Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Ajian Sirep Megananda


__ADS_3

Warigalit, Ratri dan Dewi Tunjung Biru segera menoleh kearah prajurit yang berteriak.


Dari selatan batas kota Pakuwon, terlihat ratusan orang berkuda dengan pakaian prajurit memasuki kota. Yang paling depan, nampak seorang prajurit membawa bendera biru langit dengan sulaman garuda berwarna emas.


Rakyat Watugaluh yang melihat mereka segera tau, bahwa itu adalah pasukan Garuda Panjalu yang tersohor.


"Itu pasukan Garuda Panjalu, cepat beri jalan.."


"Hei benar, itu mereka. Pasukan Garuda Panjalu"


"Pemimpin mereka yang di tengah itu bukan? Gagah sekali dia"


Riuh suara para pedagang dan penonton yang melihat kehadiran pasukan Garuda Panjalu.


Warigalit dan Ratri tampak sumringah mendengar suara dari para pedagang sementara Dewi Tunjung Biru tersenyum penuh arti.


Setelah dekat, Bekel Setyaka yang berjajar di samping Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya saat melihat Dewi Tunjung Biru di pasukan patroli Watugaluh.


"Setyaka menghaturkan hormat untuk Gusti Putri".


"Bangunlah Paman, jangan terlalu memakai adat", jawab Tunjung Biru sambil menatap wajah Panji Watugunung yang melompat turun dari kudanya.


"Kakang Watugunung, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu Kakang?".


"Saya baik baik saja Gusti Putri", jawab Watugunung sopan.


Cihhhhh


"Dasar rubah betina", desis Sekar Mayang yang sebal dengan Tunjung Biru.


Warigalit segera menghampiri mereka. Wajah Panji Watugunung dengan busana bangsawan benar benar membuat Warigalit kagum.


"Apa masih mengenali ku, saudara ku?", ujar Warigalit sambil tersenyum tipis.


"Ahh ternyata Kakang Warigalit, ternyata ini yang ada di mimpiku semalam", Watugunung segera bergegas menggenggam tangan Warigalit.


"Kau semakin tampan adik ku. Aku benar-benar pangling dengan dandanan mu sekarang", Warigalit benar benar bangga.


"Pitaloka, Mayang..


Bagaimana kabar kalian??.


"Kami baik-baik saja Kakang", jawab Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang kompak.


"Sekar Mayang, Ratna Pitaloka apa kalian melupakan ku".


Suara merdu Ratri membuat Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka menoleh.


"Ratri...


Kau bersama Kakang Warigalit?


Jangan jangan kalian....", Sekar Mayang tersenyum jahil.


Wajah cantik Ratri memerah seketika.


Mereka tertawa kecil.


"Kakang Warigalit, Kangmbok Ratri... Anggarawati memberikan hormat", ujar Anggarawati lembut.


Warigalit dan Ratri segera menoleh. Mereka hampir lupa kalau Anggarawati juga ada. Mereka segera mengangguk.


"Warigalit memberikan hormat kepada Gusti Putri Kadipaten Seloageng", kata kata Warigalit membuat terkejut Dewi Tunjung Biru.


"Apa maksudmu Kakang? Dia putri Kadipaten Seloageng?", Tunjung Biru seakan tak percaya.


"Kau kenapa putri bodoh? Lagakmu seperti tidak percaya", sahut Sekar Mayang ketus.


"Diam kau kucing liar", Tunjung Biru kesal dengan sikap Sekar Mayang. Dia benar benar kaget dengan kenyataan itu.


"Hahahaha, sudah ku duga kau akan seperti ini.


Putri Liar, ..


Maju kau. Perkenalkan diri pada kakak seperguruan suami mu", teriak Sekar Mayang keras.


Ayu Galuh segera maju kehadapan semua orang. Dengan gaya anggun khas bangsawan, gadis itu tersenyum.


"Ayu Galuh, putri Ayahanda Prabu Samarawijaya dari Daha. Istri kedua Pangeran Panji Watugunung".


Semua orang terkejut mendengar kata kata Ayu Galuh, dan serentak berjongkok kecuali Panji Watugunung dan wanita nya.

__ADS_1


"Kami menghaturkan sembah sujud kepada Gusti Putri", ucap kompak seluruh orang disitu.


"Berdirilah, jangan terlalu banyak adat terhadap ku", ucap Ayu Galuh sambil mengangkat tangan kanannya.


Semua orang terdiam.


"Aku ingin bermalam di Pakuwon Watugaluh. Ada yang bisa menunjukkan jalan nya??", ucap Ayu Galuh sambil melompat ke atas kuda nya.


"Mari Gusti Putri, Tunjung Biru siap melayani".


Usai berkata, Dewi Tunjung Biru segera melompat ke atas kuda. Semua orang segera mengikuti langkah Dewi Tunjung Biru menuju istana Pakuwon Watugaluh.


Dua pasang mata menatap kepergian rombongan Panji Watugunung, kemudian segera bergegas meninggalkan tempat itu.


Kedatangan rombongan Panji Watugunung segera disambut oleh Akuwu Hangga Amarta.


Pria sepuh itu sangat gembira, apalagi putri Sang Prabu Samarawijaya juga ikut serta.


Malam itu diadakan perayaan meriah di istana Pakuwon Watugaluh.


Sementara itu di timur Pakuwon Watugaluh, di sebuah gubuk di tepi hutan, terlihat 10 orang berpakaian hitam sedang menyusun rencana.


"Kalau kita berhasil membunuhnya, itu akan memicu terjadinya perang Kakang", ujar lelaki bertubuh kurus.


"Aku tidak peduli. Justru itu yang aku harapkan. Dendam ku pada Airlangga, biar di tanggung anak cucu nya. Sekalipun Lwaram sudah jatuh, aku akan tetap memusuhi keturunan Airlangga", ujar pria paruh baya berjenggot panjang yang berdandan layaknya seorang pertapa.


Orang tua itu adalah putra bungsu Aji Wurawari, Raja Lwaram yang sudah di kalahkan Airlangga. Mpu Wurawirya namanya. Dia berhasil lolos dengan menceburkan diri ke Bengawan Solo saat pasukan Airlangga menyerbu istana Lwaram. Setelah sekian tahun mengasingkan diri dan menyamar sebagai pertapa, dia muncul kembali setelah pemecahan Kahuripan.


"Lantas bagaimana caranya kakang kita masuk ke istana Pakuwon Watugaluh? Istana Pakuwon itu di jaga ketat apalagi pasukan Garuda Panjalu ada disana", sahut si pria kurus.


"Akan ku gunakan Ajian Sirep Megananda. Mereka akan tertidur pulas dan kita bisa dengan mudah menghabisi keturunan Airlangga hahahaha", tawa Mpu Wurawirya disambut tawa anak buah nya.


"Kapan kita bergerak Mpu?", tanya seorang pemuda bertubuh gempal.


"Malam ini, kita tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan", jawab Mpu Wurawirya semangat.


Sepuluh orang berpakaian hitam itu segera bergerak cepat menuju ke istana Pakuwon Watugaluh.


Panji Watugunung yang sudah mundur dari perjamuan, memilih beristirahat di kamarnya.


Sudah lama dia tidak bersemedi. Entah kenapa dia ingin sekali bersemedi malam ini.


Istana Pakuwon Watugaluh mulai sepi saat tengah malam mulai. Hanya ada beberapa penjaga. Gumbreg di bantu Weleng dan Ludaka sibuk melempar kayu kering pada api unggun di depan tenda perbekalan.


Ludaka sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Gumbreg. Prajurit muda itu sudah tak kuat membuka matanya. Weleng bahkan sudah ngiler di atas tumpukan kain.


Gumbreg pun tidur di depan api unggun.


Mpu Wurawirya terus merapal mantra Ajian Sirep Megananda. Angin dingin semilir di sertai wangi samar terus berhembus di sekitar Pakuwon Watugaluh.


Panji Watugunung yang sedang bersemedi tiba tiba merasa waktu seperti berhenti. Aura kemerahan ada dimana mana.


Dia pernah merasakan ini sebelum nya. Ya saat di padepokan dulu.


Roh Naga Api muncul dari aura kemerahan. Wujud Naga berwarna merah menyala itu benar benar menakutkan.


"Roh Naga Api, ada perlu apa menemui ku?"


"Aku hanya hadir saat kau dalam bahaya Watugunung. Buka matamu sekarang. Bahaya sedang mengintai"


Usai berkata demikian,Roh Naga Api segera menghilang. Dan waktu sekejap berjalan normal.


Panji Watugunung segera membuka matanya.


Samar dia merasakan sensasi angin dingin yang berbeda.


'Hemmmmm rupanya ada yang bermain sirep disini', batin Panji Watugunung sambil tersenyum. Segera dia mengalungkan Pedang Naga Api di punggungnya dan melangkah keluar dari kamar. Warigalit yang ada di ujung lorong rupanya juga menyadari bahaya.


Setelah mengangguk sebagai tanda isyarat, mereka berdua melompat ke atas atap tempat peristirahatan nya.


Dari atas atap istana, Panji Watugunung melihat sepuluh orang berpakaian hitam bertopeng melompat lincah diantara atap bangunan istana Pakuwon. Cahaya bulan purnama sangat membantu penglihatan mereka. Dari arah nya, mereka menuju kamar peristirahatan para wanita.


"Kakang, 10 tikus di timur", bisik Watugunung pada Warigalit yang membuat Warigalit menoleh ke arah yang di tunjukkan Watugunung.


Panji Watugunung dan Warigalit segera menggunakan ajian Sepi Angin mereka, dan bergerak cepat laksana angin dan hinggap di atas atap bangunan yang terbuat dari ijuk.


Saat mereka hendak masuk, Panji Watugunung dan Warigalit melayang turun menghadang mereka.


"Mau kemana kalian?"


Mpu Wurawirya terkejut bukan main. Dia yang yakin kedatangan mereka akan aman, ternyata ada orang yang mampu menghadapi Ajian Sirep Megananda nya.

__ADS_1


"Bunuh mereka", teriak Mpu Wurawirya dari balik topeng nya.


Sembilan orang itu segera menerjang kearah Panji Watugunung dan Warigalit. Tapi dua pendekar dari Padas Putih itu bukan jagoan kelas teri. Dengan mudah, mereka menghindari serangan orang orang bertopeng itu. Sementara Mpu Wurawirya mengamati situasi.


Warigalit dengan cepat menyambar pundak seorang bertopeng, dan meremasnya.


Krekkk


Aughhhhh


Bruakkk


Tulang bahu orang itu hancur, dan Warigalit segera melemparkan tubuhnya menghantam dinding tempat peristirahatan.


Warigalit terus bergerak cepat, dalam kurun tiga jurus dua orang bertopeng itu sudah ambruk tak berdaya dengan tulang patah.


Sementara Panji Watugunung melesat cepat dan menendang satu orang bertopeng lalu menerjang Mpu Wurawirya. Pria paruh baya itu menangkis serangan Panji Watugunung dengan silat Padas Putih.


Setelah 5 jurus dan mengetahui batas kemampuan Mpu Wurawirya, Panji Watugunung mulai serius.


Serangan nya bertambah cepat. Mpu Wurawirya kelabakan dan berusaha menjaga jarak.


'Sial, pemuda ini berilmu tinggi. Aku harus cepat kabur', batin Mpu Wurawirya.


Setelah memikirkan caranya, Mpu Wurawirya bersiap. Panji Watugunung yang melihat gelagat aneh dari lawan nya, segera menggunakan ajian Tapak Dewa Api. Tangan kanan nya berubah merah menyala seperti api.


Mpu Wurawirya terkejut dengan perubahan warna kulit tangan Panji Watugunung segera melesat kearah pertarungan Warigalit.


Panji Watugunung memburu nya. Dengan cepat Panji Watugunung menghantamkan tangan kanan nya kearah Mpu Wurawirya. Sinar merah menyala seperti api melesat cepat menuju pria paruh baya itu.


Mpu Wurawirya terkejut dan segera menyambar anak buah nya dan melemparkannya ke arah sinar merah menyala itu.


Dhuarrrr!!!


Tubuh anak buah Mpu Wurawirya hancur berkeping keping. Namun pria paruh baya itu berhasil lolos setelah melompati pagar tembok istana Pakuwon Watugaluh dengan 4 anak buah nya.


Ledakan keras itu seketika membangunkan seisi istana Pakuwon Watugaluh yang tertidur akibat Ajian Sirep Megananda.


Warigalit yang bermaksud mengejar di tahan oleh Panji Watugunung.


"Tahan Kakang, biarkan saja mereka. Kita tinggal menanyai mereka", Watugunung menunjuk ke beberapa orang bertopeng yang masih hidup.


Saat mereka hendak menanyai, puluhan prajurit Pakuwon Watugaluh dan Garuda Panjalu merangsek masuk ke dalam tempat peristirahatan.


"Mana Gusti Panji? Mana penjahat nya?", teriak Gumbreg sambil memanggul pentungan nya.


Panji Watugunung hanya tersenyum sedang Warigalit melirik sambil berkata dengan nada ketus.


"Telat"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh telat deh..😁😁😁

__ADS_1


Ok guys, jangan lupa untuk dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya ya.


Selamat membaca 🙏🙏😁😁


__ADS_2