Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Rencana Penyerbuan ke Kadipaten Matahun


__ADS_3

Mendengar ucapan Panji Watugunung semua orang langsung mengangguk mengerti.


Hari itu mereka memutuskan untuk bermalam di tempat itu sambil menunggu kedatangan Warigalit dan pasukannya yang akan segera tiba.


Hari segera berganti malam.


Demung Gumbreg yang sedang duduk di depan api unggun. Demung bertubuh tambun itu sedang asyik membakar jagung muda yang di dapat para bawahannya tadi sore.


Saat asyik mengunyah jagung muda, sahabat karibnya Tumenggung Ludaka ikut bergabung di depan api unggun bersama Demung Rajegwesi.


"Wah kayaknya enak tuh Mbreg..


Bagi sedikit dong", ujar Tumenggung Ludaka sambil memekarkan jemari tangannya di depan api. Cuaca dingin musim kemarau membuat suasana semakin dingin menusuk tulang.


"Enak saja. Kalau mau bakar sendiri Lu", ucap Gumbreg sambil melemparkan jagung muda yang belum di bakar pada Ludaka.


Tumenggung Kadiri itu segera menangkap tongkol jagung muda yang dilemparkan kepada nya.


"Dasar tidak setia kawan, minta sedikit malah di kasih yang mentah", gerutu Tumenggung Ludaka yang segera mengambil ranting pohon dan menusukkan nya pada tongkol jagung muda. Pria bertubuh tegap itu segera memanggang jagung muda ke atas api unggun yang menyala.


"Aku ini lagi pusing Lu, lagi malas bertengkar dengan mu.


Kalau mau ribut, cari saja orang lain", ujar Demung Gumbreg sambil melengos.


"Memang kau ada masalah apa Mbreg?", tanya Rajegwesi yang ikut nimbrung di percakapan mereka.


"Dhek Jum hamil lagi,


Sekarang sudah 3 bulan. Aku pusing karena ngidamnya aneh-aneh", jawab Gumbreg sambil terus melahap jagung bakar nya.


"Memang ngidam apa Si Juminten, Mbreg?


Kemarin waktu di Kadiri aku lihat dia baik baik saja", tanya Tumenggung Ludaka sembari membolak balik jagung muda yang sedang dipanggang nya.


"Iya di Kadiri kemarin dia tidak minta apa apa Lu, tapi sepulang dari tugas ini dia minta aku untuk menghadap kepada Gusti Pangeran Jayengrana", ujar Gumbreg yang segera memijat pelipisnya. Dia sepertinya benar-benar kebingungan memenuhi permintaan istri nya yang sedang hamil.


"Memang ada urusan apa dengan Gusti Pangeran Jayengrana?", tanya Tumenggung Ludaka segera. Dia penasaran dengan ucapan Gumbreg.


"Dhek Jum minta agar aku menyentuh pipi Gusti Pangeran Jayengrana. Katanya agar anak ku bisa setampan Gusti Pangeran Jayengrana", jawab Gumbreg dengan raut muka memelas.


Ludaka dan Rajegwesi saling berpandangan sejenak kemudian tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Gumbreg.


Huahahahahahaha...


"Eh kampret,


Kenapa kalian malah tertawa? Apa ada yang lucu?", tanya Demung Gumbreg dengan penuh kebingungan.


"Hahahaha, tentu saja Mbreg. Lucu banget pokoknya hahaha", jawab Ludaka sambil terus tertawa terbahak bahak.


"Lucunya dimana Lu? Jelaskan padaku", Gumbreg menatap wajah Ludaka segera.


"Begini Mbreg,


Anak lahir dari keturunan kedua orang tuanya. Kalau bapaknya tampan dan ibunya cantik, tentu anaknya juga akan menjadi rupawan. Contoh nya putra Gusti Pangeran Jayengrana dan Gusti Putri Ayu Galuh, Pangeran Mapanji Jayawarsa.


Lah kalau bapaknya saja mirip kerbau bunting begini, punya anak setampan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa ya jelas tidak mungkin lah huahahahahahaha", Ludaka tertawa terpingkal-pingkal begitu juga Rajegwesi.


"Dasar brengsek.


Mulutmu itu memang lancip Lu", gerutu Gumbreg sambil melempar tongkol jagung bakar yang sudah bersih ke perapian.


"Lagipula, jika kau berani menyentuh pipi Gusti Pangeran Jayengrana, apa kau sudah siap dipenggal kepala mu karena berani kurang ajar pada putra mahkota kerajaan Panjalu?


Hehehehe", ujar Tumenggung Ludaka yang sakit perut karena kebanyakan tertawa.


Gumbreg langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Ludaka.


Di dalam tenda besar, Panji Watugunung sedang merebahkan tubuhnya diatas alas tidur nya di temani oleh keempat istri nya.


"Akang Kasep,


Kalau Naganingrum hamil, Akang Kasep tetep sayang nteu dengan Eneng?", tanya Dewi Naganingrum sambil mengelus dada suaminya itu.


"Ya tetap lah Dinda Naganingrum,


Lihat saja Dinda Anggarawati dan Dinda Galuh, mereka tetap aku sayang karena sudah melahirkan putra putra ku", jawab Panji Watugunung yang segera tersenyum tipis menatap wajah cantik Putri bungsu Prabu Darmaraja itu.


"Hehehe syukurlah..


Naganingrum teh juga pengen atuh melahirkan anak Akang Kasep", ucap Dewi Naganingrum tersenyum malu-malu.


"Bukan cuma kamu saja, Naganingrum.


Kau pikir aku juga tidak ingin melahirkan putra Kakang Watugunung? Tapi kita juga harus bisa menahan diri. Sebab selama Mapanji Garasakan masih memimpin Jenggala, kehidupan kita di Kadiri pasti tidak akan tenang", sahut Ratna Pitaloka yang merebahkan diri di samping kanan kepala Panji Watugunung.


"Benar itu Naganingrum,

__ADS_1


Kita semua juga ingin punya anak setampan Kakang Watugunung. Sekarang ini kita harus membantu Kakang Watugunung menahklukan Jenggala, urusan punya anak nanti ada yang bisa membantu", timpal Sekar Mayang yang ada disamping kiri sang Yuwaraja Panjalu.


"Maksudnya naon Teh Mayang? Naganingrum tidak mengerti", tanya Dewi Naganingrum sambil mendongak kearah Sekar Mayang.


"Ada seorang brahmana sakti yang bisa membantu, Nimas Naganingrum. Urusan itu pasti dilaksanakan jika kita memenangkan pertempuran melawan Jenggala", sahut Dewi Srimpi yang ada di seberang Naganingrum.


"Kalau begitu, Eneng geulis akan bantu Akang Kasep biar cepat memenangkan perang ini.


Eneng teh sudah tidak sabar untuk bertemu dengan brahmana sakti eta Teh Srimpi", ujar Naganingrum yang disambut senyum manis ketiga istri Panji Watugunung yang lain.


Malam itu mereka berbincang hangat sampai terlelap tidur sambil memeluk tubuh Panji Watugunung.


Pagi menjelang tiba di tempat perkemahan para prajurit Panjalu. Matahari pagi mulai menampakkan diri di langit timur perlahan. Burung burung berkicau riang gembira di dahan pepohonan di sekitar tempat itu.


Panji Watugunung yang telah mencuci muka, berjalan berkeliling di perkemahan itu. Di depan bekas api unggun yang telah padam, dia mendapati Gumbreg masih tertidur pulas dengan wajah penuh jelaga hitam dari jagung bakar yang dia santap tadi malam.


Perlahan Panji Watugunung mendekati Gumbreg, bermaksud untuk membangunkan Demung Kadiri itu.


"Mbreg.. Gumbreg..


Cepat bangun. Ini sudah pagi", ujar Panji Watugunung yang berjongkok sambil menggoyangkan bahu kiri Gumbreg.


Demung Kadiri itu bukannya bangun, malah menggaruk pipinya dan memutar tubuhnya memunggungi Panji Watugunung.


Iler Gumbreg terus mengalir dari sudut bibirnya.


"Dasar kebo.. Cepat bangun Mbreg", ucap Panji Watugunung sedikit keras. Gumbreg berguling ke arah Panji Watugunung. Tangan kanannya yang penuh jelaga bergerak menuju pipi Panji Watugunung.


Plak!


Geram dengan tabokan Gumbreg yang mengolesi pipinya dengan jelaga, Panji Watugunung berteriak keras.


"Gumbreg!


Panji Watugunung mencari mu!", teriak Panji Watugunung segera. Gumbreg langsung terbangun dari tidurnya. Mata pria tambun itu langsung melebar melihat Panji Watugunung tengah mendelik ke arah nya.


"A-ampun Gusti Pangeran, ampun..


Ada perintah apa untuk hamba?", ucap Gumbreg sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Kau lihat pipi ku ini ha?


Berani sekali kau mengoleskan jelaga ke pipi ku", bentak Panji Watugunung sambil menunjuk pipinya yang menghitam berbentuk 3 jari tangan. Gumbreg langsung melihat telapak tangannya, dan jelaga hitam jelas ada disana. Wajah Gumbreg pucat seketika.


"Mohon ampun Gusti Pangeran, mohon ampun.


"Enak saja minta ampun.


Karena kau sudah berani mengotori wajah ku, kau akan ku hukum. Mengerti kau?", hardik Panji Watugunung segera.


"Hamba mengerti dengan kesalahan hamba, Gusti Pangeran. Mohon ampunan dari Gusti Pangeran Jayengrana, calon raja Panjalu", ujar Gumbreg sambil terus bersujud kepada Panji Watugunung.


"Baik, kau akan ku ampuni. Tapi ada syaratnya.


Carikan aku empat ekor ayam hutan. Sebelum waktu makan pagi harus sudah ada.


Kau sanggup?", Panji Watugunung menatap ke arah Gumbreg yang masih bersujud.


"Sanggup Gusti Pangeran, sanggup", ujar Gumbreg dengan ketakutan.


"Sekarang cepat berangkat. Ingat, batas waktu mu hanya sampai makan pagi", jawab Panji Watugunung yang segera membuat Gumbreg menyembah dan berlari menuju hutan kecil di selatan tempat perkemahan para prajurit Panjalu.


Panji Watugunung terkekeh geli melihat ulah Gumbreg yang pontang panting berlari menuju ke dalam hutan.


"Duh apes banget sih aku. Mimpi apa aku semalam? Tapi aku sudah memenuhi ngidamnya Dhek Jum, hihihi...


Walaupun harus kena omel Gusti Pangeran", gumam Gumbreg sambil terus berlari menuju ke dalam hutan itu.


Menjelang waktu makan pagi, Gumbreg sudah kembali ke perkemahan dengan menenteng 5 ekor ayam hutan dan setandan pisang yang sudah matang. Segera dia menuju ke arah tenda besar tempat Panji Watugunung dan keempat istri nya beristirahat.


Sepanjang hari itu, para prajurit Panjalu terus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk persiapan penyerbuan ke Matahun. Ada yang mengasah pedang, ada yang menajamkan tombak. Beberapa prajurit pemanah memperbaiki busur panah mereka, ada juga yang sibuk menata perbekalan agar siap berangkat kapan saja.


Menjelang senja, pasukan Panjalu pimpinan Warigalit datang ke tempat itu. Mereka segera membaur dengan para prajurit Panjalu yang sudah lebih dulu berkemah di situ.


"Mohon ampun Dhimas Pangeran,


Harus membuat Dhimas Pangeran menunggu kedatangan kami", ujar Senopati Warigalit sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Kau ini bicara apa Kakang?


Kalian adalah pahlawan perang ini, sudah berhasil memukul mundur pasukan Jenggala. Tentu saja aku sangat berbangga hati karena ini, Kakang", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


"Tanpa saran dan pendapat dari Dhimas Pangeran, mana mungkin aku bisa mengalahkan mereka.


Yang perang memang aku, tapi yang memiliki kemampuan menelaah berbagai hal adalah Dhimas Pangeran", Warigalit tersenyum tipis.


"Ah sudahlah,

__ADS_1


Oh iya berapa banyak prajurit Panjalu yang kau bawa kemari Kakang?", tanya Panji Watugunung segera.


"Prajurit kita tersisa 6 ribu prajurit, Dhimas.


Tumenggung dari Tanggulangin gugur, Bekel Prajurit dari Karang Anom juga gugur. Sedangkan para perwira yang lain masih mampu bertempur meski Demung Warok Nggotho dari Wengker mengalami luka ringan", lapor Senopati Warigalit tentang prajuritnya.


"Hemmmm..


Apa perwira prajurit yang ikut bertempur melawan Jenggala ada disini?", tanya Panji Watugunung yang segera mengedarkan pandangannya ke para perwira prajurit yang ada di belakang Warigalit.


"Kami ada disini, Gusti Pangeran", ujar para perwira prajurit itu bersamaan.


"Apa kalian masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kahuripan?", tanya Panji Watugunung seraya memperhatikan mereka.


"Demung Warok Nggotho dari Wengker siap menyerahkan nyawanya demi kejayaan Panjalu", ujar seorang perwira bertubuh gempal dengan perut buncit dan kumis tebal sambil menghormat. Ada luka yang di balut dengan kain pada lengan kiri nya.


"Tumenggung Nagaraja dari Karang Anom bersedia untuk berkorban nyawa untuk Panjalu", ucap seorang perwira prajurit yang bertubuh tegap dan memiliki dua benjolan di dahinya.


"Kalau kami berdua, Gusti Pangeran Jayengrana tidak perlu meragukan. Kami sudah mengikuti Gusti Pangeran Jayengrana sejak dulu", Senopati Sancaka tersenyum tipis, begitu juga Senopati Gati dari Seloageng.


"Terima kasih atas dukungannya, aku berharap agar kita bisa secepatnya menahklukan Mapanji Garasakan dan bisa pulang ke rumah kita.


Besok pagi kita berangkat ke Matahun", titah Panji Watugunung segera.


Seluruh perwira prajurit Panjalu yang ada di tenda besar segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.


Malam itu mereka merencanakan penyerbuan ke Kadipaten Matahun.


**


Kota Kadipaten Matahun terletak di barat Ibukota kerajaan Jenggala. Wilayah ini menempati sebuah daratan yang di kelilingi oleh rawa yang banyak di huni buaya. Hanya ada dua jalan masuk ke dalam kota itu, lewat selatan maupun timur.


Istana Kadipaten Matahun terletak di tengah kota itu. Adipati Matahun, Danaraja adalah salah seorang tokoh persilatan yang memilih untuk memimpin wilayah Matahun sepeninggal ayahnya. Bisa dikatakan bahwa Adipati Danaraja adalah seorang yang sakti mandraguna karena pernah menggemparkan dunia persilatan dengan julukan Pendekar Cambuk Api.


Di singgasana Kadipaten Matahun, Danaraja sedang duduk berhadapan dengan Senopati Jambuwana dan para bawahannya. Mereka tiba di istana Kadipaten Matahun kemarin.


"Jadi apa yang kau rencanakan, Senopati Jambuwana?


Apa kau ingin menjadikan Matahun sebagai medan perang melawan Panjalu?", tanya Adipati Danaraja dengan menatap tajam ke arah Senopati Jambuwana.


"Benar Gusti Adipati,


Matahun memiliki pertahanan alam yang bagus, juga tembok kota yang tebal. Kita bisa menghadang laju pergerakan prajurit Panjalu disini", jawab Senopati Jambuwana sambil mengelus kumisnya.


"Hemmmm..


Sebenarnya aku bukan penyuka perang seperti Kakang Garasakan. Tapi kalau menyangkut kehormatan ku sebagai prajurit Jenggala, aku tidak keberatan jika harus berperang melawan Daha", ucap Adipati Danaraja dengan tegas.


Mendengar itu, Senopati Jambuwana tersenyum simpul.


"Seorang jagoan dunia persilatan akan menghadapi prajurit Daha,


Mereka pasti akan binasa"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2