
Sesuai perkiraan Senopati Narapraja, pasukan Jenggala dibawah pimpinan Senopati Udawara memakai wyuha Wukir Segara.
Ribuan prajurit berkuda menjadi ujung tombak wyuha sedang pada badan wyuha, ribuan prajurit pejalan kaki nampak bergerak menggerombol bersenjatakan tombak dan dan tameng.
Senopati Narapraja segera mengangkat tangan kanannya. Seorang prajurit yang bertugas meniup terompet tanduk kerbau segera menjalankan tugas nya.
Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!!
Dengan rapi, para prajurit Panjalu segera membentuk wyuha Garuda Nglayang.
Senopati Maitreya membentuk sayap kanan Garuda, sedangkan Senopati Ringkasamba memimpin pasukan di sayap kiri.
Senopati Narapraja dengan gagah diatas punggung kudanya, sebagai kepala Garuda ditemani oleh Tumenggung Wiguna dan Tumenggung Jayadipa dari Lasem. Di dalam badan Garuda tersembunyi 2 ribu prajurit pemanah. Lawan tidak akan melihat karena tersamar pada prajurit yang memakai tamemg dan tombak.
Bende perang di pukul bertalu-talu untuk menyemangati para prajurit Panjalu.
Umbul umbul yang membawa nama pasukan juga terlihat mencuat diantara mereka. Ada yang menggunakan bendera biru langit bersulam gambar Garuda yang menandakan adanya pasukan Garuda Panjalu diantara mereka, juga umbul umbul lain yang menjadi kebanggaan masing-masing pasukan Daha.
Saat pasukan hampir mencapai jarak tembak panah, Senopati Narapraja segera mengangkat tangan kanannya. Bunyi nyaring bende segera berhenti dan pasukan Panjalu berhenti.
Senopati Narapraja segera menyambar bendera putih, lalu memacu kudanya menuju tengah medan perang. Tumenggung Wiguna segera mengikuti langkah sang pemimpin tertinggi prajurit Daha.
Melihat itu, Senopati Udawara segera menyambar bendera di tangan seorang prajurit Jenggala dan memacu kudanya menuju tengah tanah lapang. Tumenggung Girimaya segera menyusul Senopati Udawara ke tengah medan perang.
"Sebagai tata krama peperangan, aku ingin memperingatkan kalian.
Kembalilah ke Jenggala, tarik pasukan kalian maka kami akan membiarkan kalian pulang dengan selamat", ujar Senopati Narapraja sambil menatap ke arah Senopati Udawara.
Phuihhhh
"Harusnya kalianlah yang menyerah pada kami.
Segera letakkan senjata kalian, atau kami musnahkan kalian semua", teriak Senopati Udawara sambil menatap tajam ke arah Senopati Narapraja.
"Sepertinya tidak ada lagi yang bisa dibicarakan.
Bersiaplah untuk menghadapi kami", ucap Senopati Narapraja yang segera mengendalikan kuda tunggangan nya untuk kembali ke pasukan Panjalu. Tumenggung Wiguna mengekor di belakangnya.
Senopati Udawara pun segera kembali ke pasukan Jenggala diikuti oleh Tumenggung Girimaya.
Begitu sampai di dalam pasukan, Senopati Narapraja segera mengangkat tangan kanannya dan terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring.
Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!
Para prajurit Panjalu segera memekarkan diri membentuk badan Garuda yang besar.
Senopati Udawara segera mencabut pedangnya dan mengacungkan nya ke depan.
"Serang mereka!!!!", teriak Senopati Udawara dengan lantang. Ribuan prajurit Jenggala berlari ke arah pasukan Panjalu.
Riuh rendah teriakan mereka memompa semangat untuk berperang. Suasana begitu menegangkan.
Para prajurit pemanah dari Daha segera memasang anak panah pada busurnya dan bersiap menembak. Saat para prajurit Jenggala sudah mencapai jarak tembak, Senopati Narapraja segera menurunkan tangan kiri nya.
Ratusan prajurit Panjalu yang ada di depan langsung berjongkok.
"Tembaaaakkkkk!!!!", teriak Senopati Narapraja segera.
Shrrrinnngggg!
Shringg!! Sringghhh!!
Ribuan anak panah bagai hujan langsung meluncur tinggi ke udara dan melesat turun ke arah pasukan Jenggala yang berlari mendekat.
Tumenggung Girimaya yang memimpin pasukan pejalan kaki melihat bahaya, langsung menarik tali kekang kudanya dan meraih tameng yang diikat pada badan kudanya.
Crreepppp creeppp!
Creeppphhh!
Aughhhh ougghh!
Aaarrghhh!!
Tumenggung Girimaya lolos dari sergapan anak panah para prajurit Panjalu dengan berlindung di bawah tameng nya. Namun para prajurit Jenggala yang tidak siap, langsung menjadi korban anak panah pasukan Panjalu.
Mereka menjerit memilukan hati dan roboh dengan anak panah menancap di tubuh mereka masing-masing.
Senopati Narapraja tersenyum tipis melihat keberhasilan serangan itu. Pengalaman bersama Panji Watugunung di pertempuran Kali Aksa mengajarkan nya cara ini.
Melihat ribuan prajurit nya tewas tertembak anak panah pasukan Panjalu, Senopati Udawara terkejut bukan main.
Dia yang minim pengalaman berperang benar benar tidak menyangka bahwa Senopati Narapraja akan memakai tipuan semacam ini.
Sisa prajurit yang masih hidup terus berlari menuju ke arah pasukan Panjalu.
Saat gelombang hujan anak panah kedua, para prajurit Jenggala yang tewas lebih sedikit dari yang pertama karena mereka menggunakan tameng untuk melindungi diri dari hujan anak panah.
Senopati Narapraja segera menurunkan tangan kanannya dan bende langsung berbunyi nyaring. Para prajurit Panjalu segera bersiap dengan mencabut senjata mereka masing-masing untuk menyongsong serangan para prajurit Jenggala.
__ADS_1
Perang segera pecah di Padang rumput itu.
Sayap kanan yang di pimpin Senopati Maitreya langsung bergerak menyapu sisi kiri wyuha Wukir Segara pasukan Jenggala. Bersenjatakan pedang, Senopati Maitreya langsung menggempur pertahanan pasukan Jenggala.
Jerit kesakitan akibat tusukan pedang dan tombak mewarnai gerakan sayap kanan Garuda Nglayang.
Melihat sisi kiri wyuha nya di gempur, Senopati Udawara segera memerintahkan kepada Senopati Bojonegoro, Mpu Rudra untuk menghalaunya.
Pria sepuh itu segera memimpin pasukan Bojonegoro menghadang laju sayap kanan wyuha Garuda Nglayang dari Daha.
Dengan bersenjatakan pedang, Mpu Rudra mendekat ke arah Senopati Maitreya.
Seorang prajurit Daha yang menghadang laju kuda nya langsung di tebas.
Crasshhh!!
Kepala si prajurit Daha langsung menggelinding ke tanah. Senopati Maitreya yang tengah mengamuk, melihat kedatangan Mpu Rudra. Dengan cepat ia menggebrak kudanya menuju ke arah Mpu Rudra.
Saat sudah dekat, Senopati Maitreya segera melompat dari kudanya untuk menjatuhkan Senopati Bojonegoro itu.
Keduanya jatuh bergulingan di atas Padang rumput.
"Perwira ingusan,
Kau tidak pantas untuk melawan ku", teriak Mpu Rudra sambil menatap tajam ke arah Senopati Maitreya.
"Justru aku yang malu karena harus mengalahkan pria bau tanah seperti mu, kakek tua.
Menang tidak terkenal, kalah akan memalukan", cibir Senopati Maitreya yang membuat Mpu Rudra marah besar. Baru kali ini dia dihina seperti itu.
"Bangsat,
Mulutmu tajam sekali, perwira ingusan. Akan ku buat kau menyesali kata kata mu baru saja", usai berkata demikian Senopati Bojonegoro itu segera melesat ke arah Senopati Maitreya sambil mengayunkan pedangnya.
Whuuuuttt
Senopati Panjalu itu segera mundur selangkah dan kembali maju sambil membabatkan pedang ke arah perut Mpu Rudra. Dengan cepat, Mpu Rudra menangkis sabetan pedang itu dengan pedang nya.
Tranggg!
Terdengar bunyi nyaring saat dua senjata beradu. Sambil menahan tekanan senjata dari Senopati Maitreya, Mpu Rudra menghantamkan tangan kiri nya ke arah dada Senopati Maitreya.
Melihat itu, Senopati Muda Panjalu itu segera menyongsong dengan serangan tapak kiri nya.
Blllaaaaarrrrr!!!
Ledakan keras terdengar saat dua tenaga dalam beradu. Baik Senopati Maitreya maupun Mpu Rudra sama sama terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Maitreya memang bukan perwira tinggi prajurit biasa. Sebagai putra Rakai Warak, penasehat Maharaja Samarawijaya, dia di didik oleh Mpu Sanjaya, salah satu tokoh dunia persilatan yang bergelar Pendekar Pedang Biru. Sejak kecil ia sudah di didik dengan keras oleh Mpu Sanjaya karena memang dipersiapkan untuk menjadi prajurit Panjalu oleh Rakai Warak. Kemampuan beladiri yang dimiliki Maitreya setara dengan Narapraja.
Merasa di pecundangi anak ingusan, Mpu Rudra segera menyarungkan pedang nya dan merapal Ajian andalannya, Pukulan Pembunuh Naga.
Tangan tua Mpu Rudra segera bersilangan di depan dada. Asap tipis mengepul perlahan dari kedua tangan. Perlahan muncul sinar kekuningan melingkar di kepalan kedua tangan kakek tua itu.
Melihat lawan bersiap dengan ajian andalan nya, Senopati Maitreya tidak tinggal diam. Dengan cepat dia memusatkan tenaga dalam nya pada jari telunjuk dan tengah tangan kirinya, lalu meletakkan nya pada bilah pedang nya. Seketika sinar biru tua melingkupi bilah pedang Maitreya hingga terlihat berwarna biru. Itulah Ilmu Pedang Kayangan yang diajarkan oleh Mpu Sanjaya.
Setelah sempurna Ajian Pukulan Pembunuh Naga, Mpu Rudra segera menghantamkan tangan kanannya ke arah Senopati Maitreya.
Sinar kekuningan bergumpal melesat cepat kearah Maitreya.
Whhhuuuggghhhh...
Senopati Maitreya segera menjejak tanah dengan keras dan melenting tinggi ke udara menghindari sinar kekuningan yang mengancam nyawa.
Blammmmm!
Sinar kekuningan menghantam tanah dan menciptakan lobang besar. Melihat lawan berhasil menghindar, kembali Mpu Rudra menghantamkan tangan kanannya ke arah Senopati Maitreya yang masih di udara.
Whuuuuttt
Sinar kekuningan kembali menerabas cepat kearah Senopati Panjalu. Karena tidak mungkin menghindari, Maitreya membabatkan pedang nya saat sinar kekuningan Ajian Pukulan Pembunuh Naga itu melesat ke arah nya.
Tringgggg..
Sinar kekuningan itu berbelok saat beradu dengan pedang Senopati Maitreya. Sinar kekuningan melaju ke arah pertarungan seorang prajurit Jenggala dan Panjalu yang tak jauh dari arena pertarungan mereka berdua.
Blammmmm
Dua prajurit yang tengah bertarung itu sama sekali tidak menyangka bahwa kematian mereka akibat serangan nyasar dari pertarungan Mpu Rudra dan Senopati Maitreya. Dua prajurit itu langsung terpental dan tewas seketika.
Mpu Rudra semakin murka.
Dengan cepat ia menghantamkan kedua tangannya bertubi-tubi ke arah Senopati Maitreya yang baru saja menjejak tanah.
Whuuuuttt whutttt whuuuuttt!!
Puluhan sinar kekuningan langsung menerabas cepat kearah Maitreya. Namun dengan cepat pula Senopati Maitreya menangkis sinar kekuningan itu dengan pedangnya yang berwarna biru sambil berusaha mendekati Mpu Rudra.
Blamm blam Blammmmm!!
__ADS_1
Mpu Rudra yang terperangah melihat itu, kembali menghantamkan tangan kanannya. Tapi Maitreya yang sudah bersiap, langsung menghisap hantaman sinar kekuningan itu lalu dengan cepat menusukkan pedangnya ke perut Mpu Rudra.
Jleepppp!
Aaarrghhh!
Mpu Rudra menjerit keras saat pedang Senopati Maitreya menembus perutnya hingga ke punggung. Saat Senopati Maitreya mencabut pedangnya, Mpu Rudra roboh dengan bersimbah darah. Setelah sebentar meregang nyawa, kakek tua itu tewas kemudian.
Karena pemimpin sayap kiri tewas, gerakan wyuha Wukir Segara dari pasukan Jenggala mulai goyah. Para prajurit mulai kocar kacir tak tentu arah.
Sementara itu di sayap kiri Garuda Nglayang, Senopati Ringkasamba dari Kurawan mengamuk bagai banteng ketaton.
Dengan cepat ia menebaskan pedangnya kesana kemari untuk membantai prajurit Jenggala yang berani mendekati nya. Sebagai petarung handal diatas kuda, kemampuan beladiri Senopati Ringkasamba dari Kurawan ini memang diatas rata rata para perwira biasa.
Geram melihat prajuritnya di bantai, Demung Jalaniti segera melompat ke arah Senopati Ringkasamba sambil membabatkan pedang nya. Adiknya Bekel Jalaranu ikut mengeroyok Senopati Ringkasamba dengan membabat kaki kuda tunggangan Senopati Kurawan itu.
Senopati Ringkasamba segera melompat turun dari kudanya menghindari serangan dari dua arah yang berbeda itu, namun kuda tunggangan nya harus tewas meregang nyawa setelah tebasan pedang Bekel Jalaranu merobek leher kuda itu.
Hiieeeekkkkhhh...!
Melihat itu semua, amarah Senopati Ringkasamba langsung meledak. Dengan cepat dia melesat kearah Bekel Jalaranu yang membunuh kuda kesayangannya. Pedang nya yang besar, terayun ke arah leher Jalaranu.
Tumenggung Jalaniti berusaha menghalang-halangi laju pergerakan Senopati Ringkasamba dengan sabetan pedang nya.
Whuuuutt
Senopati Ringkasamba segera bergulung ke tanah untuk menghindari sabetan pedang Jalaniti. Tujuannya hanya satu, membantai Jalaranu.
Bekel Jalaranu gelagapan saat melihat Senopati Ringkasamba mengayunkan pedang besarnya ke arah nya. Dia berusaha untuk menangkis dengan pedang nya.
Tringgggg!!!
Sekuat tenaga Bekel Jalaranu mencoba menahan tekanan Senopati Ringkasamba namun dia yang lengah, tidak melihat saat pukulan keras yang dilambari tenaga dalam tingkat tinggi dari Senopati Kurawan itu menghajar dadanya.
Krreeeek
Terdengar bunyi barang retak saat pukulan tangan kiri Ringkasamba telak mengenai dada kanan Jalaranu. Bekel prajurit Jenggala itu terlempar sejauh dua tombak. Setelah muntah darah segar, dia diam untuk selamanya. Pukulan Senopati Ringkasamba rupanya menghancurkan tulang rusuk nya.
Melihat adiknya tewas mengenaskan, Tumenggung Jalaniti segera melesat cepat kearah Senopati Ringkasamba sambil membabatkan pedang nya. Dia ingin balas dendam.
Senopati Kurawan itu diam diam merapal mantra ajian andalan nya, Cadasgeni. Tangan kiri nya perlahan berubah warna menjadi merah menyala.
Dengan cepat, Senopati Ringkasamba segera menangkis serangan Tumenggung Jalaniti yang tampak bernafsu untuk membunuh nya.
Tringgggg!!
Tepat saat pedang berbenturan, tangan kiri Senopati Ringkasamba langsung menghantam dada Tumenggung Jalaniti.
Blammmmm!!
Terdengar ledakan keras dan tubuh Tumenggung Jalaniti terpental sejauh 4 tombak ke belakang.
Senopati Ringkasamba menatap mayat yg Tumenggung Jenggala itu sebentar kemudian kembali menghambur ke tengah medan pertarungan.
Perang terus terjadi sepanjang hari itu.
Senopati Udawara yang sejak awal mengincar nyawa Narapraja menggebrak kudanya menuju ke Senopati Narapraja yang tetap tenang melihat situasi.
Usai menebas leher seorang prajurit Daha, Senopati Udawara mengacungkan pedangnya yang berlumuran darah segar ke arah Senopati Narapraja.
"Senopati Panjalu,
Ayo bertarung melawan ku"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis kelanjutan cerita ini 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏