
Hoooeegggghhh
"Kau kenapa Dinda Galuh?", tanya Panji Watugunung melihat Ayu Galuh tiba tiba muntah, dia heran.
"Bau gethuk nya Kangmas..
Hooekhhh
Hoeeeegggggg
Bau nya itu", Ayu Galuh terus muntah muntah sambil menunjuk pada gethuk ketela pohon yang baru dibuat Dewi Srimpi.
Dewi Srimpi segera bergegas mencium bau gethuk nya.
'Aneh, tidak bau sama sekali..'
"Apa maksudmu Ndoro Putri? Ini gethuk ketela pohon baru aku buat, tidak ada baunya sama sekali", Dewi Srimpi geram. Gethuk nya jelas tidak berbau atau pun basi.
Sekar Mayang juga langsung menyambar gethuk ketela di tangan Dewi Srimpi.
"Benar gak bau juga gak basi.
Eh putri liar, hidung mu sedang bermasalah ya? Ini gethuk ketela pohon baunya harum. Coba deh, jangan menghina buatan Srimpi", ujar Sekar Mayang sambil menyodorkan potongan gethuk pada Ayu Galuh.
Hoeeeegggggg
Hoeeggghh..
Kembali Ayu Galuh muntah muntah saat bau gethuk ketela itu menusuk hidung nya.
"Dinda Srimpi,
Tolong kau jauhkan dulu gethuk mu ini dari Dinda Galuh", pinta Panji Watugunung pada selir termuda nya itu.
Dewi Srimpi segera memindahkan nampan berisi gethuk ketela pohon dan pisang rebus itu jauh dari tempat mereka duduk.
"Penjaga...Sini kalian".
Dua orang prajurit penjaga segera bergegas mendekati Panji Watugunung dan keempat istrinya.
"Tolong panggil para tabib istana,
Suruh mereka datang kemari. Cepaaatt!", titah Panji Watugunung pada dua orang prajurit penjaga itu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", dua orang penjaga itu segera menyembah dan mundur dari serambi peristirahatan Kadipaten Lasem.
Panji Watugunung sedang memijit tengkuk istrinya itu saat 2 tabib istana kadipaten Lasem masuk ke balai peristirahatan.
"Mohon maaf Gusti Pangeran, siapa yang sakit??", ujar seorang tabib istana yang sepuh.
"Ini Ayu Galuh dari tadi muntah muntah terus.
Coba kalian periksa", Panji Watugunung segera memberi ruang bagi mereka berdua. Dua orang tabib istana itu segera memeriksa nadi tangan dan tanda tanda yang terlihat. Setelah dua orang itu memeriksa keadaan Ayu Galuh, keduanya berpandangan sejenak lalu saling mengangguk.
"Maaf Gusti Pangeran,
Gusti Putri tidak sakit tapi hamil muda Gusti Pangeran", ujar si tabib istana yang sepuh.
"APAAAAA??!!!!"
Panji Watugunung dan ketiga selir nya langsung kaget, sementara Ayu Galuh dengan wajah pucat malah tersenyum lebar.
"Selamat Gusti Pangeran..
Selamat Gusti Putri..
Akan hamba berikan beberapa obat untuk menguatkan kandungan dan obat untuk mengurangi mual yang Gusti Putri rasakan", ujat tabib sepuh itu segera.
Panji Watugunung segera bergegas memeluk Ayu Galuh segera. Dia begitu gembira istri keduanya itu ternyata tengah berbadan dua.
"Terimakasih Dinda Galuh,
Terimakasih sudah jadi ibu untuk putra ku", Panji Watugunung terharu. Laki laki itu segera mengecup kening Ayu Galuh.
Ayu Galuh tersenyum bahagia mendengar ucapan Panji Watugunung. Dengan lembut perempuan itu mengelus perutnya yang masih rata.
Tiga selir Panji Watugunung terlihat kesal.
"Brengsek, kenapa perempuan itu malah yang hamil duluan?", gerutu Sekar Mayang.
"Lha iya, perasaan kalau sama Kakang Watugunung berkali kali bercinta tiap giliran ku", gumam Ratna Pitaloka menimpali omongan Sekar Mayang.
Dewi Srimpi yang diam, tampak memikirkan sesuatu.
"Kangmbok,
Begawan Sulapaksi Kangmbok, ingat tidak?", mata Dewi Srimpi berbinar binar seketika.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka paham.
"Iya Srimpi, pasti itu adalah pengaruh dari jimat yang di berikan Begawan Sulapaksi pada putri liar itu.
Kita harus meminta Kakang Watugunung untuk mampir ke Wanua Klakah pas kita pulang ke Gelang-gelang nanti", ujar Ratna Pitaloka yang di sambut anggukan kepala oleh Sekar Mayang dan Dewi Srimpi.
__ADS_1
Kabar kehamilan Ayu Galuh segera merebak di istana Kadipaten Lasem. Semua perwira tinggi prajurit Daha yang masih berkumpul, datang ke balai peristirahatan Kadipaten Lasem hanya untuk mengucapkan selamat.
Tepat di saat yang bersamaan, utusan yang di kirim ke Daha kembali membawa titah sang Maharaja Samarawijaya.
Tumenggung Wiguna dan Tumenggung Wasikerta datang bersama seorang pemuda berusia 15 tahun dan seorang wanita berumur yang masih terlihat cantik yang merupakan ibu sang pemuda.
"Bagaimana Tumenggung Wiguna? Sudah kau dapatkan jawaban dari Gusti Prabu Samarawijaya?", tanya Panji Watugunung sambil memandang kearah Tumenggung Wiguna sudah duduk bersila di lantai serambi peristirahatan Kadipaten Lasem.
"Ini adalah putra Waisudana Gusti Pangeran, dan itu adalah janda permaisurinya.
Hamba diutus oleh Gusti Maharaja Samarawijaya untuk menyampaikan nawala ini untuk Gusti Pangeran Panji", Tumenggung Wiguna segera menyerahkan surat dari daun lontar yang terbungkus kain merah.
Panji Watugunung segera membuka kantong kain merah dan membaca nawala yang ada di dalam nya. Pangeran Daha itu segera tersenyum tipis.
"Apa isi surat itu Gusti Pangeran? Maaf kalau hamba lancang", tanya Tumenggung Wiguna.
"Besok kau akan tahu Tumenggung Wiguna.
Paman Saketi,
Siapkan upacara penobatan untuk Adipati Lasem besok", titah sang putra Bupati Gelang-gelang pada wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Ki Saketi menghormat dan mundur dari serambi peristirahatan Kadipaten Lasem.
"Siapa namamu adik?", tanya Panji Watugunung pada pemuda itu.
"Hamba Pranaraja Gusti Pangeran, dan ini ibu hamba Dewi Rukmini", jawab sang pemuda itu dengan sopan.
"Benar kau putra Adipati Waisudana?", tanya Panji Watugunung menyelidik.
"Hamba putra kedua dari ayahanda Adipati Waisudana. Kakak hamba Danapati, di bunuh Mpu Tandi saat mereka menyerbu ke istana Kadipaten Lasem , Gusti Pangeran", jawab Pranaraja sambil menghormat.
"Tumenggung Wasikerta,
Apa benar mereka keluarga dari Adipati Waisudana?", Panji Watugunung menatap ke arah wajah Tumenggung Wasikerta.
"Benar sekali Gusti Pangeran, mereka adalah keluarga Adipati Waisudana", Tumenggung Wasikerta segera menghormat.
Hemmmmm
"Pranaraja dan kau Dewi Rukmini,
Maaf bila tindakan ku baru saja membuat kalian kecewa. Tapi ini adalah urutan tata cara yang harus dilakukan untuk pengangkatan seorang penguasa.
Sekarang kalian boleh bubar. Besok pagi kita semua hadir di balai paseban Kadipaten Lasem", ujar Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran".
**
Cempluk Rara Sunti sudah memasuki wilayah kota Gelang-gelang. Setelah bertanya pada seorang pedagang buah di dekat gapura kota, Cempluk Rara Sunti bergegas menuju ke istana Gelang-gelang.
"Permisi Ndoro Prajurit,
Apa benar Gusti Panji Watugunung tinggal di istana ini?", tanya Cempluk Rara Sunti pada seorang prajurit penjaga gerbang istana Gelang-gelang.
"Siapa kau??
Apa tujuan mu kesini?", tanya prajurit itu dengan tatapan mata dingin seolah menyelidik.
"Saya Rara Sunti. Saya datang jauh dari Wengker. Ingin menyampaikan surat kepada Gusti Panji Watugunung dari gurunya", jawab Rara Sunti dengan sopan.
"Kau tunggu saja disini,
Akan ku laporkan ini pada Gusti Bupati Gelang-gelang", ujar sang prajurit yang segera bergegas menuju ke ruang pribadi Bupati Gelang-gelang.
Panji Gunungsari tampak sedang asyik memandikan burung perkutut peliharaan nya saat sang prajurit itu masuk.
"Ampun beribu ampun Gusti Bupati,
Seorang wanita bernama Rara Sunti dari Wengker, ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Watugunung.
Mohon petunjuk Gusti Bupati", sang penjaga gerbang istana segera menghormat pada Panji Gunungsari.
Hemmmm
"Wengker itu jauh di barat daya. Untuk kesini harus melewati 2 Kadipaten besar.
Baiklah,
Suruh dia masuk kemari, penjaga", titah sang Bupati Gelang-gelang itu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Bupati", sang prajurit penjaga segera menghormat pada Panji Gunungsari dan beringsut mundur dari serambi ruang pribadi Bupati.
Dengan langkah cepat, sang prajurit penjaga gerbang itu sudah sampai di gerbang istana Gelang-gelang.
"Mari silahkan ikuti saya nisanak", ujar sang prajurit penjaga yang berjalan di depan menuju ruang pribadi Bupati. Cempluk Rara Sunti mengekor di belakangnya.
"Siapa namamu Cah Ayu?", tanya Panji Gunungsari setelah Rara Sunti duduk bersimpuh di depan nya.
"Hamba Rara Sunti, Gusti Bupati. Hamba dari Wanua Karangrejo wilayah Pakuwon Tapa di Kadipaten Wengker", Rara Sunti menjelaskan asal usul nya.
"Hemmmmm,
__ADS_1
Jauh sekali rumah mu. Ada keperluan apa kau mencari Panji Watugunung?", tanya Panji Gunungsari segera.
"Hamba di utus untuk mengantarkan surat kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung dari guru nya. Tempo hari saat di Wengker, Gusti Pangeran Panji Watugunung sempat berguru kepada Adik Warok Surogati, yang bernama Warok Suropati", jawab Rara Sunti dengan penuh hormat.
"Warok Surogati? Bukankah itu nama Adipati Wengker?", tanya Bupati Gelang-gelang itu segera.
"Benar sekali Gusti Bupati, Warok Surogati itu adalah kakak dari Warok Suropati, yang juga merupakan guru dari Gusti Panji Watugunung dan juga ayah hamba", jawab Cempluk Rara Sunti segera.
Hmmmmm
"Putra ku sedang ada di Lasem. Mungkin dia segera pulang. Kamu tunggu saja disini.
Tidak baik seorang wanita berkelana sendiri", ujar Sang Bupati Gelang-gelang sambil tersenyum.
Rara Sunti tampak berpikir sejenak. Putri Warok Suropati itu kemudian berkata.
"Baiklah Gusti Bupati. Saya bersedia tinggal di sini menunggu kedatangan Gusti Pangeran Panji Watugunung".
Bupati Gelang-gelang segera berdiri.
"Penjaga,
Antar wanita ini ke bangsal tamu kabupaten Gelang-gelang".
Dua orang penjaga gapura ruang pribadi Bupati segera bergegas datang dan menghormat, lalu mengantar Rara Sunti ke bangsal tamu.
**
Di bangsal paseban agung Kadipaten Lasem.
Upacara penonton Pranaraja menjadi Adipati Lasem berlangsung meriah. Meski masih di bawah umur, pemuda itu cukup menjanjikan. Untuk mengurus pemerintahan, Pranaraja di bantu Dewi Rukmini sebagai wali sampai dia dinyatakan cukup umur untuk mengatasnamakan dirinya sendiri. Wasikerta dianggap sebagai Patih Lasem atas jasa-jasanya dalam mengusir pasukan Jenggala.
Sesuai dengan perintah dari Prabu Samarawijaya, para pemimpin pasukan menerima hadiah atas jasa mereka dalam menghadapi pasukan Jenggala. Masing-masing tumenggung dari daerah bawahan Panjalu di perkenankan pulang ke daerah asal.
Balapati mendapat pangkat setara senopati, dengan tugas tetap dan sebagian kecil daerah timur Kadipaten Lasem, untuk menjaga wilayah Panjalu Utara.
Panji Watugunung mendapat Pakuwon Kunjang dan Watugaluh untuk biaya menghidupi pasukan Garuda Panjalu. Pajak dan upeti dari dua Pakuwon itu langsung menjadi hak pasukan Garuda Panjalu. Juga berkewajiban menjaga keamanan di wilayah Panjalu Selatan.
Pasukan Daha, Anjuk Ladang dan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Panji Watugunung bergerak meninggalkan Lasem menuju ke Anjuk Ladang. Di perbatasan Lasem dan Anjuk Ladang, pasukan Anjuk Ladang di bawah pimpinan Tumenggung Koncar memisahkan diri.
Ayu Galuh yang tengah hamil muda, sangat manja. Sepanjang perjalanan menuju ke selatan, dia hanya mau berkuda dengan Panji Watugunung.
Tiga selir Panji Watugunung hanya bisa menahan diri untuk tidak protes pada suami mereka.
Setelah satu setengah hari perjalanan berkuda, mereka sampai di dermaga Wanua Tajur.
Para penyeberang menggunakan kapal besar untuk mengangkut para prajurit Daha.
Sekar Mayang mendelik sewot kearah Ayu Galuh yang lengket terus dengan Panji Watugunung di haluan kapal.
"Lama kelamaan kehamilan Ayu Galuh itu semakin membuat ku kesal saja Kangmbok Pitaloka", gerutu Sekar Mayang sambil melirik Ratna Pitaloka yang ada di sampingnya.
"Yahh kita harus menyadari nya Mayang, Sang Hyang Widhi Wasa belum memberikan kita kepercayaan untuk mengandung keturunan Kakang Watugunung", Ratna Pitaloka hanya menghela nafas panjang.
"Nanti kita minta jimat pada Begawan Sulapaksi, Kangmbok Pitaloka..
Sebentar lagi kita sampai di Klakah bukan?", Dewi Srimpi seperti mengingatkan mereka. Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang langsung kompak mengangguk.
Begitu turun dari kapal yang bersandar, tiga selir Panji Watugunung segera melesat cepat meninggalkan dermaga. Tujuan mereka hanya satu.
Rumah Begawan Sulapaksi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung dan kelima istri nya 😁😁😁
Beribu terima kasih author ucapkan kepada kakak reader tersayang semuanya yang sudah memberikan dukungannya dalam bentuk like 👍, vote ☝️, dan komentar 🗣️.
Masukan, kritik dan saran kakak reader tersayang author tunggu 🙏🙏🙏
Selamat membaca guys 😁😁😁
__ADS_1