Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Penginapan Bunga


__ADS_3

Di Penginapan Bunga, Naganingrum segera memesan kamar setelah mereka sampai disana. Si pemilik penginapan mengantar mereka ke kamar penginapan.


Di depan pintu kamar penginapan, si pemilik penginapan itu segera menghentikan langkah Panji Watugunung dan ketiga selir nya.


"Nyai,


Saya punya pertanyaan untuk nyai. Jika burung garuda terbang tinggi, kemana dia akan hinggap?", tanya si pemilik penginapan pada Naganingrum.


"Kalau burung garuda terbang tinggi, maka dia akan hinggap ke Daha", sahut Panji Watugunung segera.


Si pemilik penginapan itu segera menoleh ke arah Panji Watugunung yang sedang menggunakan caping.


"Kita adalah kawan, saudara ku.


Aku Ki Sampana, pemilik Penginapan Bunga sekaligus abdi Daha yang setia", ujar lelaki paruh baya itu sambil tersenyum.


"Aku adalah Selo. Aku pengawal Nyi Pangrenyep, juragan kain dari Galuh Pakuan", ujar Panji Watugunung yang mengaku bernama Selo pada Ki Sampana. Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada lelaki paruh baya itu.


"Kalau kau orang jauh, kenapa kau bisa tau kata sandi yang di pakai orang orang Daha?",tanya Ki Sampana sambil mengerutkan keningnya. Dia menatap Panji Watugunung penuh kewaspadaan.


"Aki Sampana,


Tak baik jika berburuk sangka sama orang nya.


Eta Kang Selo orang Kalingga, dia juga warga Panjalu.


Abdi mah memang orang Daha, jadi Kang Selo juga mengikuti langkah abdi Ki", sahut Dewi Naganingrum segera.


Ki Sampana segera tersenyum tipis.


"Jadi nyai adalah penghubung yang akan menjadi mengumpulkan pasukan Daha?", tanya Ki Sampana dengan menatap wajah Naganingrum.


"Leres atuh Ki.


Abdi mah memang orang yang bertugas sebagai penghubung", jawab Naganingrum penuh keyakinan.


"Baguslah kalau begitu nyai..


Ke depannya kita harus berhati-hati dalam bertindak. Adipati Ratnapangkaja menyebar prajurit Muria untuk berkeliling di seputar wilayah kadipaten.


Untung disisi sini, penjaga nya tidak terlalu ketat seperti di pelabuhan lain Nyai", ujar Ki Sampana sambil mengelus dagunya.


Setelah melihat anggukan kecil dari Panji Watugunung, Dewi Naganingrum segera berbicara pelan.


"Mulai besok saudara kita akan datang kemari Ki, tolong siapkan tempat untuk mereka nya..


Tidak perlu di penginapan Ki, asal tempat nya aman, pasti saudara kita akan tenang dalam bertugas", Naganingrum memandang kearah Ki Sampana dengan tatapan mata tajam.


"Akan ku siapkan Nyi.


Karena Nyi Pangrenyep adalah saudari, maka akan ku siapkan tempat terbaik untuk Nyi", ujar Ki Sampana sambil tersenyum.


"Sedang untuk pengawal dan pelayan Nyi, biar jadi satu di kamar ini", imbuh Ki Sampana.


Naganingrum melotot mendengar ucapan Ki Sampana, sedang Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi malah senyum senyum sendiri.


"Enteu Ki,


Abdi mah takut tidur sendiri. Biar Kang Selo yang menjaga abdi dengan sekamar dengan abdi", ujar Naganingrum sambil melirik ke arah Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka yang ganti mendelik sewot mendengar ucapan Naganingrum.


'Huh, dasar licik', gerutu Ratna Pitaloka dalam hati.


Jadilah malam itu, Panji Watugunung menemani tidur Dewi Naganingrum.


Pagi menjelang tiba di pelabuhan Keluwih. Cahaya matahari pagi terasa hangat setelah malam yang dingin.


Naganingrum menatap lekat wajah suaminya yang masih tertidur pulas setelah melewati malam yang panas berdua. Tangan halus perempuan cantik Putri Galuh Pakuan itu perlahan mengelus wajah Watugunung.


Mendapat sentuhan lembut itu, Panji Watugunung segera terbangun dari tidurnya. Sebentar kemudian, bibirnya tersenyum manis melihat tangan Dewi Naganingrum yang sedang asyik mengusap wajahnya.


"Selamat pagi Dinda Naganingrum", ujar Panji Watugunung yang segera mengecup kening putri Darmaraja itu.


"Selamat pagi Akang Kasep,


Akang hebat semalam", Naganingrum tersenyum penuh arti. Panji Watugunung hanya senyum senyum saja sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kamar tidur.


Pagi itu usai sarapan pagi, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk persiapan menata para prajurit pasukan Garuda Panjalu yang akan datang ke Muria lewat pelabuhan Keluwih.


Ki Sampana memiliki sebuah rumah yang tersembunyi di balik hutan kecil di utara Pakuwon Keluwih.


Selama sepekan, pasukan Garuda Panjalu terus berdatangan yang terbagi menjadi beberapa kelompok kecil.


Ludaka menyamar sebagai tukang bangunan yang ingin mengadu nasib ke Muria. Dia datang dengan 150 prajurit nya.


Landung menyamar menjadi nelayan yang akan menjual ikan mereka. 150 prajurit mengikuti langkah nya.


Rajegwesi berperan sebagai saudagar kaya yang ingin mengunjungi Muria. Mereka membawa 200 orang bawahan.


Jarasanda menyamar sebagai pedagang arak beras. Bersama Manahil, dia membawa 200 orang.

__ADS_1


Hari terakhir Gumbreg bersama Rakai Sanga dan Marakeh menyamar sebagai pedagang hasil bumi. Bersama, mereka membawa 150 prajurit.


Pada hari ke enam, Arimbi dan Laras datang dengan 50 wanita dan 100 pria. Mereka menyamar sebagai rombongan penari yang ingin mencari penghasilan tambahan di Muria.


Dengan kekuatan 1000 prajurit terlatih, pasukan Garuda Panjalu yang menyamar di Pakuwon Keluwih bersiap untuk bergerak sesuai arahan dari pemimpin mereka.


Panji Watugunung sedang menatap langit malam yang cerah akibat sinar bulan purnama.


Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka duduk menemani sang suami. Sedangkan Dewi Naganingrum sudah tidur sejak tadi sore.


Tiba tiba terdengar suara berisik dari arah timur penginapan seperti orang bertarung. Panji Watugunung segera melompat ke arah suara pertarungan itu. Dua istri nya segera mengikuti langkah sang suami.


Di bawah sinar bulan purnama, nampak sepasang pendekar muda sedang di keroyok 6 orang prajurit Kadipaten Muria. Pertarungan tidak seimbang itu, membuat sepasang pendekar muda mulai terdesak.


Si pendekar wanita baru membabatkan pedang nya, namun si perwira prajurit Muria dengan cepat menghindari sabetan pedang sambil melayangkan pukulan keras ke perut si pendekar wanita.


Bukkkkk


Si pendekar wanita itu terpental ke belakang. Si perwira prajurit Muria yang melihat kesempatan, langsung melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya mengincar leher si pendekar wanita.


Saat pedang perwira prajurit Muria hampir memotong leher si pendekar wanita, si pendekar pria yang sedang menghadapi para prajurit, segera melompat ke arah si pendekar wanita itu dan menangkis sabetan pedang dari perwira prajurit Muria.


Traanggg...


Si pendekar pria segera menarik mundur si pendekar wanita sejauh dua tombak ke belakang.


"Menyerah saja Abyakta,


Kau tidak akan menang melawan kami", teriak si perwira prajurit Muria sambil tersenyum sinis.


Phuihhh


"Jangan jumawa, Pawana. Aku masih belum kalah dari mu, penjilat", balas Abyakta sambil meludah ke tanah.


"Dasar tidak tahu di untung!


Aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan kepada mu tapi jawaban mu selalu membuat kuping panas.


Kalian semua,


Tangkap mereka berdua hidup atau mati", perintah Pawana pada prajurit Kadipaten Muria.


Mendengar suara itu, para prajurit Muria segera menerjang maju ke arah Abyakta.


Abyakta tahu bahwa peluang nya untuk kabur sangat tipis. Sambil terus melindungi Bratawati, Abyakta terus menangkis sabetan pedang dari para prajurit yang mengeroyok nya.


Trangg


Namun seorang prajurit lainnya segera menyabet kaki Abyakta dengan pedangnya. Abyakta melompat ke udara menghindari sabetan pedang, namun sebuah pukulan keras mendarat di dada Abyakta.


Bukkk


Abyakta terpelanting ke belakang. Dia menyusruk tanah. Bratawati yang melihat pasangan nya terluka dalam segera mendekati Abyakta sambil memegang perutnya yang sakit bukan main.


"Kakang,


Kau tidak apa-apa?", tanya Bratawati sambil memandang kearah Abyakta yang terduduk sambil muntah darah.


"Aku tidak apa-apa Bratawati, kau sebaiknya segera kabur mumpung masih ada waktu.


Aku akan mengulur waktu untuk mu.


Pergilah", ujar Abyakta sambil meludah darah ke tanah.


"Tidak Kakang,


Lebih baik mati bersamamu dari pada harus hidup tanpa dirimu", tegas Bratawati sambil tersenyum kecut menatap wajah Abyakta.


Sementara itu, para prajurit Muria semakin mendekati Abyakta dan Bratawati.


Seorang prajurit melompat ke arah Abyakta sambil mengayunkan pedangnya.


Sreeetttttt


Aarrgghhh


Teriak kesakitan segera terdengar dari mulut sang prajurit saat sebuah ranting kayu menancap di telapak tangannya.


Panji Watugunung dan Dewi Srimpi serta Ratna Pitaloka begitu tiba di lokasi pertarungan itu langsung bersembunyi di balik pepohonan dekat arena pertarungan.


Awalnya mereka tidak berniat ikut campur dalam pertarungan sengit itu karena mereka dalam penyamaran, namun saat prajurit Muria itu hendak membunuh Abyakta, tangan Panji Watugunung segera meraih ranting kayu di tempat persembunyian mereka kemudian melemparkannya ke arah tangan si prajurit.


Melihat anak buahnya terluka, Pawana menjadi geram.


"Bangsat!


Siapa yang berani membokong prajurit Muria?


Cepat keluar!", teriak Pawana sambil mengacungkan pedangnya.

__ADS_1


Dari rimbun pepohonan, Panji Watugunung yang memakai caping, keluar bersama Dewi Srimpi yang memakai cadar hitam juga Ratna Pitaloka yang menutupi wajah nya dengan kain hitam.


"Aku yang melakukan nya", ujar Panji Watugunung sambil waspada.


"Siapa kau, orang bercaping?


Berani sekali kau ikut campur dalam urusan prajurit Muria", teriak Pawana sambil mengacungkan pedangnya ke arah Panji Watugunung.


"Hehehehe, cecunguk seperti kalian tidak pantas mengetahui siapa kami.


Majulah sekarang", Panji Watugunung segera mengambil kuda kuda jurus nya.


"Cari mati kau rupanya.


Baik, aku kabulkan permintaan mu", usai berkata demikian, Pawana segera melompat kearah Panji Watugunung sambil mengayunkan pedangnya.


Whuttttt


Sabetan pedang Pawana dengan mudah di hindari oleh Panji Watugunung segera. Sementara 4 prajurit yang ada mengeroyok Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.


Namun dengan cepat, dua selir Panji Watugunung menghabisi nyawa keempat prajurit dengan mudah.


Sementara itu, si prajurit yang terluka telapak tangannya mencoba untuk melarikan diri, namun sebuah jarum tajam melesat cepat menuju leher sang prajurit.


Shinggg!!!!


Creppp


Aughhhhh


Si prajurit itu langsung roboh dengan mulut berbusa tanda keracunan. Melihat anak buahnya tewas berjatuhan, Pawana segera berupaya melarikan diri dari arena pertarungan.


Panji Watugunung yang melihat gelagat Pawana, langsung merapal Ajian Guntur Saketi.


Saat Pawana melakukan gerak tipu untuk mengecoh lawan, sebuah sinar putih kebiruan segera menyerang dadanya.


Blarrrr!


Ledakan keras tercipta dari sinar putih kebiruan dari ujung jari telunjuk Panji Watugunung. Rupanya dia menggunakan tahap awal Ajian Guntur Saketi, yaitu Jari Guntur.


Pawana langsung tersungkur ke tanah setelah dada kanan nya bolong tembus punggung. Dia tewas tanpa sempat berteriak.


Melihat lawan sudah tewas, Panji Watugunung dan kedua istrinya hendak pergi tapi Abyakta dan Bratawati segera menghadang jalan mereka.


"Terimakasih atas bantuannya, pendekar muda", ujar Abyakta sambil membungkukkan badannya.


"Kami hanya lewat, tidak suka ada keributan saat kami mau tidur, jadi kau tidak perlu repot-repot berterima kasih kepada ku", ujar Panji Watugunung segera.


"Pendekar sudah menyelamatkan nyawa kami, mohon ijinkan kami membalas kebaikan pendekar", Bratawati kali ini ikut bicara.


"Terserah kalian, tapi kalau ingin mencari kami, datang saja ke Penginapan Bunga" , ujar Panji Watugunung yang segera melesat cepat menuju ke penginapan di ikuti Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.


Abyakta dan Bratawati hanya bisa pasrah melihat kepergian Panji Watugunung dan kedua istrinya.


Pagi menjelang tiba. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang penghuni Pakuwon Keluwih.


Pagi itu Panji Watugunung berniat untuk mencari berita terbaru dari pasukan Daha saat Ki Sampana, sang pemilik penginapan datang ke meja makan mereka.


"Nyi Pangrenyep,


Ada berita penting Nyi"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca kak 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2