
Setan Darah geram bukan main melihat Pedang Kayu tewas. Dia sadar tidak mungkin pulang dalam keadaan hidup. Tapi dia mencoba membuat peluang.
"Watugunung, apa kau tau sedang menyalakan api perang dengan Alas Larangan? Apa kau tidak takut?"
Hehehehe
Panji Watugunung tertawa kecil.
"Aku tidak takut. Selama itu membela kebenaran, jangankan Alas Larangan, bahkan Kalajengking Biru yang tersohor pun aku mampu mengobrak abrik markas mereka".
Setan Darah terkejut. Dia mendengar 3 purnama lalu bahwa markas Kalajengking Biru di obrak-abrik beberapa pendekar muda. Salah satunya Pendekar Pedang Naga Api dengan ciri khas pemuda membawa pedang bersarung merah. Dan pemuda di depannya membawa pedang bersarung merah di punggungnya.
"Jadi kau Pendekar Pedang Naga Api?", Setan Darah mendelik tajam.
Murid murid perguruan Anggrek Bulan terkejut dan tak menyangka bahwa pemuda tampan itu adalah Pendekar Pedang Naga Api yang tersohor. Anggrek Perak bahkan tak bisa menutupi kegugupannya.
'Jadi dia orangnya'
Panji Watugunung hanya tersenyum saja melihat Setan Darah mengetahui siapa dirinya.
Setan Darah segera menyiapkan ilmu andalan nya, Ajian Darah Iblis. Dengan menyilangkan tangan di depan dada, Setan Darah mengumpulkan tenaga dalam.
Sinar merah kehitaman segera menyelimuti seluruh tubuh Setan Darah. Bau amis darah akibat Ajian Darah Iblis, membuat darah nya berputar dalam tubuh dengan cepat, hingga pori pori tubuh nya menguapkan darah.
Mata Setan Darah berwarna merah, seperti mata setan. Dengan Ajian Darah Iblis, kecepatan dan tenaga dalam nya meningkat 2 kali lipat. Meskipun Ajian Darah Iblis hebat, tapi setiap pemakaian nya, orang yang menggunakan akan berkurang umur 1 tahun.
Melihat perubahan tubuh Setan Darah, Panji Watugunung segera memusatkan tenaga dalam Ajian Tameng Waja. Aura kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuhnya.
Setan Darah melesat bagai kilat membabatkan pedang nya. Panji Watugunung segera bergerak ke samping, menghindari sabetan pedang.
Whussss
Mendapati serangannya tidak berhasil, Setan Darah melayangkan tendangan ke perut Panji Watugunung. Panji Watugunung mundur selangkah dan menghantam kaki Setan Darah dengan Tapak Dewa Api tingkat 4.
Bukk
Dhuarrrr..
Setan Darah terlempar 2 tombak, kaki kiri nya sakit. Dengan pedang nya, Setan Darah menahan tubuhnya, lalu melesat kembali ke Panji Watugunung dan menyabetkan pedang ke pinggang Watugunung. Angin dingin berbau amis darah menderu kencang mengancam pinggang Watugunung.
Pemuda itu melompat ke udara dan kembali menghantamkan Tapak Dewa Api tingkat 4 nya.
Setan Darah berguling ke tanah menghindari sinar merah menyala seperti api dari tapak tangan Panji Watugunung.
Dharrr dharrr..
Ledakan keras beruntun menghajar tanah menciptakan lobang besar. Semua orang yang melihat bergidik ngeri melihat nya kecuali Ratna Pitaloka yang tersenyum tipis.
"Kakang, cukup main main nya!", teriakan Ratna Pitaloka membuat semua orang terkejut dan menyadari bahwa pemuda itu belum mengerahkan seluruh kemampuan nya.
Panji Watugunung tersenyum, dan begitu menjejak tanah dengan gerakan yang sukar di lihat mata biasa, melesat cepat kearah Setan Darah yang baru berdiri.
Tangan kanan Watugunung di liputi sinar putih kebiruan, menghajar telak dada Setan Darah.
Blarrrrr..
Lelaki berjenggot tipis itu melayang dengan dada bolong tembus punggung, menghantam tanah dan tewas seketika. Bau gosong daging terbakar tercium dari tubuh nya.
'Ilmu dari paman guru memang hebat'
Panji Watugunung melihat tubuh Setan Darah tak bergerak lagi, dia melangkah menuju ke arah Ratna Pitaloka dan murid murid Anggrek Bulan.
__ADS_1
Ketiga anggota Setan Darah yang tersisa, melempar pedang nya tanda menyerah.
Mereka sadar tidak ada gunanya melawan orang yang mampu membunuh Setan Darah, pendekar jagoan Alas Larangan.
"Menurut mu, apa yang harus aku lakukan pada mereka nisanak?", tanya Panji Watugunung pada 3 murid Anggrek Bulan.
Anggrek Perak segera menghormat dan berkata, "Terserah pendekar, tapi sebagai pendekar golongan putih kita tidak bisa membunuh orang yang sudah menyerah. Cukup hancurkan tenaga dalam mereka agar tidak bisa membuat masalah di kemudian hari".
Ratna Pitaloka dengan gerakan cepat memukul dada ketiga anak buah Setan Darah, menghancurkan tenaga dalam mereka.
Ketiga anggota Setan Darah muntah darah segar, tapi segera bersujud. Ilmu Kanuragan mereka sudah lenyap.
"Pergilah sekarang".
Ketiga anggota Setan Darah segera berlari dan menghilang di balik pepohonan.
Ketiga gadis murid Anggrek Bulan segera menghormat pada Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka.
"Terimakasih atas bantuannya Pendekar Pedang Naga Api. Tanpa bantuan pendekar, mungkin kami hanya tinggal nama".
"Sudahlah, jangan seperti itu. Aku hanya kebetulan lewat", ujar Panji Watugunung yang segera bergegas ke Ratna Pitaloka.
"Dinda, Anggarawati dan Sekar Mayang ada dimana?".
"Mereka aku tinggal di tempat tadi, untuk menjaga kuda", Ratna Pitaloka tersenyum simpul.
"Tumben mereka bersedia", gumam Panji Watugunung.
Anggrek Perak dan 2 adik seperguruannya segera mendekati Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka.
"Maaf Pendekar Pedang Naga Api, kalau tidak keberatan, silahkan mampir di padepokan kami.
Guru tentu senang sekali jika ada tamu agung berkunjung".
"Apa tidak merepotkan?", ujar Watugunung kemudian.
"Tentu tidak, guru pasti senang sekali", ujar Anggrek Perak meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, dimana letak padepokan kalian?"
"Di lereng bukit itu", Anggrek Perak menunjuk sisi barat.
"Dinda Pitaloka, kau panggil Anggarawati dan Mayang kesini".
"Baik Kakang Watugunung", Ratna Pitaloka segera melesat ke arah pepohonan di tepi hutan.
Tak berapa lama,
Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati sudah sampai di tempat itu.
Melihat bekas pertarungan, Sekar Mayang mendelik tajam kearah Ratna Pitaloka.
'Dia bertarung dengan Kakang Watugunung, dan aku menjaga kuda. Awas kau Kangmbok Pitaloka'
Panji Watugunung dan ketiga calon istri nya mengikuti langkah Anggrek Perak menuju ke Padepokan Anggrek Bulan.
Padepokan Anggrek Bulan adalah salah satu dari 5 perguruan aliran putih besar di Kahuripan. Anggota Padepokan Anggrek Bulan semuanya perempuan. Pemimpin padepokan itu Dewi Anggrek Bulan yang terkenal cantik meski usianya sudah menginjak 70 tahun tapi penampilan nya seperti gadis berusia 18 tahun.
Menurut berita, wanita itu memiliki ilmu kesaktian untuk mempertahankan kecantikan nya.
Rombongan itu sudah sampai di pintu gerbang padepokan. Dan memang benar, semua anggota Anggrek Bulan adalah wanita.
__ADS_1
Melihat ada seorang lelaki muda tampan datang ke padepokan, menjadi daya tarik tersendiri bagi murid murid Dewi Anggrek Bulan.
Sepanjang jalan masuk menuju ke kediaman pemimpin, semua murid memandang takjub ke arah Panji Watugunung. Aura kebangsawanan di tambah tubuh nya yang gagah dengan kulit putih, membuat semua mata murid Dewi Anggrek Bulan terpesona.
Belum menyentuh serambi, seorang gadis cantik mendekati rombongan Panji Watugunung.
"Eh siapa ini? Apa dewa Kamajaya turun ke padepokan kita Adik Anggrek Perak?", ujar gadis itu genit.
Anggrek Perak tersenyum tipis mendengar sapaan dari kakak seperguruannya itu.
"Nanti Kangmbok juga tau dia dewa atau manusia biasa", jawab Anggrek Perak asal.
"Eh benarkah? Kalau manusia biasa, kau harus mengenalkan dia padaku Adik", Anggrek Emas terus memandangi wajah tampan Panji Watugunung sambil mengerling mata.
"Nanti Kangmbok, aku mau menghadap pada guru dulu", ujar Anggrek Perak seraya menarik tangan Anggrek Emas ke dalam.
Tiga pasang mata menatap geram kepergian Anggrek Perak dan Anggrek Emas.
'Kalau tau begini, aku tak sudi diajak kesini'
'Perempuan genit itu ingin di hajar rupanya'
'Awas kau nanti perempuan centil'
Panji Watugunung terkekeh geli melihat wajah ketiga calon istri nya. Hampir saja tawa nya lepas, dan segera tangan nya menutup rapat mulut nya saat ketiga gadis itu berkata,
"Apanya yang lucu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author juga bingung apa nya yang lucu dari kecemburuan wanita?
Hihihi
Thanks for reading guys
__ADS_1
Tetep support author dengan like, vote dan komentar nya ya..
See you next episode 😁😁😁😁