
Sekar Mayang sedang sibuk di dapur. Selama dua bulan ini, Dewi Anggarawati jadi penguasa dapur karna Mpu Narasima hanya mau makan masakan Anggarawati saja. Sedangkan dia dan Ratna Pitaloka hanya membantu menyiapkan bahan saja.
Sekar Mayang berpikir lama lama Panji Watugunung akan terbiasa masakan Anggarawati dan tak mau masakan buatan nya. Dan itu membuat Sekar Mayang panas hati.
'Aku tak mau kalah', batin nya sambil mengulek bumbu di lemper. Dewi Anggarawati tersenyum simpul melihat Sekar Mayang.
Ratna Pitaloka pun berpikiran sama dengan Sekar Mayang.
Pagi ini Sekar Mayang memasak lele bakar kuah santan, Ratna Pitaloka memanggang ayam hutan, dan Dewi Anggarawati memasak lodeh nangka muda.
Bau masakan enak sudah membuat para pria di kediaman Mpu Sakri menelan ludah. Warigalit dan Ratri yang baru dari kebun belakang juga kelihatan lapar. 2 bulan ini mereka terlihat akrab satu sama lain. Warigalit menunggu di depan, sedang Ratri membawa sekeranjang mentimun.
Tak berapa lama kemudian, semua masakan di bawa keluar. Ratri membawa bakul nasi, Sekar Mayang membawa nampan isi lele bakar kuah nya, Sekar Mayang dengan 4 ekor ayam hutan panggang dan Dewi Anggarawati membawa kuali isi sayur lodeh nangka muda.
Panji Watugunung, Mpu Sakri, Mpu Narasima, Warigalit sudah duduk di lantai serambi kediaman Mpu Sakri yang beralas tikar pandan.
Setelah mengucapkan syukur kepada sang pencipta, mereka mulai makan.
"Kakang ini lele bakar kesukaan mu, makanlah", Sekar Mayang mencomot lele bakar kuah nya dan meletakkan di piring Watugunung.
"Iya nanti aku makan", Panji Watugunung sambil menata nasi di piringnya.
Ratna Pitaloka tak mau kalah, dia mencabut paha ayam hutan dan meletakkan di piring Watugunung juga.
Dewi Anggarawati hanya tersenyum geli melihat tingkah dua madu nya itu. Dia mengambil kendi air minum dan menuangkan air ke cangkir lalu meletakkan di samping Watugunung tanpa berkata.
Mpu Sakri tersenyum simpul memandang kearah Panji Watugunung yang di keroyok 3 gadis nya.
"Hei, apa kalian ingin Watugunung tersedak makanan gara gara ulah kalian?", ujar Mpu Narasima yang geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
"Aku ingin Kakang Watugunung makan masakan buatan ku paman guru", ujar Ratna Pitaloka.
"Aku juga ingin", timpal Sekar Mayang.
"Gadis bodoh, kau ingin menyiksa calon suami mu ya?".
Ucapan Mpu Narasima membuat Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka melihat piring Watugunung yang penuh lele bakar dan paha ayam hutan panggang.
"Maafkan kami Kakang", ucap mereka berdua.
Panji Watugunung hanya tersenyum tipis.
Acara makan lalu berjalan normal seperti biasa.
Mereka makan lahap kecuali Mpu Narasima yang hanya makan nasi dengan lodeh nangka muda dan secuil kecil lele bakar. Itu pun Mpu Sakri yang mengambilkan.
Usai makan, Mpu Sakri pergi ke kediaman Mpu Wanabaya. Tadi pagi salah satu murid Mpu Wanabaya memang ke kediaman Mpu Sakri, dan mengabarkan kalau Mpu Sakri di panggil.
Warigalit pergi ke Pakuwon Bandar, membeli dupa dan setanggi serta kemenyan untuk keperluan pemakaman abu jenazah menantu Mpu Narasima.
Ratri kembali ke kebun di belakang kediaman Mpu Sakri. Dia gemar sekali menanam sesuatu.
Panji Watugunung dan Mpu Narasima sudah melesat pergi ke selatan Padepokan Padas Putih , di sebuah air terjun kecil di dekat tebing batu.
Setelah kemarin Ajian Tameng Waja, Mpu Narasima akan menurunkan Ajian Guntur Saketi, ilmu kanuragan andalan Mpu Narasima yang mampu membuat si pemakai memanipulasi tenaga dalam menjadi petir yang dahsyat.
Watugunung segera duduk bersila di atas batu, memejamkan matanya dan mengosongkan daya dan cipta nya. Merasakan energi alam di sekitar nya.
Mpu Narasima juga bersiap. Dalam sekejap, tangan kakek tua berjenggot putih itu di selimuti cahaya putih kebiruan bergejolak seperti petir.
"Watugunung, ulurkan kedua tangan mu!", teriak Mpu Narasima.
__ADS_1
Watugunung segera mengulurkan tangannya.
Lalu tangan Mpu Narasima menggenggam erat kedua tangan pemuda itu.
Cahaya putih kebiruan segera bergerak cepat menyelimuti tubuh Panji Watugunung. Pemuda itu terhenyak merasakan tubuh nya bagai tersambar ribuan petir. Perlahan tapi pasti, cahaya putih kebiruan di dada sampai kedua tangan Panji Watugunung.
Mpu Narasima melepaskan genggaman tangannya, dia mundur dan berdiri.
"Watugunung buka matamu sekarang".
Panji Watugunung terkejut melihat kedua tangannya sampai dada di liputi sinar putih kebiruan.
"Sekarang coba hantamkan tangan mu kearah batu besar di bawah air terjun itu".
Panji Watugunung mengangguk dan menghantamkan tangan nya kearah batu.
Sinar putih kebiruan meluncur tak beraturan dari tangan nya dan menghantam batu besar.
Dharrr dharrr dharrr..
Ledakan keras terjadi saat sinar putih kebiruan menghantam batu besar dan batu besar hancur berkeping keping.
Mpu Narasima tersenyum.
"Sekarang tata napas mu, pelankan denyut jantung mu, dan pastikan semua pori pori tubuh mu terbuka".
Panji Watugunung segera melakukan perintah Mpu Narasima. Cahaya putih kebiruan segera mengecil dan seketika menghilang.
"Bagus bocah bodoh, sekarang kau bisa menggunakan Ajian Guntur Saketi. Tapi kau harus berlatih untuk mengendalikan tenaga yang kau gunakan. Seharusnya tadi hanya ada satu ledakan, tapi karna kau belum terlatih makanya ada 3 ledakan terjadi"
Ajian Guntur Saketi bisa digunakan dalam tiga tahap. Tahap kecil, kau bisa menggunakan jari mu. Namanya Jari Guntur. tahap sedang, kau bisa menggunakan tinju mu, namanya Tinju Guntur. dan Tahap ketiga namanya Guntur Saketi, kau bisa menggunakan semua bagian tubuh mu untuk mengeluarkan nya", Mpu Narasima menjelaskan semuanya.
**
Sementara di padepokan, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang serta Dewi Anggarawati sedang mencuci pakaian di belik kecil. Bukan pakaian mereka tapi pakaian Panji Watugunung.
"Pokoknya aku yakin, hasil cucian ku yang paling bersih", ucap Sekar Mayang pede.
"Oh belum tentu, lihat saja nanti ya? ", Ratna Pitaloka tak mau kalah.
Mereka memang kalah dari Anggarawati dalam urusan dapur. Dan mereka mengakui hal itu. Makanya mereka mencolok bersaing dengan cara lain.
Anggarawati hanya tersenyum saja melihat ulah dua orang madu nya. Sebagai putri Adipati Seloageng, tentu dia lebih pintar urusan rumah tangga di banding dua wanita itu.
Sebab di istana ada pendidikan khusus untuk para putri bangsawan agar mereka layak menjadi menantu di keluarga bangsawan lain.
Anggarawati meremas buah klerak (buah yang menghasilkan bau segar dan buih). Dia mencuci pakaian Watugunung dengan tenang.
Saat membilas, putri Adipati Seloageng itu memeras bunga mawar kemudian di kucek sebentar. Bau wangi mawar segera tercium.
Selesai mencuci mereka bergegas menuju ke sampiran baju tempat menjemur.
Begitu cucian Anggarawati di buka dan di kebutkan, wangi mawar tercium jelas.
Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka segera mendekati Anggarawati.
"Kog bau pakaian Kakang Watugunung jadi wangi begini. Kau kasih apa, putri manja??", ucap Sekar Mayang sambil mengendus aroma wangi dari baju Panji Watugunung yang baru di cuci Anggarawati.
"Biasa Kangmbok, hanya aku kasih buah klerak seperti biasanya", jawab Anggarawati acuh tak acuh.
"Ah kamu bohong. Kalau hanya klerak, kenapa bisa seharum ini?", timpal Ratna Pitaloka yang juga penasaran.
__ADS_1
"Tak percaya ya sudah, aku juga tidak memaksa", ujar Dewi Anggarawati tersenyum sambil berlalu.
"Huuuhhhh dasar putri manja menyebalkan.
Awas kau ya, ku pites baru tau rasa kau nanti", Sekar Mayang geram.
"Kangmbok Pitaloka, bagaimana ini? Masak kita kalah terus sama dia?"
"Kalau kalah di urusan rumah tangga, kita harus menang di urusan lain Mayang", jawab Ratna Pitaloka sambil tersenyum penuh arti.
"Maksudnya Kangmbok Pitaloka apa?", Sekar Mayang kebingungan.
"Kau ini benar benar gak tau atau pura pura bodoh sih?", Ratna Pitaloka kesal.
"Lha Mayang memang gak tau Kangmbok", sahut Sekar Mayang sambil garuk-garuk kepala
"Haduhhh payah.
Maksud ku, kalau kita kalah di urusan rumah tangga dengan putri manja itu, kita bisa menang di urusan lain, contohnya.. ", Ratna Pitaloka berpikir sejenak.
"Contohnya apa Kangmbok Pitaloka?", potong Sekar Mayang tak sabar.
Ratna Pitaloka ragu menjawabnya, lalu berkata pelan di telinga Sekar Mayang,
"Urusan ranjang"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hihihihi, author sedikit geli kalau up episode beginian guys..
Bikin otak traveling yang gak gak aja.
Tetap dukung author ya guys, dengan like, vote dan komentar nya.
Thanks before 'n happy reading
😁😁😁😁
__ADS_1