
Saat prajurit Panjalu melakukan penyerbuan ke istana Kadipaten Lasem yang telah di kuasai pasukan Jenggala, di istana Daha Sang Prabu Samarawijaya duduk di ruang pribadi raja dengan gelisah.
Ranggawangsa sang Nayakapraja duduk bersila di hadapan nya. Tak berapa lama kemudian Mapatih Jayakerti memasuki ruangan itu.
Setelah menyembah kepada Sang Prabu, Mapatih Jayakerti duduk bersila di lantai bersama Ranggawangsa dan Senopati Daksa.
"Bagaimana Jayakerti? Apa berita itu benar?", Sang Prabu Samarawijaya menatap wajah Mapatih Jayakerti dengan penuh harapan. Berharap berita itu hanya kabar angin belaka.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Berita itu memang benar, Lasem sudah jatuh ke tangan pasukan Jenggala. Adipati Waisudana dan seluruh anggota keluarga nya di bantai dengan keji oleh Mpu Tandi dan anak buahnya", Mapatih Jayakerti menghormat pada raja Daha itu.
Seketika lemas Sang Prabu Samarawijaya. Permaisuri nya, Dyah Kirana adalah putri Lasem, kakak Waisudana. Mereka masih terhitung saudara sepupu, karna ibu Samarawijaya adalah kakak dari ayah Waisudana. Dari berita itu merebak, Dyah Kirana langsung menangis. Dengan adanya kepastian ini, maka permaisuri Daha itu pasti bersedih hati.
"Bagaimana cara ku menghibur Yayi Kirana??, gumam Sang Prabu Samarawijaya.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu,
Pasukan Daha sudah berangkat menyerbu istana Kadipaten Lasem yang di kuasai pasukan Jenggala. Apalagi ada Balapati yang bergabung, pasti mereka bisa menumpas mereka", ujar Ranggawangsa sambil menghormat.
"Ya semoga saja begitu Paman Ranggawangsa,
Daksa,
Siapkan pasukan istana Daha untuk berjaga jaga dari kemungkinan terburuk.
Jayakerti,
Panggil Watugunung dan pasukannya. Suruh mereka bergerak ke Utara. Siapa tahu bantuan nya berguna. Kali ini, aku minta kau sendiri yang berangkat ke Gelang-gelang", titah Sang Prabu Samarawijaya segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Senopati Daksa dan Mapatih Jayakerti segera menghormat dan mundur dari istana pribadi raja.
Mapatih Jayakerti segera melompat ke atas kuda nya. Tumenggung Adiguna yang baru sembuh dari luka luka nya akibat pertempuran Kali Aksa, di minta Jayakerti untuk menemaninya di perjalanan menuju Gelang-gelang. Sepuluh prajurit dan seorang Bekel yang bernama Mpu Kumba mengiringi perjalanan mereka. Mereka memacu kudanya melesat meninggalkan istana Daha menuju ke Kabupaten Gelang-gelang di timur istana Daha.
**
Sementara itu,
Perang di istana Kadipaten Lasem berlangsung aneh. Usai menjebol gapura barat istana, para prajurit yang berhasil masuk kebingungan. Di dalam istana Lasem tidak terlihat prajurit Jenggala sama sekali.
Sring sringggg sringgg
Ratusan anak panah melesat cepat menuju ke arah prajurit Daha.
Aarrgghhh!!
Seketika jerit kesakitan akibat tusukan anak panah terdengar dari pasukan Daha. Mereka di sergap.
Sring sringggg sringgg...
Arrgghhhh!!
Ratusan anak panah kembali menghujani pasukan Daha. Sekalipun mereka sudah lebih waspada, namun korban tewas terus berjatuhan dari pihak Daha.
Pasukan Daha yang di pimpin Tumenggung Wasikerta sadar dalam posisi berbahaya.
Sring sringggg!!
Beberapa panah berapi menerabas cepat kearah sisi bangunan di samping gerbang barat.
Api langsung berkobar begitu anak panah berapi menyentuh dinding kayu bangunan yang sudah di lumuri minyak jarak.
Melihat api yang menyala cepat, Tumenggung Wasikerta segera memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk mundur.
Senopati Mpu Tandi tersenyum tipis mendengar pasukan Daha mundur. Dari atas kudanya, pria bertubuh besar itu mengelus jenggotnya.
Dia melihat ke langit pagi itu sebentar, kemudian menoleh ke arah Tumenggung Srenggapati yang memimpin barisan pasukan Jenggala di sebelahnya.
Tumenggung Srenggapati segera mengangguk.
"Serang mereka!!!", teriak Tumenggung Srenggapati dengan lantang.
Ribuan prajurit Jenggala di bawah pimpinan Tumenggung Srenggapati menyerbu pasukan Panjalu dari gunung Lasem yang ada di sisi Utara istana kadipaten. Prajurit Daha yang baru saja di serang anak panah, terkaget saat pasukan Jenggala menyerbu dari sisi utara.
Pertempuran sengit segera terjadi.
Tumenggung Srenggapati segera memacu kudanya mendekati Tumenggung Wasikerta. Seorang prajurit Panjalu yang menghadang langsung kena tebas pedangnya.
Crashhhh
Sang prajurit Panjalu langsung tewas dengan kepala terpisah dari badannya. Tumenggung Srenggapati terus merangsek maju mendekati Tumenggung Wasikerta yang sedang di hadang prajurit Jenggala yang menggunakan tombak.
Tumenggung Lasem itu melenting ke udara menghindari tusukan tombak prajurit Jenggala dan melayang turun di belakang sang prajurit.
Creeppp
__ADS_1
Aughh
Sang prajurit Jenggala langsung tewas bersimbah darah saat pedang Tumenggung Wasikerta menusuk dada kanan nya. Dari arah belakang Tumenggung Srenggapati mengayunkan pedangnya.
Sreeetttttt
Angin dingin berdesir kencang mengincar leher sang Tumenggung. Seketika Wasikerta segera menjatuhkan diri ke tanah dan berguling menghindari sabetan pedang Tumenggung Srenggapati sambil meraih tombak prajurit Jenggala yang baru saja tewas di tangan nya.
Tumenggung Lasem segera melempar tombak ke arah punggung Tumenggung Srenggapati yang masih berada di atas kuda nya.
Srakkk
Tumenggung Jenggala itu buru buru menundukkan tubuh nya dan turun dari kudanya.
Dengan cepat, Tumenggung Wasikerta segera melesat ke arah Tumenggung Srenggapati sambil mengayunkan pedangnya. Mendapat serangan tiba-tiba, Srenggapati segera berguling ke tanah.
Whuttttt
Creppp
Hieeeeekhhhh..
Tebasan pedang Tumenggung Wasikerta menebas leher kuda hitam sang perwira prajurit Jenggala. Kuda hitam tunggangan kesayangan Tumenggung Srenggapati tewas dengan leher nyaris putus.
Perwira tinggi prajurit Jenggala itu marah besar.
"Bangsat!!
Beraninya kau bunuh kuda kesayangan ku", teriak Tumenggung Srenggapati dengan wajah merah padam.
"Sebentar lagi kau akan menyusul kuda mu itu ke neraka bajingan..".
Tumenggung Lasem itu menyeringai sambil mengacungkan pedang nya kearah Tumenggung Srenggapati.
Jalannya pertempuran sebenarnya berimbang karena walaupun kalah jumlah, para perwira tinggi prajurit Daha terdiri dari orang-orang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.
Sedangkan prajurit Jenggala hanya terdiri dari para prajurit biasa yang belum pernah sekalipun menghadapi situasi seperti ini.
Tumenggung Srenggapati segera melompat ke udara dan membabatkan pedang nya kearah leher sang Tumenggung Lasem.
Wasikerta segera menangkis sabetan pedang dari Srenggapati dengan pedang nya.
Tranggg....
Benturan pedang beraliran tenaga dalam tingkat tinggi itu menciptakan bunga api kecil dan bunyi nyaring yang memekakkan telinga.
Whuttttt
Blarrrrr!!
Dua tumenggung itu langsung terlempar ke arah berlawanan. Wasikerta segera berdiri setelah jatuh ke tanah. Dadanya sedikit sesak, dari sudut bibirnya darah segar mengalir.
Disisi lain, Srenggapati lebih parah. Dia muntah darah segar, tanda luka dalam serius.
Melihat kesempatan untuk menghabisi nyawa lawannya terbuka lebar, Tumenggung Wasikerta segera berlari cepat menuju Tumenggung Srenggapati yang baru bangkit.
Sabetan pedang Tumenggung Wasikerta langsung mengincar dada sang perwira prajurit Jenggala.
Srenggapati yang masih merasakan sakit pada dadanya, berusaha menangkis dengan pedang nya.
Tringgg
Namun karena kalah tenaga, pedang nya tak mampu menahan beban serangan dari Tumenggung Wasikerta hingga pedang nya sampai mepet ke dadanya.
Diam diam Tumenggung Wasikerta segera mencabut keris pusaka yang tersimpan di punggungnya.
Dan....
Creppp
Arghhhhh
Tumenggung Srenggapati meraung keras saat keris pusaka Tumenggung Wasikerta menembus perutnya. Perwira prajurit itu terhuyung huyung mundur menahan sakit akibat tusukan keris.
Tumenggung Wasikerta langsung menyabetkan pedang kearah leher Tumenggung Srenggapati.
Crashhhh
Kepala sang perwira prajurit Jenggala itu segera menggelinding ke tanah. Dia tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya.
Gondho, si mata mata prajurit Jenggala yang tak jauh dari situ diam diam beringsut mundur mendekati Senopati Ganggadara. Dia bermaksud membalas kematian junjungan nya.
Karena berpakaian prajurit Daha, Senopati Ganggadara tidak mencurigai maksud Gondho.
Diam diam, Gondho mencabut keris dari pinggang nya. Dengan cepat ia menusuk perut Senopati Ganggadara yang masih duduk di atas kuda nya.
__ADS_1
Creeppp
Arghhh
Senopati Ganggadara menjerit saat keris Gondo menusuk perut nya.
Senopati Narapraja yang sudah mencurigai adanya maksud tidak baik, langsung menebas lengan sang mata-mata Jenggala itu seketika.
Crashhhh
Aughhhhh
Tangan kanan Gondho langsung putus seketika. Belum sempat dia berdiri setelah berjongkok menahan sakit, Senopati muda Maitreya langsung menebas leher nya.
Crashhhh
Gondho si mata mata Jenggala tewas bersimbah darah dengan badan terpisah menjadi dua.
Melihat panglima pasukan Daha roboh, Narapraja dan Maitreya segera mendekat. Tusukan keris Gondho sangat dalam hingga melukai isi perut sang panglima pasukan Daha.
"Bagaimana ini Kakang Narapraja? Apa yang harus kita lakukan?", Maitreya gugup. Sebagai perwira muda yang minim pengalaman, menghadapi situasi seperti ini membuat Maitreya tidak bisa berfikir jernih.
"Kita mundur dulu. Luka Gusti Senopati Ganggadara sangat parah.
Cepat!
Tarik mundur pasukan kita", teriak Narapraja.
Maitreya segera memerintahkan prajuritnya untuk meniup terompet tanduk kerbau sebanyak dua kali
Tutttttt
tuuuttttttttttttt!!
Mendengar suara isyarat itu, perang segera berhenti. Pasukan Daha langsung membentuk pagar betis di sekeliling para perwira tinggi prajurit.
Perlahan mereka bergeser ke selatan sambil terus mengacungkan senjata masing-masing.
Tumenggung Kencak dan Tumenggung Suralaya yang merasa menang berniat memburu pasukan Daha. Tapi kepalan tangan Senopati Mpu Tandi membuat mereka berhenti.
"Kenapa kita tidak menghabisi mereka Gusti Senopati?", tanya Tumenggung Kencak penuh ketidakpuasan terhadap keputusan sang panglima perang.
"Jangan bodoh Kencak, buka matamu dan lihat sekeliling mu!", teriak Senopati Mpu Tandi sambil mendelik tajam kearah Tumenggung Kencak.
Tumenggung Kencak segera menyadari maksud dari Senopati Mpu Tandi. Pasukan Jenggala kehilangan sepertiga jumlah pasukannya, sedang Daha hanya kehilangan seperempat nya saja.
Dengan begini kekuatan mereka berimbang. Kalau di paksakan untuk menyerang, maka sudah pasti mereka akan kesulitan untuk menang.
Senopati Mpu Tandi menatap ke arah mundur nya pasukan Panjalu.
"Hari ini kita lepaskan mereka, besok saat bantuan dari Kahuripan datang,
Kita hancurkan mereka!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kang Panji kemana???🤔
Masih beristirahat, ntar lagi juga muncul 😁😁
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁😁😁