
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang sangat bersemangat.
Rasanya tak sabar menunggu pagi hari datang.
Malam itu mereka terlelap dalam mimpi indah.
Mimpi bertemu Panji Watugunung.
Matahari terbit di ujung timur, tampak bersiap menghangatkan bumi dan segala isinya
Burung malam mulai menutup mata beristirahat, di ganti kicau burung burung siang di atas ranting pohon.
Ratna Pitaloka mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk turun gunung ke Kabupaten Gelang-gelang.
Sekar Mayang sudah lebih dulu. Diatas kuda hitam nya, semua barang bawaan sudah tertata rapi.
"Kangmbok, belum selesai ya?", tanya Sekar Mayang memandang kakak seperguruannya yang sibuk memasukkan beberapa barang di buntalan kain.
"Tinggal sedikit lagi, surat dari Guru sudah kau bawa Mayang?", Ratna Pitaloka balik bertanya.
"Sudah dari tadi Kangmbok, tuhh diatas si hitam", Sekar Mayang menunjuk kuda hitam tunggangannya.
"Beres!", Ratna Pitaloka lalu mengangkat bawaan nya ke atas kuda tunggangan nya.
Dandanan cantik mereka di padu dengan tampilan pendekar wanita benar-benar tidak bisa di pandang sebelah mata.
Pedang Bulan Kembar terpasang di punggung Ratna Pitaloka, sedangkan Sekar Mayang mengikat Selendang Es di pinggang serta sebuah pedang pendek tergantung di pinggang kiri nya.
Usai bersiap siap dan berdandan, mereka menemui Mpu Sakri untuk berpamitan.
Mpu Sakri duduk di atas kursi kayu
Kedua muridnya duduk bersila di hadapannya.
"Murid mohon pamit guru, doakan kami selamat sampai tujuan" ujar Ratna Pitaloka sambil menghaturkan sembah tanda hormat kepada Resi Mpu Sakri.
"Berhati-hatilah kalian berdua, dunia persilatan itu sangat kejam. Usahakan untuk tetap saling melindungi selama perjalanan" , pesan Mpu Sakri sambil menyerahkan sekantong sedang uang kepeng perak kepada Ratna Pitaloka.
"Ini untuk bekal kalian selama perjalanan, bijaklah dalam menghadapi situasi apapun"
Mata kedua gadis itu berkaca-kaca.
"Terimakasih guru, kami mohon pamit"
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang mundur melangkah.
Lalu melompat ke atas kuda masing-masing.
Setelah menoleh ke arah gurunya, kedua gadis itu menggebrak kuda mereka meninggalkan gapura Padepokan Padas Putih. Debu jalanan beterbangan mengikuti langkah kaki kuda kuda mereka..
Mpu Sakri menatap kearah murid-murid nya sampai mereka menghilang di tikungan bukit..
'Jagad Dewa Batara, lindungi mereka'
**
Di tempat lain nampak Dewi Anggarawati dan rombongan juga bersiap menuju ke ibukota Kadipaten Seloageng.
Panji Watugunung juga sudah bersiap. Pedang Naga Api sudah ada di punggung nya, baju pendekar berwarna hitam berhias benang merah menambah ketampanan pemuda itu, tak lupa kain hitam penghias lengan juga gelang bahu dari akar bahar hitam serta ikat kepala hitam berhias lingkaran putih tanda Padepokan Padas Putih.
Dewi Anggarawati juga sudah berdandan cantik ala Putri Kadipaten. Kemben merah menyala, gelung rambut berhias tusuk rambut emas terlihat serasi dengan rambut panjang nya. Jarit sedengkul, celana merah menutup dengkul nya menandakan bahwa dia bukan putri Kadipaten yang gemulai, tapi juga memiliki kemampuan beladiri. Sebuah pedang pendek dengan gagang kayu berwarna hitam semakin menegaskan dia putri pendekar.
Semua pengawal kadipaten Seloageng juga sudah memakai pakaian kebesaran mereka termasuk Ki Saketi, sang Bekel prajurit.
Usai Ki Saketi membayar penginapan, mereka melompat ke atas kuda mereka. Hari ini, Dewi Anggarawati tidak naik kuda bersama dengan Panji Watugunung. Demi menjaga martabat putri kadipaten Seloageng.
Sebenarnya Dewi Anggarawati tidak peduli, namun setelah sedikit dipaksa Panji Watugunung, akhirnya perempuan cantik itu mengalah dan berkuda sendiri.
Rombongan itu meninggalkan penginapan menuju kadipaten Seloageng. Kuda kuda pilihan mereka melesat cepat menuju gapura barat Kadipaten Seloageng.
Sebelum tengah hari, mereka sudah sampai di gapura barat.
Para prajurit penjaga gapura melihat Ki Saketi langsung membuka jalan, sambil memberi hormat. Rombongan itu terus menuju ke istana Kadipaten Seloageng.
__ADS_1
Sesampainya di gapura istana Seloageng, Ki Saketi segera melompat turun. Di ikuti Dewi Anggarawati, Panji Watugunung dan semua pengawal. Mereka menyerahkan kuda kuda mereka pada pekatik, di gapura istana.
Lalu bergegas menuju Bangsal Pisowanan Kadipaten Seloageng.
Hari itu rupanya sedang ada pisowanan para pembesar istana kadipaten Seloageng.
Adipati Seloageng Tejo Sumirat tampak gagah duduk di singgasana nya dengan mahkota Adipati dan busana sutra hitan berjahit benang emas.
Istrinya, Nararya Candradewi juga tak kalah dengan dandanan khas seorang permaisuri.
Dua Putri Adipati Seloageng, Dewi Anggarasasi dan Dewi Anggarasari juga tampak cantik dengan busana putri istana.
Di hadapan mereka para tumenggung, senopati dan para nayaka praja lain tampak mendengar titah sang Adipati.
Seorang prajurit penjaga, masuk ke arena pisowanan menghentikan titah sang Adipati.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Adipati", ucap sang prajurit sambil menghaturkan sembah nya.
"Ada apa kau mengganggu pisowanan rutin ini penjaga?", kata sang Adipati Seloageng.
"Mohon ampun Gusti Adipati, Bekel Saketi dan Gusti Putri Dewi Anggarawati sudah sampai di gapura pisowanan. Mohon ijin dari Gusti Adipati untuk menghadap", lapor sang prajurit.
Mendengar putri kesayangannya sudah kembali, Adipati Tejo Sumirat berdiri dari singgasana nya. Wajah lelaki setengah baya itu terlihat berseri seri. Senyuman segera menghiasi wajahnya.
"Ijinkan mereka masuk"
"Hamba laksanakan Gusti", sang prajurit penjaga menyembah dan segera mundur.
Tak berapa lama, nampak Dewi Anggarawati di ikuti Bekel Saketi, Panji Watugunung dan para prajurit pengawal masuk ke dalam Bangsal Pisowanan Kadipaten.
Tejo Sumirat segera menghambur ke Dewi Anggarawati di ikuti Nararya Candradewi.
"Anak ku Nduk cah ayu, syukur lah kamu selamat. Romo kangen cah ayu" ucap Tejo Sumirat, sambil tersenyum senang dan memeluk erat putri bungsu nya.
Nararya Candradewi juga memeluk Dewi Anggarawati sambil berkaca-kaca.
"Anak ku cah ayu, Jagat Dewa Batara masih mengijinkan ibu memeluk mu cah ayu"
"Kanjeng Romo, Kanjeng Ibu..
Anggarawati senang bisa bersama Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu lagi hiks hiks"
Dewi Anggarawati menangis bahagia.
Sementara Bekel Saketi dan Panji Watugunung masih berdiri mematung melihat kebahagiaan Adipati Seloageng itu.
"Ayo Ngger Cah ayu, duduk dekat Romo Adipati", ujar Tejo Sumirat sambil menggandeng tangan Dewi Anggarawati
Nararya Candradewi juga ikut menggandeng tangan Dewi Anggarawati seolah tidak mau melepaskan.
Memang, hilangnya Dewi Anggarawati membuat seluruh kadipaten Seloageng bersedih. Putri bungsu Adipati Seloageng itu terkenal ramah dan baik hati.
Seluruh nayaka praja Kadipaten Seloageng turut berbahagia dengan kepulangan Dewi Anggarawati. Mereka tersenyum senang melihat tangis haru Adipati Tejo Sumirat dan permaisuri nya.
Selepas Tejo Sumirat duduk di singgasana nya, Nararya Candradewi duduk di sampingnya, dan Dewi Anggarawati duduk di kursi dekat Romo nya, Bekel Saketi, Panji Watugunung dan pengawal kadipaten yang menyertai segera mengambil sikap duduk bersila dengan rapi.
"Saketi, aku berterimakasih atas pengabdian mu mengawal Putri ku. Aku akan memberi mu hadiah. Juga semua orang yang mengiringi perjalanan" , titah sang Adipati.
"Ampun Gusti Adipati, mengawal Gusti Putri sudah menjadi tugas hamba sebagai abdi dalem kadipaten Seloageng. Hamba tidak mengharapkan imbalan apapun untuk setiap tugas yang saya terima dari Gusti Adipati" , ujar Bekel Saketi sambil menghaturkan sembah nya.
"Hahahaha, bagus..
Aku suka dengan tingkah laku mu juga kesetiaan mu Saketi. Hadiah tetap akan ku berikan. Sabda pandita ratu, tidak boleh di tarik lagi.
Hemmmmm
Siapa kau bocah bagus??"
tanya Adipati Seloageng pada Panji Watugunung.
"Mohon ampun Gusti Adipati, nama saya Panji Watugunung. Murid Padepokan Padas Putih di lereng gunung Penanggungan", jawab Watugunung seraya memberi hormat.
"Hemmmm, murid siapa kau??"
__ADS_1
tanya Adipati Seloageng.
"Saya murid Mpu Sakri , Gusti Adipati", jawab Watugunung sopan.
"Hahahaha,
Resi Tua itu akhirnya mau mengangkat murid juga..", tawa Adipati Tejo Sumirat.
"Jadi kau yang di suruh mengawal kepulangan anak ku?"
"Benar Gusti Adipati" , jawab Watugunung.
"Romo....", suara merdu Dewi Anggarawati membuat Adipati Tejo Sumirat menoleh pada putrinya.
"Ada apa cah ayu?"
"Kakang Panji Watugunung ini yang menyelamatkan saya dari para penculik komplotan Macan Kumbang", Dewi Anggarawati berkata sambil tersenyum pada Watugunung.
"Hahahaha,
Aku sudah menduga sebelumnya.
Pasti dia yang menyelamatkan mu.
Ilmu Kanuragan nya tinggi, apalagi di punggungnya ada pusaka sakti itu" ,Tejo Sumirat tertawa puas.
"Satu lagi yang perlu Kanjeng Romo Adipati tau,
Dia adalah putra Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari Romo"
ujar Dewi Anggarawati sambil menunduk malu..
Semua orang di Bangsal Pisowanan Kadipaten Seloageng terkejut termasuk Adipati Tejo Sumirat, Bekel Saketi dan semua pengawal kadipaten yang mengawal kepulangan Dewi Anggarawati.
Bekel Saketi tak menyangka, pemuda tampan nan pendiam dan berilmu tinggi itu adalah putra Bupati Gelang-gelang, yang berarti dia adalah kerabat keraton Kahuripan.
Tejo Sumirat segera tersadar dari keterkejutan nya, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, sungguh di luar perkiraan..
Dinda Candradewi, lihat lah. Itu adalah calon mantu mu Dinda hahahaha"
Semua orang kecuali Dewi Anggarawati yang tersenyum bahagia melongo mendengar suara dari Adipati Tejo Sumirat.
"Kangmas, benar yang Kangmas katakan? Dia anak adi Panji Gunungsari?" ,tanya Nararya Candradewi sambil melihat wajah Panji Watugunung.
"Iya Dinda iya hahahaha..
Dia pemuda yang kita janjikan perjodohan dengan putri bungsu mu Dinda hahahaha"
Tejo Sumirat benar benar bahagia.
Nararya Candradewi tersenyum lega.
"Oalah Ngger, jadi kamu to jodoh nya Anggarawati. Ibu senang sekali"
"Anggarawati kamu masih menolak di jodohkan dengan pemuda tampan ini? " , tanya Nararya Candradewi menunjuk pada Watugunung.
"Anggarawati bersedia Ibu"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
*bersambung*