Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Jati Diri Dewi Srimpi


__ADS_3

Dewi Srimpi melesat cepat dengan memutari Nyi Kembang Selasih. Dia ingin mencari titik lemah dari wanita yang berdandan layaknya seorang tledek itu.


Nyi Sekar Selasih tidak tinggal diam. Perempuan itu langsung menyabetkan Pecut Ekor Naga ke arah Dewi Srimpi.


Cethhhaaaarrrrr...


Ujung Pecut Ekor Naga yang terbuat dari besi bergerigi tajam melesat cepat kearah Dewi Srimpi. Namun kecepatan Dewi Srimpi dalam berlari membuat ujung Pecut Ekor Naga hanya menghantam tanah.


Dhhhaarr!


Melihat serangan nya tak sampai menyentuh lawan, Nyi Kembang Selasih gusar dan kembali menyabetkan Pecut Ekor Naga kearah Dewi Srimpi yang terus menerus berputar cepat mengelilingi Nyi Sekar Selasih.


Chethharrr chetttaarrr!!!


Rangkaian sabetan cambuk berujung besi itu terus mencoba untuk melukai Dewi Srimpi. Namun tak satu pun serangan Setan Betina dari Gunung Kapur itu berhasil mengenai Dewi Srimpi.


Karena terus menyerang, pertahanan Nyi Sekar Selasih terbuka lebar. Tangan kiri Dewi Srimpi dengan cepat merogoh beberapa jarum berwarna merah dari kantong kulit yang menggantung di pinggangnya. Tangan selir ketiga Panji Watugunung itu mengibas kearah Nyi Sekar Selasih.


Whuuuuuttt..


Shhhrriinggg shriingg!


4 jarum kecil berwarna merah melesat cepat kearah Nyi Sekar Selasih. Perempuan paruh baya itu segera tarik cambuk nya dan segera menyentakkan ujung cambuk kearah jarum kecil beracun Dewi Srimpi.


Thhraaaangggggggg trakkk!!


Dua jarum berwarna merah langsung mencelat saat berbenturan dengan ujung Pecut Ekor Naga, namun dua lainnya terus melesat cepat kearah Nyi Sekar Selasih.


"Keparat kau!", maki Nyi Sekar Selasih sambil berguling ke tanah menghindari jarum berwarna merah lemparan Dewi Srimpi.


Meski berhasil menghindar namun baju perempuan itu kotor dengan tanah dan rumput. Nyi Sekar Selasih marah besar.


Dewi Srimpi tersenyum simpul saat menemukan cara membongkar pertahanan Nyi Sekar Selasih. Dewi Srimpi menancapkan ujung Pedang Kelabang Neraka ke tanah kemudian menendangnya hingga sekepal tanah melesat cepat kearah Nyi Sekar Selasih. Perempuan berdandan menor itu langsung menyabetkan Pecut Ekor Naga nya kearah tanah yang di lemparkan oleh Dewi Srimpi.


Dharrrr!


Kembali Dewi Srimpi melakukan hal yang sama dan Nyi Sekar Selasih terus menghantam tanah dengan cambuk nya. Hingga debu beterbangan di sekitar tempat itu.


Dewi Srimpi kembali melemparkan 4 jarum kecil beracun miliknya ke arah Nyi Kembang Selasih.


Perempuan paruh baya itu gelagapan saat pandangan nya terganggu dengan debu beterbangan di sekitar nya. Perempuan itu segera menyadari bahwa dia masuk ke dalam perangkap Dewi Srimpi.


Segera dia mengibaskan tangan kiri nya yang dilambari Ajian Bayu Samudra sambil tangan kanannya menangkis serangan jarum beracun Dewi Srimpi.


Whuuussshh


Thriiiinnngggggg tringgg!!


Selir ketiga Panji Watugunung segera memakai cadar hitam yang selama ini tersimpan rapi di balik bajunya. Kemudian ia melesat cepat kearah Nyi Sekar Selasih sambil menghantamkan tangan kanannya yang dilambari Ajian Tinju Petir nya.


Gerakan cepat Dewi Srimpi yang tersamar dalam debu yang beterbangan benar benar diluar pengamatan Nyi Sekar Selasih. Setan Betina dari Gunung Kapur itu terkejut bukan main. Buru buru dia menghantamkan tangan kiri nya untuk menangkis hantaman Tinju Petir dari Dewi Srimpi.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ilmu kanuragan tingkat tinggi mereka. Dewi Srimpi terpental ke belakang sejauh 2 tombak sedangkan Setan Betina dari Gunung Kapur itu terpelanting jauh ke belakang. Saat hendak menghantam tanah, cambuk perempuan itu langsung di lesakkan pada sebatang pohon untuk menghentikan laju tubuh nya.


Dewi Srimpi mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya seperti halnya Nyi Sekar Selasih yang meludahkan darah kehitaman dari mulutnya.


"Bocah keparat!


Kau boleh juga. Sebelum ku cabut nyawamu, katakan pada ku siapa guru mu agar aku tahu murid siapa yang aku kalahkan", ujar Nyi Sekar Selasih sambil mendelik tajam ke arah Dewi Srimpi.


"Aku tidak punya guru. Guru ku adalah ayah ku sendiri, Mondhosio atau yang lebih di kenal dengan sebutan Kelabang Koro", Dewi Srimpi perlahan mencabut pedang pendek nya.


Mata Nyi Sekar Selasih melotot mendengar ucapan Dewi Srimpi.


"Kau murid racun tua itu rupanya.


Hemmmmmmm.. Menarik sekali....


Dan kau juga putri nya huahahahahahaha", tawa Nyi Sekar Selasih menggelegar terdengar di telinga semua orang.


"Apa yang kau tertawakan nenek tua?


Apa kau sudah gila?", hardik Dewi Srimpi sambil menatap tajam ke arah Nyi Sekar Selasih.


"Hahahaha..


Kelabang Koro itu tidak menikah, jadi mana mungkin punya anak. Dasar perempuan tolol..


Kelabang Koro mencuri seorang bayi perempuan yang aku ambil dari Tumenggung Mpu Kerta dari Karang Anom. Bayi itu hendak ku jadikan tumbal ilmu awet muda ku.


Kalau benar kau anak Kelabang Koro, berarti benar kau anak itu", ucapan Nyi Sekar Selasih ibarat petir di siang bolong yang menyambar telinga Dewi Srimpi.


Dia teringat pada Kelabang Koro yang terus mengelak saat Dewi Srimpi bertanya siapa ibunya, dan hanya menjawab bahwa ibunya susah mati di bunuh oleh penjahat.


"Ja-jadi kau yang membunuh ibu ku?", tanya Dewi Srimpi dengan terbata-bata.


"Huhhhhh..


Perempuan itu terus memegang baju ku hingga robek saat aku hendak pergi dari Katumenggungan Karang Anom. Terpaksa dia aku habisi hahaha..", jawab Nyi Sekar Selasih sambil tertawa terbahak bahak.


Dewi Srimpi terkejut bukan main mendengar penuturan Nyi Sekar Selasih. Itu sesuai dengan ucapan Kelabang Koro waktu itu. Dewi Srimpi tidak marah dengan Kelabang Koro karena lelaki itu menyayangi nya seperti ayah kandung nya sendiri. Yang membakar hatinya adalah omongan Nyi Selasih yang mengatakan bahwa dia lah pembunuh ibu kandung Dewi Srimpi.


"Dasar perempuan iblis!


Hari ini akan ku balas kematian ibu ku bangsat!", teriak Dewi Srimpi sambil melesat cepat kearah Nyi Sekar Selasih.

__ADS_1


Setan Betina dari Gunung Kapur itu dengan cepat menyabetkan cambuk nya kearah Dewi Srimpi yang bergerak cepat menuju dirinya. Selir ketiga Panji Watugunung itu segera berkelit sedikit saja lalu dengan cepat menangkap ujung Pecut Ekor Naga.


Nyi Selasih terkejut bukan main. Perempuan berdandan menor itu segera menyentakkan cambuknya yang terbuat dari kulit sapi yang dipilin dengan tenaga dalam.


Dewi Srimpi melihat sentakan keras itu segera menginjak tanah dengan keras hingga kaki kanan nya melesak ke dalam tanah sampai mata kaki. Lalu menyalurkan tenaga dalam nya ke cambuk yang di pegang nya.


Dua tenaga dalam tingkat tinggi dari Dewi Srimpi dan Nyi Sekar Selasih merambat dan bertemu di tengah Pecut Ekor Naga.


Bllarrrrrrr!!!


Ledakan terjadi akibat benturan dua tenaga dalam dan Pecut Ekor Naga putus menjadi dua bagian. Dewi Srimpi dan Nyi Sekar Selasih masing-masing terdorong mundur beberapa langkah.


Nyi Sekar Selasih marah besar melihat senjata andalannya putus. Perempuan itu segera melempar gagang cambuk yang terbuat dari besi kearah Dewi Srimpi.


Whhhuuuuuttttthhhh..


Bersamaan dengan gagang cambuk yang melesat ke arah lawan, Nyi Sekar Selasih melesat cepat kearah Dewi Srimpi dengan tangan yang diliputi oleh sinar biru berangin kencang berhawa dingin.


Dewi Srimpi dengan cepat menangkis lemparan gagang cambuk dari Nyi Sekar Selasih dengan pedang pendek nya.


Thrrriiinnnggggg..


Gagang cambuk mencelat dan menghantam kepala seorang anggota pasukan penyergap. Pria itu langsung roboh karena gagang cambuk menancap di kepalanya.


Bersamaan dengan itu, Nyi Sekar Selasih menghantamkan tangan kanannya ke arah Dewi Srimpi. Putri Kelabang Koro itu pun menyambutnya dengan hantaman tangan kiri nya yang di lambari Ajian Tinju Petir.


Blllaaammmmmmmm!!


Nyi Sekar Selasih dan Dewi Srimpi sama sama terpental ke belakang namun Dewi Srimpi masih sempat melemparkan dua jarum berwarna merah kearah Nyi Sekar Selasih.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Chhreepppppph crreepppphhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Nyi Sekar Selasih meraung saat dua jarum Racun Kelabang Neraka menancap di lehernya. Perempatan tua itu menghantam tanah dengan keras. Tak lama kemudian dia melotot lebar dengan mulut berbusa putih. Dia tewas keracunan.


Dewi Srimpi muntah darah kehitaman. Dengan cepat dia menotok beberapa titik nadi lalu menelan pil berwarna hijau. Wajah nya yang sempat pucat berangsur memerah kembali.


"Ibu..


Meskipun aku tidak tahu siapa namamu dan tidak sempat mengenalmu lebih dekat, setidaknya aku sudah membalas dendam kematian mu. Semoga kau tenang di Swargaloka", ucap Dewi Srimpi lirih.


Selir ketiga Panji Watugunung itu segera berdiri. Usai menatap sebentar mayat Nyi Sekar Selasih, perempuan cantik itu segera melesat cepat kearah Panji Watugunung dan Cempluk Rara Sunti yang dikepung oleh para pendekar golongan hitam sewaan Mpu Rikmajenar.


Dari dua belas pendekar berilmu tinggi yang di sewa Mpu Rikmajenar, 3 pendekar yang berilmu paling tinggi sudah tewas di tangan Panji Watugunung, Senopati Warigalit dan Dewi Srimpi. Cempluk Rara Sunti juga sudah membantai 3 orang bersama Panji Watugunung. Sisa 5 orang yang mengepung mereka sedangkan seorang lagi di hadapi oleh Senopati Warigalit usai membunuh Iblis Mata Satu.


Mereka bertarung dengan mengerahkan seluruh kemampuan beladiri mereka masing-masing.


Pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Tumenggung Jarasanda langsung menerjang ke arah pasukan penyergap di bawah pimpinan Akuwu Martayuda dan Bekel Surenggana.


Krreeeeekkkkkk!!


Si anggota pasukan penyergap yang naas langsung terjungkal ke tanah dengan leher patah. Adik ipar Senopati Warigalit itu segera mencabut keris Kyai Klotok andalannya. Lantas dengan cepat, dia melesat kearah seorang anggota pasukan penyergap yang tengah mengeroyok seorang prajurit Panjalu.


Tanpa banyak bicara, Jarasanda langsung menghujamkan keris pusaka Kyai Klotok ke ulu hati si anggota pasukan penyergap.


Jleeeeppppph..


Auuuggghhhhh!


Si anggota pasukan penyergap langsung roboh saat Jarasanda mencabut keris dari ulu hati nya. Darah segar memancar keluar dari lukanya.


Tak hanya sampai disitu, pimpinan pasukan Garuda Panjalu itu langsung melayangkan tendangan keras kearah salah satu dari pengeroyok yang di hadapi nya.


Dhiiieeeessshh...


Si anggota pasukan penyergap yang terkena tendangan keras kaki kanan Jarasanda langsung terpental dan menabrak tubuh kawannya sendiri.


Tumenggung andalan Panjalu itu terus mengamuk bagai banteng ketaton.


Akuwu Martayuda yang baru menebas leher seorang prajurit Panjalu sangat geram melihat Tumenggung Jarasanda yang terus membantai para prajurit nya.


Penguasa Pakuwon Cempaka itu langsung melesat cepat kearah Jarasanda yang baru menusuk perut lawannya. Baju Jarasanda telah berubah warna menjadi merah karena bercampur dengan darah lawan yang telah dia habisi.


Martayuda mengacungkan pedangnya ke arah Tumenggung Jarasanda.


"Antek Jayengrana,


Lawan mu adalah aku, bukan mereka!", teriak Akuwu Martayuda sambil menatap tajam ke arah Jarasanda.


"Pemberontak tengik!


Kau pikir aku takut melawan mu ha? Majulah, Keris Kyai Klotok ku memang haus darah para pengkhianat negara", balas Tumenggung Jarasanda lantang.


Gemeretuk gigi Akuwu Martayuda mendengar ucapan Tumenggung Jarasanda. Segera dia melompat ke arah Jarasanda sembari mengayunkan pedangnya.


Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu langsung menangkis sabetan pedang Akuwu Martayuda dengan Keris Kyai Klotok andalannya.


Thriiiinnngggggg..


Jarasanda segera memutar tubuhnya lalu membuat gerakan tendangan melingkar yang dengan cepat menghantam punggung Akuwu Martayuda dengan tumit kaki kanan nya.


Dhhheeeppppphhh...


Akuwu Martayuda menjerit. Dia nyaris terjungkal ke depan andai tidak merubah kuda kuda nya. Dengan terburu nafsu, penguasa Pakuwon Cempaka itu segera membabatkan pedang nya. Kali ini mengincar leher Jarasanda namun suami Dewi Landhep itu membuka lebar-lebar kaki nya hingga tubuhnya merendah yang membuat serangan Akuwu Martayuda hanya menyambar udara sejengkal diatas kepala nya. Dengan cepat, Jarasanda menusukkan keris pusaka Kyai Klotok ke lengan kanan Akuwu Martayuda.

__ADS_1


Whhhuuuggghhhh...


Keponakan Mpu Rikmajenar itu terlambat menarik lengan tangannya hingga Keris Kyai Klotok masih mampu merobek kulit lengan dan menciptakan luka yang cukup dalam.


Akuwu Martayuda melompat mundur beberapa langkah. Pedangnya nya terlepas dari genggaman tangannya. Dengan cepat ia meraih bubuk putih dan menaburkan benda itu ke atas lukanya. Kemudian menotok urat nadi untuk menghentikan pendarahan.


Usai mengobati luka, Akuwu Martayuda langsung mencabut keris di pinggangnya sambil merapal Ajian Tambak Segara. Tangan kiri Akuwu Martayuda memancarkan cahaya biru kehijauan.


Jarasanda tak mau kalah. Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu langsung merapal mantra Ajian Gugur Bumi andalan nya. Tangan kiri nya di liputi sinar hijau terang.


Akuwu Martayuda melesat cepat kearah Jarasanda sembari menusukkan keris nya. Jarasanda dengan cepat menangkis tusukan keris Akuwu Martayuda dengan Keris Kyai Klotok nya.


Thrrriiinnnggggg...


Tangan kiri Akuwu Martayuda terayun cepat kearah Jarasanda. Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu segera menyongsong nya dengan kekuatan penuh.


Blllaaammmmmmmm!!!


Akuwu Martayuda yang kalah tenaga dalam terpental ke belakang sejauh beberapa tombak. Keris pusaka nya mencelat entah kemana. Jarasanda yang hanya terdorong mundur beberapa langkah langsung melesat cepat kearah Akuwu Martayuda yang muntah darah segar. Jarasanda langsung menjambak rambut Akuwu Martayuda dan bermaksud menancapkan Keris Kyai Klotok ke lehernya.


"Tahan Jarasanda,


Jangan bunuh dia dulu!", teriak Tumenggung Landung yang membuat Jarasanda menghentikan gerakannya. Dia langsung menghempaskan kepala Akuwu Martayuda ke tanah.


Para prajurit Panjalu sudah memenangkan pertempuran itu saat Panji Watugunung menghabisi nyawa seorang pendekar sewaan terakhir yang di hadapinya.


Bekel Surenggana yang melihat keadaan semakin tidak menguntungkan bagi dia segera melompat ke atas kudanya. Dengan beberapa puluh prajurit Pakuwon Cempaka yang tersisa, dia bermaksud untuk melarikan diri. Bekel prajurit Pakuwon Cempaka itu nyaris lolos andai saja tidak ada kedatangan para prajurit lain yang datang ke tempat itu.


"Mau kabur kau Surenggana?", tanya pimpinan prajurit yang baru saja tiba dari arah barat. Tak kurang dari 500 prajurit Pakuwon Semanding di bawah pimpinan Bekel Kontring menutup jalur barat. Memang saat Akuwu Palgunadi menyadari kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh para prajurit Panjalu, dia memerintahkan kepada Bekel Kontring untuk mengawal para prajurit Panjalu dari kejauhan.


"Minggir kau Kontring!


Jangan ikut campur urusan pribadi ku!", teriak Bekel Surenggana sambil menunjuk ke arah Bekel Prajurit Pakuwon Semanding itu.


"Menyerahlah, kau tak mungkin bisa lolos", ujar Bekel Kontring dengan tegas.


"Banyak mulut. Minggir kau", hardik Bekel Surenggana sambil melompat tinggi dari punggung kudanya sembari membabatkan pedang nya ke arah Bekel Kontring.


Melihat itu, Bekel Kontring segera melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaga ke arah Bekel Surenggana.


Shreeeeettttthhh..


Jllleepppppph..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Lemparan tombak Bekel Kontring langsung menembus perut Bekel Surenggana. Pemimpin prajurit Pakuwon Cempaka itu jatuh ke tanah dan tewas dengan tombak menancap di perutnya.


Sorak sorai dari para prajurit Panjalu terdengar. Mereka memenangkan pertempuran di tepi Hutan Soka itu meski harus kehilangan banyak kawan seperjuangan mereka.


Panji Watugunung mengedarkan pandangannya dan mendapati Dewi Srimpi terus menatap ke arah mayat Nyi Sekar Selasih.


"Ada apa Dinda Srimpi?", tanya Panji Watugunung segera.


Bulir air mata mengalir dari sudut mata Dewi Srimpi.


"Aku ingin mencari orang tua ku Denmas Prabu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Author mengucapkan terima kasih atas dukungan semua reader setia BNL mulai episode pertama hingga saat ini.


Sebenarnya dari kemarin ingin close cerita ini cuma melihat dukungan dari teman-teman semua author putuskan untuk melanjutkan beberapa episode lagi.


Semoga saja author tetap bisa memberikan hiburan yang menarik untuk semua reader setia BNL yang baik hati.

__ADS_1


Tetap sehat dan jaga kesehatan selalu.


Salam BNL ⚔️🗡️⚔️🗡️⚔️*


__ADS_2