Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Murka


__ADS_3

Mendengar jawaban Suryanata, Pangeran Banjarsari terkejut bukan main.


"Apa kau sudah gila Kangmas?


Apa kau tidak pernah mendengar berita tentang kehebatan Panji Watugunung di medan perang?


Dia tidak pernah kalah dalam peperangan Kangmas Suryanata, karena itu dia di beri gelar Jayengrana", bantah Pangeran Banjarsari yang tak habis pikir dengan pemikiran Pangeran Suryanata.


"Tapi jika kita tidak menghabisi Panji Watugunung, maka selamanya dia akan menjadi duri dalam daging di pemerintahan Panjalu jika dia tidak menjadi raja.


Kita pun tidak akan enak makan dan tidur jika putra Bupati Gelang-gelang itu tidak mati Dhimas Pangeran Banjarsari.


Aku tidak mau selamanya tertekan oleh keberadaan Panji Watugunung di istana Daha. Dia harus kita singkirkan", ujar Suryanata sembari mengepalkan tangannya. Nampak nya dia berniat untuk membunuh Panji Watugunung sesegera mungkin.


Pangeran Banjarsari mengelus dagunya perlahan. Yang di katakan Suryanata ada benarnya juga, tapi itu semua terlalu berbahaya. Dia tidak mau menanggung beban seberat itu, karena jika sampai gagal bukan hanya Suryanata yang menerima hukuman tapi dia juga akan ikut terseret ke dalam permasalahan ini. Seluruh keluarga dan punggawa Istana Daha sudah mengetahui jika dia berpihak pada Suryanata.


Selintas pemikiran licik tiba tiba terbersit di benak Pangeran Banjarsari. Sekejap kemudian sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Semua terserah padamu Kangmas Suryanata. Aku akan terus mendukung mu apapun keputusan yang kau buat.


Kita berbagi tugas saja kalau begitu", ujar Pangeran Banjarsari dengan nada suara penuh keyakinan.


"Bagi tugas?


Jelaskan pada ku apa maksud ucapan mu Dhimas Banjarsari", tanya Suryanata dengan raut muka penuh pertanyaan.


"Begini Kangmas,


Urusan Panji Watugunung aku serahkan pada Kangmas Suryanata. Sedangkan untuk Mapatih Jayakerti biar aku yang mengurus orang tua itu.


Sebelum upacara 40 hari meninggalnya Kanjeng Romo Prabu Samarawijaya, kita harus bertindak. Agar setelah upacara peringatan kematian Kanjeng Romo, sudah tidak ada lagi yang menjadi penghalang bagi mu untuk duduk di singgasana Panjalu.


Bagaimana Kangmas Suryanata?", Pangeran Banjarsari menatap ke arah Suryanata yang langsung mengangguk setuju.


"Aku setuju Dhimas,


Memang seharusnya seperti itu. Malam ini pengalasan ku akan bergerak ke keputran Daha. Kau juga harus menggerakkan orang untuk menghabisi Mapatih Jayakerti.


Besok pagi dua duri dalam daging di istana Daha ini sudah harus musnah Dhimas Pangeran Banjarsari", ucap Pangeran Suryanata dengan tangan mengepal dan nada yang berapi-api.


Pangeran Banjarsari segera mengangguk. Begitu pula Tumenggung Gilingwesi yang duduk di sampingnya. Malam itu akan terjadi peristiwa besar yang menggemparkan Panjalu.


Siang hari segera berganti sore. Perlahan matahari mulai terbenam di ufuk barat. Rona merah senja begitu menyala seperti sebuah pertanda bahwa akan terjadinya sesuatu peristiwa. Para kelelawar mulai berterbangan di langit gelap mencari makan, burung malam mulai keluar dari sarangnya. Suara riang jangkrik dan belalang semakin membuat suasana malam semakin dingin apalagi gerimis mulai turun di wilayah Kotaraja Daha.


Di keputran Daha, Panji Watugunung yang baru berganti pakaian usai membersihkan diri nampak gagah dengan pakaian yang disiapkan oleh Sekar Mayang dan Dewi Srimpi.


Dewi Anggarawati yang menyiapkan makanan untuk mereka berkumpul, nampak mengusap peluh yang membasahi keningnya. Di bantu Dewi Naganingrum dan Cempluk Rara Sunti, Dewi Anggarawati menyiapkan makanan kesukaan Panji Watugunung dengan penuh cinta.


Panji Tejo Laksono nampak duduk tenang di lantai di temani Wandansari. Pengasuhan Panji Tejo Laksono sebagian besar di lakukan oleh Wandansari, sang abdi setia nya. Putra sulung Panji Watugunung itu sudah terlihat tampan mirip sang ayah.


Aneka masakan seperti panggang ayam dan ikan bakar mulai ditata rapi diatas nampan. Cempluk Rara Sunti mengangkat periuk tanah liat yang di gunakan untuk memasak sayur lodeh. Sedangkan Dewi Naganingrum mulai menata nasi diatas bakul yang baru diangkat dari dandang.


Aroma sedap tercium dari tempat itu.


"Teh Anggarawati,


Sangu ieu atos cekap atawa tacan?", tanya Dewi Naganingrum sambil menunjukkan nasi di bakul nya.


"Maksud nya apa itu Kangmbok Anggarawati?


Cempluk tidak mengerti sama omongan nya Permaisuri Ketiga", Cempluk yang tidak paham bahasa Galuh menatap ke arah Dewi Anggarawati dengan penuh tanya.


Mendengar pertanyaan itu, Dewi Anggarawati tersenyum simpul.


"Itu Dinda Naganingrum bertanya, Pluk..


Nasi ini sudah cukup atau belum. Begitu maksudnya.


Dinda Naganingrum,


Tambah sedikit lagi nasinya. Aku khawatir jika kita semua butuh makan banyak apalagi Kangmas Watugunung sudah lama tidak makan masakan ku", ucap Dewi Anggarawati yang membuat dua orang itu mengangguk mengerti.


Usai membereskan semuanya, ketiga istri Panji Watugunung itu bergegas membawa makanan yang sudah di siapkan menuju ke sasana boga Keputran Daha.


Di bantu para pelayan keputran, mereka mempersiapkan makan malam untuk keluarga Panji Watugunung. Saat semua sudah siap, Cempluk Rara Sunti segera bergegas menuju ke kamar tidur Panji Watugunung yang baru selesai berdandan.


"Kakang Watugunung,


Makan malam sudah siap. Kakang di tunggu Kangmbok Anggarawati dan Permaisuri Ketiga di sasana boga.


Mari Kakang", ucap Cempluk Rara Sunti sambil tersenyum manis.


"Ayo Dinda sekalian,


Kita ke sasana boga", ajak Panji Watugunung yang segera berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke sasana boga Keputran Daha diikuti oleh Cempluk Rara Sunti, Dewi Srimpi dan Sekar Mayang. Ayu Galuh dan Ratna Pitaloka yang baru dari istana pribadi Raja langsung bergabung bersama mereka.


**


Di salah satu sudut Kotaraja Daha, empat orang berpakaian serba hitam nampak bersiap. Mereka berempat menyandang pedang di punggung mereka masing masing.


"Dengar kalian semua,

__ADS_1


Tugas ini sangat berbahaya. Kalau gagal nyawa kita pasti melayang. Kalau berhasil, maka kemuliaan seumur hidup akan menjadi milik kita. Aku sudah bosan hidup sebagai abdi rendahan. Maka dari itu, kita tidak boleh gagal.


Kalau tertangkap, lebih baik mati. Apa kalian mengerti?", tanya si lelaki bertubuh gempal dengan tatapan mata tajam ke arah ketiga kawannya. Kain hitam yang menutupi separuh wajah nya tak mampu menutupi kebengisan yang terpancar dari mata Randupati.


"Kami mengerti Kakang Randupati", jawab ketiga orang itu bersamaan. Usai saling berpandangan sejenak, mereka berempat segera melesat cepat kearah atap bangunan di depan mereka. Lalu dengan lincah melompat dari satu atap bangunan ke atap bangunan yang lain dengan gerakan yang ringan.


Ya, mereka adalah kawanan pembunuh yang di kirim oleh Pangeran Suryanata untuk menghabisi nyawa Panji Watugunung. Dipimpin oleh Randupati, seorang bekas pendekar ternama dari Kembang Kuning yang kemudian mengabdi pada Adipati Kembang Kuning. Dia ditugaskan untuk mengawal kemanapun Pangeran Suryanata berada. Tujuan mereka kini hanya satu, nyawa Panji Watugunung.


Di sisi lain, di barat Kepatihan Daha, nampak 3 orang berpakaian hitam-hitam dengan memakai topeng kayu berbentuk raksasa tengah berlari cepat diantara bayangan bangunan para warga kota Daha. Gerimis yang tengah melanda Kotaraja Daha tidak menyurutkan langkah kaki mereka.


Tepat di dekat tembok istana Kepatihan Daha, mereka berhenti untuk melihat keadaan. Suasana di sekitar tempat itu begitu sepi karena gerimis yang turun membuat para penduduk Kotaraja Daha malas untuk keluar rumah. Hanya terlihat 4 orang prajurit penjaga gerbang yang tengah asyik berbincang di pos penjagaan.


Si lelaki bertopeng kayu yang di warnai merah memberi isyarat kepada kedua orang temannya untuk mengikuti nya. Mereka segera berkelebat cepat kearah tembok istana yang luput dari perhatian para prajurit penjaga gerbang istana Kepatihan Daha.


Dengan bahu membahu, mereka bertiga berhasil melompati tembok istana Kepatihan Daha dengan mudah tanpa terdengar oleh telinga para penjaga gerbang.


Mapatih Jayakerti baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur saat telinga nya mendengar suara kaki menjejak tanah di barat kamar tidur nya.


'Ada orang yang bermaksud jahat memasuki tempat ini', batin Mapatih Jayakerti sembari bangun dari tempat tidur nya.


Lelaki sepuh bertubuh kekar itu perlahan meraih keris pusaka nya yang baru dia letakkan di samping pembaringan. Usai keris pusaka tergenggam, Mapatih Jayakerti segera membangunkan sang istri.


"Nyi... Nyi..


Bangun Nyi, cepat bangun", ujar Mapatih Jayakerti perlahan seraya menggoyangkan badan istri nya, Nyi Sukesi.


"Uhhh ada apa Kangmas?


Kenapa kau bangunkan aku di malam buta begini?", tanya Nyi Sukesi yang perlahan bangun dari pembaringan mereka.


"Sssssttttttttt...


Jangan keras-keras suara mu. Ada orang berniat jahat yang baru masuk ke dalam Kepatihan. Jangan panik, cepat kau keluar dari kamar ini dan panggil para prajurit", jawab Mapatih Jayakerti yang membuat Nyi Sukesi terkejut bukan main melihat nya. Perempuan itu segera mengangguk mengerti dan berjalan keluar dari kamar tidur dengan tenang. Dia menuju ke arah gerbang istana Kepatihan Daha.


Di luar kamar, tiga orang berpakaian hitam-hitam itu mengendap-endap menuju ke arah kamar Mapatih Jayakerti. Satu persatu mulai menghunus senjata mereka masing-masing.


Gerakan mereka begitu halus, nyaris tak terdengar oleh telinga manusia.


Saat mendekati pintu kamar tidur Mapatih Jayakerti, tiba-tiba...


Brruuuaaaakkkkkkkhh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Sebuah tendangan keras dari balik pintu membuat pintu kamar tidur hancur dan mengenai salah seorang dari mereka bertiga yang memakai topeng kayu berwarna biru hingga terpelanting ke belakang dan menghantam pohon jambu dengan keras. Orang itu melengguh kesakitan.


Dari dalam kamar tidur, muncul Mapatih Jayakerti dengan tatapan mata penuh amarah.


Mau apa malam hari mengendap-endap seperti pencuri di Kepatihan ha?", bentak Mapatih Jayakerti dengan keras.


Tanpa menjawab, dua orang berpakaian hitam-hitam itu segera melesat cepat kearah Mapatih Jayakerti sambil mengayunkan pedang mereka masing-masing.


Si topeng kayu merah mengincar leher Sang Warangka praja Panjalu. Di sisi lain si topeng kayu hijau membabatkan pedang ke arah kaki Mapatih Jayakerti.


Dengan cepat, Mapatih Jayakerti menghindari serangan dengan memutar tubuhnya sambil menyabetkan keris pusaka di tangan kanannya, kearah topeng kayu merah.


Si topeng kayu merah urungkan serangan sambil memutar pedangnya untuk menangkis sabetan keris Mapatih Jayakerti.


Thrrriiinnnggggg!!


Benturan dua senjata mereka yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi menciptakan percikan bunga api kecil namun cukup membuat ketiga orang itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Mapatih Jayakerti cukup terkejut melihat lawan nya bertenaga dalam tinggi, begitu juga si topeng kayu merah yang kaget dengan kemampuan beladiri patih tua itu.


'Patih tua bangka ini rupanya tidak bisa di anggap remeh. Aku harus hati-hati', batin si topeng kayu merah sambil memutar pedangnya.


Segera dia melesat cepat kearah Mapatih Jayakerti dengan menghantamkan tangan kiri nya yang di sertai tenaga dalam tingkat tinggi dari ajian andalannya.


Whhhuuuuuttttthhhh..


Mapatih Jayakerti yang merasakan angin dingin tenaga dalam dengan cepat melompat ke samping menghindari serangan.


Blllllaaaarrrrrrrhhhh!


Ledakan dahsyat terdengar saat ajian lelaki bertopeng kayu merah itu menghantam dinding balai Kepatihan. Dinding kayu itu hancur berantakan.


Sementara si topeng kayu hijau langsung berkelebat cepat menyongsong Mapatih Jayakerti yang baru saja berhasil menjejakkan kaki usai menghindari serangan si topeng merah.


Sabetan pedang nya mengarah ke pinggang sang punggawa.


Whuuussshh!!


Mapatih Jayakerti yang tidak punya cukup ruang untuk menghindari sabetan pedang memilih untuk menangkis dengan keris pusaka nya sambil tangan kirinya menghantam ke dada lawannya.


Thrrraaannnnggggg...


Dhiesshhhhhhh...


Aarrrggghhhhhhhhh!!


Si topeng kayu hijau langsung terpelanting ke belakang sejauh beberapa tombak. Dia berusaha untuk bangkit namun luka dalam yang di deritanya memaksa nya untuk terduduk. Dia muntah darah segar.

__ADS_1


Melihat itu, si topeng merah segera melesat cepat kearah Mapatih Jayakerti. Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.


Suara keributan itu segera memancing perhatian para prajurit penjaga Kepatihan. Mereka mulai berdatangan dan mengepung tempat itu bersama dengan Nyi Sukesi.


Lelaki bertopeng kayu biru yang baru saja bangkit dari jatuhnya, segera melesat cepat kearah Nyi Sukesi begitu melihat kedatangan para prajurit Panjalu. Baginya, Nyi Sukesi hanyalah satu satunya jalan bagi mereka untuk melarikan diri.


Nyi Sukesi yang sadar dalam bahaya berusaha untuk menjauh namun terlambat. Si topeng kayu biru dengan cepat membekap mulutnya dengan tangan kiri setelah berhasil menghindar dari sabetan senjata para pengawal Kepatihan.


"Jayakerti!


Menyerahlah atau istri mu aku bunuh!", ancam Si topeng kayu biru yang membuat pertarungan antara Mapatih Jayakerti dan si topeng merah terhenti. Mereka masing-masing mengambil langkah mundur ke belakang.


"Bajingan!


Lepaskan istri ku bangsat! Hadapi aku bila kau jantan", teriak Mapatih Jayakerti dengan geram.


"Jangan menyerah Kangmas,


Kau adalah warangka praja Panjalu. Kau tidak boleh menyerah terhadap para maling ini", sahut Nyi Sukesi yang membuat geram si topeng biru.


"Tutup mulut mu perempuan bangsat!


Diam atau kau ku bunuh!", ancam Si topeng kayu biru dengan keras. Nyi Sukesi yang kalap langsung menggigit tangan kiri si topeng kayu biru yang membekapnya.


Aaaarrrgggggghhhhh!


Topeng kayu biru menjerit keras. Dengan geram dia menarik pedangnya yang menempel di leher Nyi Sukesi.


Shhhrreeeetttthhhh..


Ougghhh!!


Nyi Sukesi langsung limbung dengan leher bersimbah darah. Perempuan itu mengejang sesaat sebelum akhirnya terkulai lemas. Dia tewas di depan mata Mapatih Jayakerti.


"BANGSAT!


Ku bunuh kau keparat!!!", teriak Mapatih Jayakerti yang dengan cepat melompat ke arah si topeng kayu biru. Tusukan keris Kyai Tonggeng langsung menusuk ulu hati si topeng kayu biru. Gerakannya yang begitu cepat membuat Si topeng kayu merah terlambat untuk menghadangnya.


Jleeeeppppph!


Ooouuugggghhhhh!!!!


Si topeng kayu biru langsung roboh usai Mapatih Jayakerti mencabut keris Kyai Tonggeng dari ulu hati nya. Tak lama kemudian dia tewas dengan ulu hati berlubang dan darah segar yang memancar dari lukanya.


Melihat kematian orang yang membunuh istrinya, rupanya tidak meredakan murka Mapatih Jayakerti.


Dengan bengis, bekas prajurit Prabu Airlangga itu mengacungkan keris pusaka Kyai Tonggeng pada si topeng kayu merah.


"Kau harus membayar mahal ini semua"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Yang mau kasih kopi ☕ atau mawar 🌹 juga tidak dilarang kog😁

__ADS_1


Selamat membaca 😁🙏😁


__ADS_2