Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Menunggu Waktu


__ADS_3

Panji Watugunung lantas melangkah menuju ke tempat tidur nya. Dia benar-benar mengantuk. Melihat sang suami mereka melangkah ke atas ranjang, tiga istri Panji Watugunung saling berpandangan satu sama lain.


Naganingrum mengedipkan matanya pada Rara Sunti dan Srimpi. Mereka bertiga langsung tersenyum penuh arti. Saat hendak naik ke atas ranjang, terdengar suara Panji Watugunung.


"Boleh ikut tidur disini, tapi awas kalau berani memancing ku untuk bermain cinta".


Mendengar ancaman dari Panji Watugunung, senyum ketiga istrinya langsung pudar. Meski demikian mereka bertiga tetap ikut tidur di samping sang pangeran mahkota.


Hari semakin siang.


Dua orang pelayan yang ditugaskan untuk membangunkan Panji Watugunung dengan setia berdiri di depan pintu kamar tidur.


Saat hampir tengah hari, Panji Watugunung terbangun dari tidurnya. Ketiga istri nya pun sudah bangun dari tidur mereka. Sepertinya mereka telah terjaga dari tadi.


Perlahan Sang Yuwaraja Panjalu mengucek matanya dan segera berdiri dari tempat tidur nya.


"Selamat siang Kakang Panji. Ayo cuci muka dulu", ujar Cempluk Rara Sunti yang segera mendekati Panji Watugunung sambil membawa segendok air cuci muka.


Panji Watugunung tersenyum tipis saja, kemudian mencuci muka dengan air yang di berikan oleh selir bungsu nya itu.


"Akang Kasep,


Kita sudah di antos eta Pangeran Sepuh di istana pribadi nya. Hayu kita kesana", ujar Dewi Naganingrum sambil tersenyum manis.


"Sejak kapan kalian tau kita tahu Pangeran Arya Prabu menunggu kedatangan kita?", tanya Panji Watugunung sambil memandang wajah ketiga istrinya.


"Sejak tadi Denmas,


Dua orang pelayan memberi tahu kita bahwa Pangeran Arya Prabu menunggu kita untuk makan awalnya, cuma karena kita tidur mereka tidak berani membangunkan..


Nah saat kita bangun tidur dan keluar kamar, seorang prajurit memberi tahu bahwa kita di tunggu Pangeran Arya Prabu di istana pribadi nya", jawab Dewi Srimpi segera.


Hemmmm


"Baiklah,


Ayo kita temui Pangeran Arya Prabu", ucap Panji Watugunung yang segera berdiri dari tepi ranjang tidur nya.


Mereka segera bergegas menuju ke arah istana Lodaya dimana Sang Penguasa Kepangeranan Lodaya sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat siang, Pangeran Jayengrana.


Mari silahkan duduk", sambut Pangeran Arya Prabu dengan ramah.


"Terima kasih atas sambutan nya Gusti Pangeran. Maaf jika aku terlambat hadir memenuhi panggilan mu", ujar Panji Watugunung segera.


Panji Watugunung segera duduk bersila di lantai serambi istana pribadi Pangeran Lodaya diikuti oleh ketiga istrinya. Pangeran Arya Prabu menyusul duduk di sebelah nya."


"Ah kau ini bicara apa?


Jika kau tidak kelelahan karena menyelamatkan nyawa ku dari para pemberontak, mana mungkin kau bisa kesiangan bangun tidur?", Pangeran Arya Prabu tersenyum tipis.


"Lantas ada apa kau memanggilku kemari, Gusti Pangeran?


Apa ada hal penting yang perlu dibicarakan?", ujar Panji Watugunung sambil menatap wajah sepuh Arya Prabu. Penguasa Tanah Perdikan Lodaya itu tersenyum simpul.


"Begini Pangeran Jayengrana,


Pembicaraan kita semalam terpotong oleh kisruh yang terjadi. Aku bermaksud untuk melanjutkan pembicaraan kita tentang rencana lamaran Arya Tanggung untuk Dewi Anggraeni, adikmu.


3 hari lagi, Arya Tanggung dan para pengawal ku akan ke Gelang-gelang dengan membawa seserahan pernikahan pada Dewi Anggraeni.


Apa itu bisa diterima?", tanya Pangeran Arya Prabu sambil menatap ke arah Panji Watugunung.


"Apa tidak terlalu cepat, Gusti Pangeran?


Bukankah keadaan sekitar istana Lodaya belum pulih sepenuhnya karena pemberontakan Macan Kumbang semalam?", Panji Watugunung mengelus dagunya.


"Tidak apa-apa, Pangeran Jayengrana.


Dengan musnahnya Kelompok Macan Kumbang, maka bisa di pastikan Lodaya akan baik baik saja. Aku sangat berterimakasih kepada mu atas bantuan yang kau berikan. Menjadi besan Bupati Gelang-gelang sekaligus ipar mu adalah kehormatan besar untuk Tanah Perdikan Lodaya", ujar Pangeran Arya Prabu segera.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu, Gusti Pangeran Arya Prabu.


Namun ada satu hal yang ingin ku pinta dari mu", Panji Watugunung segera menatap ke arah Arya Prabu.


"Apa itu Pangeran Jayengrana? Katakan saja. Bila aku mampu, pasti akan ku penuhi", Arya Prabu tersenyum simpul.


"Jika sewaktu-waktu terjadi perang dengan Jenggala, aku minta Lodaya tidak mendukung Jenggala", ujar Panji Watugunung dengan tegas.


"Kalau itu sudah lama menjadi keputusan ku, Pangeran Jayengrana.


Kalau pun kau meminta Lodaya untuk membantu menghadapi Jenggala, aku bersedia. Ini sebagai bentuk balas budi ku kepada mu", ucap Pangeran Arya Prabu segera.


Mendengar jawaban itu, Panji Watugunung tersenyum penuh arti.


Siang itu, Arya Prabu menjamu Panji Watugunung dan rombongannya dengan hidangan khas istana Lodaya di sasana boga. Pelbagai jenis makanan disajikan untuk mereka.


Usai perjamuan makan, Panji Watugunung meminta undur diri dari Lodaya. Walaupun Pangeran Arya Prabu masih sedikit keberatan dengan kepergian mereka, tapi dia juga tahu bahwa Panji Watugunung memiliki kewajiban untuk rakyat Kayuwarajan Panjalu yang dipimpin nya.


"Tunggu kedatangan kami di Gelang-gelang, Pangeran Jayengrana", ujar Pangeran Arya Prabu sambil membungkuk hormat.


"Kami mohon pamit untuk pulang ke Gelang-gelang, Gusti Pangeran", ujar Panji Watugunung yang segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh ketiga istrinya juga Demung Rakai Sanga beserta para pengawal setia mereka.


Rombongan Panji Watugunung segera melesat meninggalkan istana Lodaya menuju ke Utara. Pangeran Arya Prabu mengantar mereka hingga ke gerbang istana.

__ADS_1


Lewat tengah hari, Panji Watugunung dan rombongannya sudah sampai di dermaga penyeberangan tepi sungai Brantas. Kedatangan mereka cukup mengagetkan pemilik kapal penyeberangan karena dandanan mereka yang berubah. Jika awal berangkat mereka berdandan layaknya pendekar dan petani, maka saat pulang mereka memakai busana kebesaran masing-masing.


"Mohon maaf, apa Gusti ini adalah bangsawan dari Daha?", tanya si pemilik kapal penyeberangan dengan sopan.


"Benar, Ki.


Ini adalah bangsawan Daha. Memangnya kenapa?", jawab Rakai Sanga yang ada di depan.


"Mohon maaf jika kemarin hamba tidak sopan pada Gusti sekalian", ujar si pemilik kapal penyeberangan dengan takut-takut.


"Sudahlah Ki, Gusti Pangeran tidak akan mempermasalahkan hal semacam itu.


Seberangkan kami, ada urusan penting yang harus dilakukan", ujar Demung Rakai Sanga segera.


Si pemilik kapal penyeberangan segera memerintahkan kepada para anak buah nya untuk melajukan perahu penyeberangan usai rombongan Panji Watugunung naik.


Dengan cepat, perahu penyeberangan membelah arus sungai Brantas yang sedikit besar karena musim hujan mulai turun di wilayah Negeri Panjalu.


Usai perahu penyeberangan merapat di dermaga penyeberangan di wilayah Pakuwon Ganter, rombongan Panji Watugunung segera turun dari perahu. Rakai Sanga segera memberikan bayaran penyeberangan. Meski awalnya si pemilik kapal penyeberangan menolak, tapi setelah Panji Watugunung sendiri yang memberikan, si pemilik kapal penyeberangan itu hanya bisa menerima.


Rombongan Panji Watugunung segera memacu kuda mereka menuju ke arah barat laut menuju kota Kabupaten Gelang-gelang.


Usai melewati kota Pakuwon Ganter, dan melewati tapal batas wilayah Kadipaten Seloageng dan Kabupaten Gelang-gelang, mereka terus memacu kuda mereka.


Menjelang sore Panji Watugunung dan rombongannya sudah sampai di kota Gelang-gelang. Mereka segera memacu kudanya menuju ke arah Istana Gelang-gelang.


Begitu sampai di gerbang istana Istana Gelang-gelang, dua orang prajurit penjaga gerbang istana segera membungkuk hormat kepada Panji Watugunung dan rombongannya. Mereka segera memberi jalan.


Panji Watugunung memacu kudanya menuju ke arah Keputran istana diikuti oleh ketiga istrinya, sementara Rakai Sanga segera memimpin pasukan pengawal untuk beristirahat di kesatrian yang ada di belakang Keputran Gelang-gelang.


Mereka segera membersihkan diri masing masing.


Panji Gunungsari yang mendapat laporan dari seorang prajurit tentang kedatangan Panji Watugunung segera menuju ke Keputran Gelang-gelang di temani oleh Dewi Pancawati.


Di dalam kamar pribadi, Panji Watugunung yang baru selesai berganti pakaian di bantu ketiga istrinya di kejutkan dengan ketukan pintu kamar.


Tok tok tok..


"Mohon ampun bila hamba mengganggu Gusti Pangeran,


Kanjeng Bupati Gelang-gelang menunggu Gusti Pangeran di serambi Keputran", ujar seorang e


dayang istana dari luar pintu kamar.


Dewi Srimpi segera membuka pintu kamar dan berkata kepada si dayang istana.


"Katakan pada Gusti Bupati, Denmas Panji akan segera kesana", ujar Dewi Srimpi segera.


"Baik Gusti Selir, segera hamba laksanakan", jawab si dayang istana yang segera berlalu menuju ke serambi Keputran Gelang-gelang.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera bergegas menuju ke serambi Keputran Gelang-gelang untuk menemui Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati.


"Sembah bakti mu ku terima Ngger Cah Bagus, dan para mantu ku sekalian.


Duduklah, aku sudah tidak sabar untuk mendengar berita yang kalian bawa dari Lodaya", ucap Sang Bupati Gelang-gelang.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera duduk bersila di hadapan Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati.


Segera Panji Watugunung menceritakan tentang keadaan di Lodaya, juga peristiwa pemberontakan Macan Kumbang yang mereka hadapi di istana Lodaya, juga tentang rencana lamaran Arya Tanggung untuk Dewi Anggraeni tiga hari lagi.


Raut muka Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati berubah ubah mendengar penuturan putra sulung mereka.


"Jagat Dewa Batara,


Rupanya begitu ceritanya. Romo bangga pada mu Nak, kau bukan saja menyelesaikan permasalahan adikmu, tapi juga turut mendapatkan dukungan dari Tanah Perdikan Lodaya", ujar Panji Gunungsari sambil tersenyum bangga.


"Ibu juga tidak menyangka bahwa permasalahan yang di hadapi Pangeran Arya Prabu begitu pelik, untung saja kau yang ada disana Ngger Cah Bagus", timpal Dewi Pancawati dengan penuh kebanggaan.


"Untuk lamaran Arya Tanggung, sebaiknya Romo Bupati sendiri yang menerima. Saya ingin pulang ke Kadiri.


Saya khawatir jika utusan yang saya suruh ke kadipaten kadipaten di wilayah Negeri Panjalu sudah datang membawa berita Kanjeng Romo.


Karena itu, besok pagi saya akan pulang ke Kadiri untuk mengetahui perkembangan yang terjadi", ujar Panji Watugunung segera.


"Iya Ngger Cah Bagus, Romo tidak akan menghalangi niat mu.


Romo mengucapkan terima kasih atas bantuan yang kau berikan", Panji Gunungsari tersenyum tipis.


Malam itu mereka berbincang hangat melepas kerinduan.


**


Pagi menjelang tiba di istana Kahuripan. Di istana pribadi raja, Maharaja Mapanji Garasakan sedang duduk di kursi nya. Di hadapannya, Mapatih Jenggala Dyah Bayunata dan putra mahkota Jenggala, Mapanji Alanjung sedang duduk bersila.


Mapanji Garasakan nampak jelas menatap wajah Dyah Bayunata, Sang Mapatih Jenggala usai mendengarkan uraian tentang persiapan rencana mereka.


"Jadi semua sudah kau tata, Paman Bayunata?", tanya sang Maharaja Jenggala sambil mengelus kumisnya.


"Sesuai perintah Gusti Prabu, semua sudah di siapkan. Apalagi hasil panen di beberapa wilayah perbatasan sangat bagus, bisa menunjang rencana kita menaklukkan Daha", ujar Dyah Bayunata sambil tersenyum tipis.


"Lantas bagaimana dengan para prajurit kita? Apa sudah paman siapkan juga?", sambung Mapanji Garasakan yang nampak bersemangat mendengar jawaban Mapatih Jenggala itu.


"Pengangkatan perwira baru yang mumpuni sudah kita lakukan Gusti Prabu,


Di wilayah Lwaram, Senopati Udawara dan 10 ribu prajurit sudah bersiap.

__ADS_1


Di Matahun, Senopati Jambuwana telah menata 10 ribu prajurit untuk menggempur pertahanan Daha dari tengah.


Sedangkan di barat Lawor wilayah Tumapel, Senopati Mpu Mardewa sudah bersiap dengan 10 ribu prajurit untuk menyerbu Daha dari arah selatan.


Tinggal menunggu perintah dari Gusti Prabu untuk bergerak", ujar Dyah Bayunata dengan berapi-api.


Hemmmm..


"Selepas seribu hari moksa nya Kanjeng Romo Airlangga di Belahan, aku akan meminta Begawan Tunggul Manik untuk menghitung hari baik itu Paman Bayunata.


Bersabarlah sejenak", ujar Mapanji Garasakan sambil menatap ke arah langit pagi hari itu.


**


Di Istana Katang-katang, di dalam gudang penyimpanan pangan istana, Demung Gumbreg sedang merebahkan tubuhnya diatas dipan kayu jati yang menjadi tempat istirahat nya.


Lelaki bertubuh tambun itu sedang mendengkur keras.


Sementara para anak buahnya yaitu Weleng, Gubarja dan Widarba sibuk menghitung jumlah barang pajak dan upeti yang baru di kirim dari Watugaluh dan Kunjang.


Para prajurit perbekalan yang berjumlah 15 orang bolak balik mengangkut padi dan jagung yang di kirim dengan pedati. Badan mereka penuh dengan keringat.


Pun tiga bawahan Gumbreg, peluh mereka sampai menetes akibat tuntutan laporan yang harus di serahkan pada Patih Saketi nanti siang.


Senopati Warigalit yang kebetulan lewat, menyempatkan diri untuk menengok kesiapan lumbung pangan istana Katang-katang sebelum berangkat ke arena pelatihan para prajurit baru Kadiri.


"Kog cuma kalian bertiga, mana atasan kalian?", mendengar suara Warigalit, tiga orang bawahan Gumbreg segera menoleh ke sumber suara.


Melihat kedatangan Warigalit, tiga orang bawahan itu langsung ketakutan.


"Anu Gusti Senopati, eee Gusti Demung anu itu..", Weleng gugup saat menjawab.


Hemmmm


"Ona anu.. Jawab yang benar, dimana Gumbreg?", bentak Warigalit segera.


Tiga bawahan Gumbreg itu pucat seketika. Mau memberi tahu takut kena omel Gumbreg, tidak di beritahu bisa bisa kena murka Warigalit.


Akhirnya Weleng memberanikan diri untuk menjawab setelah mendapat isyarat anggukan kepala dari Widarba dan Gubarja.


"Anu Gusti Senopati, Gusti Demung sedang tidur", ujar Weleng dengan lirih.


"Kurang ajar, makan gaji buta dia..


Dimana dia sekarang? Cepat katakan?", Warigalit menatap tajam ke arah tiga bawahan Gumbreg segera.


"Di-disana Gusti Senopati, di sudut gudang", ujar Weleng dengan terbata-bata.


Warigalit segera menuju ke arah yang ditunjuk Weleng. Dan benar saja, Gumbreg tampak tidur sambil mendengkur keras.


"Dasar pejabat sinting,


Waktu nya kerja malah asyik tidur. Brengsek", gerutu Warigalit sambil menendang kaki dipan kayu jati tempat tidur Gumbreg.


Brakkkk!!


Kaki dipan kayu langsung hancur terkena hantaman kaki Warigalit. Dipan langsung oleng dan Gumbreg yang tengah tidur pulas langsung menggelinding ke lantai gudang.


Gedubraaakkk..


"Aduh biyung, keparat mana yang berani mengganggu tidur ku?", ucap Gumbreg yang kepala benjut menabrak tiang kayu gudang. Pria tambun itu mengelus kepalanya yang benjol sambil berdiri.


"Aku yang melakukan nya, kenapa?", ujar Warigalit dengan sengit.


Gumbreg yang sudah bersiap marah, seketika menoleh.


"Kau mau aku...


Ehhh Gusti Senopati Warigalit", Gumbreg langsung blingsatan saat tau Warigalit sudah berkacak pinggang di hadapannya.


"Kau ini ya, jam kerja malah asyik tidur. Sudah bosan jadi Demung kau Mbreg?", Warigalit mendelik ke arah Gumbreg. Pria tambun itu langsung terdiam tak menjawab.


"Duh mimpi apa sih aku barusan?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2