
Sepasang Sriti Perak segera melompat ke arah Bekel Setyaka yang sedang mati-matian menahan serangan Pangeran Lembah Hantu.
Bekel Setyaka melompat mundur menjauhi Pangeran Lembah Hantu. Tangannya bergetar saat pedang nya berbenturan dengan sepasang pedang pria paruh baya penguasa Lembah Hantu itu.
Pangeran Lembah Hantu adalah keturunan ketiga penguasa Lembah Hantu di pesisir utara wilayah Jenggala. Tepatnya di selatan wilayah Kambang Putih. Mereka adalah penyembah Batari Durga. Semua keturunan mereka mengamalkan ilmu sesat dengan persembahan nyawa. Walaupun tidak sebesar Padepokan Bukit Jerangkong, nama mereka di takuti karena kebiasaan mereka yang mengerikan. Meminum darah.
Sepasang Sriti Perak segera mendekati Bekel Setyaka.
"Gusti Bekel, kau tidak apa-apa??", Sriti Lanang menatap wajah Bekel Setyaka yang sedang terengah-engah bernafas.
"Tidak apa-apa Ki Lurah. Iblis itu memiliki tenaga dalam yang besar", Bekel Setyaka menatap tajam ke arah Pangeran Lembah Hantu.
Walaupun hanya berpangkat Bekel prajurit, Setyaka sebenarnya adalah murid Pendekar Pedang Suci, salah satu tokoh golongan putih yang sangat di segani di wilayah Gunung Muria. Dia mengabdi kepada Pakuwon Watugaluh atas perintah Pendekar Pedang Suci demi janji sang pendekar pada Akuwu Hangga Amarta untuk melindungi Watugaluh.
Bekel Setyaka menyadari bahwa tidak mungkin dia menang melawan Pangeran Lembah Hantu seorang diri.
Melihat kedatangan Sepasang Sriti Perak, timbul semangatnya untuk mengalahkan penguasa kelompok sesat itu.
"Hah, datang lagi dua cecunguk Watugaluh.
Ayo maju kalian semua bersama. Biar cepat ku selesaikan", teriak Pangeran Lembah Hantu.
Sepasang pedang di tangan nya berkilat di terpa sinar matahari.
"Iblis busuk!
Jangan jumawa. Kami masih belum kalah", balas Bekel Setyaka yang langsung menyiapkan kuda-kuda nya.
Dengan cepat, Bekel Setyaka melesat ke arah Pangeran Lembah Hantu sambil mengayunkan pedang nya mengincar dada.
Sriti Lanang segera menoleh pada Sriti Wadon yang segera mengangguk tanda mengerti. Mereka berdua segera berpencar arah dan melesat menyerang Pangeran Lembah Hantu dari dua arah berbeda.
Pangeran Lembah Hantu segera menangkis sabetan pedang Bekel Setyaka dengan pedang di tangan kanan nya.
Tranggg
Sriti Lanang yang menyerang dari sisi kanan yang hampir bersamaan, juga mengayunkan pedang nya mengincar leher Pangeran Lembah Hantu. Pria berewok itu segera memutar tubuhnya dan menangkis sabetan pedang Sriti Lanang.
Tringgg
Sriti Wadon yang dari sisi kiri dengan cepat menyabetkan pedang nya kearah kaki Pangeran Lembah Hantu. Mendapat serangan beruntun dari mereka bertiga, Pangeran Alas Larangan segera melompat ke udara dan mendarat agak jauh dari mereka.
Namun Sepasang Sriti Perak segera mengejarnya dengan Jurus Sepasang Sriti Berburu andalan mereka. Bekel Setyaka tidak tinggal diam, segera melesat cepat menuju ke arah Pangeran Lembah Hantu.
Pertarungan sengit kembali terjadi. Kekompakan Sepasang Sriti Perak dalam bertahan dan menyerang sangat merepotkan Pangeran Lembah Hantu apalagi Bekel Setyaka yang mampu mencari celah pertahanan sangat membahayakan bagi Pangeran Lembah Hantu.
Dua puluh jurus sudah berlalu dan sebuah sayatan pedang Bekel Setyaka sudah menghiasi dada kanan Pangeran Lembah Hantu.
Pangeran Lembah Hantu marah besar.
Kedua tangan Pangeran Lembah Hantu segera di liputi sinar ungu pekat berbau busuk menyengat. Kemudian dia salurkan pada sepasang pedang nya. Dengan tebasan pedang nya, sinar ungu pekat berbau busuk menyengat itu menerabas cepat kearah ketiga penyerangnya.
Whuttttt
Sepasang Sriti Perak segera melompat menghindari sinar ungu pekat itu kearah kanan Dan Bekel Setyaka meloncat ke arah kiri.
Blammmm!!
Ledakkan keras terjadi saat sinar ungu pekat itu menghajar tanah dan meninggalkan lobang besar disana. Itulah kedahsyatan Ajian Gondhomayit andalan Pangeran Lembah Hantu.
Kembali Pangeran Lembah Hantu menyabetkan dua pedang nya kearah Bekel Setyaka dan Sepasang Sriti Perak.
Whuttttt whutttt
Blam blammmm!!
Kembali dua ledakan dahsyat terjadi namun lagi lagi Bekel Setyaka dan Sepasang Sriti Perak berhasil menghindar.
'Iblis ini benar benar ampuh. Tidak ada jalan lain, akan ku gunakan Ajian Pembelah Langit', batin bekel prajurit Pakuwon Watugaluh itu.
Bekel Setyaka segera bersiap. Sambil merapal mantra Ajian Pembelah Langit, ajian pamungkas nya. Tubuh bekel muda itu tiba-tiba bergetar saat sinar biru berhawa dingin melingkupi seluruh tubuh nya.
Dengan kedua tangan memegang pedang, Bekel Setyaka berteriak keras saat menebaskan pedangnya ke arah Pangeran Lembah Hantu.
"Ajian Pembelah Langit...
Chiaattttt!!!!!"
Whussss
Sinar biru berhawa dingin melesat cepat menuju Pangeran Lembah Hantu. Lelaki paruh baya itu yang sadar nyawa nya sedang terancam segera menyabetkan pedang nya yang di lambari Ajian Gondhomayit.
Whuttttt
Dhuarrrr!
Ledakan dahsyat terjadi saat dua Ajian itu beradu. Bekel Setyaka terlempar ke belakang begitu juga Pangeran Lembah Hantu. Tubuh laki laki paruh baya itu melayang akibat kuatnya pengaruh gelombang kejut ledakan dahsyat tadi.
Sepasang Sriti Perak segera melompat mengejar ke arah Pangeran Lembah Hantu. Belum sempat tubuh penguasa Lembah Hantu itu menyentuh tanah, mereka berdua segera mengayunkan pedang nya.
Srettt...
Crashhhh
Aaarghhh
Pedang Sriti Lanang berhasil melukai perut Pangeran Lembah Hantu.
Hantu Gunung, salah satu sesepuh Lembah Hantu yang sedang berhadapan dengan Dewi Kipas Besi, segera melesat cepat meninggalkan pertarungan nya untuk menolong Pangeran Lembah Hantu yang akan di bantai Sepasang Sriti Perak.
Kakek tua itu segera mengayunkan tongkat nya.
Angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi melesat cepat menuju Sepasang Sriti Perak yang hendak menebas leher Pangeran Lembah Hantu.
Whuttttt
Sriti Lanang yang merasakan hawa dingin pekat menerabas kearah mereka, segera menarik tangan Sriti Wadon yang hendak membabat leher sang penguasa Lembah Hantu itu.
Blarrrrr!
Sepasang Sriti Perak melompat mundur sejauh 2 tombak.
__ADS_1
Pangeran Lembah Hantu selamat dari maut. Namun perutnya yang terluka parah akibat sabetan pedang Sriti Lanang terus mengeluarkan darah segar.
Bekel Setyaka yang juga terluka dalam serius, mencoba untuk duduk. Dari sudut bibirnya darah merah terus mengalir.
Melihat pemimpin mereka terluka parah, semangat tempur Lembah Hantu anjlok seketika.
Dewi Tunjung Biru yang berhadapan dengan Hantu Sungai, dengan cepat menebaskan pedangnya ke arah dada Hantu Sungai yang perhatian nya teralihkan pada sang pemimpin Lembah Hantu yang terluka parah.
Crashhhh
Arrgghhhh
Hantu Sungai meraung keras saat pedang Dewi Tunjung Biru telak menebas dada nya. Salah satu petinggi Lembah Hantu itu langsung mendekap erat dadanya yang robek dan terhuyung huyung ke belakang menahan sakit.
Dewi Tunjung Biru tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera dia berputar cepat dan menyabetkan pedang nya kearah leher Hantu Sungai.
Crashhhh
Kepala Hantu Sungai seketika menggelinding ke tanah, tubuhnya roboh kemudian. Hantu Sungai tewas bersimbah darah.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi pihak nya, Hantu Gunung segera berteriak keras.
"Mundur!!!
Kita mundur!"
Hantu Gunung berusaha memapah tubuh Pangeran Lembah Hantu yang sedang terluka parah dengan dilindungi anak buah nya.
Namun pasukan Pakuwon Watugaluh yang sedang diatas angin, tak membiarkan mereka mundur dengan mudah.
**
Di sisi selatan Pakuwon Watugaluh.
Ratna Pitaloka terus bergerak cepat menyabetkan Pedang Bulan Kembar nya kearah Ular Racun yang licik.
Pria bertubuh kurus dan kemayu itu memang pintar menghindar dari sabetan pedang Ratna Pitaloka sambil melemparkan senjata rahasianya yang berbahaya. Namun Ratna Pitaloka yang sedang bersemangat terus mengejar musuhnya.
Sring sringggg sringgg
Tiga pisau pendek beracun melayang cepat kearah Ratna Pitaloka. Selir tertua Panji Watugunung itu segera memutar Pedang Bulan Kembar di tangan kiri nya.
Trang tak takk
Pisau pendek itu tertangkis pedang Ratna Pitaloka. Perempuan itu dengan cepat segera melesat ke arah Ular Racun sambil menyabetkan pedang nya kearah leher Ular Racun.
Sreeetttttt
Ular Racun berkelit menghindari sambil melempar pisau kecil beracun andalannya.
Ratna Pitaloka langsung merubah arah serangan pada kaki Ular Racun demi menghindari pisau beracun itu.
Pria kurus nan kemayu itu kaget melihat perubahan jurus Ratna Pitaloka, tak bisa menghindar saat sabetan Pedang Bulan Kembar di tangan kanan Ratna Pitaloka merobek paha kiri nya..
Crashhhh
Aughhhhh
Ratna Pitaloka menyeringai lebar melihat luka Ular Racun.
"Perempuan busuk,
Kau jahanam".
Teriak Ular Racun sambil memegang pahanya yang terluka.
Ratna Pitaloka tersenyum lebar mendengar cacian Ular Racun, segera menyarungkan pedang di tangan kiri nya. Dia segera merapalkan Ajian Sepi Angin, dan bergerak cepat bagai kilat kearah Ular Racun sambil mengayunkan pedang nya. Sementara tangan kirinya berubah merah menyala seperti api.
Sabetan pedang Ratna Pitaloka yang mengincar leher Ular Racun berhasil di hindari, tapi tangan kiri Ratna Pitaloka yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api telak menghajar dada Ular Racun.
Dhuarrrr!
Ular Racun terlempar ke belakang akibat kerasnya pukulan Tapak Dewa Api. Dadanya gosong. Dia tewas tanpa sempat berteriak.
Di sisi lain Panji Watugunung yang sedang berhadapan dengan Dewi Kalajengking Biru menatap tajam ke arah Pemimpin Perguruan Kalajengking Biru itu.
Luka Dewi Srimpi membuat nya murka. Pedang Naga Api di tangan kanan nya dia pegang erat.
Dewi Kalajengking Biru mundur selangkah melihat pusaka ampuh di tangan Panji Watugunung itu.
"Pemuda tengik, siapa kau sebenarnya? Apa hubungan mu dengan Si Tangan Api dari Padas Putih?", Dewi Kalajengking Biru mendelik tajam. Dia memiliki dendam kesumat dengan Si Tangan Api yang telah membunuh kekasihnya.
"Mpu Sakri adalah guruku, meski belum sehebat beliau, tapi untuk meladeni mu, aku rasa aku masih mampu, nenek tua", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Bedebah!
Akan ku bunuh kau".
Usai berteriak, Dewi Kalajengking Biru segera menyabetkan Cambuk Ekor Kalajengking nya.
Trhasss
Panji Watugunung melompat tinggi ke udara, menghindari ujung cambuk yang bermata runcing dan langsung mengayunkan pedang nya.
Serangkai angin panas dari Pedang Naga Api menerabas cepat kearah Dewi Kalajengking Biru.
Whussss
Blammmm!
Dewi Kalajengking Biru melompat ke samping kanan menghindari angin panas Pedang Naga Api yang menghantam tanah. Perempuan itu dengan cepat memutar cambuk nya dan terus bergerak menjaga jarak dengan Panji Watugunung.
Sebagai petarung jarak jauh, sangat berbahaya berhadapan langsung dengan Panji Watugunung yang memegang Pedang Naga Api.
Pertarungan antara dua pemimpin pasukan itu berlangsung menegangkan. Semua orang mengambil jarak jauh dari tempat pertarungan mereka. Takut menjadi korban serangan nyasar.
Berpuluh jurus sudah dilewati. Lubang menganga lebar di tanah semakin banyak.
Panji Watugunung yang hendak menjejak tanah setelah menghindari sabetan cambuk Dewi Kalajengking Biru tidak melihat lobang besar di bawah nya. Keseimbangan nya goyah akibat terperosok ke lobang.
Saat yang bersamaan, cambuk Dewi Kalajengking Biru mengarah ke dada Watugunung. Tangan kiri Watugunung langsung menangkap cambuk tapi ujung cambuk yang tajam masih bisa melukai dada kanan nya.
__ADS_1
Crashhh
Dada Panji Watugunung terluka walau tidak dalam. Dewi Kalajengking Biru tersenyum penuh percaya diri.
"Huh kau akan segera mampus anak muda!
Ujung Cambuk Ekor Kalajengking ku beracun yang bisa membunuh seekor gajah hanya dalam sekejap", seringai lebar menghiasi wajah Dewi Kalajengking Biru.
Namun, senyum itu mendadak sirna seketika saat melihat Panji Watugunung sama sekali tidak kesakitan akibat racunnya. Malah Panji Watugunung tersenyum lebar. Obat penawar racun dari Dewi Srimpi yang dia minum, mampu menetralkan racun Cambuk Ekor Kalajengking.
"Kau pikir racun mu sudah hebat?"
Tangan kiri Watugunung yang sedang memegang ujung cambuk Dewi Kalajengking Biru segera berubah menjadi merah menyala. Lalu dengan cepat dia menarik cambuk itu, dan dengan cepat Pedang Naga Api di tangan kanan memotong Cambuk Ekor Kalajengking.
Crashhhh
Cambuk Ekor Kalajengking terputus menjadi dua.
Dewi Kalajengking Biru merah wajah nya. Senjata andalannya selama puluhan tahun putus di tangan Panji Watugunung.
"Bangsat!!!
Kubunuh kau bedebah".
Dewi Kalajengking Biru melempar sisa cambuk nya ke arah Panji Watugunung dan segera melompat menerjang kearah Panji Watugunung dengan Ajian Tapak Wisa.
Panji Watugunung segera merapal Ajian Waringin Sungsang ajaran Warok Suropati dan Ajian Tameng Waja bersamaan. Tubuh nya segera diselimuti sinar hijau kebiruan berpadu dengan sinar kuning keemasan.
Pedang Naga Api menyabet sisa cambuk yang di lemparkan ke arah Panji Watugunung.
Trakkk
Sisa cambuk hancur dan terbakar namun Dewi Kalajengking Biru yang dari atas langsung memukul dada Panji Watugunung.
Deshh
"Mati kau!
Senyum lebar menghiasi wajah Dewi Kalajengking Biru. Tapak Wisa, ajian tapak beracun dengan daya hancur luar biasa. Sulit lawan bisa bertahan hidup jika terkena.
Namun apa yang terjadi di luar dugaan Dewi Kalajengking Biru.
Tangannya yang menghantam dada Panji Watugunung seperti menempel erat pada tubuh pemuda itu. Perlahan Ajian Waringin Sungsang menyedot daya hidup dan tenaga dalam Dewi Kalajengking Biru.
Mata perempuan tua itu melotot merasakan sakit luar biasa saat Ajian Waringin Sungsang terus menyerap daya hidup nya. Dewi Kalajengking Biru berusaha keras untuk melepaskan diri namun usaha sia sia.
Arrgghhhh
Teriakan keras Dewi Kalajengking Biru sangat memilukan. Tubuh wanita tua itu perlahan berubah menjadi kering dan menghitam.
Tangan kiri Panji Watugunung segera menghantam perut Dewi Kalajengking Biru.
Deshhh
Tubuh Dewi Kalajengking Biru melayang jauh dan menyusruk tanah. Dia tewas dengan tubuh menghitam.
Panji Watugunung segera limbung. Saat hendak jatuh, Dewi Srimpi yang baru selesai mengobati luka dalam nya segera menahan tubuh nya dan mendudukkan Panji Watugunung yang kemudian duduk bersila.
Rupanya racun cambuk Dewi Kalajengking Biru sangat ganas. Sekar Mayang segera menyalurkan tenaga dalam nya. Dewi Srimpi segera mengambil sebutir pil penawar racun yang berwarna merah dan memberikan pada Panji Watugunung.
Usai menelan pil itu, Panji Watugunung muntah darah kehitaman.
Uoooghhhh
Sekar Mayang terus menyalurkan tenaga dalam nya. Wajah Panji Watugunung yang sempat pucat berangsur pulih.
Sementara itu, seluruh anggota Kalajengking Biru tewas di bantai pasukan Garuda Panjalu. Mayat mayat bergelimpangan di tempat itu.
Yang mencoba kabur pun sia sia. Panah Rajegwesi dan pasukannya tidak membiarkan mereka lolos.
Pasukan Panji Watugunung kehilangan sepertiga jumlah pasukannya. Namun para perwira prajurit masih hidup walaupun ada yang terluka.
Panji Watugunung segera berdiri dan menatap ke arah pasukan nya yang masih hidup.
"Tugas kita belum selesai,
Ayo kita bantu Watugaluh!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Episode terpanjang yang pernah author tulis 😁😁😁
Sebagai bonus chapter untuk readers yang setia menemani perjalanan Kang Panji Watugunung dan mengapresiasi karya author dengan segala jenis jejak nya.
Terimakasih atas dukungannya guys 👍👍
Selamat membaca 😁😁
__ADS_1