Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Wyuha Karkathakasrenggi


__ADS_3

"Apa yang sebaiknya kita lakukan kakang?", tanya seorang lelaki berbadan kurus pada seorang lelaki berkumis tebal di sampingnya.


"Kalau melihat jalur nya, sepertinya mereka akan melewati wanua wanua kecil di sepanjang sungai Brantas ini, adik.


Sebaiknya kita segera mengabari teman teman kita di perbatasan", ujar sang lelaki berkumis tebal itu.


Mereka adalah telik sandi yang di kirim untuk menyelidiki pergerakan pasukan Jenggala.


Dengan perlahan, mereka meninggalkan tempat itu. Setelah dirasa cukup jauh, mereka segera bergegas melompat ke atas kuda mereka tempat persembunyian.


Si telik sandi kurus itu segera mengambil seekor merpati surat, kemudian mengikat surat pada kaki merpati. Setelah itu, dia melepaskan burung itu yang segera terbang tinggi ke arah barat dengan cepat.


Burung merpati surat itu terus terbang kearah istana Pakuwon Bedander, lalu hinggap pada kandang merpati surat yang ada di sisi timur istana Pakuwon. Seorang prajurit penjaga yang melihat itu segera menangkap burung itu dan mengambil surat dari kakinya.


Panji Watugunung sedang duduk bersama dengan para perwira prajurit. Sang prajurit penjaga segera masuk ke balai pisowanan Pakuwon Bedander.


"Maaf mengganggu Gusti Pangeran, ada surat dari telik sandi yang baru saja hamba terima", ujar sang prajurit penjaga sambil menyembah.


"Bawa masuk kemari", Panji Watugunung melambaikan tangannya.


Sang prajurit penjaga segera mendekat dan memberikan surat itu.


Panji Watugunung segera membuka sobekan kain putih yang bertuliskan beberapa kata.


Jalur tepi sungai. Perahu lebih dulu.


Panji Watugunung memahami apa maksud dari kata kata itu.


"Rajegwesi,


Besok pagi pimpin orang orang mu ke selatan, dirikan pos pengamanan di sepanjang sungai Brantas.


Berdasarkan berita ini, mereka menyusuri jalan tepi sungai. Mulai besok kita lakukan persiapan di jalur yang mereka lewati", ucap Panji Watugunung yang segera di sambut anggukan kepala dari semua orang yang hadir.


Hari segera berganti.


Pasukan Senopati Narapraja datang. Mereka langsung melebur menjadi satu di perkemahan pasukan Panji Watugunung di tepi Sendang Weru.


Rajegwesi dan pasukan pemanah nya sudah membuat tempat tempat tersendiri bagi mereka untuk menjadi penyerang jarak jauh sekaligus pengintai terhadap kedatangan musuh.


Ribuan anak panah disiapkan. Puluhan gentong minyak jarak bantuan dari Seloageng sudah tertata rapi dan siap digunakan.


Letak tebing batu di barat kali Aksa juga menguntungkan bagi para prajurit Panji Watugunung. Timur Kali Aksa yang merupakan padang rumput hijau akan menjadi medan laga yang sempurna.


Jarasanda dan Ludaka membantu menata batu besar yang akan menjadi senjata mereka. Ratusan pohon kelapa kering di siapkan di beberapa tempat.


Panji Watugunung memerintahkan kepada para prajurit untuk saling bahu membahu dalam menyiapkan perlengkapan.


Prajurit Anjuk Ladang menggali lubang lubang kemudian diisi rumput kering dan minyak jarak.


Jebakan ini di pasang di kiri kanan jalan masuk dekat sungai Brantas.


Warigalit yang bertugas memimpin pasukan berkuda, di bantu Tumenggung Ringkasamba dari Kurawan terus menghapal lokasi lokasi jebakan yang akan dia lewati. Sebagai ahli dalam berkuda, Pasukan Kurawan sangat cocok untuk menyerbu dengan cepat.


Tumenggung Wiguna dan Tumenggung Bayucandra dari Tanggulangin menata tumpukan batu batu di Kali Aksa untuk membendung aliran air sungai kecil itu, sekitar 1000 tombak di hulu sungai dari perkiraan tempat pertempuran. Dengan bantuan seribu prajurit dari Tanggulangin yang pintar membangun bendungan, mereka dengan cepat menyelesaikan tugas membendung kali itu.


Kayu kayu penyangga tertata rapi di sepanjang bendungan yang memotong aliran sungai. Nyaris kali ini menjadi sungai kering berbatu.


Hari itu mereka benar benar bekerja keras.


Keesokan harinya, Pasukan Daha terus menata puluhan jebakan di tebing batu dan hutan kecil di tepi kali Aksa dan Sungai Brantas.


Landung dan Tumenggung Juru memimpin pasukan Karang Anom yang pintar berenang, menata persiapan perahu dan ratusan sampan kecil di wilayah tersembunyi di sisi utara sungai Brantas. Target mereka adalah prajurit Jenggala yang memakai perahu.


Marakeh dan Rakai Sanga sibuk membantu para prajurit dari Wengker yang di pimpin Tumenggung Surontanu mengikat ratusan rumput kering menjadi bola rumput. Lalu menggotong nya ke puncak tebing tebing terjal di sisi barat Kali Aksa.

__ADS_1


Panji Watugunung, Senopati Narapraja, Ki Saketi dan kedua selir Panji Watugunung terus berkeliling mengamati persiapan, sedang di istana Pakuwon Bedander Ayu Galuh dan Sekar Mayang serta Ratri, mempersiapkan segala keperluan makanan para prajurit yang bekerja di bantu para wanita dari seputar Pakuwon Bedander juga Gumbreg, Juminten dan para prajurit perbekalan pasukan Garuda Panjalu.


Di Utara Siwatantra Ranja, Pasukan bantuan baru dari Seloageng sebanyak 500 prajurit mulai mempersiapkan senjata dan kuda untuk membantu setiap tugas. Pimpinan mereka adalah Rakai Kulawu, Akuwu Ganter yang terkenal pandai dalam ilmu keprajuritan.


Mereka terus mempersiapkan diri.


Pada hari selanjutnya, menjelang sore Panji Watugunung yang sedang berbincang dengan Senopati Narapraja, di kejutkan kedatangan Ludaka yang bertugas mengamati situasi di perbatasan.


"Maaf Gusti Pangeran, ada berita penting.


Pasukan Jenggala sudah tiba. Mereka berkemah di sebelah kampung di dekat perbatasan yang berjarak sekitar 700 tombak dari Kali Aksa".


Hemmmm


"Kumpulkan semua perwira prajurit kita di bangsal pisowanan Pakuwon Bedander.


Sekarang", perintah Panji Watugunung pada Ludaka.


Sang bekel prajurit pengintai itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan Senopati Narapraja, kemudian mundur dari serambi balai peristirahatan.


"Senopati Narapraja, selaku wakil Senopati Ganggadara, apakah kau siap memimpin pasukan Daha ini?", tatap Watugunung pada Senopati Narapraja. Meski usia mereka setara, namun secara pengalaman, Narapraja masih di bawah pengalaman Panji Watugunung.


"Maaf Gusti Pangeran, sepertinya Gusti Pangeran lebih layak memimpin pasukan Daha daripadanya hamba.


Gusti Pangeran setidaknya sudah dua kali memenangkan pertempuran walau tidak sebesar kali ini.


Itu sudah cukup bukti, kalau Gusti Pangeran lebih berbakat daripada hamba", ujar Narapraja sambil tersenyum.


"Bukan maksudku untuk merebut posisi mu Senopati Narapraja, namun dalam hutan seharusnya hanya ada satu singa. Kalau sampai dua, maka yang terjadi adalah kebingungan para bawahan dalam mengikuti kebijakan", Panji Watugunung masih menatap wajah Senopati Narapraja.


"Hamba mengerti Gusti Pangeran, toh tujuan kita adalah memenangkan perang ini. Siapa pun yang memimpin, asal Daha bisa menang, bagi hamba itu sudah lebih dari cukup", Narapraja membungkuk hormat.


Panji Watugunung segera tersenyum tipis.


Tak berapa lama kemudian, semua perwira tinggi prajurit Daha berkumpul di bangsal pisowanan Pakuwon Bedander.


Besok merupakan penentuan kerja keras kita menahan serangan Jenggala. Gagal atau berhasil nya kita menahan gempuran Jenggala, tergantung pada kemampuan kita hari ini.


Aku dan Senopati Narapraja sudah menentukan pemimpin pasukan kita. Dan Senopati Narapraja meminta ku untuk memimpin, jadi semua tanggung jawab keberhasilan Daha bertahan dari rencana Jenggala berada di pundak ku", ujar Panji Watugunung yang di sambut anggukan kepala oleh semua orang yang ada di situ.


"Melihat jumlah mereka yang besar, kemungkinan mereka akan menggunakan wyuha (strategi perang) ardhachandra atau kannaya.


Menurut ku, karna mereka jumlah kita lebih sedikit, maka kita gunakan wyuha karkathakasrenggi yang mengandalkan kecepatan di pasukan tengah", timpal Panji Watugunung kemudian.


"Apa maksudmu Dhimas Panji? Coba terangkan pada kami", tanya Warigalit penasaran.


"Begini Kakang Warigalit,


Jika kita memakai wyuha karkathakasrenggi, maka 2000 prajurit berkuda yang kau pimpin bersama Tumenggung Ringkasamba dari Kurawan akan menusuk maju ke arah tengah pasukan dari dua ujung serangan dengan cepat, usai membuat kacau, usahakan kembali secepat mungkin. Biarkan mereka mengejar masuk ke dalam tempat tempat jebakan yang kita buat.


2 Supit Urang masing masing yang terdiri dari 2000 prajurit akan menggempur mereka dari dua arah berbeda. Utara dan Selatan.


Kita bantai pasukan mereka di sana.


Tunggu aba aba, jangan sampai menyerang tanpa menunggu perintah.


Pasukan pemanah akan di bagi dua kelompok.


200 pemanah akan di pimpin Rajegwesi mengincar pasukan Jenggala yang memakai perahu. Mereka akan berperang di bantu pasukan 500 pasukan Karang Anom yang di pimpin oleh Tumenggung Juru", Panji Watugunung menatap ke arah para perwira tinggi prajurit Daha.


"Lantas apa gunanya bendungan di hulu sungai yang kita buat Gusti Pangeran??", tanya Tumenggung Bayucandra dari Tanggulangin.


Panji Watugunung tersenyum kemudian.


"Itu adalah tugas mu Tumenggung Bayucandra,

__ADS_1


begitu terompet tanduk kerbau berbunyi 3 kali, hancurkan bendungan itu dengan 200 pasukan Tanggulangin. Air yang terkumpul akan menenggelamkan kapal di sungai Brantas dan para prajurit yang bertarung di kali Aksa".


Tumenggung Bayucandra manggut-manggut tanda mengerti.


"Sisa 600 pasukan pemanah yang kita miliki akan menyebar di tebing batu di sepanjang sungai. Mereka akan memanah saat pasukan Jenggala mencapai jarak tembak mereka.


Apa kalian semua memahami?", tanya Panji Watugunung kemudian.


"Kami mengerti Gusti Pangeran", semua orang menghormat pada Panji Watugunung.


Malam itu mereka beristirahat dengan tenang, karena besok mereka akan berlaga di medan perang.


**


Di kampung Wadang perbatasan Jenggala, Senopati Socawarma sedang duduk bersila berhadapan dengan Tumenggung Larantapa, Tumenggung Wangkas, Tumenggung Gandara, Demung Sila, serta 2 Demung kembar, Kerpa dan Kerpi.


Di tenda besar itu, mereka menyusun rencana setelah mendengar laporan telik sandi yang baru mereka terima.


"Gandara,


Pasukan Daha rupanya sudah siap menghadang kita. Menurut berita dari telik sandi, mereka ada 7000 prajurit.


Apa saran mu?", Senopati Socawarma menatap ke wajah Tumenggung Gandara.


"Menurut hamba, sebaiknya kita menggunakan wyuha kannaya saja Gusti Senopati.


Jumlah pasukan kita lebih besar. Dengan mudah kita pasti bisa ******* mereka", ujar Tumenggung Gandara penuh percaya diri.


"Benar ucapan Kakang Gandara, pasukan kita adalah pasukan Jenggala yang terlatih.


Besok pasti kita hancurkan mereka semua", ujar Tumenggung Wangkas kemudian.


Tumenggung Larantapa hanya terdiam tanpa bicara. Ada sesuatu yang menggangu pikiran nya.


Senopati Socawarma segera berdiri. Dengan penuh keyakinan, dia berkata.


"Besok kita ***** pasukan Daha"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf lambat upnya 🙏🙏


Lagi ada kerepotan nih guys 😁😁

__ADS_1


Author mengucapkan beribu terima kasih banyak atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2