Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pertempuran Kali Aksa 3


__ADS_3

Dengan sedikit kesal, Panji Watugunung segera menjitak kepala Gumbreg.


Thakk..


"Aduh biyung..


Sakit Gusti Pangeran", Gumbreg meringis menahan sakit sambil mengelus kepalanya langsung benjol sebesar telur burung puyuh.


"Makanya kalau waktunya serius, jangan bercanda", Panji Watugunung melotot matanya kearah Gumbreg.


Bekel prajurit perbekalan itu langsung menunduk takut akan kena marah dari pemimpin pasukan Daha itu.


Weleng, Gubarja dan Widarba tertawa kecil melihat tingkah Gumbreg.


Di seberang Kali Aksa, Senopati Socawarma hanya tertegun sejenak melihat anak buahnya tewas berjatuhan di tangan prajurit Daha tanpa dia bisa membantu.


"Prajurit Daha ini benar-benar beruntung. Alam sepertinya membantu mereka", ujar sang senopati Jenggala itu.


Dia benar-benar mengira bahwa Jagat Dewa Batara membantu pasukan Panji Watugunung. Bukan hanya dia, tapi seluruh pasukan nya juga berpikir seperti itu.


"Benar sekali Gusti Senopati, tapi hamba yakin kalau mereka tak seberuntung ini saat berhadapan dengan pasukan kita lain waktu", ujar Tumenggung Gandara.


Dengan tersisa sekitar 6 ribu prajurit, kemampuan tempur kedua pasukan kini berimbang.


Saat Tumenggung Sancaka terakhir menebas leher seorang prajurit Jenggala, sorak sorai para prajurit Daha langsung membahana. 4 ribu pasukan Jenggala di bantai pasukan Daha kekuatan 6 ribu prajurit. Meski kehilangan hampir seribu prajurit, tapi kemenangan ini layak di banggakan.


Tepi barat Kali Aksa benar benar banjir darah.


Ribuan mayat bergelimpangan di mana mana. Bau anyir darah memenuhi udara di sekitar tempat itu.


Air bah mulai surut.


Senopati Socawarma segera memerintahkan kepada para perwira tinggi prajurit Jenggala untuk bersiap.


Bende perang kembali bertalu-talu.


Tumenggung Larantapa dan Tumenggung Gandara segera menyiapkan wyuha kagapati atau Garuda Nglayang. Senopati Socawarma menjadi kepala Garuda, dan Dua tumenggung menjadi sayapnya.


Pasukan Jenggala segera bersiap.


Melihat itu, Panji Watugunung segera menoleh ke arah prajurit peniup terompet tanduk kerbau di sebelah nya.


Genderang perang segera berbunyi.


Thuuuuuuttttttt...


Thuuuuuuttttttt...


Thutttt!!!


3 bunyi terompet tanduk kerbau dan genderang menjadi tanda perubahan bentuk wyuha prajurit Panjalu.


Kalau tadi menggunakan wyuha karkathakasrenggi, kali ini Panji Watugunung memakai wyuha vajra. Sebagai mana bentuk vajra yang berujung tiga, wyuha ini memiliki 3 ujung titik serang.


Warigalit membantu Senopati Narapraja di kanan. Ratna Pitaloka menbantu Tumenggung Ringkasamba di kiri. Sedangkan di tengah Bayucandra dari Tanggulangin dan Surontanu dari Wengker memimpin pasukan tengah di bantu Ringkasamba dari Kurawan.


Panji Watugunung menjadi pangkal vajra di belakang.


Saat air Kali Aksa tinggal setengah dengkul kuda, pasukan Jenggala yang bernafsu membalas dendam karena kematian Tumenggung Wangkas, langsung menerjang maju.


Kali ini Senopati Socawarma yang diapit Bekel Kosalya dan Demung Mpu Kerta dari Pasuruhan, ikut maju menyerbu.


Jarasanda dan Ludaka bersiap memberi aba-aba pasukan panah berapi mereka.


Saat pasukan Jenggala mencapai bibir sungai, Jarasanda mengayunkan tangannya sebagai perintah pasukan pemanah untuk menembak.


Sring sringggg sringgg..


Puluhan anak panah berapi langsung menyerang ke arah jebakan yang sudah di pasang dan langsung mengacaukan wyuha yang mereka pakai.


Semua pasukan Jenggala sibuk menghindari api yang menyala.


Senopati Socawarma geram melihat pasukannya kacau balau.


"Pertahankan wyuha ini. Maju terus!!".


Teriak sang senopati berusaha untuk mengatur pasukannya.


Gludukk..


Ratusan batu besar dan kayu gelondongan besar meluncur cepat dari puncak bukit di sisi utara medan laga. Tumenggung Larantapa terkejut bukan main.


"Awas jebakan!!"


Ratusan prajurit Jenggala yang tidak melihat, langsung terlindas gelondongan kayu yang menggelinding cepat dari puncak bukit. Jerit kesakitan langsung terdengar.


Sementara di sisi kiri, sayap kagapati yang di pimpin Tumenggung Gandara langsung berhadapan dengan ujung vajra kanan yang di pimpin oleh Senopati Narapraja dan Warigalit.


Perang langsung pecah saat dua sayap pasukan bentrok.


Para Bekel Pasukan Garuda Panjalu langsung melompat turun ke medan perang, usai jebakan mereka sudah berhasil membuat para prajurit Jenggala kocar-kacir.


Jarasanda langsung menyambar leher seorang prajurit Jenggala dengan keris Kyai Klotok andalan nya.


Creeppp

__ADS_1


Sang prajurit langsung tewas saat keris Kyai Klotok menembus leher tembus tengkuk nya.


Ludaka dan Landung segera menyerang prajurit Jenggala yang menghadang langkah mereka.


Gumbreg yang baru saja kena jitak Panji Watugunung, segera berlari menuju ke medan tempur. Pentung sakti nya langsung menghajar kepala seorang prajurit Jenggala yang sedang mundur ketakutan.


Bukkkkk


Kepala sang prajurit Jenggala langsung pecah saat itu juga.


"Itu ganti untuk kepala ku yang benjol", teriak Gumbreg sambil kembali mengayunkan pentungan nya.


Dari sisi kepala kagapati, Senopati Socawarma merangsek maju ke arah tengah. Senopati andalan Jenggala itu langsung mengamuk.


Dengan senjata pusaka di tangan nya, Senopati Socawarma terus membantai prajurit Daha yang menghadangnya.


Tumenggung Surontanu dari Wengker melihat pemimpin musuh mereka mengamuk, langsung menggebrak kuda nya ke arah Senopati Socawarma.


Setelah menjejak punggung kudanya, Tumenggung Surontanu langsung melesat cepat menuju Senopati Socawarma yabg yang sedang membabat leher seorang prajurit Daha.


Sreeetttttt


Mendapat serangan dari Surontanu, Socawarma segera menjatuhkan tubuhnya dari atas kudanya.


"Cecunguk Daha,


Beraninya berniat membokong ku", geram sang pemimpin pasukan Jenggala.


Tumenggung muda itu hanya menyeringai lebar mendengar ucapan Senopati Socawarma.


"Dalam perang, semua hal itu perlu", balas Tumenggung Surontanu sambil memutar pedangnya.


"Keparat!


Biar aku cabut nyawamu", Socawarma, Senopati sepuh Jenggala segera menjejak tanah dengan keras dan melesat cepat ke arah Tumenggung Surontanu.


Sabetan pedang nya mengincar leher sang Tumenggung Wengker.


Dengan cepat, Tumenggung Surontanu segera menangkis dengan pedang nya.


Trangg...


Bunyi nyaring terdengar saat dua senjata beradu. Mereka berdua segera bertarung dengan sengit.


Setelah 20 puluh jurus terlewati, bisa di lihat bahwa tenaga dalam mereka berbeda 2 tingkat. Tumenggung Surontanu mulai keteteran meladeni permainan pedang sang Senopati dari Jenggala.


Dengan gerak tipu memutar, Senopati Socawarma menyabetkan pedang nya kearah dada Tumenggung Surontanu. Tumenggung muda dari Wengker itu dengan mudah menghindari nya, sambil mengayunkan pedangnya ke punggung lawannya.


Sreeetttttt..


Creeppp!


Meski tidak dalam, namun tetap membuat punggung sang senopati terasa perih.


Senopati Socawarma murka seketika.


Seketika dia menyarungkan kembali pedangnya, tangannya segera bersilang di depan dada. Tiba tiba muncul sinar merah kebiruan melapisi seluruh tangan Socawarma.


Ajian Suryapati, ilmu kanuragan tingkat tinggi berunsur panas andalan Perguruan Gunung Semeru.


Melihat lawan mengeluarkan jurus kanuragan andalannya, Tumenggung Surontanu langsung bersiap. Tumenggung muda itu segera menyarungkan pedangnya. Setelah merapalkan mantra Ajian Cadasgeni, tangan kanan dan kiri nya diliputi cahaya berputar yang berwarna merah menyala.


Socawarma seketika meloncat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanan nya ke arah Surontanu. Sinar merah kebiruan menerabas cepat menuju Surontanu.


Whuttttt


Surontanu langsung menghadang Ajian Suryapati dengan Ajian Cadasgeni andalannya.


Winggh..


Blammmm!!!


Tumenggung Surontanu langsung terpental jauh ke belakang. Tubuhnya roboh menghantam tanah. Tumenggung Wengker itu berusaha bangkit, dari mulut nya mengalir darah segar.


Senopati Socawarma segera melesat cepat menuju ke arah Tumenggung Surontanu yang terluka dalam parah dengan mencabut pedang nya.


Tumenggung Bayucandra dari Tanggulangin yang sedang bertarung melawan prajurit Jenggala di dekat arena pertarungan itu melihat kawannya dalam bahaya, berusaha menolong dengan menusukkan tombak nya kearah pinggang Socawarma.


Angin dingin tenaga dalam yang dirasakan oleh Senopati Socawarma membuat kakek tua itu segera merubah gerakan tubuhnya.


Tringgg


Bunga api kecil muncul saat dua senjata yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu beradu. Dua orang itu segera melompat ke belakang sejauh dua tombak.


Mata Socawarma geram menatap Tumenggung Bayucandra.


Di sisi lain, Tumenggung Gandara nampak mulai ngos-ngosan mengatur nafas saat berhadapan dengan Warigalit yang gesit dengan Ajian Sepi Angin nya. Dia melirik ke arah Bekel Rengku dari Dinoyo yang masih meladeni sabetan pedang Tumenggung Adiguna dengan candrasa andalannya.


'Bangsat muda ini hebat. Aku harus mencari cara untuk membuat nya terpecah pikiran nya', batin sang Tumenggung Gandara. Mata tumenggung istana Kahuripan itu menyapu sekitar medan laga nya.


Tiba tiba terdengar jeritan.


Aarrgghhh!


Tumenggung Adiguna rupanya tersabet candrasa Bekel Rengku.

__ADS_1


Meski tidak terlalu berbahaya, tapi teriakan itu cukup membuat Warigalit menoleh.


Merasa mendapat kesempatan, Tumenggung Gandara langsung melesat cepat menuju Warigalit yang lengah. Jari tangan yang memakai Ilmu silat Cakar Rajawali nya mengincar dada Warigalit.


Sreeetttttt


Warigalit terlambat menghindar beberapa saat. Meski berhasil mundur dua langkah namun Cakar Tumenggung Gandara mampu melukai kulit dadanya. Tumenggung Gandara langsung melompat menjauh setelah menyerang.


Seringai lebar menghiasi wajah Tumenggung Gandara.


Warigalit merasakan perih pada dada nya. Lima bekas cakaran tangan tercetak jelas di sana. Dengan murka, Warigalit melepas sarung Tombak Angin nya.


Dengan gerakan cepat karena Ajian Sepi Angin, Warigalit melesat ke arah Tumenggung Gandara. Pria licik itu segera mencabut pedang nya saat Tombak Angin Warigalit menusuk lurus kearah dadanya.


Tranggg


Dengan penuh nafsu, Warigalit langsung menunduk kemudian berputar cepat sambil melayangkan pukulan tangan kiri nya kearah pinggang Gandara.


Tumenggung Jenggala itu gelagapan dan berusaha menahan dengan cakar tangan nya. Warigalit menarik tangan kiri nya dan dengan cepat melayangkan tendangan keras ke arah perut Tumenggung Gandara dengan dengkul kanan nya.


Deshhhhh


Tumenggung Gandara menjerit keras. Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah. Dia muntah darah segar. Warigalit tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kakak seperguruan Panji Watugunung itu segera melompat tinggi ke udara dan melayang turun sambil menusukkan Tombak Angin nya ke arah dada Tumenggung Gandara.


Creeppp


Tombak Angin menusuk dada tembus punggung Tumenggung Gandara. Pria itu melotot sesaat sebelum terkulai tak bernyawa. Dengan cepat Warigalit menendang mayat Tumenggung Gandara untuk mencabut tombak nya dari dada sang Tumenggung.


Warigalit segera menerjang maju ke arah prajurit Jenggala.


Senopati Socawarma langsung menghantamkan tangan nya dengan Ajian Suryapati andalannya. Tumenggung Bayucandra harus berguling ke tanah untuk menghindari serangan ajian itu.


Blam blammmm!!


Ledakan keras terdengar lagi dari pertarungan mereka.


Panji Watugunung yang dari tadi mengamati situasi, melihat Tumenggung Bayucandra terdesak oleh Senopati Socawarma langsung melompat ke arah serangan sinar merah kebiruan yang menuju Tumenggung Bayucandra dan menghadang dengan Ajian Tapak Dewa Api nya.


Dhuarrrr!!!


Ledakan dahsyat tercipta akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi.


Senopati Socawarma langsung terperangah saat dia terdorong mundur beberapa langkah.


Dadanya sedikit sesak.


"Bangsat!


Rupanya kau berisi juga anjing Daha", teriak Senopati Socawarma.


"Aku sudah memberi kesempatan kepada mu, senopati tua. Tapi kau terlalu serakah dan sombong.


Majulah,


Akan ku ladeni kau mengadu ilmu", ucap Panji Watugunung sambil menatap dingin pada Senopati Socawarma.


Senopati andalan Jenggala itu langsung mencabut pedang nya. Kemudian dia melesat cepat menuju ke arah Panji Watugunung sambil berteriak keras,


"Keparat!!


Ku antar nyawa mu ke neraka".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita perjalanan Kang Panji Watugunung ini yak ❤️❤️❤️❤️


Semoga yang sudah memberikan dukungannya selalu di berikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah dari Tuhan yang Maha Esa


Selamat membaca guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2