Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Sekumpulan Orang Bodoh


__ADS_3

Setelah dua pekan peristiwa pembakaran Istana Daha dan keluarnya perintah pembatasan perdagangan dari Maharaja Panjalu terhadap wilayah Kadipaten di sekitar perbatasan Panjalu, Kadipaten Singhapura mulai goyah. Kegiatan perdagangan yang menjadi tulang punggung roda kehidupan masyarakat Kadipaten Singhapura nyaris terhenti seluruhnya karena para pedagang besar maupun kecil dari Kadipaten Karang Anom, Seloageng, Tanah Perdikan Lodaya maupun Kabupaten Gelang-gelang menghentikan semua kegiatan jual beli nya sesuai dengan keinginan Sang Maharaja Panjalu.


Walaupun masih ada sedikit perdagangan dengan kadipaten lain dari wilayah Jenggala namun langkah penghentian perdagangan dari kadipaten kadipaten di wilayah Panjalu sanggup melumpuhkan kegiatan perdagangan di seluruh wilayah Kadipaten Singhapura.


Barang dagangan yang biasa diambil oleh para pedagang dari wilayah Panjalu seperti beras, umbi-umbian, pisang, singkong dan ketela pohon menumpuk di beberapa sudut pasar. Belum lagi dagangan hewan ternak dan kulit hewan tak sedikitpun laku terjual. Beberapa bahan makanan yang membutuhkan cepat laku seperti buah pisang dan sukun bahkan mulai membusuk karena tidak ada yang mau membeli.


Mandeknya rantai perdagangan di Kadipaten Singhapura membuat para saudagar besar jatuh miskin karena terlanjur membeli barang dari petani.


Mereka mulai resah dengan keadaan yang membuat kehidupan di wilayah itu yang semakin sulit.


Beberapa saudagar yang masih bertahan akhirnya memutuskan untuk menghadap Adipati Damar Galih di istana Kadipaten Singhapura untuk meminta bantuan.


Di dalam istana Kadipaten Singhapura, Adipati Damar Galih tengah mengadakan pertemuan dengan para perwira tinggi prajurit dan pejabat istana Kadipaten Singhapura. Adanya ribuan prajurit yang berkemah di dekat perbatasan wilayah Singhapura menjadi laporan mereka pagi hari itu.


"Jadi maksud mu para prajurit Kadipaten Seloageng berkemah di perbatasan dengan wilayah kita, Tumenggung Mardeya?", tanya Adipati Damar Galih seakan ingin meyakinkan laporan Tumenggung Kadipaten Singhapura itu.


"Benar Gusti Adipati,


Menurut laporan para telik sandi kita, mereka berjumlah sekitar 8 ribu prajurit bersenjata lengkap. Ada desas-desus yang beredar mengatakan mereka menunggu kedatangan pasukan Panjalu untuk menuju ke tempat kita", jawab Tumenggung Mardeya sambil menghormat pada Adipati Damar Galih.


Hemmmmmmm..


"Apa Panjalu ingin berperang lagi melawan Kerajaan Jenggala? Sepertinya itu tak mungkin karena Prabu Jayengrana sendiri menyetujui permintaan dari Dewi Kilisuci untuk berdamai dengan Jenggala.


Tapi jika mereka menyerbu ke arah wilayah kita pun, itu tidak akan sulit.


Bangsat!


Apa sebenarnya kemauan para prajurit Seloageng?", Adipati Damar Galih langsung memijat pelipisnya yang tiba tiba terasa sakit.


"Mohon ampun Gusti Adipati,


Sepertinya bukan hanya Kadipaten Seloageng saja yang mempunyai niat tidak baik terhadap kita. Menurut telik sandi yang melapor kepada hamba, sekitar 8 atau 9 ribu prajurit Tanah Perdikan Lodaya juga berkemah di barat Hutan Jatiwangi. Mereka pun bersenjata lengkap dengan perbekalan yang cukup untuk melakukan penyerangan terhadap kita", lapor Senopati Ragasingha sambil menyembah pada Adipati Singhapura itu segera.


Appaaaaa????!!!!


Semua orang di dalam ruang pribadi adipati langsung saling berpandangan mendengar penuturan Senopati Ragasingha. Mereka mulai kasak kusuk tentang kemungkinan penyerbuan terhadap Singhapura dari dua sisi berbeda.


Adipati Damar Galih pucat wajah nya. Jika sampai Seloageng maupun Tanah Perdikan Lodaya menggerakkan pasukan nya bersamaan jelas kekuatan pertahanan prajurit Kadipaten Singhapura yang berjumlah 10 ribu prajurit tidak akan mampu bertahan.


"Bangsat!


Apa sebenarnya mau mereka? Kita tidak memiliki masalah sama sekali dengan Seloageng maupun Tanah Perdikan Lodaya.


Bagaimana mungkin mereka ingin menyerang Kadipaten Singhapura tanpa ada alasan yang jelas?", pening kepala Adipati Damar Galih memikirkan setiap kemungkinan yang akan terjadi.


Saat situasi ruang pribadi adipati tengah tegang karena laporan laporan dari para perwira tinggi, seorang prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Singhapura datang bersama dengan 4 pedagang besar di wilayah Kadipaten Singhapura. Mereka adalah Nyi Tapasi, Ki Gondowongso, Mpu Tambirono dan Dharmomoyo.


Mereka adalah para penyumbang pajak terbesar di luar upeti dan pajak bumi dari para akuwu di wilayah Kadipaten Singhapura.


Meskipun sedang merasa kesal dan jengkel, Adipati Damar Galih tidak berani mengusir mereka begitu saja dari istana kadipaten. Keempat pedagang besar itu segera duduk bersila di lantai ruang pribadi adipati.


"Ada apa tiba-tiba saja kalian semua datang kemari, Mpu Tambirono?


Tumben sekali kalian kompak seperti ini", tanya Adipati Damar Galih sambil tersenyum kecut pada Mpu Tambirono yang merupakan pedagang besar paling sepuh juga paling kaya di antara mereka berempat.


"Mohon ampun Gusti Adipati jika kedatangan kami tidak diharapkan.


Namun kami semua tidak memiliki cara lagi selain meminta bantuan kepada Gusti Adipati Damar Galih", jawab Mpu Tambirono sembari menghormat pada Adipati Singhapura itu.


"Minta bantuan?


Apa maksud mu Mpu Tambirono? Coba jelaskan pada ku", Adipati Damar Galih menatap heran kearah Mpu Tambirono dan kawan-kawan nya.


"Begini Gusti Adipati,


Sudah hampir setengah purnama, pekerjaan kami sebagai pedagang terhenti. Para pedagang dari Lodaya, Seloageng, Karang Anom maupun dari Gelang-gelang yang biasanya mengambil hasil bumi dari kami, yang kami beli dari para petani, tidak lagi datang ke tempat kami.


Kami sudah mencoba berbagai cara termasuk mendatangi mereka agar mau datang membeli barang dari kami namun mereka menolak. Alasannya Prabu Jayengrana memerintahkan kepada para prajurit di wilayah Panjalu barangsiapa yang melihat mereka berdagang dengan orang-orang Singhapura akan mendapat hukuman mati. Karena itu mereka menolak untuk berdagang dengan kami.


Selama ini, dari mereka lah kegiatan perdagangan di Kadipaten Singhapura bisa berjalan. Kalau mereka tetap seperti itu, hamba tidak tahu lagi dengan apa kami bisa memberikan penghidupan untuk keluarga dan orang orang kami", Mpu Tambirono mengakhiri keluh kesah nya dengan menghormat pada Adipati Damar Galih.


"Apa para pedagang dari wilayah Jenggala yang lain seperti Dinoyo dan Kanyuruhan tidak mau mengambil barang dari kalian?", tanya Mpu Sogatan, Patih Kadipaten Singhapura angkat bicara.


"Mohon ampun Gusti Patih,


Orang orang Dinoyo maupun Kanyuruhan lebih suka mengambil dagangan dari Pakuwon Tumapel yang jaraknya lebih dekat dengan mereka.


Kalaupun ada yang mau itu hanya barang yang tidak di dapatkan dari Tumapel seperti bumbu dapur dan kemiri. Jumlahnya pun sangat kecil sehingga tidak cukup untuk membantu memutar uang.


Karena itu hamba mewakili kawan kawan ini juga kawan kawan pedagang yang lain, mohon bantuannya untuk kami bisa berdagang kembali dengan pihak Panjalu maupun Tanah Perdikan Lodaya", harap Mpu Tambirono mengakhiri keluhan nya.


Pusing kepala Adipati Damar Galih mendengar ungkapan keluh kesah yang di dengar nya. Masalah satu belum selesai muncul masalah lainnya.


Siang itu dia membubarkan pisowanan para nayaka Kadipaten Singhapura juga berjanji pada para saudagar besar akan mencari pemecahan permasalahan ini secepatnya. Para pejabat istana Singhapura tak satupun mempunyai akal untuk menghadapi permasalahan beruntun yang mereka hadapi.


Di Kepatihan Singhapura, Mpu Sogatan menghembuskan nafas kesal. Tak di nyana persoalan perlindungan kepada Mpu Rikmajenar akan melebar kemana-mana.

__ADS_1


Sedangkan Mpu Rikmajenar sendiri tiap hari keluar Kepatihan. Dia mengumpulkan beberapa pendekar tangguh untuk menjadi pengawal pribadi nya dengan bayaran tinggi. Uang yang dia dapat selama puluhan tahun menjadi pejabat istana Daha masih cukup karena dia melakukan beberapa kecurangan dalam pajak dari daerah selama masa pemerintahan Prabu Samarawijaya.


Di dermaga penyeberangan wilayah Singhapura dan Kadipaten Seloageng, 20 orang berpakaian layaknya pendekar dengan memakai caping bambu nampak baru saja turun dari kapal besar yang menyeberangkan mereka.


Seorang diantaranya yang nampaknya adalah wanita membayar biaya penyeberangan mereka dengan 2 kepeng emas yang membuat pemilik perahu langsung tersenyum lebar.


"Mohon maaf Kisanak,


Kalau kami ingin ke arah kota Kadipaten Singhapura kemana arahnya?", tanya wanita cantik berdandan layaknya pendekar itu dengan santun pada sang pemilik kapal.


"Oh kalian mau ke kota Kadipaten Singhapura Nisanak?


Kalian ikuti terus jalan raya di depan ke arah timur. Kalau kalian cepat, sebelum senja kalian sudah sampai di kota Kadipaten Singhapura.


Dan berhati-hatilah Nisanak, kalau sampai kemalaman di hutan sebelum masuk kota Singhapura bisa bahaya. Sering ada perampokan disana", jawab sang pemilik perahu panjang lebar.


"Terimakasih Kisanak atas nasehatnya.


Saya permisi", ujar perempuan cantik itu sambil berlalu menuju rombongan nya. Segera dia melompat ke atas kuda nya.


"Arah nya kemana Dinda Srimpi?", tanya seorang lelaki tampan bertubuh tegap yang wajahnya tersamarkan oleh caping bambu.


"Ikuti terus jalan raya ini terus ke timur Denmas, maaf maksud ku Kakang..", jawab si wanita cantik itu dengan cepat.


"Uh Kangmbok Srimpi,


Sudah berpakaian menyamar masih juga tetap tak bisa merubah gaya bicaranya", seorang wanita cantik lainnya yang berada di dekat laki laki tegap itu angkat bicara.


"Sudah kebiasaan Sunti.. Sulit merubahnya.


Maafkan aku ya Den eh Kakang", ujar si perempuan cantik itu segera.


Si lelaki bertubuh tegap itu hanya tersenyum tipis lalu menggebrak kudanya menuju ke arah timur mengikuti jalan raya menuju kota Kadipaten Singhapura.


Ya, mereka adalah orang-orang Panjalu yang dipimpin langsung oleh Panji Watugunung. Mereka menyamar diantara para pengawal Tumenggung Ludaka dan Landung yang menjadi utusan dari Kadiri untuk menyampaikan surat kepada Adipati Damar Galih.


Setelah melewati beberapa wanua di sepanjang bantaran Sungai Brantas, mereka terus menggebrak kudanya menuju ke arah timur.


Saat senja mulai turun, rombongan itu masih berada di dekat hutan kecil sebelum Kota Kadipaten Singhapura. Mau tidak mau Panji Watugunung memutuskan untuk bermalam di tengah hutan itu karena langit semakin gelap.


"Kita bermalam disini saja, Ludaka..


Sudah tidak mungkin memaksakan diri untuk terus melanjutkan perjalanan", ujar Sang Maharaja Panjalu sambil melompat turun dari kudanya.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Tumenggung Ludaka sambil mengikuti langkah Panji Watugunung yang segera menambatkan kuda nya pada pohon perdu yang tumbuh disitu.


Para pengawal pribadi Raja dengan cepat mengumpulkan ranting pohon lapuk dan kayu kering untuk membuat perapian. Cempluk Rara Sunti dengan cepat menggelar kain sebagai alas tidur diatas rumput kering yang dikumpulkan oleh para pengawal pribadi sang raja.


Malam datang dengan cepat. Bulan melewati purnama menggantung di langit barat bersama bintang yang berkelap-kelip di langit malam yang gelap. Suara jangkrik bersahutan ditambah lagi suara suara burung malam semakin membuat suasana sepi yang mencekam.


Para prajurit pengawal pribadi raja membuat perlindungan dengan membentuk lingkaran di seputar api unggun yang ada di dekat tempat peristirahatan Panji Watugunung dan kedua istrinya. Giliran jaga mereka di atur oleh Tumenggung Ludaka.


Nyala api unggun yang mereka buat menarik perhatian beberapa orang berpakaian serba hitam yang memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan.


"Bondol,


Cepat kau lapor Lurah e.. Sepertinya mereka orang orang kaya. Lihat kuda mereka bagus bagus, pasti mahal kalau di jual", bisik seorang lelaki bertubuh gempal pada kawannya yang ada di dekatnya.


"Baik Kakang Gendor. Kakang tunggu saja sampai aku kembali", balas si lelaki berkepala plontos itu sambil beringsut menjauh dari 3 orang kawannya. Tak berapa lama kemudian, si lelaki berkepala plontos itu datang bersama puluhan orang berperawakan tinggi besar dengan wajah bengis. Pemimpin mereka adalah seorang lelaki paruh baya beralis tebal dengan jenggot lebat yang sebagian telah memutih.


Dia adalah Tambak Ganggeng, pimpinan perampok Alas Peteng yang tersohor dengan sebutan Tangan Setan dari Alas Peteng. Kemampuan beladiri nya cukup tinggi namun pendekar aliran hitam ini lebih suka jadi perampok daripada mendirikan perguruan.


"Bondol,


Mana yang katanya mangsa empuk itu mana?", tanya Tambak Ganggeng sambil celingukan mencari sesuatu.


"Itu disana Lurah e, tuh yang di dekat pohon itu", jawab Bondol sambil menunjuk ke arah perapian rombongan Panji Watugunung.


"Hehehehe bagus Bondol..


Kuda mereka itu kuda kuda mahal. Hanya bangsawan dan orang orang kaya saja yang mampu membeli kuda sebagus itu.


Ayo, kita rampok mereka!", ajak Tambak Ganggeng sambil melesat cepat kearah tempat Panji Watugunung dan para pengikutnya beristirahat.


Sesampainya di tempat Panji Watugunung dan para pengikutnya, mereka segera mengepung dengan senjata terhunus siap untuk mencabut nyawa.


Para prajurit Panjalu langsung bersiaga begitu tempat mereka di kepung oleh anak buah Tambak Ganggeng.


"Siapa kalian? Mau apa kemari?", tanya Tumenggung Landung yang segera memegang gagang pedang nya, bersiap untuk menghadapi orang-orang berpakaian serba hitam itu.


Hahahaha...


"Aku Tambak Ganggeng, pimpinan perampok Alas Peteng. Cepat serahkan harta kalian jika masih sayang dengan nyawa kalian masing-masing", ancam Tambak Ganggeng sambil menyeringai lebar.


"Rupanya hanya sekumpulan orang bodoh yang ingin mengantar nyawa. Berani sekali kau ingin merampok kami.


Sudah bosan hidup kau rupanya?", ujar Tumenggung Ludaka sambil menggenggam gagang pedang pendek nya.

__ADS_1


"Kurang ajar!


Di kasih hati minta jantung. Ketek ketek, habisi mereka semua!", teriak Tambak Ganggeng yang membuat para perampok itu langsung melesat cepat kearah para prajurit Panjalu.


Dewi Srimpi langsung mengibaskan tangannya.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Puluhan jarum kecil berwarna merah kehitaman melesat cepat menyongsong terjangan para anggota perampok.


Crreepppphhh crepp!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


5 orang perampok Alas Peteng langsung tersungkur ke tanah saat jarum Racun Kelabang Neraka menembus leher mereka. Mereka langsung roboh dengan mulut berbusa.


Tumenggung Ludaka senjata melemparkan pisau pisau kecil nya dengan cepat kearah para perampok dengan tangan kiri nya. Hasilnya 4 orang yang paling depan langsung tewas dengan pisau menembus tubuh mereka.


Di sisi lain, Tumenggung Landung dengan gerakan cepat membabatkan pedang ke arah seorang perampok yang menerjang ke arah nya.


Chhrrrraaaaaassss...


Sabetan pedang Landung langsung merobek perut si perampok hingga dia terkapar bersimbah darah.


Tambak Ganggeng yang melihat anak buah nya berjatuhan marah besar dan segera melesat cepat dengan tangan kanan berwarna hijau kehitaman karena Ajian Tangan Setan yang dia keluarkan.


Dia menuju ke arah Cempluk Rara Sunti. Namun sayangnya belum dia mendekati perempuan cantik itu, Panji Watugunung yang bergerak cepat bagai kilat langsung menghadang laju Tambak Ganggeng dengan Ajian Guntur Saketi nya. Tambak Ganggeng yang kaget dengan kehadiran Panji Watugunung segera menghantamkan tangan kanannya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Tambak Ganggeng terpelanting ke belakang. Dia muntah darah kehitaman pertanda bahwa dia menderita luka dalam serius. Belum sempat berdiri tegak, satu larik sinar biru keputihan melesat cepat dari jari telunjuk Panji Watugunung kearah dahi Tambak Ganggeng.


Chllaaasssh!


Tambak Ganggeng langsung roboh. Dahinya bolong tembus belakang kepala. Isi otak pimpinan perampok Alas Peteng itu berhamburan kemana-mana. Dia tewas seketika saat tahap awal Ajian Guntur Saketi yaitu Ajian Jari Guntur di lepaskan oleh Panji Watugunung.


"Mengganggu saja", gerutu Panji Watugunung sambil kembali merebahkan tubuhnya di atas kain yang digelar Cempluk Rara Sunti.


Melihat pimpinan mereka tewas, sisa anggota perampok Alas Peteng seperti Gendor dan Bondol langsung kabur menyelamatkan diri.


Melihat para perampok itu berhamburan kabur, para prajurit Panjalu menarik nafas lega. Malam itu juga mereka mengumpulkan mayat mayat anggota perampok Alas Peteng di satu tempat untuk di bakar agar tidak menjadi sarang penyakit.


Selanjutnya mereka beristirahat dengan tenang sambil menunggu pagi datang menjelang.


Langit timur mulai terang. Semburat jingga mulai muncul di ufuk timur bersamaan dengan suara kicau burung yang bersahutan di ranting pohon jati.


Usai mencuci muka di sumber air dekat tempat mereka bermalam, rombongan orang orang Panjalu kembali menggebrak kuda tunggangan mereka kearah timur. Tujuan mereka hanya satu,


Kota Kadipaten Singhapura.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apapun yang terjadi hari ini, adalah sejarah hidup kita di masa depan.


Tetap semangat jangan mudah menyerah.


Salam hangat dari author.


IG author : ebez 2812

__ADS_1


__ADS_2