Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Perang Tanpa Pertumpahan Darah


__ADS_3

Adipati Seloageng menoleh kearah Patih Ajisanta, pengganti Mpu Lodaya yang sudah purna tugas.


"Ajisanta,


Siapkan pengawalan untuk ku. Aku akan berangkat ke Daha untuk menyampaikan berita ini pada Nakmas Prabu Jayengrana.


Hari ini juga aku mau berangkat", perintah Adipati Tejo Sumirat sambil mengelus kumis nya yang mulai memutih.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Patih Ajisanta segera menyembah pada mertua Panji Watugunung itu kemudian bergegas keluar melaksanakan tugas yang diterima.


Meski matahari telah tergelincir ke barat, Adipati Tejo Sumirat tetap nekat berangkat ke Daha. Laporan dari telik sandi yang melihat Mpu Rikmajenar menyeberang ke Singhapura bersama anggota keluarga nya pasti merupakan sesuatu yang penting bagi istana Daha. Karena itu, Adipati Tejo Sumirat tidak mau membuang waktu.


Di kawal 100 prajurit pilihan dengan Tumenggung Bonokeling dan Bekel Mangun Tapa, Adipati Tejo Sumirat memilih untuk naik kuda daripada naik kereta. Di samping lebih ringkas, naik kuda juga lebih cepat sampai ke Istana Daha.


Rombongan Adipati Tejo Sumirat terus menggebrak kudanya menuju ke Daha.


Usai melewati Pakuwon Palah dan Randu, mereka memasuki Kota Kadiri saat malam mulai turun menyapa seisi bumi.


Adipati Tejo Sumirat langsung menarik tali kekang kudanya begitu melihat ratusan prajurit Panjalu tengah berduyun-duyun mengarah ke Istana Katang-katang.


'Ada sesuatu yang aneh telah terjadi', batin Adipati Tejo Sumirat sambil mengelus jenggotnya..


"Bonokeling,


Kemari kau", panggil Adipati Tejo Sumirat pada tumenggung andalan nya itu.


Tumenggung Bonokeling langsung mendekati Adipati Tejo Sumirat sambil menyembah.


"Mohon ampun Gusti Adipati. Ada perintah untuk hamba?", Tumenggung Bonokeling berbicara sambil menyembah.


"Coba kau cari tau apa yang terjadi, sepertinya telah terjadi hal yang luar biasa di Daha", perintah Adipati Tejo Sumirat sambil terus memperhatikan para prajurit Panjalu yang bergerak menuju Istana Katang-katang.


Tumenggung Bonokeling segera menghormat pada Adipati Seloageng itu lalu melompat turun dari kudanya. Segera dia menghentikan langkah seorang prajurit Panjalu.


"Hai prajurit, Aku Bonokeling tumenggung dari Seloageng.


Aku mau tanya pada kalian. Kenapa para prajurit Panjalu berduyun-duyun datang ke Istana Katang-katang? Apa yang terjadi?", tanya Tumenggung Bonokeling segera.


"Kemarin malam, istana Daha di bakar orang. Gusti Prabu Jayengrana mulai tadi siang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu di sini. Kami adalah rombongan terakhir yang berpindah dari Daha", jawab sang prajurit dengan cepat. Tumenggung Bonokeling terkejut bukan main mendengar jawaban itu. Segera dia kembali ke samping Adipati Tejo Sumirat lalu melaporkan jawaban prajurit Panjalu yang di tanyai.


Pucat wajah Adipati Tejo Sumirat mendengar ucapan Tumenggung Bonokeling. Adipati sepuh itu terbayang wajah Dewi Anggarawati dan cucunya Panji Tejo Laksono. Takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan, Adipati Tejo Laksono langsung menggebrak kuda nya menuju ke Istana Katang-katang untuk menanyakan kabar mengenai putri bungsu dan cucunya itu.


Tumenggung Bonokeling dan para prajurit Kadipaten Seloageng segera mengikuti langkah sang pemimpin.


Di depan pintu gerbang Istana Katang-katang, buru-buru Adipati Seloageng melompat turun dari kudanya. Sang prajurit penjaga gerbang istana yang mengenal baik Adipati Tejo Sumirat langsung memberikan jalan bagi sang mertua Raja Panjalu itu segera, namun Tumenggung Bonokeling dan para prajurit Kadipaten Seloageng tidak boleh masuk ke dalam istana.


Di balai paseban agung Istana Katang-katang, Panji Watugunung tengah memperhatikan para prajurit yang menata dampar kencana atau singgasana Kerajaan Panjalu untuk menggantikan kursi Yuwaraja nya saat Adipati Seloageng datang.


"Nakmas Prabu.. Nakmas Prabu Jayengrana", ujar Adipati Tejo Sumirat sambil berjalan mendekati Panji Watugunung.


Kedatangan Adipati Seloageng itu tentu saja mengagetkan Panji Watugunung. Raja Panjalu itu segera menyongsong langkah Adipati Tejo Sumirat.


"Salam hormat saya, Kanjeng Romo Adipati", ucap Panji Watugunung sembari menghormat pada Adipati Seloageng itu.


"Ah tidak pantas seorang Raja memberi hormat kepada seorang Adipati", Adipati Tejo Sumirat langsung menahan tubuh Panji Watugunung yang hendak berjongkok ke arah nya. Adipati sepuh itu segera tersenyum melihat kesopanan menantu kesayangannya itu.


"Kedudukan saya sebagai Raja Panjalu bukanlah sesuatu hal yang harus membuat saya jumawa, Kanjeng Romo Adipati.


Bagaimanapun Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat tetaplah mertua saya", ujar Panji Watugunung segera.


"Hahahaha..


Ya ini yang membuat aku suka dengan mu Nakmas Prabu. Kau selalu rendah hati meskipun kau sudah menjadi seorang Maharaja Panjalu. Anggarawati sangat beruntung memiliki suami seperti mu.


Ehh Nakmas Prabu,


Bagaimana nasib putri bungsu dan cucu ku? Apa mereka baik-baik saja? Ku dengar Istana Daha baru saja kebakaran", Adipati Tejo Sumirat langsung menatap wajah tampan Panji Watugunung seakan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nya.


"Kanjeng Romo Adipati tidak perlu khawatir. Panji Tejo Laksono dan Dinda Anggarawati baik-baik saja. Mereka selamat dari kebakaran itu", jawab Panji Watugunung yang membuat Adipati Tejo Sumirat langsung menarik nafas lega.


"Puja Dewa Wisnu,


Syukurlah kalau mereka tidak apa-apa. Bagaimana ceritanya Istana Daha bisa terbakar seperti itu Nakmas Prabu?", Adipati Tejo Sumirat bertanya dengan cepat.


"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di ruang pribadi ku saja Kanjeng Romo Adipati..


Paman Saketi,


Tolong kau selesaikan merapikan tempat ini. Kau tata sebaik mungkin", Panji Watugunung menoleh ke arah Patih Saketi yang sedari tadi ikut mengawasi para abdi dalem Istana Katang-katang beserta para prajurit Panjalu yang menata ulang balai paseban agung agar layak untuk melaksanakan kegiatan pisowanan.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Patih Saketi segera menghormat pada Panji Watugunung.


Raja Panjalu itu segera berjalan menuju ke ruang pribadi Raja diikuti oleh Adipati Tejo Sumirat.


Usai duduk bersila di lantai ruang pribadi Raja, Panji Watugunung segera menceritakan tentang kejadian yang baru saja menimpa istana Daha. Termasuk usaha pembunuhan terhadap nya yang di dalangi oleh Mpu Rikmajenar.


Adipati Tejo Sumirat terkejut bukan main mendengar penuturan putra mantu nya itu.


"Jadi semua ini adalah ulah dari Mpu Rikmajenar, Nakmas Prabu?

__ADS_1


Pantas saja dia kabur ke Singhapura", ujar Adipati Tejo Sumirat yang segera membuat Panji Watugunung terperanjat.


"Apa maksud ucapan Kanjeng Romo Adipati?


Mpu Rikmajenar melarikan diri ke Singhapura?", Panji Watugunung menatap wajah sepuh Adipati Tejo Sumirat segera.


"Begini Nakmas Prabu Jayengrana..


Tadi siang telik sandi yang aku utus untuk memata-matai wilayah perbatasan kita dengan Jenggala, melaporkan bahwa dia melihat Mpu Rikmajenar dan keluarganya menyeberangi sungai Brantas menuju ke wilayah Singhasari.


Mereka meninggalkan kereta kuda bercap istana Daha di dermaga penyeberangan Wanua Lawor, usai mengangkut harta benda yang mereka bawa dari kediaman nya", lapor Adipati Tejo Sumirat sambil mengelus jenggotnya.


"Dasar rubah tua keparat!


Apa Kanjeng Romo Adipati tau kenapa dia memilih untuk melarikan diri ke Singhapura?", tanya Panji Watugunung yang tidak menemukan alasan mengapa Mpu Rikmajenar memilih untuk kabur ke wilayah timur Tanah Perdikan Lodaya itu.


Hemmmmmmm..


"Seingat ku Nakmas Prabu, Mpu Rikmajenar mempunyai kakak yang menjadi Patih Kadipaten Singhapura yang juga merupakan mertua Adipati Singhapura sekarang, Adipati Damar Galih.


Dan mungkin juga dia kesana karena merasa aman di wilayah Jenggala karena dia tahu Nakmas Prabu Jayengrana telah membuat perjanjian dengan Dewi Kilisuci untuk tidak melakukan peperangan dengan pihak Jenggala", telaah mendalam dari Adipati Tejo Sumirat membuat Panji Watugunung terdiam sejenak.


Usai menghela nafas berat, Panji Watugunung segera berucap dengan tegas.


"Bagaimanapun, aku tidak akan melepaskan Mpu Rikmajenar dengan semudah itu Kanjeng Romo Adipati..


Ulahnya yang membakar Istana Daha benar benar seperti mencoreng arang ke muka ku. Tak akan ku biarkan dia meski kabur ke wilayah Jenggala. Kalaupun Jenggala berani mengangkat senjata untuk melindungi nya, aku tidak takut sama sekali", ucap Panji Watugunung dengan tegas. Adipati Tejo Sumirat langsung manggut-manggut mengerti apa yang di rasakan oleh Panji Watugunung.


"Kau benar Nakmas Prabu..


Jika memang Kadipaten Singhapura berniat untuk melindungi Mpu Rikmajenar, serbu saja mereka karena berani menyembunyikan buronan pemerintah Panjalu.


Bila kau butuh bantuan ku, bilang saja. Akan ku siapkan pasukan untuk menggempur Kadipaten Singhapura", ujar Adipati Tejo Sumirat berapi-api. Dia masih merasa kesal dengan ulah Mpu Rikmajenar yang sempat membuat putri dan cucu kesayangannya dalam bahaya.


Panji Watugunung langsung tersenyum lebar mendengar omongan Adipati Tejo Sumirat.


Sebuah ide melintas di pikiran nya.


"Kanjeng Romo Adipati sungguh pintar. Aku saja tidak sampai memikirkan ini.


Kalau begitu, Kanjeng Romo Adipati siapkan pasukan untuk bersiaga. Akan ku gunakan itu sebagai senjata untuk mengancam Adipati Singhapura agar mau menyerahkan Mpu Rikmajenar", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum.


Pembicaraan antara mertua dan menantu itu berlangsung hingga larut malam.


Malam itu, Adipati Tejo Sumirat menginap di balai tamu Istana Katang-katang. Dewi Anggarawati begitu senang dengan kedatangan ayahnya. Permaisuri pertama Panji Watugunung itu menyiapkan sendiri segala keperluan Adipati Tejo Sumirat sebagai wujud baktinya kepada sang ayah.


**


"Nakmas Adipati,


Aku mengundang mu kemari karena ada satu hal penting yang ingin ku bicarakan dengan mu.


Tolong dengar aku baik-baik.


Ini adalah Mpu Rikmajenar, adik kandung ku yang berarti juga mertua mu. Kedatangan nya kemari untuk meminta perlindungan kepada ku dari kejaran para prajurit Panjalu.


Aku hanya orang tua yang lemah. Mana mungkin bisa melindungi adik ku dari musuh musuhnya. Karena itu aku meminta bantuan mu untuk melindungi keberadaan adik ku di Kadipaten Singhapura ini.


Apa kau bisa mengabulkan permintaan orang tua ini?", Mpu Sogatan menatap wajah Adipati Damar Galih dengan penuh harap.


Hemmmmmmm..


"Tunggu sebentar Kanjeng Romo,


Aku bisa saja memberikan perlindungan kepada siapapun yang ingin tinggal di Singhapura ini. Asal dia jelas dan bukan pelaku tindak kejahatan serius dari daerah asalnya.


Sekarang aku tanya Paman Mpu Rikmajenar,


Hal apa yang membuat paman harus pergi dari Daha? Katakan sejujurnya", tanya Adipati Damar Galih segera.


"Mohon ampun Gusti Adipati,


Orang tua ini di fitnah oleh keponakan hamba sendiri. Hamba di tuduh mendalangi pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Panjalu hingga menyiapkan kelompok pembunuh untuk menghabisi nyawa Prabu Jayengrana.


Oleh karena itu hamba terpaksa melarikan diri dari istana Daha untuk meminta perlindungan kepada Kakang Mpu Sogatan ini karena para prajurit Panjalu memburu hamba", ujar Mpu Rikmajenar dengan muka memelas nya.


"Kalau begitu masalahnya, aku bersedia memberikan jaminan perlindungan kepada mu Paman Mpu Rikmajenar.


Selama paman ada di wilayah Kadipaten Singhapura, pasukan Panjalu tidak akan bisa menyentuh kulit paman", tutur Adipati Damar Galih segera.


Mpu Rikmajenar segera bersujud kepada Adipati Singhapura itu sebagai tanda terima kasih nya.


"Hamba Mpu Rikmajenar berterimakasih kepada Gusti Adipati Damar Galih. Sungguh beruntung memiliki mantu keponakan yang luar biasa seperti Gusti Adipati", puji Mpu Rikmajenar sambil membenamkan wajahnya. Sebuah senyum seringai licik terukir di wajah tua itu.


**


Panji Watugunung mengadakan upacara pemindahan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu dengan mengundang para Adipati disekitar wilayah Kadiri yang kini menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, termasuk mengundang Pangeran Arya Prabu penguasa Tanah Perdikan Lodaya.


Usai melakukan upacara Yadnya sebagai bentuk puja syukur kepada Hyang Akarya Jagat, Maharesi Mpu Soma dari Pertapaan Ranja yang merupakan penasehat keagamaan Panji Watugunung, mendekati Sang Maharaja Panjalu sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


"Nakmas Prabu Jayengrana,


Sebagai penguasa Panjalu yang baru, kau perlu mengukuhkannya dengan gelar abhiseka. Tunjukkan pada seluruh dunia darimana garis keturunan mu dan apa yang membuat mu layak menjadi penguasa", ujar Maharesi Mpu Soma yang mendapat anggukan kepala dari Panji Watugunung.


"Aku mengerti Maharesi,


Tapi pengesahan itu akan kulakukan setelah aku menyelesaikan pekerjaan menangkap Mpu Rikmajenar yang sudah melukai hati dan perasaan semua orang Daha.


Aku tidak mau dianggap sebagai raja yang memikirkan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan rakyat", jawab Panji Watugunung segera.


Mendengar jawaban itu, Maharesi Mpu Soma tersenyum simpul.


Di dalam balai paseban agung, Panji Watugunung tengah menerima pisowanan para penguasa daerah di sekitar Kadiri seperti Anjuk Ladang, Karang Anom, Wengker, Seloageng, Matahun dan Gelang-gelang.


Adipati Tejo Sumirat dari Seloageng, Adipati Windupati dari Karang Anom, Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari, Adipati Warok Suragati dari Wengker bergiliran memberikan ucapan selamat dan hadiah atas pemindahan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu. Berikutnya Adipati Maitreya dari Matahun, Adipati Gunawarman dari Anjuk Ladang juga turut memberikan hadiah kepada Panji Watugunung berupa upeti tidak wajib yang di rupa kan dalam bentuk hewan ternak dan perhiasan perak dan emas.


Panji Watugunung mengatakan bahwa dia sangat berterimakasih kepada para Penguasa Daerah yang sudah mendukung segala keputusan nya dan berjanji akan segera membangun kembali istana Daha dengan hadiah yang mereka berikan.


Usai pisowanan agung, Panji Watugunung memanggil Adipati Karang Anom, Adipati Seloageng, Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari dan Pangeran Arya Tanggung yang datang mewakili Ayahnya Pangeran Arya Prabu Penguasa Tanah Perdikan Lodaya ke ruang pribadi Raja untuk membicarakan sesuatu.


"Maksud ku memanggil Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat, Romo Bupati Bupati Gunungsari, Adhimas Arya Tanggung dan kau Adipati Windupati kemari, adalah aku ingin meminta bantuan kalian semua..


Seperti kalian semua ketahui, bahwa Istana Daha baru saja di bakar orang dan dalang dari semua itu melarikan diri ke Singhapura.


Aku bisa saja mengirim pasukan untuk menggempur Kadipaten Singhapura, tapi pasti ini akan memicu terjadinya perang dengan Kerajaan Jenggala lagi.


Karena itu aku ingin menerapkan cara berbeda agar Singhapura tidak melindungi Mpu Rikmajenar. Aku minta kalian semua melarang para pedagang untuk melakukan perdagangan dengan Singhapura sebagai bentuk awal perang tanpa pertumpahan darah kita.


Selama ini mereka mengandalkan wilayah Panjalu untuk menjadi tempat mereka menjual hasil bumi yang mereka hasilkan. Jika para pedagang dari Panjalu tidak mengambil barang dari mereka, perdagangan Kadipaten Singhapura akan lumpuh.


Apa Kanjeng Romo, Romo Bupati, Adhimas Arya Tanggung dan kau Adipati Windupati mengerti dengan apa yang aku mau?", Panji Watugunung mengedarkan pandangannya ke arah semua orang yang ada di tempat itu.


"Aku mengerti apa mau mu, Nakmas Prabu.


Tapi bagaimana caranya menangkap Mpu Rikmajenar jika kita tidak menyerang ke Singhapura?", tanya Adipati Tejo Sumirat dengan sedikit bingung.


"Masalah itu, akan ku atasi sendiri Kanjeng Romo Adipati.


Aku minta tolong kepada Adhimas Arya Tanggung dan Kanjeng Romo untuk menyiagakan pasukan besar di perbatasan dengan Kadipaten Singhapura.


Apa kalian bisa?", tanya Panji Watugunung lagi sambil memandang Arya Tanggung dan Adipati Tejo Sumirat.


"Untuk apa Kangmas menyiapkan pasukan jika tidak untuk berperang?", Pangeran Arya Tanggung masih belum mengerti jalan pikiran Panji Watugunung. Raja Panjalu itu langsung tersenyum.


"Tanpa pedagang yang membeli barang dari tempat mereka, dan juga ribuan prajurit berjaga di perbatasan, itu akan menjadi gertakan yang menakutkan untuk Singhapura, Dhimas Pangeran.


Mereka akan berpikir berulang kali jika ingin melindungi Mpu Rikmajenar", mendengar ucapan itu semua orang yang hadir di tempat itu langsung tersenyum lebar dan mengangguk mengerti. Panji Watugunung menatap ke langit biru di tenggara sambil berucap keras.


"Aku akan menangkap Mpu Rikmajenar dengan tangan ku sendiri".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Perang tidak harus mengandalkan otot semata


Kadang otak juga perlu dipakai untuk mendapatkan sesuatu


Tetap semangat jangan mudah menyerah


IG : ebez 2812

__ADS_1


__ADS_2