba", Akuwu Rakeh Kepung menghormat.
"Sudah, jangan banyak adat. Untuk kalian tahu, aku disini atas perintah ayahanda Samarawijaya untuk mengikuti calon suami pilihan ayahanda, Panji Watugunung", sambung Ayu Galuh.
Semua orang terkejut bukan main. Dewi Anggarawati melotot tajam kearah Panji Watugunung, dan dua tatapan dari selir juga seperti pedang yang siap menikam.
Dewi Srimpi tersenyum tipis di balik cadar hitam nya.
'Bakal ada perang besar nanti malam', batinnya melihat ekspresi wajah Dewi Anggarawati dan kedua selir Panji Watugunung.
"Dengan demikian, aku minta semua orang di Pakuwon ini, juga semua orang prajurit untuk membantu tugas dari calon suami ku", sambung Ayu Galuh.
"Hamba siap menjalankan tugas Gusti Putri", jawab semua orang sambil menghormat.
Semua orang segera membubarkan diri untuk melanjutkan tugas mereka masing-masing.
Gumbreg, Jarasanda dan Ludaka yang bertugas jaga malam, bercakap cakap di depan tenda perbekalan.
"Kalau Gusti Panji jadi menantu Gusti Prabu Samarawijaya, bukankah dia menjadi pangeran Daha ya Lu?", ujar Gumbreg sambil menyambar singkong rebus di nampan.
"Tentu saja Mbreg, dengan begitu kedudukan Gusti Panji Watugunung semakin kuat di Panjalu", jawab Ludaka.
"Tapi juga tidak akan mudah", sahut Jarasanda yang asyik menenggak arak beras dari kendi nya.
"Maksudnya apa Jar?", tanya Gumbreg yang bingung dengan jawaban Jarasanda.
"Kau pikir Gusti Dewi Anggarawati dan dua selir Gusti Panji Watugunung itu akan diam saja? Tadi aku melihat mata mereka seperti tiga singa betina yang sedang kelaparan saat mendengar ucapan Gusti Putri dari Daha itu", jawab Jarasanda sambil menenggak lagi arak nya.
"Pasti malam ini, Gusti Panji di keroyok mereka bertiga", kata Gumbreg yang langsung bergidik ngeri membayangkan nasib junjungannya.
Sepasang mata menatap ke istana Pakuwon Kunjang, lalu berkelebat cepat dan menghilang di kegelapan malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Kang Panji yang sabar ya?? 😁😁😁
Author ngeri membayangkan nasib kang Panji.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
Jangan lupa dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya
Selamat membaca 😁😁😁😁*
__ADS_1