
Demung Gumbreg tak menjawab karena masih pucat pasi. Andai saja Senopati Warigalit terlambat beberapa saat saja, sudah pasti anak panah itu menembus lehernya.
Tumenggung Ludaka segera menatap ke arah bagian tubuh Demung Gumbreg. Genangan air kencing di bawah kaki pria tambun itu menjawab pertanyaan nya. Segera dia menutup hidungnya, begitu juga Tumenggung Landung dan Tumenggung Jarasanda.
"Dasar jorok!
Cepat kau ganti celana sana. Atau kau mau kena marah Gusti Prabu karena kencing di depan balai peristirahatan nya?", omel Tumenggung Ludaka yang membuat Demung Gumbreg dengan langkah kaki kaku berjalan mendekati tempat membersihkan diri di belakang balai peristirahatan. Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung menahan tawa sampai sakit perut melihat kekonyolan sahabat karibnya itu. Tumenggung Jarasanda hanya mengulum senyumnya.
Mereka berempat segera melangkah masuk ke dalam balai peristirahatan dimana Panji Watugunung dan kedua selirnya menghabiskan malam bersama.
Begitu sampai di depan kamar, Tumenggung Jarasanda, Tumenggung Landung dan Tumenggung Ludaka segera duduk bersila di lantai sedangkan Senopati Warigalit langsung mengetuk pintu kamar tidur Panji Watugunung.
Thook thok thok..
"Siapa berani mengganggu waktu istirahat Gusti Prabu Jayengrana malam malam begini?
Ingin di hukum?", terdengar suara Cempluk Rara Sunti dari dalam kamar tidur.
"Mohon ampun Gusti Selir Bungsu.
Ada berita yang sangat penting untuk di ketahui oleh Dhimas Prabu Jayengrana. Hamba Senopati Warigalit siap menerima hukuman jika ini salah", ujar Senopati Warigalit segera.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki dan kemudian pintu kamar tidur terbuka.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!
Panji Watugunung keluar dari kamar tidur tanpa memakai hiasan kepala ataupun gelang bahu nya. Dia segera mendekat ke arah Senopati Warigalit.
"Ada apa Kakang Warigalit?
Sepertinya mendesak sekali", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.
Senopati Warigalit tak langsung menjawab namun mengulurkan anak panah dengan kedua tangan nya sambil menunduk hormat kepada Panji Watugunung. Lalu dia duduk bersila di lantai balai peristirahatan bersama Tumenggung Landung, Ludaka dan Jarasanda.
Panji Watugunung usai menerima anak panah langsung melihat sepotong kain putih di pangkal anak panah. Dia segera membawa anak panah itu ke dekat pelita.
Membaca tulisan itu wajah Panji Watugunung langsung memerah pertanda bahwa dia marah.
"Rupanya benar dugaan ku!
Bajingan tua itu benar benar berkhianat terhadap ku", ujar Panji Watugunung yang segera meremas anak panah itu.
Krreeeeekkkkkk...
Anak panah langsung hancur lebur dalam remasan tangan Panji Watugunung.
"Mohon ampun Dhimas Prabu,
Apa maksud dari ucapan mu baru saja? Bajingan tua? Siapa yang Dhimas Prabu Jayengrana maksudkan?", tanya Senopati Warigalit yang penasaran. Dia seperti mewakili Tumenggung Ludaka, Landung dan Jarasanda yang juga penasaran dengan ucapan Panji Watugunung.
"Ini adalah anak panah khusus yang ku berikan pada mata-mata yang aku pasang di sekitar Mahamantri Mpu Rikmajenar, Kakang Warigalit.
Sudah sejak lama aku menaruh curiga dengan tindak tanduk lelaki tua itu. Terutama setelah pemberontakan Ranggawangsa karena aku tahu mereka berkawan karib.
Tapi sayangnya tidak ada bukti yang menguatkan kecurigaan ku pada Mpu Rikmajenar.
Lantas peristiwa Suryanata dan Banjarsari di istana Daha tempo hari. Mereka mendirikan kelompok penentang Dewan Mahkota usai bertemu dengan Mpu Rikmajenar di kediamannya. Tapi dengan licik nya dia tidak mengikuti langkah Suryanata untuk melakukan pemberontakan terhadap ku tapi justru ikut serta dalam upacara penobatan ku.
Ini membuat aku bingung dengan sikap nya yang tak tentu arah, Kakang Warigalit.
Namun kali ini dia tidak bisa lolos dari jeratan hukum karena bukti yang tertulis di dalam kain ini", tutur Panji Watugunung sambil mendengus dingin.
Senopati Warigalit, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan Tumenggung Jarasanda terkejut bukan main mendengar ucapan Panji Watugunung.
Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Mpu Rikmajenar akan terlibat sejauh ini dalam perkara-perkara besar yang dialami oleh Kerajaan Panjalu.
"Kalau begitu, apa tindakan kita selanjutnya Dhimas Prabu? Kita tidak mungkin membiarkan Mpu Rikmajenar terus mengadu domba ketenangan Panjalu yang mulai tertata rapi di bawah pemerintahan mu", tanya Senopati Warigalit segera. Semua orang di tempat itu menantikan jawaban dari mulut Maharaja Panjalu itu segera.
Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Demung Gumbreg berlari masuk ke tempat itu. Setelah menyembah pada Panji Watugunung, Demung Gumbreg langsung duduk bersila di samping Tumenggung Ludaka.
"Mohon ampun Gusti Prabu hamba terlambat hadir", ujar Demung Gumbreg sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Hemmmmmmm
"Darimana saja kau Mbreg?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum menatap wajah Demung Gumbreg yang ngos-ngosan mengatur nafasnya karena berlarian.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Hamba baru dari tempat mandi oleh karena itu hamba terlambat kemari", jawab Demung Gumbreg segera.
"Baiklah aku lanjutkan kembali. Membaca tulisan ini, kita harus waspada terhadap orang-orang Pakuwon Cempaka.
Tapi jangan terlalu di perlihatkan. Seolah olah kita terjebak dalam permainan Mpu Rikmajenar yang ingin menyergap kita. Aku yakin, bajingan tua itu tidak akan bertindak sendiri tapi dia menyuruh orang lain untuk bergerak", ucap Panji Watugunung yang membuat semua orang yang ada di tempat itu manggut-manggut mengerti.
"Apakah kemungkinan pimpinan para penyergap itu adalah Akuwu Cempaka, Gusti Prabu? Bukankah dia adalah keponakan dari Mpu Rikmajenar?", ucap Tumenggung Jarasanda yang biasanya banyak diam nya.
"Mengapa kau berpikir seperti itu?", tanya Panji Watugunung yang segera menoleh ke arah Tumenggung Jarasanda.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Tempo hari sebelum berangkat ke Kembang Kuning, waktu itu hamba sedang makan di warung makan dekat Utara Kotaraja Daha. Hamba tidak sengaja mendengar percakapan antara pengalasan Mpu Rikmajenar yang ingin menuju ke Pakuwon Cempaka. Katanya ada tugas penting dari Mpu Rikmajenar.
Kalau di hubungkan dengan rencana penyergapan mereka di Pakuwon Cempaka, bukankah benang merah masalah ini terlihat jelas Gusti Prabu?", ujar Tumenggung Jarasanda sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Hemmmmmmm..
__ADS_1
"Pemikiran mu masuk akal, Jarasanda.
Baiklah, ini sudah malam. Waktunya kita beristirahat. Yang jelas kita semua harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Apa kalian semua mengerti?", Panji Watugunung menatap ke sekeliling nya.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ucap para perwira tinggi prajurit Panjalu di ruangan itu segera.
Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera kembali masuk ke dalam kamar tidur nya. Senopati Warigalit segera menuju tempat peristirahatan nya sedangkan Demung Gumbreg, Tumenggung Landung, Tumenggung Jarasanda dan Tumenggung Ludaka kembali ke perapian tadi untuk melanjutkan tugas meronda malam mereka.
Malam segera berganti pagi. Kokok ayam jantan bersahutan menyambut kedatangan sang mentari pagi. Di langit timur, semburat jingga mulai berubah semakin terang.
Pagi itu terlihat kesibukan yang padat di dapur Istana Pakuwon Semanding. Akuwu Palgunadi sudah sejak pagi masih gelap sudah mengawasi para juru masak istana Pakuwon untuk bekerja cepat karena menurut omongan Tumenggung Sindupraja, mereka akan pulang ke Daha hari ini.
Oleh karena itu, Akuwu Palgunadi ingin memberikan masakan terbaik sebagai tanda penghormatan kepada para prajurit Panjalu sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah sarapan pagi lebih dulu bersama, Panji Watugunung memanggil para perwira tinggi prajurit Daha untuk berkumpul sejenak sebelum mereka mulai melanjutkan perjalanan pulang ke Daha.
Di serambi balai peristirahatan, Panji Watugunung duduk bersila bersama para perwira setia nya.
"Jarasanda,
Pimpin 1000 anggota Pasukan Garuda Panjalu yang berilmu tinggi untuk bergerak lewat sisi Utara Pakuwon Cempaka. Pergunakan kuda kuda pilihan agar pergerakan mu cepat. Aku mau kita bertemu di sebelah Hutan Soka. Aku rasa mereka akan menyergap kita disana karena itu jalan sempit dan satu satunya jalur menuju Pakuwon Locaratna sebelum kita menyeberang Sungai Wulayu.
Jika disana tidak bertemu, sisir seluruh wilayah di sepanjang jalur itu. Apa kau mengerti? Jika berangkatlah sekarang", perintah Panji Watugunung segera.
"Hamba mengerti Gusti Prabu", ujar Tumenggung Jarasanda yang segera menghormat pada Panji Watugunung dan bergegas mundur untuk menjalankan tugas nya.
"Ludaka,
Perintahkan kepada Pasukan Lowo Bengi sebanyak 200 orang untuk bergerak sekarang. Minta mereka menjadi telik sandi gerak cepat. Begitu melihat sesuatu, segera melapor pada kita yang bergerak di jalur yang telah di tentukan.
Apa ada yang perlu kau tanyakan?", Panji Watugunung sambil menatap wajah Tumenggung Ludaka.
"Tidak ada Gusti Prabu. Hamba mohon diri", ucap Tumenggung Ludaka sambil menghormat lalu beringsut mundur dari serambi balai peristirahatan.
"Kakang Warigalit, Tumenggung Sindupraja, Landung dan kau Gumbreg..
Awasi pergerakan prajurit kita. Tingkatkan kewaspadaan terhadap setiap kemungkinan", titah Sang Maharaja Panjalu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", keempat pejabat tinggi negara itu segera menyembah pada Panji Watugunung dan segera bersiap untuk berangkat.
Usai menata para prajurit Panjalu, Panji Watugunung segera memimpin pasukan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Akuwu Palgunadi yang mengantar mereka hingga ke tapal batas kota Pakuwon Semanding sedikit mengernyitkan dahinya melihat perubahan gerakan pasukan Panjalu.
Akuwu muda itu segera berbisik pada Bekel Kontring di dekatnya. Bekel Prajurit Pakuwon Semanding itu mengangguk mengerti dan menjalankan perintah dari Akuwu Palgunadi.
Pasukan Panjalu yang berjumlah sekitar 5 ribu prajurit bergerak melintasi perbatasan Pakuwon Cempaka. Mereka terus melaju ke timur dengan cepat. Melewati beberapa wanua, mereka tiba di wanua kecil saat seorang lelaki berpakaian serba hitam bersama Tumenggung Ludaka mendekati Panji Watugunung.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
"Aku mengerti Ludaka..
Kita terus saja masuk kesana agar mereka mengira kita terjebak dalam permainan ini", Panji Watugunung tersenyum tipis.
Tumenggung Ludaka mengangguk mengerti. Pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke arah Hutan Soka.
Saat jalan dekat tanah lapang di tepi Hutan Soka yang berada di lereng bukit, tiba-tiba..
Krrrrraaaaaaakkkkkkkhhh...
Bruuuuaaaakkkkhhh!!!
Sebuah pohon besar roboh melintang di jalan. Kejadian itu membuat para prajurit Panjalu yang berada di depan langsung menarik tali kekang kudanya. Dari arah utara dan selatan bermunculan orang orang berpakaian biru gelap dengan ikat kepala hitam menghiasi wajah mereka. Mereka segera mengepung para prajurit Panjalu.
Hahahaha...
Hahahahahahaha.....
Terdengar suara tawa keras yang mebuat telinga berdenging sakit karena suara itu dilambari tenaga dalam tingkat tinggi. Para prajurit Panjalu sekuat tenaga menahan diri untuk tidak pingsan karena sakit kepala yang melanda akibat tawa keras itu.
11 orang berpakaian aneh langsung melesat turun dari lereng bukit begitu seorang lelaki bermata satu melompat ke depan para prajurit Panjalu.
"Cecunguk seperti kalian minggir!
Aku ingin berhadapan dengan Jayengrana sendiri", ujar Demit Hitam dari Pesisir Selatan sambil mengibaskan tangannya.
Whuuthhh...
Serangkum angin panas langsung melesat cepat kearah para prajurit Panjalu yang ada di depan. Kalah tenaga dalam, para prajurit Panjalu terlempar dari atas kuda mereka masing-masing.
Panji Watugunung segera mengibaskan tangan kiri nya untuk menangkis serangan dari orang yang menghadang mereka.
Whhhuuuuuttttthhhh..
Blllllaaaarrrrrr!!!
"Siapa kalian? Ada urusan apa berani mengganggu perjalanan kami", ujar Panji Watugunung sembari menatap tajam ke arah mereka.
Huhhhhh..
"Aku Kalamaruta, guru dari Brotoseno putra Akuwu Tapa yang kau buat cacat.
Hari ini aku akan menuntut balas atas semua perbuatan mu pada murid ku, Jayengrana..
Bersiaplah untuk mati!", teriak Kalamaruta alias Demit Hitam dari Pesisir Selatan.
__ADS_1
Hemmmmmmm
'Rupanya mereka barisan sakit hati yang di kumpulkan oleh Mpu Rikmajenar', batin Panji Watugunung.
"Jadi kau ingin menuntut balas kekalahan murid mu tempo hari Kalamaruta?", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Demit Hitam dari Pesisir Selatan.
"Tentu saja!
Gara gara perempuan sialan itu murid ku harus cacat seumur hidup nya. Usai membunuh mu akan ku cabik cabik perempuan keparat itu", ujar Kalamaruta sambil menunjuk ke arah Cempluk Rara Sunti yang berkuda di samping kiri Panji Watugunung.
"Kau belum tentu bisa mengalahkan ku, Kalamaruta. Mau mengancam nyawa istri ku?
Buktikan dulu kemampuan mu", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Kurang ajar!
Tempo hari kau selamat karena si tua Surapati itu. Kali ini jangan harap kau lolos dari tanganku!", usai berkata demikian Kalamaruta alias Demit Hitam melesat cepat kearah Panji Watugunung.
Pergerakan Kalamaruta langsung menjadi pertanda serangan para penyergap itu di mulai. Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.
Panji Watugunung segera menepuk punggung kudanya sebagai tumpuan untuk melenting tinggi ke arah Kalamaruta yang sudah merapal Ajian Cadas Geni nya.
Maharaja Panjalu itu segera mengayunkan tangan kanannya ke arah Kalamaruta yang sudah berwarna merah menyala seperti api akibat Ajian Tapak Dewa Api.
Whuuuugggggggh..
Blllaaammmmmmmm!!!
Kedua petarung sama sama melompat mundur usai benturan tenaga dalam tingkat tinggi mereka.
Kalamaruta segera merentangkan kedua tangannya lebar kesamping kiri dan kanannya. Sinar merah menyala bergulung gulung di kedua tangannya.
Dia bersiap mengeluarkan jurus pamungkas dari Ajian Cadas Geni yang bernama Cadas Geni Penghancur Semesta. Sinar merah semakin lama semakin membesar. Hawa panas menyeruak ke sekeliling tempat itu.
Panji Watugunung tidak tinggal diam. Melihat lawan bersiap dengan jurus pamungkas nya, Maharaja Panjalu itu langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja. Dari benturan awal tadi sekilas dia sudah bisa menduga bahwa tenaga dalam Demit Hitam dari Pesisir Selatan itu seurat di bawahnya. Kalau dia tidak hati-hati akan sangat berbahaya.
Sinar kuning keemasan melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung.
Raja Panjalu itu pun memusatkan tenaga dalam nya di tangan kanannya. Dari tengah telapak tangan kanannya muncul sinar biru keputihan laksana petir yang menyambar. Rupanya dia ingin menggunakan Ajian Guntur Saketi ajaran Mpu Narasima yang memiliki sifat keras seperti petir.
Semakin Panji Watugunung sinar biru keputihan itu semakin membesar lalu dengan cepat Panji Watugunung menggenggam nya hingga berubah bentuk menjadi semacam lembing yang tercipta dari petir.
Kalamaruta mendengus keras lalu melompat ke arah Panji Watugunung sembari menghantamkan tangan kanannya.
"Cadas Geni....
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!"
Satu sinar lingkaran besar seperti api menerabas cepat kearah Panji Watugunung. Raja Panjalu itu sama sekali tidak berniat untuk menghindari sinar merah itu. Malah dia melemparkan lembing petir nya ke arah lingkaran sinar merah Ajian Cadas Geni tingkat akhir.
Meski begitu dua sinar ajian itu tidak berbenturan malah menerabas cepat kearah tujuan masing-masing.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!
Lingkaran sinar merah Ajian Cadas Geni menghantam tubuh Panji Watugunung. Ledakan keras terdengar dari sana.
Sementara lembing petir melesat cepat kearah Kalamaruta membuat kakek tua itu gelagapan. Dengan cepat dia merubah bentuk Ajian Cadas Geni menjadi semacam tameng untuk melindungi diri.
Blllaaammmmmmmm!!!!
Demit Hitam dari Pesisir Selatan terpental ke belakang sejauh hampir tiga tombak. Darah mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Panji Watugunung yang terlindungi oleh Ajian Tameng Waja berjalan mendekati Kalamaruta.
"Masih mau diteruskan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekali-kali update 2 episode ya😁🙏😁
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka jangan lupa dukung author dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁
__ADS_1