Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Titisan Dewa Wisnu


__ADS_3

Panji Watugunung menatap ke arah para prajurit Jenggala yang duduk bersila di hadapannya. Mereka terlihat menunduk tanda penyerahan diri kepada sang Yuwaraja Panjalu.


"Aku tidak akan menghukum mati kalian semua. Kalian hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai prajurit.


Sekarang aku tanya,


Siapa yang merupakan perwira prajurit dari pasukan ini?", Panji Watugunung mengedarkan pandangannya.


Patih Rakryan Saka segera berdiri diikuti oleh Demung Kalyana dan beberapa bekel prajurit Jenggala yang masih hidup.


"Dengar wahai para perwira prajurit,


Ku tetapkan kalian sebagai pemimpin para prajurit Jenggala ini. Jangan pernah keluar dari kota Kadipaten Matahun, sampai aku mengijinkan.


Ratusan prajurit Panjalu berjaga di pintu gerbang kota ini. Kalau ada yang berani melanggar aturan ku, maka para prajurit Panjalu berhak menghabisi nyawa kalian tanpa harus mendapat persetujuan dari ku.


Dan kau punggawa sepuh,


Siapa nama mu?", Panji Watugunung menatap ke arah Rakryan Saka segera.


"Mohon ampun Gusti,


Hamba Rakryan Saka, Patih Matahun", ujar Rakryan Saka dengan cepat sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Bagus,


Bawa pasukan mu ke Kepatihan. Laporkan jumlah kalian pada Tumenggung Ludaka.


Pertanggungjawaban mu adalah kepadanya", titah Panji Watugunung yang segera membuat Rakryan Saka mengangguk mengerti. Sebagai pihak yang kalah dalam peperangan, sudah seharusnya mereka patuh pada aturan pihak pemenang. Ribuan prajurit Jenggala yang tersisa segera menuju ke arah Kepatihan dengan pengawalan ketat dari para prajurit Panjalu. Mereka masih belum bisa percaya sepenuhnya.


Kota Kadipaten Matahun porak poranda akibat amukan Butha Agni. Para prajurit Panjalu segera bergotong royong membangun kembali kota Matahun untuk memulihkan kembali keadaan kota besar itu seperti sedia kala.


Melihat itu, para penduduk kota Matahun yang semula ketakutan akan mendapat perlakuan buruk, mulai menaruh kepercayaan kepada Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu.


Di sisi lain, keadaan Dewi Naganingrum yang berangsur membaik membuat hati Panji Watugunung bersuka cita. Dewi Srimpi merawat madu nya itu dengan seluruh kemampuan ilmu pengobatan yang di dapat dari kitab Ilmu Tujuh Obat Mujarab pemberian Nyi Kembang Jenar padanya.


Sedangkan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terus mendampingi Panji Watugunung dalam memimpin pemulihan ekonomi dan pembangunan kota Matahun.


Berita jatuhnya Kota Matahun ke tangan Panji Watugunung segera menyebar ke seluruh wilayah Jenggala dan Panjalu.


Apalagi munculnya Butha Agni yang menggemparkan warga Jenggala yang tahu bahwa Butha Agni adalah perubahan wujud Prabu Airlangga yang mereka anggap sebagai titisan Dewa Wisnu.


Berita itu menyebar ketakutan pada setiap prajurit Jenggala dan warga yang tinggal di wilayah Kerajaan pecahan wilayah Airlangga itu.


Di barat kota Kahuripan, seorang lelaki paruh baya nampak duduk di kursi kayu di sebuah rumah makan yang cukup ramai.


Lelaki tua itu adalah Ki Kertayuwana, seorang saudagar kaya raya yang memiliki pengalaman berkelana dari satu kota ke kota lainnya di wilayah Jenggala. Dengan baju putih berbahan kain mewah, juga kalung dan ikat kepala berhiaskan emas, menunjukkan bahwa dia adalah seorang pedagang yang makmur dan banyak uang.


Di hadapan lelaki tua itu, ada seorang lelaki yang berusia lebih muda, dengan kumis tebal dan jambang lebat. Kelihatan nya dia adalah anak buah Ki Kertayuwana, karena dia begitu sopan pada saudagar kaya itu. Lelaki bertubuh gempal itu bernama Tanujaya.


"Apa benar berita yang aku dengar, Tanujaya?


Kota Matahun telahdi taklukkan oleh para prajurit Panjalu", ujar Ki Kertayuwana sambil mengelus jenggotnya yang mulai memutih.


"Benar Ki,


Seluruh kota Matahun hampir hancur akibat amukan raksasa besar yang berwarna merah. Orang orang bilang, itu adalah Butha Agni", jawab Tanujaya dengan cepat.


"Raksasa merah?


Benar seperti itu, Tanujaya? Kau jangan bercanda dengan ku", tanya Ki Kertayuwana dengan penuh rasa terkejut.


"Benar sekali Ki,


Aku menyaksikan nya dengan mata kepala ku sendiri. Sepekan yang lalu, aku berada di Matahun karena hendak mengambil dagangan yang biasa ku bawa kemari...", Tanujaya lalu menceritakan tentang kisah penyerbuan terhadap Matahun yang mengakibatkan kematian sang Adipati Matahun. Tak lupa dia menceritakan munculnya raksasa besar dengan wajah menyeramkan yang mengobrak-abrik seisi kota Matahun. Meski ada tambahan disana sini namun secara garis besar cerita Tanujaya persis seperti kejadian yang sebenarnya.


Hemmmm..


"Jadi benar titisan Dewa Wisnu sudah kembali ke dunia ini?


Sesuai perkataan Maharesi dari Penanggungan, saat titisan Dewa Wisnu telah kembali, maka kedamaian akan tercipta di dunia", ujar Ki Kertayuwana setelah meneguk air minum dari cangkir yang ada di depannya.


"Apa maksud mu Ki?


Raksasa merah itu titisan Dewa Wisnu?", Tanujaya menatap ke arah Ki Kertayuwana seakan ingin mengetahui jawabannya.


"Benar Tanujaya,


Raksasa merah yang kau lihat adalah ilmu kedigdayaan yang hanya bisa di lakukan oleh titisan Dewa Wisnu", sahut seorang lelaki tua bertubuh kurus dengan jenggot panjang yang berwarna putih yang baru masuk ke dalam rumah makan itu. Namanya adalah Mpu Wiru. Di belakangnya, seorang lelaki muda dengan baju berwarna biru gelap mengekor. Nampak nya lelaki muda adalah murid si lelaki bertubuh kurus. Pakaian lelaki itu seperti seorang pendekar dengan pedang terselip di punggungnya.


Ki Kertayuwana dan Tanujaya segera menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Eh Kakang Wiru,


Mari silahkan duduk kang", ujar Ki Kertayuwana dengan cepat. Mpu Wiru adalah orang yang biasa membantu Ki Kertayuwana dalam perjalanan mengantar barang dagangannya.


"Darimana Mpu tahu tentang ilmu itu?", tanya Tanujaya yang masih penasaran dengan ucapan Mpu Wiru yang segera duduk di kursi samping Ki Kertayuwana.


"Guruku pernah bercerita tentang itu, Tanujaya.


Hanya orang yang menjadi titisan Dewa Wisnu saja yang mampu berubah menjadi raksasa. Aku mendengar bahwa pimpinan Pasukan Panjalu lah yang berubah menjadi raksasa besar itu. Dan sepengetahuan ku, hanya Prabu Airlangga saja yang pernah melakukan perubahan wujud seperti itu.


Jadi bisa dikatakan bahwa pimpinan Pasukan Panjalu itu pasti juga titisan Dewa Wisnu", jawab Mpu Wiru sambil meraih kendi air minum yang ada di atas meja makan.


"Kalau begitu,


Sehebat apapun ilmu kedigdayaan yang di miliki oleh perwira prajurit Jenggala, pasti tumbang jika melawan pimpinan Pasukan Panjalu, ya Mpu?", tanya Tanujaya segera.


"Seperti itulah.


Mana ada orang yang mampu menandingi kekuatan seorang raksasa, Tanujaya. Jika kita berhadapan langsung dengan dia, lebih baik kita segera menyerah kalau tidak ingin mati konyol sia-sia", ujar Mpu Wiru dengan penuh keyakinan.


Setelah pelayan rumah makan itu datang, mereka langsung menyantap hidangan yang disajikan sambil terus bercakap-cakap tentang berita dari Matahun.


Seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam dan memakai caping mendengus dingin. Sedari tadi dia terus menguping pembicaraan antara Ki Kertayuwana dan para kenalan nya.


Segera dia berdiri dan meletakkan beberapa kepeng perak untuk membayar biaya makan nya. Segera dia melangkah keluar menuju ke geladakan kuda yang ada di samping halaman rumah makan.


Dengan cepat, ia menggebrak kuda tunggangan nya menuju ke arah istana Kahuripan.


Menjelang sore, lelaki bertubuh tegap itu sudah sampai di depan istana Kahuripan. Usai menunjukkan lencana bergambar kepala makara pada prajurit penjaga gerbang istana, dia dengan cepat menuju ke istana pribadi Maharaja Garasakan.


Mapanji Garasakan, yang menjadi penguasa Jenggala sedang duduk di atas kursi kebesarannya.


Di hadapannya, Mapatih Dyah Bayunata duduk bersila dengan penuh hormat. Selain Bayunata, putra mahkota kerajaan Jenggala, Mapanji Alanjung juga ikut berbicara tentang rencana kedepannya. Senopati Wirondaya juga ikut sowan ke hadapan Sang Maharaja Kahuripan.


Seorang prajurit penjaga gerbang segera berjalan jongkok ke atas ruang pribadi Raja.


"Ada apa kau menghadap kemari, hai prajurit?", tanya Mapanji Garasakan setelah sang prajurit penjaga gerbang menyembah pada nya.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Kepala prajurit telik sandi ingin melapor kepada Gusti Prabu", jawab si prajurit dengan sopan.


"Ijinkan dia masuk", ujar Maharaja Garasakan sambil mengangkat tangan kanannya.


"Apa yang hendak kau laporkan, Mandalika?


Apa ada hal yang penting?", tanya Mapanji Garasakan segera setelah Mandalika, Tumenggung yang mengurus pasukan khusus telik sandi Jenggala.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Ada berita buruk. Kota Matahun telah jatuh ke tangan para prajurit Panjalu", jawab Tumenggung Mandalika dengan cepat. Wajah lelaki itu menunduk.


"Apa kau bilang?


Bagaimana itu bisa terjadi?", Maharaja Jenggala terkejut bukan main mendengar laporan sang pemimpin telik sandi nya itu.


Tumenggung Mandalika lalu menceritakan semua hal yang di dengar nya di rumah makan tadi.


Semua orang di serambi istana pribadi raja terkejut mendengar omongan Tumenggung Mandalika. Dyah Bayunata apalagi. Bekas punggawa Kerajaan Medang itu pucat seketika saat mendengar ucapan Tumenggung Mandalika tentang raksasa merah yang mengobrak-abrik seisi kota Matahun.


"A-apa benar yang kau katakan, Mandalika?", tanya Dyah Bayunata Sang Mapatih Jenggala dengan terbata bata.


"Benar Gusti Mapatih,


Beberapa orang bahkan melihat langsung raksasa merah yang mengerikan itu. Dan menurut mereka, raksasa merah itu adalah penjelmaan dari pemimpin pasukan Daha yang bergerak kemari", ujar Tumenggung Mandalika dengan cepat.


"Celaka,


Kita dalam masalah besar", gumam Dyah Bayunata lirih tapi masih terdengar oleh telinga para hadirin di serambi istana pribadi raja Jenggala.


"Apa maksud mu Paman?


Kenapa kau terdengar ketakutan begitu?", tanya Maharaja Garasakan yang terheran heran melihat tingkah sang warangka negeri Jenggala. Dyah Bayunata adalah seorang yang terkenal pemberani di kalangan punggawa Keraton Kahuripan.


"Ampun Gusti Prabu,


Ilmu itu adalah Ajian Triwikrama. Sepengetahuan hamba, hanya Gusti Prabu Airlangga saja yang menguasainya karena tubuhnya mampu menjadi wadah bagi ilmu dewa itu. Karena itu Gusti Prabu Airlangga mendapat dukungan dari seluruh penduduk Medang untuk menjadi pemimpin karena dianggap titisan Dewa Wisnu yang mampu berubah menjadi raksasa besar.


Hamba hanya melihat ajian itu digunakan sekali sewaktu Gusti Prabu Airlangga melawan Raja Wijaya dari Wengker.


Karena itu, kita dalam masalah besar jika melawan orang yang memiliki kemampuan Ajian Triwikrama Gusti Prabu", terang Dyah Bayunata sambil menyembah pada Prabu Mapanji Garasakan.

__ADS_1


Kembali semua orang terpana mendengar penjelasan Mapatih Jenggala yang mengingatkan mereka bahwa hanya titisan Dewa Wisnu saja yang mampu berubah menjadi raksasa merah. Semua orang saling berpandangan sejenak tanpa ada yang bersuara.


"Lantas, apa saran mu Paman Mapatih? Tidak mungkin kita menyerah pada Panjalu.


Lebih baik aku mati tapi tetap terhormat daripada hidup dengan tunduk pada Samarawijaya", ujar Maharaja Garasakan sambil menghela nafas panjang. Sejurus kemudian dia kembali memandang wajah Dyah Bayunata.


"Kita tidak punya pilihan lain selain mempersiapkan pasukan Jenggala sebagus mungkin Gusti Prabu.


Saran hamba, jangan biarkan mereka memasuki kota Kahuripan Gusti Prabu. Bentuk pertahanan di Hutan Marsma agar kemungkinan kerusakan kota Kahuripan bisa di hindari", jawab Mapatih Bayunata sambil menyembah.


Hutan Marsma adalah hutan dengan padang rumput yang luas di tenggara Kota Kahuripan. Jika terjadi pertempuran, maka tempat itu adalah tempat yang tepat untuk mengadu siasat perang.


Mendengar jawaban itu, raut muka Mapanji Garasakan langsung cerah. Setidaknya ada harapan untuk bisa memenangkan peperangan.


Sore itu Maharaja Garasakan memerintahkan kepada para bawahannya untuk mulai menata persiapan pertahanan di hutan Marsma yang akan menjadi pertahanan terakhir Jenggala dalam perang melawan Panjalu.


Dyah Bayunata berjalan keluar dari serambi istana pribadi raja Jenggala dengan murung. Sepanjang perjalanan menuju ke arah Kepatihan Kahuripan, raut muka lelaki sepuh itu nampak berkerut seperti memikirkan sesuatu yang berat.


Sesampainya di Kepatihan, seorang lelaki bertubuh tegap dengan kumis tipis dengan gelung kepala ukel dan berpakaian mewah nampak sudah menunggu kedatangan sang warangka praja Jenggala.


Dia adalah Rakryan Samarotsaha, putra angkat Prabu Airlangga saat terakhir memerintah Kahuripan. Selama ini dia mengikuti langkah sang titisan Dewa Wisnu yang bertapa di gunung Pucangan. Setelah Prabu Airlangga moksa, Rakryan Samarotsaha di angkat menjadi Ramadyaksa di Kahuripan. Ada perangai aneh yang tersembunyi pada Samarotsaha namun pria itu pintar menyembunyikan perasaan nya.


Melihat kedatangan Mapatih Bayunata, buru buru Samarotsaha mendekati sang warangka praja Jenggala.


"Selamat sore Gusti Mapatih,


Ada hal apa yang kelihatannya membebani pikiran Gusti Mapatih?", tanya Rakryan Samarotsaha dengan sopan.


Hemmmm..


Dengusan nafas panjang terdengar dari mulut Dyah Bayunata.


"Aku hanya memikirkan cara untuk memenangkan peperangan ini, Gusti Pangeran.


Itulah sebabnya mengapa aku terlihat capek", ujar Dyah Bayunata yang berusaha mengalihkan pembicaraan dengan Rakryan Samarotsaha.


"Apa yang perlu di pikirkan Gusti Mapatih?


Bukankah kita memiliki beberapa Senopati perang yang tangguh dan berilmu tinggi? Apa yang membuat Gusti Mapatih begitu khawatir?", tanya Rakryan Samarotsaha yang masih belum puas dengan jawaban Mapatih Bayunata.


Dyah Bayunata segera menatap wajah Rakryan Samarotsaha. Dia tahu wajah polos Samarotsaha tidak seperti yang ada di tindakan nya. Membuka rahasia di depan Samarotsaha sama juga dengan mempersiapkan lobang maut untuk diri sendiri. Setelah menghela nafas panjang, Bayunata segera berkata.


"Apa kau tahu bahwa Matahun sudah jatuh ke tangan Panjalu?


Sejujurnya,


Aku ragu kita akan memenangkan perang ini"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2