
Demung Suta segera menarik tali kekang kudanya. Seketika kuda tunggangan nya itu meringkik keras dan berhenti.
Akuwu Narpati yang di belakang langsung ikut berhenti. Melihat pimpinan pasukan berhenti, pasukan Muria segera ikut berhenti.
Langit pagi semakin terang. Cuaca sejuk malam tersapu oleh hangat sinar matahari pagi.
Warigalit yang sudah bersiap, menatap tajam ke arah mereka.
"Mau apa kalian kemari?", ucap Warigalit dengan nada dingin.
Demung Suta segera menoleh kearah Akuwu Narpati dari Pakuwon Bendo. Setelah melihat anggukan kepala dari Akuwu Narpati, Demung Suta segera berteriak lantang.
"Kami ingin membebaskan Gusti Ranggawangsa dan Adipati Ratnapangkaja yang kalian tawan", ucap Demung Suta segera.
"Percuma kalian kemari,
Dua orang yang kalian cari sudah tidak ada", jawab Warigalit sambil tersenyum tipis.
"Apa maksud mu?
Jangan coba-coba membohongi kami", kata Demung Suta dengan ketus.
"Terserah kalian,
Yang jelas dua orang yang kalian bicarakan sudah tidak ada disini. Sudah tidak hidup di dunia ini", ujar Warigalit seraya tersenyum tipis.
"Bangsat!!
Rupanya kau sudah membunuh junjungan kami. Hutang darah di balas darah.
Akan ku balas kematian Gusti Ranggawangsa dan Adipati Ratnapangkaja", teriak Demung Suta dengan geram.
Segera dia mencabut pedang nya, yang diikuti oleh seluruh prajurit Muria yang mengiringi nya.
"Bunuh mereka!", usai berkata demikian Demung Suta segera melompat turun dari kudanya dan melesat cepat menuju ke arah Warigalit yang sudah bersiaga.
Pertempuran kembali pecah di depan istana Kadipaten Muria.
Dengan penuh nafsu membunuh, Demung Suta mengayunkan pedangnya mengincar leher Warigalit.
Sreeetttttt
Warigalit segera menunduk sambil mengayunkan Tombak Angin nya ke arah dada Demung Suta.
Sang Demung melihat serangan Warigalit, segera menarik pedangnya dan menangkis tusukan Tombak Angin Warigalit.
Tranggg
Percikan bunga api tercipta saat dua senjata pusaka itu beradu. Bilah mata Tombak Angin yang tipis seperti pedang, sedikit tertekan ke bawah, melihat itu Warigalit langsung menyapu kaki kiri Demung Suta.
Pejabat istana Kadipaten Muria itu segera mengangkat kaki kirinya dan dengan cepat memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah dada Warigalit.
Dengan cepat Warigalit melompat mundur selangkah, lalu memutar gagang Tombak Angin nya kemudian menyodokkan gagang nya kearah pinggang lawan.
Dengan cepat, Demung Suta segera melompat mundur dua langkah.
'Orang ini berilmu tinggi rupanya', batin Demung Suta.
Perlahan, Demung Suta menyilangkan tangan di depan dada. Sinar biru berhawa dingin melingkupi kedua tangannya.
Ajian andalan nya, Tapak Es yang merupakan warisan dari gurunya, menciptakan hawa dingin yang menakutkan.
Melihat lawan nya sudah siap dengan ajian andalan nya, Warigalit tidak mau kalah. Perlahan dia merapal Ajian Tapak Dewa Api nya. Walaupun masih setingkat di bawah Panji Watugunung, tapi Ajian Tapak Dewa Api Warigalit sudah sangat mengerikan.
Perlahan tangan Warigalit berubah warna menjadi kemerahan setelah sinar merah menyala melingkupi tangan kiri nya.
Demung Suta segera melompat ke udara sambil menghantamkan tangan kiri nya.
Chiiiaaaattttt!!
Sinar biru pekat meluncur cepat dari tangan kiri Demung Suta menuju ke arah Warigalit.
Whussss
Blarrrrr!!
Ledakan keras terdengar saat sinar biru berhawa dingin menghantam tanah karena Warigalit lebih dulu melompat ke samping sambil menghantam kearah Demung Suta yang hendak menjejak tanah.
Whuuuutt
Sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah Demung Suta segera. Demung Suta segera berguling ke tanah menghindari sinar merah Tapak Dewa Api.
Blammmm!!
Setelah berhasil menghindar, Demung Suta segera melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya mengincar leher Warigalit.
Dengan cepat Warigalit menangkis sabetan pedang dengan Tombak Angin nya.
Tringgg
Setelah serangannya ditangkis, tangan kiri Demung Suta segera menghantam ke arah dada Warigalit. Melihat itu, Warigalit langsung menyambut dengan tangan kiri nya yang berwarna merah.
Dhuarrrr
Dua orang itu terpental ke belakang akibat benturan ajian andalan mereka. Warigalit yang terpental 4 langkah merasakan sesak nafasnya, sedang Demung Suta terpental sejauh dua tombak. Pejabat istana Kadipaten Muria itu muntah darah segar tanda luka dalam serius.
"Menyerahlah, kau tidak mungkin menang melawan ku", ujar Warigalit seraya berbalik arah.
Demung Suta dengan sisa tenaga dalam nya segera melompat ke udara dan menyabetkan pedang nya kearah leher Warigalit.
Merasakan hawa dingin mengancam nyawa nya, Warigalit segera menoleh. Dengan Ajian Sepi Angin, Warigalit bergerak cepat menghindari sabetan pedang Demung Suta.
__ADS_1
Lalu tangan kanan nya segera memutar Tombak Angin dan menusuk dada Demung Suta.
Creeppp
Arrrghh
Demung Suta menjerit keras saat mata Tombak Angin menusuk jantung nya.
Demung Suta membekap dadanya yang terluka parah. Akibatnya banyak nya darah yang keluar, Demung Suta kehilangan keseimbangan nya dan roboh ke tanah. Setelah itu dia tewas meregang nyawa dengan bersimbah darah.
Akuwu Narpati yang melawan Senopati Narapraja juga tidak berdaya menghadapi kesaktian Senopati Daha itu.
Sementara itu, Pasukan Daha sebanyak 1000 prajurit di bawah pimpinan Panji Watugunung menuju ke Pelabuhan Kapur saat pasukan Daha yang di pimpin Senopati Narapraja dan Warigalit menghadang laju pasukan Muria di depan istana Kadipaten Muria.
Saat hampir tengah hari, mereka sampai di pelabuhan Kapur yang menjadi medan laga dua pasukan besar. Para penduduk pelabuhan Kapur memilih mengungsi takut menjadi korban salah sasaran.
Terlihat pasukan Daha terdesak oleh pasukan Muria yang memang sudah bersiap untuk berperang.
Begitu melihat 1000 prajurit bantuan datang, semangat tempur prajurit Daha yang sempat menurun langsung berkobar lagi.
Panji Watugunung yang memimpin, langsung menghindari sabetan pedang seorang prajurit berkuda dari pihak lawan. Setelah merubah gerakan tubuhnya, Panji Watugunung segera melompat ke arah prajurit berkuda itu.
Mereka berdua segera terjatuh ke tanah. Dengan cepat Panji Watugunung menghantam kepala sang prajurit dengan keras.
Prakkk
Si prajurit langsung pecah kepalanya. Panji Watugunung segera menyambar pedang si prajurit dan kembali naik ke atas kuda nya dan menggebrak kuda nya sambil menebas seorang prajurit Muria menghadang di depan nya.
Crashhhh
Kepala prajurit Muria menggelinding ke tanah, dia tewas dengan badan dan kepala terpisah.
Sepak terjangnya terus diamati seorang lelaki tua berpakaian mewah layaknya seorang perwira tinggi prajurit.
Melihat puluhan prajurit nya berjatuhan di tangan pemuda bercaping itu, lelaki tua yang tak lain adalah Senopati Mpu Pala itu menggeram penuh kemarahan.
Segera Mpu Pala menggebrak kuda nya mendekati Panji Watugunung. Sambil menebaskan pedangnya ke para prajurit Daha yang menghalangi jalan nya, Senopati Muria itu terus merangsek maju.
Setelah dekat, Mpu Pala segera mengayunkan pedangnya mengincar nyawa Panji Watugunung.
Sreeetttttt
Mendapat serangan tiba-tiba itu, Panji Watugunung segera menepuk punggung kudanya yang segera melompat maju menghindari sabetan pedang Mpu Pala.
"Seperti inikah sikap Senopati Muria? Membokong lawan dari belakang?", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Mpu Pala.
"Dalam perang, semua peraturan dan etika tidak berlaku..
Semuanya hanya tentang menang dan kalah", Mpu Pala tersenyum sinis.
Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya. Mpu Pala segera mengikuti langkah Panji Watugunung.
Mpu Pala segera memasang kuda-kuda jurus andalan nya. Setelah merasa yakin, Mpu Pala segera melesat cepat menuju ke pemuda bercaping itu seraya menebaskan pedangnya.
Sreeetttttt
Panji Watugunung segera mundur satu langkah sehingga tebasan pedang Mpu Pala hanya menghajar udara kosong.
Panji Watugunung segera melayani permainan pedang Senopati Muria itu dengan jurus jurus Pedang Tanpa Bentuk nya.
Pertarungan mereka benar benar sengit. Mpu Pala sangat kebingungan dengan serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Panji Watugunung.
Jurus pedang nya tidak beraturan, terlihat cantik namun sangat berbahaya. Beberapa kali Mpu Pala nyaris menjadi korban serangan pedang Panji Watugunung sampai harus berguling di tanah untuk menghindari sabetan pedang Panji Watugunung.
Tubuh tua Mpu Pala mulai kelelahan saat jurus ke 20 pertarungan pedang dengan Panji Watugunung.
Mpu Pala segera melompat mundur dua tombak ke belakang setelah sabetan pedang Panji Watugunung merobek baju nya. Nafas tua nya benar benar ngos-ngosan. Sebagai jagoan pedang nomor satu di Kadipaten Muria, dia hampir tak terkalahkan dalam permainan pedang. Namun kini, seorang pemuda bercaping mampu membuat nya keteteran.
"Anak muda,
Siapa guru mu?", tanya Mpu Pala yang mulai mengatur nafas.
"Kenapa perwira tua?
Apa kau sudah ingin menyerah?", jawab Panji Watugunung dari balik capingnya.
Cihhhhh
"Aku seorang prajurit ksatria anak muda, menyerah dalam pertarungan bukan bagian dari perjalanan hidup ku.
Lebih baik mati daripada harus menyerah", ujar Mpu Pala yang sudah mulai bernafas tenang.
"Membela kebenaran adalah salah satu tugas dari ksatria, Perwira Tua.
Tapi membela penguasa yang salah, itu bukan kewajiban seorang prajurit. Jika penguasa bertindak keliru, maka prajurit tidak wajib mengikuti nya.
Kesetiaan yang membabi-buta itu bukan dharma seorang ksatria", Panji Watugunung tersenyum tipis.
Hemmmm
"Betapa dalam wawasan mu anak muda.
Kalau pun hari ini aku mati di tangan mu, aku akan sangat bangga", Mpu Pala segera bersiap untuk melanjutkan pertarungan.
"Aku hanya prajurit yang menepati janji sekaligus dharma ku, Perwira Tua.
Jika ini pilihan mu, dengan terpaksa aku akan membunuhmu", ujar Panji Watugunung yang segera mempersiapkan jurus andalannya.
Mpu Pala segera mempersiapkan Ilmu Dewa Seribu Pedang nya. Satu gerakan tangan nya seketika menciptakan ratusan bayangan lengan memegang pedang.
Ini jurus pedang yang menciptakan ilusi pedang sehingga lawan akan kebingungan dalam menangkis serangan pedang.
__ADS_1
Panji Watugunung segera merapal Ajian Tameng Waja nya, kemudian melempar pedang rampasan yang sudah mulai rompal matanya.
Perlahan dia mencabut Pedang Naga Api dari punggungnya. Aura panas segera menyebar ke udara di sekitar tempat itu.
Melihat senjata Panji Watugunung, mata Mpu Pala melotot sesaat. Dia tau siapa pemilik senjata itu sebelumnya. Merasa dia pasti menemui ajalnya, Mpu Pala malah tersenyum lebar.
"Anak muda,
Bersiaplah menerima serangan ku", teriak Mpu Pala sambil tersenyum tipis.
Mpu Pala segera melesat cepat menuju Panji Watugunung dan mengayunkan pedangnya. Ratusan ilusi pedang merangsek mengancam nyawa.
Panji Watugunung yang masih diam, menggeser posisi kaki kiri nya mundur setengah langkah. Setelah menghisap nafas, dengan cepat Panji Watugunung melesat maju menyongsong serangan Mpu Pala.
Tringgg
Salah satu serangan Mpu Pala mampu mengecoh Panji Watugunung dan menuju ke dadanya. Namun serangan itu tidak mampu melukai kulit Panji Watugunung, karena seperti membentur logam keras.
Panji Watugunung segera menghantam bahu Mpu Pala dengan tangan kiri nya.
Deshhhhh
Mpu Pala terdorong mundur dua tombak ke belakang. Panji Watugunung segera melenting tinggi ke udara dan turun ke arah Mpu Pala sambil menebaskan Pedang Naga Api nya dengan jurus Tebasan Pedang Dewa.
Mpu Pala berusaha menangkis sabetan pedang dari Panji Watugunung.
Tranggg
Trakkk
Pedang Mpu Pala patah saat berbenturan dengan Pedang Naga Api. Dan pedang itu langsung menebas dada Senopati Muria itu.
Crashhhh
Aaaarrrggghhh
Mpu Pala meraung keras dan terlempar ke belakang lalu roboh ke tanah. Dadanya robek besar akibat tebasan pedang Panji Watugunung.
Melihat lawan sudah tak berdaya, Panji Watugunung segera mendekati ksatria Muria itu.
"An..nak Muda,
Sebut nama mu agar a-aku mati dengan tenang", ucap Mpu Pala dengan terbata-bata. Darah segar terus mengalir dari luka di dadanya.
Panji Watugunung segera melepas caping nya.
Kemudian tersenyum tipis pada Mpu Pala yang tengah sekarat.
"Nama ku Panji Watugunung, atau orang memanggil ku Pangeran Jayengrana dari Daha", jawab Watugunung seraya menatap ke arah Mpu Pala.
"Ru-rupanya Pangeran Daha yang mencabut nyawa ku. Terimakasih Pangeran", ujar Mpu Pala dengan suara lemah. Sesaat kemudian lelaki tua itu meregang nyawa lalu kepalanya terkulai lemas, tanda dia sudah tewas.
Panji Watugunung segera menutup mata Mpu Pala yang masih terbuka. Setelah itu dia berdiri dan berteriak lantang. Dengan tenaga dalam nya, suaranya terdengar keras sampai di sekitar pelabuhan Kapur.
"Senopati Muria sudah tewas.
Apa kalian masih ingin melanjutkan peperangan?".
Suara itu serta merta membuat para prajurit Muria kebingungan. Seorang perwira menengah dengan pangkat bekel prajurit segera melemparkan pedangnya tanda menyerah.
2 ribu prajurit Muria yang tersisa segera mengikuti langkah sang bekel.
Dan begitulah, pemberontakan Adipati Ratnapangkaja yang terhasut Ranggawangsa berakhir dengan takluk nya Muria di tangan pasukan Panjalu.
Panji Watugunung segera meminta bantuan Senopati Maitreya untuk mengurus para tawanan perang itu. Dengan ditemani oleh Gumbreg, Ludaka dan Jarasanda mereka menuju ke kota Kadipaten Muria.
Saat sampai di kota Kadipaten Muria, ketiga istrinya menyambut kedatangan Panji Watugunung dengan senyum manis nya.
"Kakang,
Saatnya kita berpesta"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁😁
Selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1