
Ki Saketi terus menerjang maju, sebagai wakil kepala pasukan Garuda Panjalu dia yang merasa diangkat derajatnya oleh Panji Watugunung, bertarung layaknya banteng ketaton.
Seorang anggota Gunung Kematian yang baru menyerang nya tidak menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan wakil kepala pasukan Garuda Panjalu. Dia menyerang Ki Saketi dengan membabi buta.
Ki Saketi melompat mundur lalu setelah memijak tanah, melompat maju sambil membabatkan pedang nya mengincar dada anggota Gunung Kematian yang tak siap.
Creeepp
Oughhh
Anggota Gunung Kematian tewas dengan luka menganga di dada nya. Tubuhnya roboh bersimbah darah.
Di lain tempat..
Sekar Mayang yang sedang menghadapi Setan Gundul benar benar kesulitan menghadapi gerakan Setan Gundul yang berputar seperti gasing.
Yang bisa di lakukan nya hanya menghindar sambil sesekali memberikan serangan. Dewi Srimpi baru saja menghabisi salah satu anggota Gunung Kematian segera melompat ke dekat Sekar Mayang.
"Ada apa Ndoro Selir Mayang?", tanya Dewi Srimpi sambil terus melempar jarum beracun nya ke arah musuh yang mendekat.
Whutttt
Crepp
Setiap kali jarum menancap, bisa di pastikan anggota Gunung Kematian tewas dengan mulut berbusa..
"Aku kesulitan Srimpi, gerakan tidak biasa setan tua ini membingungkan ku", jawab Sekar Mayang yang kini beradu punggung dengan Dewi Srimpi.
Sekilas Dewi Srimpi melihat serangan Setan dan segera mengetahui kelemahan dari jurus jurus nya.
"Ndoro Selir Mayang, coba serang kakinya", teriak Dewi Srimpi sambil terus bergerak menghilangkan serangan dari 2 orang anggota Gunung Kematian yang mengeroyoknya.
Sekar Mayang segera mengangguk. Dengan cepat Sekar Mayang menyabetkan Selendang Es nya mengincar kaki Setan Gundul.
Lelaki paruh baya berkepala plontos itu terkejut bukan main ketika Sekar Mayang menyerang kaki nya. Dengan cepat dia menghentikan gerakan nya dan mundur satu tombak ke belakang.
'Perempuan busuk ini mengetahui kelemahan jurus putaran bumi ku. Aku harus segera merubah pola serangan ku', batin Setan Gundul.
"Kenapa kau mundur kepala botak? Apa kau takut kepala plontos mu itu akan benjol benjol aku gebuki?", ujar Sekar Mayang terus mengejek Setan Gundul.
Wajah lelaki itu menyeringai bengis.
"Kau terlalu jumawa gadis tengik. Ku pastikan bahwa hari ini aku antar kau ke neraka".
"Jangan banyak omong botak, tunjukkan padaku kemampuan mu baru kau bisa berkata demikian", Sekar Mayang terus memancing emosi setan tua itu.
"Keparat!!
Ku robek mulut mu".
Usai berkata demikian, Setan Gundul melesat cepat menyabetkan pedang nya kearah dada Sekar Mayang.
Selir kedua Panji Watugunung itu segera mengalirkan tenaga dalam pada Selendang Es nya. Sekar Mayang memilin selendangnya dan Selendang Es menjadi kaku seperti tongkat besi.
Serangan Setan Gundul langsung di tangkis dengan selendang Sekar Mayang.
Trang..
Dengan gerakan cepat, Sekar Mayang berputar dan melayangkan tendangan keras ke arah punggung Setan Gundul.
Bukkkkk
Setan Gundul jatuh dengan menghujam tanah.
Pria berkepala plontos yang juga menjadi tangan kanan Dewa Maut itu marah besar.
Seketika pria plontos itu berdiri. Tangan nya menyilang di depan dada. Seberkas sinar biru hitam berhawa panas muncul di kedua tangan nya. Pukulan Tangan Iblis tingkat 4. Dengan cepat, pria plontos itu menghantamkan kedua tangannya ke arah Sekar Mayang.
Whussss
Sinar biru hitam menerabas cepat kearah Sekar Mayang. Dengan cepat, Sekar Mayang melompat. Namun dia terlambat sekejap, angin pukulan sempat mengenai tubuh nya.
Serangan Setan Gundul terus menerjang. Dewi Srimpi melompat mundur dua tombak dan 2 orang anggota Gunung Kematian naas tersambar Pukulan Tangan Iblis dari Setan Gundul.
Blarrrrr!
Tubuh dua orang anggota Gunung Kematian itu remuk dengan dada hancur. Mereka tewas seketika.
Dewi Srimpi segera melompat ke arah Sekar Mayang.
"Ndoro Selir, kau tidak apa-apa?", tanya Dewi Srimpi melihat Sekar Mayang sedikit kesulitan bernapas.
"Dada ku sedikit sesak", jawab Sekar Mayang. Dewi Srimpi segera mengambil sebutir pil dari botol keramik di sakunya dan memberikan pada Sekar Mayang. Gadis itu dengan cepat menelan nya. Sesak di dadanya cepat menghilang.
Setan Gundul kembali menghantamkan tangan nya, dan kembali sinar biru hitam berhawa panas itu melabrak ke arah Sekar Mayang dan Dewi Srimpi. Dua gadis itu berpencar ke arah berlawanan dan menyerang Setan Gundul dari dua arah.
Setelah beberapa jurus, Dewi Srimpi yang pintar membaca kelemahan lawan segera melempar jarum kecil berwarna merah arah ketiak kanan setan Gundul.
Crepp..
Setan Gundul merasakan kebas di tangan kanan nya mencoba mundur selangkah namun Sekar Mayang yang menyerang dari sisi kiri tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tangan Sekar Mayang yang berubah warna kemerahan seperti api dengan telak menghajar dada kiri Setan Gundul.
__ADS_1
'Tapak Dewa Api, Chiaaatttttt...'
Blammmm!!
Setan Gundul terlempar dua tombak ke belakang. Dada kiri nya gosong seperti terbakar api. Dia tewas seketika dengan mata melotot.
"Srimpi, terimakasih atas bantuan mu. Kalau dia tidak kau racun, mustahil aku mengalahkan nya", ujar Sekar Mayang tersenyum.
"Sama sama Ndoro Selir, saya wajib menjaga semua istri Denmas Panji", jawab Dewi Srimpi yang segera mencabut Pedang Kelabang Sewu nya saat melihat Tumenggung Adiguna di keroyok 5 anggota Gunung Kematian. Gadis bercadar hitam itu segera melesat cepat menuju ke arah Tumenggung Adiguna.
Tumenggung Adiguna nyaris tewas, saat pedang anggota Gunung Kematian akan menebas leher nya. Sebuah pedang berwarna biru gelap menangkis sabetan pedang anggota Gunung Kematian.
Tringg..
Anggota Gunung Kematian melompat mundur dan merasa tangan mereka kesemutan saat berbenturan pedang dengan Dewi Srimpi.
Sedang Dewi Srimpi segera menarik baju Tumenggung Adiguna mundur 2 tombak.
Beberapa luka sayatan pedang sudah menghiasi tubuh kepala pasukan Daha itu.
Dewi Srimpi buru buru mengambil sebutir pil berwarna merah dari bajunya dan memberikan pada Tumenggung Adiguna yang dengan cepat menelan nya.
Tubuh Tumenggung Adiguna seketika menghangat.
"Terimakasih cah ayu", ujar Tumenggung Adiguna sambil berdiri lagi.
Dewi Srimpi hanya mengangguk sambil terus memandang kearah para anggota Gunung Kematian.
Setelah saling pandang sesaat, anggota Gunung Kematian menerjang maju. Tumenggung Adiguna yang sudah merasa baikan segera menyongsong mereka. Dewi Srimpi tidak tinggal diam. Pedang Kelabang Sewu nya membabat kearah anggota Gunung Kematian yang seperti kesurupan menyerang.
Di lain tempat, Panji Watugunung menyalurkan tenaga dalam nya ke Kelabang Koro yang terluka.
Wajah kakek tua itu berangsur memerah.
Beberapa pengikut Kelabang Koro segera memapah tubuh lurah nya sedikit menepi dari area pertarungan.
Panji Watugunung segera melangkah menuju Dewa Maut. Matanya berkilat menahan marah.
Dewa Maut menyeringai lebar.
"Sebelum kau mati, sebutkan nama mu bocah tengik".
"Aku Panji Watugunung. Ingat baik-baik nama ku agar saat raja neraka bertanya siapa yang mengantar mu kesana, kau bisa menjawab nya", Panji Watugunung berteriak keras.
"Bangsat!
Ku cabut nyawa mu bocah tengik".
Tubuh Panji Watugunung tiba tiba di selimuti cahaya kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja.
Dhuarrrr!!
Terjadi ledakan dahsyat dan asap mengepul dari tubuh Panji Watugunung. Dewa Maut yang tersenyum penuh kemenangan seketika melotot melihat Panji Watugunung hanya tersenyum tipis saat asap menghilang.
'Bedebah. Dia punya Ajian Tameng Waja rupanya'
"Pantas kau jumawa bocah tengik. Siapa yang mengajari mu Ajian Tameng Waja?", tanya kakek tua berwajah codet di sebelah kiri itu.
"Maju saja kau Dewa Maut, jangan banyak omong", jawab Watugunung seraya bersiap untuk melanjutkan pertarungan.
"Bangsat ingusan!
Bosan hidup kau rupanya".
Dewa Maut melompat ke udara dan melepaskan jurus Pukulan Tangan Iblis tingkat tinggi bertubi tubi ke arah Panji Watugunung.
Blarrr! Blarrr!
Blar! Blarrrrr!!!
Ledakan keras beruntun terus terjadi. Panji Watugunung terus bertahan menghadapi serangan. Saat melihat ada kesempatan, pemuda itu dengan cepat menyentil kan jari tangan nya yang di liputi sinar putih kebiruan. Tahap pertama Ajian Guntur Saketi.
Whutttt
Sinar putih kebiruan melesat cepat menuju leher dewa Maut tapi bisa di hindari walau masih membuat luka memanjang di pipi kanan kakek tua itu.
Dewa Maut marah besar. Perlahan dia mengusap darah yang menetes di pipi nya. Bekas luka di pipi kiri nya dulu di dapat saat bertarung melawan Mpu Sakri si Tangan Api. Kini seorang pemuda menambah luka di pipi kanan nya.
"Bangsat tengik!!
Akan ku hancurkan tubuh mu hingga jadi abu".
Seketika tangan Dewa Maut mengeluarkan sinar berwarna menjadi biru kehijauan yang berhawa panas. Sekali ayun, sinar biru kehijauan dari Pukulan Tangan Iblis tingkat akhir melesat cepat menuju ke arah Panji Watugunung.
Namun Panji Watugunung sama tidak bergerak. Tubuhnya tertutup sinar kuning keemasan dan dari dada kanan menjalar sinar putih kebiruan. Mengumpul di telapak tangan Panji Watugunung. Dengan cepat Panji Watugunung menghantamkan kedua tangan nya.
'Guntur Saketi, hiyaaaaaatttttt'
Sinar putih kebiruan segera menyongsong Pukulan Tangan Iblis dari Dewa Maut.
Dhuarrrr blammm!!!
Kerasnya ledakan membuat gelombang kejut yang luar biasa. Semua orang segera menyingkir dari dekat arena pertarungan Dewa Maut dan Panji Watugunung.
__ADS_1
Panji Watugunung terdorong ke belakang 1 tombak dan Dewa Maut juga satu tombak.
Kelabang Koro dari jauh yang melihat pertarungan itu menganga tak percaya.
'Ilmu bocah tengik itu ternyata lebih baik dari aku'.
Dewa Maut memang unggul dalam pengalaman bertarung. Serangan gencar nya terus menghujani tubuh Panji Watugunung yang terlindungi Ajian Tameng Waja.
Saat Dewa Maut melihat celah pertahanan Panji Watugunung, dia melesat cepat mengincar ketiak kanan yang sedikit terbuka.
Tusukan Jurus Jari Maut dari Dewa Maut sudah hampir mencapai tujuan saat sebuah bayangan berkelebat cepat menghalangi jurus itu. Panji Watugunung terdorong satu tombak.
Bayangan itu adalah Kelabang Koro. Tusukan jari Dewa Maut telak menembus ulu hati nya. Darah segar muncrat dari mulut Kelabang Koro. Namun tangan Kelabang Koro masih sempat menusukkan jarum kecil yang mengandung racun pelemas tenaga pada lengan Dewa Maut. Kakak seperguruan Kelabang Koro itu menendang tubuh Kelabang Koro hingga menuju Panji Watugunung yang segera menangkap tubuh kakek tua itu.
Dewa Maut melompat mundur dua tombak.
"Paman, kenapa kau menyelamatkan ku?", ucap Panji Watugunung sambil berkaca-kaca.
Kelabang Koro terus muntah darah segar. Dari bibir lelaki tua itu terukir senyum.
"Bocah bagus, aku hanya menolong menantu ku".
Dewi Srimpi melihat ayahnya sekarat segera berlari menuju Panji Watugunung dan Kelabang Koro.
"Ayaaaahhhhh"
Dewi Srimpi segera memeluk tubuh ayahnya.
Tangisannya pecah seketika.
Kelabang Koro hanya tersenyum. Wajahnya semakin memucat. Pandangan nya beralih pada Panji Watugunung.
"Bocah bagus, ingat ja-janjimu"
Usai berkata demikian, tubuh tua Kelabang Koro melemas. Diam. Dan tak bergerak lagi.
"Ayaaaahhhhh".
Teriakan keras Dewi Srimpi mengantar kematian Kelabang Koro.
Panji Watugunung berdiri sambil menatap wajah sepuh Kelabang Koro yang sudah menjadi mayat.
"Aku akan menepati janjiku Paman.
Sekarang saatnya ku balas kematian mu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huaaaaaa author gak kuat nahan air mata..
😭😭😭😭😭
Jangan lupa dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍
Selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1