
Garungwangi terus memacu kudanya menuju ke arah kota Kayuwarajan Kadiri. Menjelang tengah hari, Garungwangi sampai didepan istana Katang-katang. Di depan pintu gerbang istana Katang-katang, 4 orang prajurit penjaga gerbang istana menghentikannya.
"Berhenti kisanak", ujar seorang prajurit penjaga gerbang istana dengan menyilangkan tombak nya.
"Ada perlu apa kau ke istana Katang-katang?", tanya seorang prajurit penjaga yang berbadan tegap.
"Saya mau bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Jayengrana, atau Gusti Senopati Warigalit.
Ada berita penting dari Padepokan Padas Putih", jawab Garungwangi dengan sopan.
"Tunggu disini kisanak,
Aku akan menemui Gusti Pangeran Panji Jayengrana", ujar si prajurit berbadan tegap.
Garungwangi mengangguk tanda mengerti dan si prajurit berbadan tegap itu segera melangkah masuk menuju ke balai paseban agung Kayuwarajan Kadiri.
Panji Watugunung sedang duduk di kursi kebesarannya. Pangeran Daha itu memegang dagunya sambil mendengarkan penjelasan dari beberapa pembesar istana Kayuwarajan Kadiri.
Si prajurit berbadan tegap langsung berjalan jongkok begitu memasuki paseban agung. Begitu sampai di hadapan Panji Watugunung, dia menyembah dan duduk bersila.
"Ada apa prajurit? Apa ada hal penting yang perlu kau laporkan pada ku?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Seorang lelaki muda mengaku membawa berita penting dari Padepokan Padas Putih. Dia ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Jayengrana atau Gusti Senopati Warigalit", jawab si prajurit berbadan tegap itu kemudian.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah Warigalit yang duduk di samping kanan nya.
Usai Warigalit mengangguk halus, Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia berkenan menerima.
"Persilakan dia masuk", titah sang Yuwaraja Panjalu segera.
Si prajurit menyembah, kemudian berbalik dengan jalan jongkok sampai di ujung balai paseban agung. Kemudian ia melangkah menuju ke arah pintu gerbang istana.
Tak berapa lama kemudian, dia kembali dengan seorang lelaki muda yang tak lain adalah Garungwangi, salah satu murid Padepokan Padas Putih yang merupakan murid Mpu Wanabhaya.
Dengan cara yang sama, mereka berdua segera duduk bersila di hadapan Panji Watugunung. Panji Watugunung dan Warigalit mengenali pemuda itu.
"Apa yang membuat mu datang kemari, saudara Garungwangi? Apa ada masalah dengan Padepokan Padas Putih?", tanya Panji Watugunung sambil memandang kearah Garungwangi.
Garungwangi segera menghormat pada Panji Watugunung.
"Ampuni saya Gusti Pangeran,
Kedatangan saya kemari karena ada masalah gawat. Padepokan Bukit Jerangkong bersama para dedengkot pendekar golongan hitam di wilayah Jenggala berniat memusnahkan Padepokan Padas Putih. Mereka hendak menuntut balas atas kekalahan mereka dari Gusti Pangeran pada Padepokan Padas Putih karena mereka menganggap Padas Putih menyokong perjuangan Gusti Pangeran", ujar Garungwangi dengan sopan.
"Atas dasar apa mereka berpikir seperti itu?", tanya Panji Watugunung segera.
"Itu karena hasutan Iblis Abu-abu dan Pedang Iblis yang sekarang menjadi pemimpin tertinggi Padepokan Bukit Jerangkong, Gusti Pangeran.
Pada tengah purnama ini mereka berencana untuk menyerang Padepokan Padas Putih.
Saya mohon pada Gusti Pangeran dan Gusti Senopati Warigalit agar bersedia mengulurkan bantuan untuk Padepokan Padas Putih. Guru Wanabhaya sedang sakit, Mpu Sasi sudah bertapa di Goa Moksa. Tinggal Mpu Rungkat dan Mpu Sakri serta Mpu Narasima saja yang masih bisa diandalkan. Sebagian besar murid adalah murid baru, karena yang seangkatan dengan Gusti Pangeran sudah banyak yang pulang ke daerah asal masing-masing", jawab Garungwangi sambil menghormat.
Hemmmm
"Masalah ini kita bahas di lain tempat.
Paman Patih Saketi,
Bubarkan paseban agung. Dan kau saudara Garungwangi, ikut aku bersama Kakang Warigalit", titah Panji Watugunung sambil berdiri dari kursi kebesarannya. Semua orang di balai paseban agung segera menyembah kepada Panji Watugunung, lalu pria itu melangkah menuju ruang pribadi Yuwaraja diikuti Garungwangi dan Senopati Warigalit.
Usai Panji Watugunung dan Warigalit serta Garungwangi pergi, Patih Saketi segera membubarkan pisowanan para pembesar istana Kayuwarajan Kadiri.
Sesampainya di ruang pribadi Yuwaraja, Panji Watugunung segera duduk di kursi nya. Warigalit segera duduk bersila di lantai ruang pribadi yuwaraja diikuti oleh Garungwangi.
"Saudara Garungwangi,
Darimana kau dengar berita itu?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke arah Garungwangi.
"Saya mencuri dengar percakapan Jerangkong Hitam dari Padepokan Bukit Jerangkong dan Dewi Ular Hijau dari Lembah Angin saat turun ke kota Pakuwon Bandar satu purnama yang lalu.
Mulanya saya tidak menghiraukan percakapan mereka, tapi tiga hari yang lalu, Wirotama yang sedang turun ke kota Pakuwon Bandar juga mendengar hal yang sama tapi dari murid Padepokan Teratai Jingga dan Macan Pasuruhan.
Berarti bisa dipastikan bahwa semua ini bukan sekedar berita hisapan jempol belaka Gusti Pangeran", ujar Garungwangi dengan lugas.
Hemmmm
"Kakang Warigalit,
Apa pendapatmu tentang masalah ini?", Panji Watugunung menoleh kearah Warigalit.
"Maaf Dhimas Pangeran,
Padepokan Padas Putih ada di wilayah Jenggala. Jika kita membawa prajurit kesana, sama dengan kita mengibarkan bendera perang pada Jenggala.
Kita harus berhati-hati dalam bertindak untuk saat ini", ujar Warigalit seraya menghormat pada Panji Watugunung.
"Kau benar Kakang,
Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan masalah ini begitu saja. Bagaimanapun kita adalah murid Padepokan Padas Putih. Tidak mungkin kita biarkan ada pihak yang ingin menghancurkan Padas Putih begitu saja", Panji Watugunung nampak mengerutkan keningnya.
"Begini saja Kakang,
__ADS_1
Kita akan bergerak dalam penyamaran agar tidak mengundang perhatian dari Jenggala. Untuk pasukan, akan kita temui nenek ku Dewi Anggrek Bulan di Padepokan Anggrek Bulan.
Mereka pasti bersedia membantu ku.
Urusan Kayuwarajan Kadiri, biar di atur oleh Dinda Anggarawati dan Paman Patih Saketi.
Bagaimana menurut mu Kakang Warigalit?", tanya Panji Watugunung segera.
"Saya setuju dengan kebijakan mu Dhimas,
Kayuwarajan Kadiri harus tetap berjalan sebagaimana mestinya", ujar Senopati Warigalit sambil menghormat.
Usai berbincang sebentar dengan Garungwangi, Warigalit segera mengantar Garungwangi ke balai peristirahatan tamu Kayuwarajan Kadiri sedangkan Panji Watugunung segera bergegas menuju ke Puri pribadi Ratna Pitaloka. Kebetulan Sekar Mayang juga ada disana.
"Ada apa Kakang Watugunung? Sepertinya ada sesuatu yang penting?", tanya Ratna Pitaloka yang segera berdiri saat melihat Panji Watugunung datang ke Puri pribadi nya.
"Ada sesuatu yang mendesak Dinda Pitaloka.
Kau ingat dengan Garungwangi?", Panji Watugunung memandang wajah cantik Ratna Pitaloka.
"Ingat Kakang,
Bukankah dia murid Mpu Wanabhaya?", Ratna Pitaloka tersenyum kearah Panji Watugunung segera.
"Ada apa dengan Garungwangi Kakang?", sahut Sekar Mayang yang sedari tadi hanya diam.
"Garungwangi datang membawa berita buruk. Menurut berita yang dia dengar, ada rencana pemusnahan Padepokan Padas Putih oleh para tokoh golongan hitam yang di pimpin oleh Padepokan Bukit Jerangkong", ujar Panji Watugunung segera.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terkejut bukan main mendengar perkataan Panji Watugunung.
"Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi Kakang,
Bagaimanapun juga, kita adalah murid murid Padepokan Padas Putih", ujar Ratna Pitaloka dengan sungguh-sungguh.
"Benar Kakang, Padas Putih adalah rumah kedua bagi kita. Kita semua besar di sana", timpal Sekar Mayang segera.
Maka siang itu segera diputuskan untuk berangkat ke Padas Putih. Urusan Kayuwarajan Kadiri di urusi oleh Dewi Anggarawati, Ayu Galuh dan Patih Saketi. Cempluk Rara Sunti bertugas menjaga kakak madunya Ayu Galuh yang baru selesai masa nifasnya.
Sedangkan Panji Watugunung, Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Naganingrum berangkat ke Gunung Penanggungan bersama Warigalit, Ratri dan Garungwangi.
Siang itu juga, mereka dengan pakaian biasa memacu kuda mereka menuju ke arah Bukit Lanjar untuk meminta pertolongan kepada Dewi Anggrek Bulan.
Saat menjelang malam, mereka tiba di kaki Bukit Lanjar. Kedelapan orang itu segera menyalakan obor sebagai penerang jalan. Bulan lebih dari separuh, menggantung indah di langit malam yang gelap menemani langkah kaki kuda mereka menembus malam hari.
Seorang wanita muda yang ada di menara pengawas melihat 8 obor bergerak menuju ke arah pintu gerbang Padepokan Anggrek Bulan, segera menyikut pinggang kawannya yang ketiduran.
"Bangun,
Si wanita muda yang tertidur itu segera bangun, dan segera melotot melihat kearah obor yang bergerak di kegelapan malam.
"Celaka,
Aku akan melapor pada Kangmbok Anggrek Perak. Kau tunggu saja disini", kata wanita muda yang bertubuh kurus itu sambil segera melompat turun dari menara pengawas.
Perempuan itu segera berlari menuju ke arah tempat Anggrek Perak yang merupakan murid utama kedua dari Dewi Anggrek Bulan.
"Kangmbok Perak,
Ada 8 obor bergerak cepat menuju kearah Padepokan", ujar si wanita muda berbadan kurus itu segera.
Anggrek Perak yang sedang asyik membaca lontar lontar mantra, segera menoleh kearah si wanita muda itu. Segera dia menyimpan lontar lontar itu pada lemari bajunya, dan segera mendekati si wanita muda itu.
"Kau segera ke tempat Guru, beritahukan masalah ini. Aku akan ke pintu gerbang sekarang", ujar Anggrek Perak yang segera menyambar pedang nya dan berlari menuju ke arah pintu gerbang, sementara si wanita muda itu segera menuju ke serambi utama Padepokan Anggrek Bulan untuk menemui guru besarnya.
Anggrek Perak segera melompat ke udara kemudian mendarat di menara pengawas disamping pintu gerbang Padepokan Anggrek Bulan.
Saat yang sama, Panji Watugunung dan rombongan nya sudah sampai di pintu gerbang Padepokan Anggrek Bulan.
Melihat pintu gerbang yang tertutup rapat, Panji Watugunung segera berteriak lantang.
"Kami murid murid Padepokan Padas Putih ingin bertemu dengan Dewi Anggrek Bulan".
Mendengar suara itu, Anggrek Perak segera melompat turun ke depan pintu gerbang.
"Siapa kau? Buka caping mu dan perlihatkan wajah mu", teriak Anggrek Perak sambil bersiap untuk bertarung. Tangan perempuan cantik itu sudah memegang gagang pedang nya.
Panji Watugunung segera membuka caping nya. Kemudian mendekatkan wajahnya pada obor yang di pegang pada tangan kirinya.
Anggrek Perak segera mengenali wajah Panji Watugunung.
"Pendekar Pedang Naga Api?
Apa benar ini kau?", tanya Anggrek Perak sambil tersenyum tipis.
"Benar ini aku Anggrek Perak. Aku ingin bertemu dengan Dewi Anggrek Bulan", jawab Watugunung seraya menatap ke arah Anggrek Perak.
Murid utama Padepokan Anggrek Bulan itu segera bersuit panjang.
Kriettttt
Pintu gerbang Padepokan Anggrek Bulan terbuka, dan rombongan Panji Watugunung segera masuk ke padepokan mengikuti langkah Anggrek Perak menuju ke serambi kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan.
Disana sudah menunggu Dewi Anggrek Bulan dengan ditemani Anggrek Emas dan 4 Dewi Pelindung Padepokan Anggrek Bulan.
__ADS_1
"Maaf mengganggu istirahat mu nenek", ujar Panji Watugunung segera setelah duduk bersila di lantai serambi.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Panji Watugunung kecuali Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Karena Dewi Anggrek Bulan terlihat seumuran dengan Panji Watugunung.
Hehehehe
Terdengar tawa dari mulut Dewi Anggrek Bulan.
"Kau sudah tahu rupanya, Bocah Bagus.
Apa Gunungsari yang memberi tahu mu?", ujar Dewi Anggrek Bulan dengan tersenyum tipis.
"Tunggu sebentar Guru,
Pendekar Pedang Naga Api ini cucu mu?", tanya Anggrek Emas yang penasaran.
"Benar dia cucuku, Anggrek Emas. Nenek nya adalah kakak ku, jadi dia termasuk cucuku bukan?", jawab Dewi Anggrek Bulan sambil tersenyum simpul.
"Tapi Guru, kenapa dia terlihat seumuran dengan mu?", tanya Anggrek Perak yang tak kalah penasaran nya.
"Sudah itu dibahas lain waktu saja.
Watugunung,
Ada urusan apa kau malam malam datang kemari?", tanya Dewi Anggrek Bulan segera.
Panji Watugunung segera menceritakan tentang berita yang di dengar dari Garungwangi pada Dewi Anggrek Bulan. Perempuan cantik itu langsung mengusap dagunya sambil manggut-manggut.
"Jadi tujuan mu kemari meminta bantuan kepada Padepokan Anggrek Bulan untuk bersiap menghadapi situasi yang akan terjadi di Padas Putih?", tanya Dewi Anggrek Bulan segera.
"Benar Nenek,
Hanya nenek harapan satu-satunya yang bisa aku mintai tolong untuk masalah ini. Kalau aku menggerakkan pasukan ku, maka pasti akan menjadi masalah besar antara Panjalu dan Jenggala", jawab Watugunung seraya menatap wajah perempuan itu.
Hemmmm
"Aku berhutang budi padamu, juga pada Si Tangan Api.
Baiklah kalau begitu.
4 Dewi Pelindung,
Ku serahkan kepada kalian Padepokan Anggrek Bulan selama aku membawa separuh murid Padepokan Anggrek Bulan ke Padas Putih. Jika ada masalah, Dewi Pelindung Timur yang memutuskan perkara.
Apa kalian mengerti?", Dewi Anggrek Bulan menatap ke arah 4 Dewi Pelindung Padepokan Anggrek Bulan.
"Kami mengerti pemimpin", ujar keempat wanita itu bersamaan.
Malam itu, Panji Watugunung dan rombongan nya beristirahat di Padepokan Anggrek Bulan.
Keesokan paginya, Dewi Anggrek Bulan ditemani Anggrek Emas dan Anggrek Perak membawa 50 murid pilihan menyertai rombongan Panji Watugunung menuju ke arah Padepokan Padas Putih.
Nun jauh di timur, 200 orang berpakaian pendekar dengan aneka pakaian dan senjata bergerak menuju Padepokan Padas Putih.
Iblis Abu-abu menyeringai lebar saat menoleh ke arah ratusan pendekar golongan hitam itu.
"Padas Putih,
Lusa kalian akan rata dengan tanah!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏😁🙏🙏
__ADS_1