Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kisruh Istana Lodaya


__ADS_3

Malam itu, pasukan pemberontak pimpinan Mpu Wijaya dan Sima Lodra bergerak menuju ke arah istana Lodaya.


Gerakan cepat dan senyap mereka membuat keberangkatan mereka nyaris tidak diketahui oleh para telik sandi yang disebar di sekitar kota Lodaya. Hanya seorang telik sandi yang bernama Ki Brojo yang melihat adanya gerakan diam-diam dari para penyerbu itu.


Ki Brojo yang menggunakan pakaian petani di timur kota Lodaya, melihat kedatangan para pemberontak saat sedang duduk di belakang rumah nya, segera berlari menuju ke kandang kudanya dan mengeluarkan seekor kuda hitam.


Pria paruh baya itu segera melompat ke atas kuda nya dan memacu kuda menuju ke arah Istana Lodaya.


Namun naas, Randu Laweyan yang melihat ada seorang memacu kudanya menuju ke arah istana Lodaya langsung melempar pisau kearah Ki Brojo.


Whuuuuttt


Pisau melesat cepat kearah punggung Ki Brojo.


Crreepppp..


Aauuggghhhh!!


Ki Brojo menjerit saat pisau Randu Laweyan menancap di punggung kanannya. Tapi laki laki paruh baya itu terus memacu kudanya dengan cepat. Darah mengalir dari luka yang dialami oleh Ki Brojo.


"Sial,


Dia berhasil lolos", ujar Randu Laweyan dengan geram.


"Sudah biarkan saja. Sebentar lagi orang itu pasti mampus kehabisan darah, Randu", ucap Sima Lodra yang terus bergerak cepat kearah Istana Lodaya. Randu Laweyan dan para prajuritnya terus mengekor di belakang Sima Lodra.


Ki Brojo terus menggebrak kudanya ke arah pintu gerbang istana Lodaya. Saat sampai di depan pintu gerbang istana, Ki Brojo jatuh dari kudanya. Para prajurit penjaga gerbang langsung mendekat ke arah Ki Brojo.


"A-aku Ki Brojo. Te-telik sandi Pangeran Arya Tanggung. A-ada pasukan besar yang bergerak ke kemari", usai berkata demikian, Ki Brojo pingsan karena terlalu banyak darah yang keluar dari luka yang di deritanya.


Salah seorang prajurit yang mengenalinya, segera berlari masuk ke dalam istana pribadi Arya Prabu. Dua orang membopong tubuh Ki Brojo masuk ke dalam benteng istana Lodaya, sementara seorang yang lain langsung berlari menuju ke arah kentongan.


Thoongg thong tonggg...


Suara titir kentongan tanda bahaya segera bertalu-talu di malam hari itu. Para prajurit penjaga gerbang istana segera menutup pintu gerbang. Beberapa prajurit langsung berjaga di atas tembok benteng istana dengan panahnya.


Suasana malam yang dingin langsung berubah menjadi panas dan tegang.


Panji Watugunung yang sedang duduk berbincang dengan Arya Prabu dan Arya Tanggung segera menoleh ke arah bunyi kentongan yang bertalu-talu. Apalagi saat seorang prajurit berlari menuju ke arah mereka.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Ki Brojo, telik sandi yang di kirim Gusti Pangeran Arya Tanggung melaporkan bahwa ada pasukan besar yang tengah menuju kemari", lapor sang prajurit dengan cepat.


Mendengar laporan itu, Arya Prabu segera berdiri dari tempat duduknya.


"Panggil Senopati Rangga Suta dan Patih Mpu Wanaraja, cepat!", perintah Arya Prabu segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar sang prajurit penjaga segera. Dia segera menyembah pada Arya Prabu dan bergegas menuju kediaman Senopati Rangga Suta dan Patih Mpu Wanaraja.


Kedua pembesar istana Lodaya yang juga kaget dengan tanda bahaya berbunyi, segera berlari menuju ke arah ke istana pribadi Pangeran Arya Prabu. Mereka bertemu dengan prajurit utusan Arya Prabu dan segera mengikuti langkah sang prajurit kembali ke istana pribadi Sang Pangeran.


Dua punggawa istana Lodaya itu segera menyembah pada Arya Prabu.


"Rangga Suta,


Siapa yang berjaga malam ini?", tanya Arya Prabu segera.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Malam ini adalah tugas jaga Tumenggung Galasapta dan Bekel Tambir", jawab Senopati Rangga Suta sambil menghormat pada Arya Prabu.


Hemmmm


"Kerahkan seluruh prajurit yang ada di istana Lodaya. Bersiaplah untuk perang", perintah Arya Prabu segera.


Dua punggawa istana Lodaya itu segera menyembah pada Arya Prabu dan segera mundur dari serambi istana pribadi Kepangeranan Lodaya.


"Maafkan aku Pangeran Jayengrana,


Aku tidak menyangka bahwa peristiwa makar yang aku khawatirkan justru terjadi saat kau ada disini", ujar Arya Prabu pada Panji Watugunung yang sedari tadi terus memperhatikan keadaan sekitar.


"Sudahlah Gusti Pangeran,


Itu bukan masalah besar. Yang penting hadapi situasi ini dengan cepat. Aku ada disini, aku juga akan ikut membantu Gusti Pangeran membereskan masalah ini", jawab Panji Watugunung yang segera membuat Arya Prabu tersenyum.


Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera mundur dari serambi istana pribadi Arya Prabu dan kembali ke balai tamu Kepangeranan Lodaya.


Disana, ketiga istrinya sudah bersiap siap untuk berperang karena tabuhan kentongan cepat tadi merupakan tanda bahwa ada bahaya yang sedang terjadi.


"Kakang Watugunung,


Apa yang sebenarnya tengah terjadi?", tanya Rara Sunti segera setelah Panji Watugunung menemui mereka.


"Ada sepasukan prajurit yang sedang menuju kemari, Dinda Cempluk.


Kemungkinan besar mereka adalah pasukan pemberontak yang diceritakan Nyi Kembang Jenar kemarin", jawab Panji Watugunung sambil menatap wajah Rara Sunti.


Ketiga istri Panji Watugunung segera saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka sama sama mengangguk mengerti.


Panji Watugunung tersenyum tipis. Mata pria tampan itu terpejam sejenak kemudian tangan kanannya tiba-tiba merogoh ke udara. Tangan itu terlihat menembus sesuatu dan kemudian menarik Pedang Naga Api yang tersimpan di sana.


Para istri Panji Watugunung tersenyum tipis saja.


Panji Watugunung segera mengalungkan tali yang mengikat sarung Pedang Naga Api di punggungnya. Mereka segera melesat menuju ke pintu timur gerbang istana Lodaya.


Dari arah timur, pasukan Mpu Wijaya dan Sima Lodra telah sampai di luar pintu gerbang istana. Melihat pintu gerbang istana yang tertutup rapat, Mpu Wijaya dan Sima Lodra saling pandang.


"Rupanya kedatangan kita telah di ketahui, Sima Lodra", ujar Mpu Wijaya sambil menatap ke arah pintu gerbang istana.


"Benar Kakang..

__ADS_1


Sepertinya orang yang tadi di lukai oleh Randu Laweyan berhasil sampai di istana dan melaporkan kedatangan kita", Sima Lodra mengamati sekeliling tempat itu.


"Sudah kepalang basah. Kita paksa masuk ke dalam istana Lodaya, Sima Lodra", perintah Mpu Wijaya pada sekutunya itu.


"Baik Kakang Wijaya..


Galihasem, Tumpakranu..


Kalian coba untuk mendekati pintu gerbang istana Lodaya. Awas jebakan yang mungkin ada. Perhatikan juga para pemanah", ucap Sima Lodra pada dua bawahan kepercayaan nya.


Galihasem dan Tumpakranu segera menghormat pada Sima Lodra dan segera melesat cepat kearah pintu gerbang istana Lodaya sambil mencabut pedangnya masing-masing.


Belum sempat mereka mendekati pintu gerbang istana Lodaya, puluhan anak panah melesat cepat kearah mereka.


Sringg sringg sringg!!!


Galihasem segera memutar pedangnya untuk menangkis anak panah yang mengincar nyawanya, begitu juga Tumpakranu.


Tranggg traakk..


Anak panah yang berhasil di tangkis langsung hancur berkeping-keping. Beberapa berhasil di hindari oleh Galihasem dan Tumpakranu terus bergerak cepat. Namun puluhan anak panah terus berdatangan ke arah mereka. Dua orang bawahan Sima Lodra itu segera mundur.


"Tidak bisa lurah e..


Pasukan pemanah mereka bersiaga di atas tembok istana. Kita tidak bisa menembus pertahanan mereka", ujar Galihasem pada Sima Lodra.


Mendengar laporan itu, Mpu Wijaya geram seketika.


Laki laki paruh baya itu segera menyilang tangan di depan dada. Segera tangan kiri nya mencengkeram sebuah batang kayu besar yang tertumpuk di sisi jalan raya itu.


"Retnaningsih..


Lindungi aku!", teriak Mpu Wijaya pada Dewi Racun Selatan yang segera mengangguk mengerti.


Perempuan paruh baya itu segera melompat tinggi ke udara dan melempar ratusan jarum beracun miliknya.


Shrrrinnngggg!!


Sringg!


Sringg!!!


Ratusan jarum beracun melesat cepat kearah para pemanah yang ada di atas tembok benteng istana.


Creeppp!!


Ougghhh!!!


Saat terdengar suara jerit kesakitan para prajurit pemanah, Mpu Wijaya segera menjejak tanah dengan keras dan melesat cepat kearah pintu gerbang istana Lodaya sambil menghantamkan balok kayu pada pintu timur gerbang istana.


Dengan segenap tenaga dalam yang dimiliki, Mpu Wijaya menghantam pintu gerbang tersebut.


Bruakkk!!!


Melihat itu, para anggota pasukan pemberontak langsung merangsek maju ke dalam istana. Namun baru mencapai pintu, ratusan prajurit Kepangeranan Lodaya sudah menghadang laju mereka.


Perang segera pecah di dalam istana Lodaya.


Sima Lodra yang memiliki kesaktian diatas rata rata, segera melesat masuk ke dalam istana. Melihat itu, Senopati Rangga Suta segera menghadang laju pergerakan Sima Lodra dengan membabatkan pedang nya.


Sreeeetttt


Sima Lodra yang mendapat serangan mendadak, langsung merubah gerakan tubuhnya menghindari sabetan pedang Senopati Rangga Suta yang mengincar nyawanya.


"Rangga Suta,


Kau akan menjadi korban pertama ku", teriak Sima Lodra sambil menyeringai lebar.


"Jangan jumawa dulu, Sima Lodra. Mari kita buktikan, siapa yang tumbang lebih dulu", Rangga Suta memutar pedang nya.


Sima Lodra segera melesat cepat kearah Senopati Rangga Suta sambil menghantamkan tangan kanannya. Melihat lawan nya maju, Rangga Suta langsung menebaskan pedangnya kearah tangan lelaki berkumis jarang itu.


Whuuuuttt


Sima Lodra segera merubah gerakan tubuhnya menghindari sabetan pedang, tangan kanannya menukik ke tanah dan menjadi tumpuan kala kaki kanan nya menghantam bahu Senopati Rangga Suta.


Deshhhh


Senopati Lodaya itu terhuyung-huyung ke belakang. Belum sempat dia berdiri tegak, sapuan kaki kiri Sima Lodra segera menghajar betis kanan Rangga Suta.


Braakkkk


Tubuh Rangga Suta oleng hendak roboh ke tanah. Saat Sima Lodra hendak menghantam dada Rangga Suta, sabetan pedang Rangga Suta terarah cepat pada tangan kanannya.


Sreeeetttt


Sima Lodra terpaksa mundur untuk menyelamatkan tangannya. Sementara Rangga Suta yang baru saja jatuh ke tanah segera berdiri. Mata Senopati Lodaya itu membeliak marah.


Phuihhhh


Rangga Suta meludahkan darah yang ada di mulut nya. Senopati Lodaya itu segera menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya. Dengan meningkatkan tenaga dalam nya, pria paruh baya itu dengan cepat melesat ke arah Sima Lodra.


Melihat kecepatan langkah kaki dan serangan Rangga Suta, Sima Lodra sedikit terkejut.


Sabetan pedang Rangga Suta mengarah ke leher Sima Lodra. Dengan kecepatan yang nyaris bertambah dua kali lipat, Sima Lodra harus berjumpalitan kesana kemari menghindari sabetan pedang Rangga Suta yang memburu nyawa pemimpin kelompok perusuh itu.


Sinar bulan yang mendekati purnama menjadi saksi pertarungan sengit di dalam istana Lodaya.


Sima Lodra segera melompat mundur beberapa tombak menjauhi Rangga Suta. Dengan cepat dia merapal mantra Ajian Tapak Surya nya. Tangan kanannya segera merubah warna menjadi kuning kemerahan seperti sinar matahari akibat sinar yang bergulung-gulung di sana.


Melihat lawan nya menggunakan Ajian andalannya, Senopati Rangga Suta segera merapal Ajian Pembelah Langit. Dengan menyalurkan inti sari dari ajian ini pada pedang pusaka nya, seketika pedang yang bersinar biru terang.

__ADS_1


Sima Lodra segera melompat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanannya. Sinar kuning kemerahan seperti sinar matahari menerabas cepat kearah Senopati Rangga Suta.


Siiiiiuuuuuuutttt...


Rangga Suta yang sudah bersiap, langsung membabatkan pedang nya kearah sinar kuning kemerahan seperti sinar matahari dari tangan Sima Lodra.


Tranggg traakk..


Blammmmm!!!


Pedang Senopati Rangga Suta patah, tak mampu menahan beban ajian Tapak Surya yang dilepaskan oleh Sima Lodra.


Senopati Lodaya itu terlempar jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.


Huuoogghh


Rangga Suta langsung muntah darah segar akibat luka dalam yang dia dapat dari benturan dengan Ajian Tapak Surya.


Sima Lodra menyeringai lebar melihat Rangga Suta yang sudah tak berdaya.


"Sekarang akan ku kirim nyawamu ke neraka, Rangga Suta!", teriak Sima Lodra yang segera melesat cepat kearah Senopati Lodaya itu. Tangan kanannya bermaksud menghantam kepala Rangga Suta.


Senopati Lodaya itu hanya bisa pasrah, tubuhnya sulit untuk menghadapi serangan Sima Lodra. Dia sudah bersiap untuk menjemput ajalnya.


Saat tangan Sima Lodra hampir menyentuh kepala Senopati Rangga Suta, sebuah pedang menebas cepat kearah tangan Sima Lodra.


Sreeeetttt..


Melihat serangan tak terduga itu, Sima Lodra cepat cepat menarik tangan kanannya dan melompat mundur beberapa tombak. Terlambat sekejap, pasti tangan kanannya putus di tebas pedang.


Rara Sunti dan Naganingrum datang pada saat yang tepat.


Melihat lawan yang nyaris membunuh Rangga Suta, Rara Sunti segera melesat cepat sambil mengayunkan pedang nya ke arah tangan Sima Lodra yang nyaris menyentuh kepala Senopati Lodaya itu.


"Perempuan tengik,


Kenapa kau ikut campur urusan ku?", hardik Sima Lodra sambil mendelik tajam ke arah Rara Sunti.


"Membunuh orang yang sudah tidak berdaya, bukan sikap seorang pendekar.


Aku hanya membantu mu untuk layak di sebut sebagai pendekar", ujar Rara Sunti dengan cepat.


Chuihhhh


"Dalam pertarungan, yang ada hanya kalah dan menang.


Tidak peduli dengan cara apa", teriak Sima Lodra dengan garang.


"Eleuh eleuh aki aki tua,


Sombong pisan euy..


Sunti,


Eta aki aki pikun biar Eneng yang hajar nya. Sunti jaga orang ini", sahut Naganingrum sambil menatap ke arah Rara Sunti.


"Baik Kangmbok Naganingrum, berhati hatilah.


Buat dia babak belur untuk mempertanggungjawabkan kesombongannya", ujar Cempluk Rara Sunti segera.


Naganingrum segera mengangkat jempol tangan kanannya dan tersenyum pada Rara Sunti. Istri ketiga Panji Watugunung segera berbalik ke arah Sima Lodra.


"Aki aki pikun,


Sok atuh maju lawan Eneng".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2