
Seorang lelaki menggebrak kuda nya dengan cepat. Sudah hampir seharian dia berkuda. Untung saja kudanya termasuk kuda bagus, jadi bisa tahan berlari seharian.
Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda nya. Tujuan nya hanya satu, sampai di Watugaluh secepat mungkin.
Di istana Watugaluh, Panji Watugunung sedang duduk bersama Ki Saketi, Tumenggung Wiguna, Tumenggung Koncar, Warigalit, dan Jarasanda di serambi peristirahatan Pakuwon Watugaluh. Di hadapannya, 5 orang utusan yang kemarin dia kirim, sudah kembali.
Panji Watugunung tersenyum saat membaca surat yang baru dia terima.
"Kalian boleh beristirahat. Kalau nanti aku panggil, kalian boleh kesini", ujar Panji Watugunung.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Bekel Majaya menghormat pada Panji Watugunung diikuti oleh prajurit pengikut nya. Mereka mundur dari serambi peristirahatan.
"Paman Saketi,
Tolong kau panggilkan Dewi Tunjung Biru dan Bekel Setyaka kemari. Ada yang perlu ku bicarakan dengan mereka", titah Panji Watugunung. Ki Saketi segera menghormat pada Panji Watugunung dan mundur menuju ke bangsal pisowanan Pakuwon Watugaluh.
Tak berapa lama kemudian, Ki Saketi sudah kembali ke depan Panji Watugunung dan para petinggi pasukan.
"Mohon maaf Gusti Pangeran,
Ada hal apa yang membuat Gusti Pangeran memanggil hamba kemari?", Bekel Setyaka menghormat di ikuti oleh Dewi Tunjung Biru.
"Aku baru mendapat surat dari Gusti Prabu Samarawijaya. Intinya, aku berhak menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin Watugaluh ke depannya.
Aku ingin mendengar pendapat kalian", Panji Watugunung menatap ke arah mereka berdua.
"Kami patuh pada perintah Gusti Pangeran, hanya kalau di perkenankan hamba tetap mengabdi kepada Watugaluh", Bekel Setyaka memberikan hormat.
"Aku juga Kakang, aku patuh pada mu. Apapun keputusan mu aku terima", Dewi Tunjung Biru menatap ke arah Panji Watugunung.
Putra mantu Maharaja Samarawijaya itu tersenyum.
"Dengarkan aku,
Tunjung Biru, kau tidak bisa menjadi pemimpin di Pakuwon Watugaluh karna kau perempuan, namun karena kau adalah cucu dari Akuwu Watugaluh yang gugur dalam tugas, maka aku tidak bisa mengabaikan mu begitu saja.
Bekel Setyaka, kau sudah berjuang untuk mempertahankan Watugaluh dari pasukan pengacau. Kau juga sudah cukup lama mengabdi kepada Watugaluh.
Maka dengan ini, aku memutuskan bahwa aku akan menikahkan kalian berdua. Agar kalian berdua bisa tetap memimpin Watugaluh kedepannya", titah Sang Pangeran Daha.
Baik Bekel Setyaka dan Dewi Tunjung Biru sama sama melotot mendengar kata-kata Panji Watugunung. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka bahwa Panji Watugunung membuat keputusan itu untuk mereka berdua.
Sejenak mereka berdua saling melirik. Setelah menghela nafas panjang, Bekel Setyaka menghormat pada Panji Watugunung seraya berkata,
"Hamba patuh pada perintah Gusti Pangeran".
Panji Watugunung tersenyum mendengar ucapan Bekel Setyaka, lalu menatap ke arah Dewi Tunjung Biru.
Dengan perlahan, gadis itu mengangguk tanda setuju.
Hari itu, Panji Watugunung meminta Ki Saketi agar menyiapkan upacara pernikahan sederhana untuk Setyaka dan Dewi Tunjung Biru.
Karena masih suasana tegang, mereka hanya memanggil Begawan Sulapaksi dari Klakah untuk menikahkan mereka.
Upacara pernikahan sederhana ini berlangsung sakral dan khidmat. Meski terpaut usia agak jauh, tapi tidak menghalangi jalan penyatuan dua orang calon pemimpin Watugaluh.
Aroma wangi setanggi dan kemenyan memenuhi seluruh bangsal timur Pakuwon Watugaluh yang menjadi tempat pelaksanaan acara ini.
Sekar Mayang, Dewi Srimpi,dan Ratna Pitaloka nampak senyum senyum sendiri.
"Ah akhirnya gadis bodoh itu menikah juga. Kedepannya dia tidak lagi mengejar Kakang Watugunung", ujar Sekar Mayang yang disambut anggukan kepala dari Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.
Mereka tentu saja tidak ingin berbagi cinta suami mereka lagi.
__ADS_1
Selepas tengah hari, Ludaka berlari ke arah Panji Watugunung yang masih mengikuti upacara pernikahan Bekel Setyaka dan Dewi Tunjung Biru.
"Mohon maaf mengganggu Gusti Pangeran,
Ada sesuatu yang perlu Gusti Pangeran lihat", Ludaka memberikan hormat.
Panji Watugunung mengerti. Segera dia berdiri keluar dari tempat upacara mengikuti langkah Ludaka. Mereka berdua segera menuju ke arah pintu gerbang istana Pakuwon Watugaluh.
Seorang prajurit penjaga gerbang sedang memberikan air pada seorang lelaki muda. Nampak jelas raut wajah lelah pada lelaki itu.
Begitu Panji Watugunung dan Ludaka datang, buru buru laki laki itu menghormat pada mereka.
"Ini adalah telik sandi yang hamba kirim ke perbatasan Seloageng Gusti Pangeran", ujar Ludaka.
Hemmmm
"Apa yang membawa mu kemari, telik sandi?", Panji Watugunung menatap ke arah sang telik sandi.
"Mohon ampun Gusti Pangeran, hamba baru mendapat surat dari rekan hamba di Seganggeng. Dia bilang sekitar 10 ribu prajurit Jenggala bergerak dari Tumapel menuju ke arah Daha. Saat ini Mereka berjalan kaki serta memakai perahu dan pedati untuk mengangkut perbekalan", jawab sang telik sandi sambil menata napas.
Panji Watugunung terkejut bukan main. 10 ribu pasukan itu bukan jumlah kecil. Kalau sampai mereka menyerbu Seloageng yang merupakan wilayah terdekat, hanya dalam hitungan hari , dipastikan Seloageng akan jatuh.
Seketika putra Bupati Gelang-gelang itu memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
Panji Watugunung segera meninggalkan gerbang istana Pakuwon Watugaluh setelah memerintahkan sang telik sandi untuk beristirahat. Ludaka mengikuti langkah sang pemimpin.
Upacara pernikahan sudah selesai, Panji Watugunung langsung ke bangsal peristirahatan dan memerintahkan kepada Ludaka untuk memanggil semua perwira tinggi prajurit untuk menghadapnya.
Tumenggung Adiguna, Tumenggung Wiguna, Tumenggung Koncar, Ki Saketi, Warigalit, Jarasanda, Ludaka, Jarasanda dan Rajegwesi sudah berkumpul di serambi balai peristirahatan.
Landung dan Gumbreg setengah berlari menuju balai peristirahatan. Tubuh tambun Gumbreg sampai ngos-ngosan ke arah serambi balai peristirahatan.
Mereka berdua langsung menghormat pada Panji Watugunung dan segera duduk bersila.
"Aku baru mendapat berita penting. Ada sekitar 10 ribu prajurit Jenggala mulai bergerak menuju ke Panjalu lewat Tumapel", ujar Panji Watugunung memulai pembicaraan.
"Ini berita penting Gusti Pangeran, jangan jangan mereka berniat menyerang Daha dari sana", Tumenggung Adiguna mengelus jenggotnya.
"Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak Tumenggung Adiguna, jangan sampai kita ceroboh.
Gumbreg,
Kemasi perbekalan dan perlengkapan pasukan Garuda Panjalu. Setelah selesai, segera laporkan ke aku", titah Panji Watugunung pada Gumbreg, bekel prajurit perbekalan.
"Siap Gusti Pangeran", Gumbreg menyembah dan mundur dari serambi peristirahatan.
"Jarasanda,
Kumpulkan semua prajurit Garuda Panjalu di alun alun Pakuwon Watugaluh", Panji Watugunung menatap ke arah Jarasanda.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Jarasanda menghormat pada Panji Watugunung dan segera meninggalkan tempat itu.
"Tumenggung Wiguna, aku minta kau ke Daha. Laporkan masalah ini pada Senopati Ganggadara. Apapun keputusan dari dia, kau harus datang ke Seloageng. Aku tunggu kedatangan mu disana.
Bawa Bekel Majaya untuk mengiringi perjalanan mu".
Mendengar titah sang Pangeran Daha, Tumenggung Wiguna segera menyembah dan segera bergegas mencari Bekel Majaya untuk berangkat ke Daha.
"Kita tidak boleh membuang waktu. 10 ribu prajurit Jenggala bukan perkara remeh.
Tumenggung Adiguna, Tumenggung Koncar..
Apa kalian bersedia membantu ku menahan pasukan Jenggala di Seloageng??", Panji Watugunung menatap ke arah dua tumenggung itu.
__ADS_1
"Kami adalah abdi Daha. Menghadang prajurit Jenggala adalah kewajiban kami. Mohon kami di ikut sertakan dalam masalah ini Gusti Pangeran", Tumenggung Adiguna menghormat pada Panji Watugunung diikuti oleh Tumenggung Koncar.
Setelah semuanya melapor kesiapan mereka, hari itu juga Panji Watugunung memimpin pasukan Daha meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh. Akuwu baru Watugaluh, Setyaka dan Dewi Tunjung Biru mengantar kepergian Panji Watugunung dan pasukannya sampai di gerbang istana Pakuwon Watugaluh. Panji Watugunung diapit Ayu Galuh dan ketiga selir nya memimpin di depan.
Jumlah pasukan mereka kini tinggal 1300 orang, bergerak cepat menuju ke Seloageng.
Setelah melewati Pakuwon Kunjang, menjelang malam mereka sudah sampai di markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur.
Rakai Sanga dan Marakeh menyambut kedatangan Panji Watugunung dan pasukannya di gerbang markas.
Juminten yang mendengar Gumbreg datang langsung sumringah. Walaupun Gumbreg suka seenaknya sendiri, tapi pada dasarnya dia orang baik.
"Kang Gumbreg, kau kembali....", teriak si Juminten sambil berlari menuju ke arah pria tambun itu.
"Iya Dhek Jum, aku datang untuk mu", Gumbreg langsung melompat turun dari kudanya.
Si Jum begitu senang. Perempuan manis dari Wanua Klakah itu tersenyum bahagia.
Saat Gumbreg hendak memeluk Juminten, Ludaka yang baru turun dari kuda langsung menyambar kerah baju Gumbreg dari belakang. Tentu saja gerakan Gumbreg langsung terhenti seketika.
"Eeeettttt dah apaan sih Lu?", Gumbreg mendelik pada Ludaka.
"Kau ingat perkataan Gusti Pangeran Panji Watugunung saat di Kunjang tadi?", Ludaka mengingatkan Gumbreg.
"Ya ingat Lu, kalau sampai markas bekel prajurit harus segera melaporkan anak buah nya ke serambi utama markas", ujar Gumbreg penuh percaya diri.
"Lha sekarang ini kamu mau apa?", Ludaka mendelik seram.
"Ya memeluk dhek Jum to Lu, aku kangen kan sudah lama tidak bertemu", Gumbreg masih juga ngeyel.
"Kau mau di pindah jadi tukang bersih-bersih kandang kuda sama Gusti Panji?", ancam Ludaka sambil menarik tangan Gumbreg menuju ke serambi utama markas untuk melapor.
'Apes banget sih, pengen mesra dikit saja sudah di ganggu si kampret Ludaka', gerutu Gumbreg dalam hati.
Dhek Jum, tunggu aku dhek..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus mereka ya kakπππ
Terimakasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada novel author iniβ€οΈ
__ADS_1
Semoga selalu terhibur di setiap chapter yang di hadirkan ππππ
Selamat membaca πππ