
"Disini tidak ada orang yang membunuh Wikalpa, wahai pertapa tua", ujar Senopati Maitreya dengan tatapan mata tajam.
"Kau berusaha menyembunyikan pelakunya. Cepat katakan pada ku, siapa yang membunuh Wikalpa juga orang yang menghabiskan nyawa Adipati Danaraja?
Jujur lah, aku Wong Agung Welirang tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah", tanya Resi Wanamarta seraya menatap ke arah Senopati Maitreya dengan tajam.
Mendengar nama Wong Agung Welirang, para punggawa Kadipaten Matahun terkejut bukan main karena nama itu adalah julukan pendekar dengan kemampuan beladiri puncak di wilayah Jenggala. Tapi Senopati Maitreya yang tidak mengetahui nya tidak ambil pusing dengan perkataan orang tua itu.
"Apa kau pikir aku takut dengan ancaman mu, pertapa tua?
Aku Maitreya,
Hanya takut pada Dewa dan Maharaja Panjalu", ucap Senopati Maitreya dengan lantang.
"Hemmmm..
Jadi kau melindungi orang yang telah membunuh Wikalpa dan Adipati Danaraja. Baiklah, jangan salahkan aku jika bertindak kejam untuk memaksa mu", Resi Wanamarta begitu selesai berbicara, langsung melesat cepat kearah Senopati Maitreya.
Tangan kanannya yang kurus karena usia namun terlihat berotot langsung menghantam ke arah Senopati Maitreya.
Whhhuuuggghhhh..
Mendapat serangan itu, Senopati Maitreya dengan cepat berkelit ke samping kanan kemudian mengayunkan tangan kanannya yang di lambari tenaga dalam nya mengarah ke rusuk Resi Wanamarta.
Namun gelar pendekar nomor satu di Jenggala, bukan omong kosong belaka.
Resi Wanamarta segera menyongsong serangan itu dengan tapak tangan kirinya
Blarrrr!!
Terdengar suara ledakan saat dua pukulan bertenaga dalam itu berbenturan. Resi Wanamarta terdorong mundur dua langkah kebelakang namun Senopati Maitreya terdorong lebih dari dua tombak ke belakang. Tangan kanannya terasa kebas dan ngilu pertanda tenaga dalam nya jauh di bawah Resi Wanamarta.
'Pertapa tua itu rupanya bukan orang tua biasa. Aku tidak boleh gegabah', batin Senopati Maitreya yang segera merubah gerakan kuda-kuda ilmu silatnya.
Dengan mengandalkan ilmu Pedang Birunya, Senopati Maitreya segera mencabut pedangnya. Kedua jari tangan kiri nya segera bersinar biru usai dia memusatkan tenaga dalam nya pada jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri nya.
Melihat itu, Tumenggung Wiguna segera mundur karena khawatir dengan keselamatan dirinya. Para punggawa Kadipaten Matahun juga memberikan ruang bagi pertarungan antara Resi Wanamarta dan Senopati Maitreya.
Senopati Maitreya dengan cepat melompat tinggi ke udara ke arah Resi Wanamarta yang juga telah bersiap. Senopati Daha itu segera menebaskan pedangnya yang berwarna biru. Sinar biru setipis bilah pedang menerabas cepat kearah Resi Wanamarta mengancam nyawa Sang Wong Agung Welirang.
Whuuussshh..
Kakek tua itu segera menjejak tanah menghindari sinar biru itu lalu melenting tinggi sambil menghantamkan kedua tangan nya kearah Senopati Maitreya.
Whuuuuttt..
Angin dingin tenaga dalam menderu kencang kearah Senopati Maitreya yang baru saja melancarkan serangannya. Dengan cepat, Senopati Daha itu segera merubah gerakan tubuhnya dan memutar Pedang Biru untuk menghalau serangan angin dingin yang membekukan itu.
Namun Senopati Maitreya yang sibuk memutar pedangnya tidak melihat saat Resi Wanamarta meluncur cepat kearah sambil melayangkan pukulan keras kearah Pedang Biru yang ada di tangan Senopati Maitreya.
Whuuuggghhh..
Blaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar dari benturan Pedang Biru dan pukulan Resi Wanamarta. Tubuh Senopati Maitreya terlempar jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Meski perwira tinggi prajurit Daha itu berusaha untuk cepat bangkit, tapi dia muntah darah segar akibat luka dalam yang cukup serius. Senopati Maitreya langsung jatuh terduduk sambil menatap ke arah Resi Wanamarta. Darah segar terus mengalir dari sudut bibir lelaki bertubuh tegap itu.
Melihat itu, Tumenggung Wiguna segera mendekati Senopati Maitreya. Melihat luka dalam sang pemimpin, Tumenggung Wiguna buru-buru mencabut pedangnya dan mengacungkannya ke arah Resi Wanamarta yang berjalan mendekati Senopati Maitreya.
"Apa kau juga mau melawan ku?", tanya Wong Agung Welirang sambil terus melangkah ke arah Senopati Maitreya yang masih terduduk di tanah.
"Jangan kau kira aku takut melawan mu, pertapa tua!
Lebih baik mati daripada harus kehilangan harga diri", ujar Tumenggung Wiguna dengan cepat.
"Ta-tahan amarah mu, Wiguna.
Aku saja yang menghadapi nya", ucap Senopati Maitreya dengan terbata karena dadanya sangat sesak.
"Para prajurit Panjalu memang luar biasa. Aku kagum pada keberanian kalian.
Dengar,
Aku tidak ingin bertarung melawan kalian. Aku hanya ingin tau dimana orang yang membunuh Wikalpa. Kalian saja yang mempersulit ku", ucap Resi Wanamarta begitu dia dekat dengan Senopati Maitreya dan Tumenggung Wiguna.
Baik Senopati Maitreya maupun Tumenggung Wiguna diam seribu bahasa.
Sedangkan Patih Rakryan Saka yang berdiri tak jauh dari tempat itu segera mendekati mereka.
"Maaf jika aku lancang, Wong Agung Welirang.
Gusti Adipati Danaraja maupun Pendekar Pisau Dewa Terbang terbunuh dalam pertarungan yang adil dengan Gusti Pangeran Jayengrana dari Kadiri. Namun Gusti Pangeran Jayengrana sekarang tidak ada di Matahun, dia telah pergi ke arah Istana Kahuripan bersama para prajurit Panjalu.
Mohon Wong Agung Welirang bijaksana dalam mengambil keputusan", ujar Patih Rakryan Saka yang membuat Senopati Maitreya dan Tumenggung Wiguna memendam amarah nya, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Resi Wanamarta mengangguk perlahan mendengar ucapan Patih Rakryan Saka.
"Terimakasih atas kejujuran mu, punggawa.
Aku mohon pamit", ucap Resi Wanamarta alias Wong Agung Welirang seraya mengangguk perlahan. Mulut Resi Wanamarta segera berkomat kamit membaca sebuah mantra kemudian Resi yang berjuluk Wong Agung Welirang itu segera menjejak tanah lalu melayang bagai terbang melesat kearah timur. Semua orang langsung terpana melihat kemampuan ilmu meringankan tubuh dari Resi terkenal itu.
Senopati Maitreya segera menata nafas nya untuk menata tenaga dalam nya, sementara itu Tumenggung Wiguna buru-buru menyalurkan tenaga dalam nya pada Senopati Panjalu itu segera.
Sementara itu Resi Wanamarta terus melesat cepat kearah timur untuk menyusul Panji Watugunung yang bergerak dalam barisan pasukan Panjalu.
Pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung terus bergerak menuju ke arah Kota Kahuripan. Jumlah besar mereka menebar ketakutan pada setiap warga di jalan yang mereka lewati.
Saat mereka hampir sampai di dekat Hutan Marsma, seseorang yang melayang di udara membuat langkah para prajurit Panjalu terhenti. Seorang diri lelaki tua berjenggot putih itu menghadang laju pergerakan prajurit Panjalu.
__ADS_1
Panji Watugunung yang menyadari bahwa ada sebuah tenaga dalam besar tengah menanti di depan segera mengangkat tangan kanannya. Sang prajurit peniup terompet tanduk kerbau yang ada di sebelah kiri Panji Watugunung dengan cepat meniup terompet nya.
Thuuuuuuuuutttttthhhh...
Senopati Ringkasamba yang memimpin pasukan Panjalu di depan, menatap tajam ke arah kakek tua berpakaian pertapa yang berjalan perlahan mendekati pasukan Panjalu.
"Aku ingin bertemu dengan Pangeran Jayengrana.
Mana orang nya?", tanya Resi Wanamarta begitu dia dekat dengan Senopati Ringkasamba.
"Kurang ajar sekali mulutmu, hai pertapa tua.
Dia adalah junjungan kami. Mana sopan santun mu sebagai Agamawan?", hardik Senopati Ringkasamba dengan geram.
"Aku tidak ada urusan dengan mu, perwira.
Menyingkirlah,
Atau aku akan memaksamu", ujar Resi Wanamarta dengan nada dingin.
Mendengar ucapan itu, Senopati Ringkasamba langsung marah. Perwira tinggi prajurit Daha dari Kurawan itu segera mencabut pedangnya dan melompat dari atas kuda nya dengan memijak pelana kuda. Tubuh Senopati Ringkasamba melenting tinggi ke udara dan dengan cepat menebaskan pedangnya kearah Resi Wanamarta.
Kakek tua itu segera mengibaskan tangan kanannya.
Whuuuggghhh..!!
Angin dingin bertenaga dalam tinggi menyapu cepat kearah Senopati Ringkasamba. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu terkejut bukan main melihat hempasan angin kencang. Dia berusaha menembus hempasan angin dingin tenaga dalam itu namun tetap tidak mampu.
Tubuh Senopati Ringkasamba terlempar jauh ke belakang. Saat hendak menabrak seorang prajurit Panjalu, sebuah bayangan berkelebat cepat menangkap tubuh Senopati Ringkasamba.
Whuuuuttt..
Taphhh taphhh..
Bayangan itu segera menurunkan tubuh Senopati Ringkasamba. Perwira dari Kurawan itu segera menoleh ke arah orang yang membantu nya. Dan ternyata ia adalah Panji Watugunung yang baru melesat cepat begitu melihat Senopati Ringkasamba terpental.
"Terimakasih atas bantuannya Gusti Pangeran,
Mohon maaf jika hamba merepotkan", ujar Senopati Ringkasamba dengan penuh hormat.
"Tidak apa-apa, Senopati.
Dia mencari aku, bukankah lebih baik jika aku sendiri yang menghadapi nya?", Panji Watugunung tersenyum penuh arti. Perlahan Panji Watugunung melangkah maju ke arah Resi Wanamarta.
Begitu mereka berhadapan, Panji Watugunung segera menatap ke arah kakek tua itu karena merasa tidak bermusuhan sebelumnya.
"Mohon maaf atas kelancangan orang orang ku, wahai pertapa sepuh.
Perkenalkan nama mu terlebih dulu", ucap Panji Watugunung dengan sopan.
"Apa kau yang bernama Pangeran Jayengrana?
"Benar,
Aku adalah Pangeran Jayengrana. Ada perlu apa sampai pendekar pertapa besar seperti mu mencari ku?", tanya Panji Watugunung dengan sedikit keheranan karena dia tidak tahu sama sekali tentang hubungan Resi Wanamarta dengan Adipati Danaraja dan Wikalpa.
"Aku adalah kakak seperguruan Adipati Danaraja dan Wikalpa.
Aku kemari ingin menuntut balas atas kematian kematian mereka berdua", jawab Resi Wanamarta dengan nada menantang.
Panji Watugunung segera tersenyum
Yuwaraja Panjalu itu segera menoleh ke arah para prajurit Panjalu yang ada di belakang nya.
"Kalian semua dengar..
Dia ingin menuntut balas atas kematian Adipati Danaraja dan Wikalpa. Sebagai peraturan di dunia persilatan, jangan sampai ada yang berbuat curang bila aku kalah.
Kalian mengerti?", perintah Panji Watugunung yang segera membuat para prajurit Panjalu mengangguk. Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera menoleh ke arah Resi Wanamarta.
"Mereka tidak akan menggangu kita, Resi.
Silahkan dimulai", ucap Panji Watugunung segera.
Resi Wanamarta segera memutar kedua telapak tangannya dan menghantamkan nya ke depan. Angin kencang berhawa dingin langsung menerjang maju ke arah Panji Watugunung. Dia tidak mau membuang waktu percuma karena orang yang berhasil menghabisi nyawa Adipati Danaraja dan Wikalpa pasti orang yang berilmu tinggi.
Whuuussshh...
Panji Watugunung dengan cepat memutar kaki kanan nya dan dihujamkan ke tanah dengan keras. Seketika dia menarik kedua tangan nya kesamping pinggang dan dengan cepat ia hantamkan ke depan. Angin panas menyengat segera melesat cepat menyongsong serangan Resi Wanamarta.
Shiiiuuuuuuutttt..
Blaaammmmmmmm!!!
Resi Wanamarta terdorong dua langkah kebelakang setelah ledakan keras terjadi saat dua angin berbeda unsur itu beradu. Sedangkan Panji Watugunung sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Hemmmmmmm..
Pantas saja Adipati Danaraja dan Wikalpa tidak berdaya menghadapi mu, Pangeran Jayengrana.
Kau hebat juga ternyata", ucap Resi Wanamarta segera usai menata nafas nya.
"Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai ksatria Panjalu, Resi.
Tidak ada yang bisa aku banggakan", ujar Panji Watugunung dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
"Bagus, kau rendah hati juga rupanya.
__ADS_1
Akan ku coba sejauh mana kemampuan mu", usai berkata demikian, Resi Wanamarta segera melesat cepat kearah Panji Watugunung. Yuwaraja Panjalu itu segera merapal Ajian Sepi Angin.
Kecepatan luar biasa dari Resi Wanamarta saat melayangkan pukulan ke arah dada Panji Watugunung dengan mudah di hindari.
Whuuuuttt..
Melihat serangan nya mentah, Resi Wanamarta segera memutar tubuhnya dan dengan cepat menyapu kaki Panji Watugunung yang segera memusatkan tenaga dalam pada kaki.
Brakkkk
Benturan keras tulang kaki terdengar, Resi Wanamarta segera menghantamkan tangan kanannya ke perut Panji Watugunung. Yuwaraja Panjalu itu segera merubah gerakan tubuhnya, menghindari serangan Resi Wanamarta lalu segera menyikut punggung Wong Agung Welirang itu.
Melihat itu, Resi Wanamarta segera menjejak tanah dengan keras dengan memanfaatkan serangan itu untuk melenting tinggi ke udara sambil menghantamkan tangan kanannya ke kepala Panji Watugunung.
Putra Bupati Gelang-gelang itu dengan cepat menyambut serangan Resi Wanamarta dengan tangan kanan nya.
Blaaammmmmmmm!!
Panji Watugunung terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Resi Wanamarta mendarat sejauh dua tombak dari Panji Watugunung.
Semua orang menahan nafas melihat pertarungan antara.
Tangan Resi Wanamarta segera bersedekap di depan dada.
Clinggggg!!
Di tangan kanannya muncul sebuah tombak bermata runcing berwarna keemasan dengan gagang terbuat dari besi yang berwarna keperakan. Hawa sejuk langsung menyeruak di sekitar tempat itu. Itulah Tombak Kahyangan, salah satu dari tujuh pusaka dunia persilatan di tanah Jawa.
Melihat lawan memakai senjata pusaka, Panji Watugunung segera meraih gagang pedang yang ada di punggungnya. Perlahan hawa panas menyengat segera melingkupi tempat itu, berbenturan dengan hawa dingin dari Tombak Kahyangan.
Resi Wanamarta terkejut melihat Pedang Naga Api di tangan Panji Watugunung.
"Jadi kau adalah murid dari Si Tangan Api rupanya.
Bagus,
Tidak sia-sia aku mengadu ilmu beladiri dengan mu", ucap Resi Wanamarta yang segera memutar Tombak Kahyangan di tangan kanannya.
Panji Watugunung tidak menjawab namun merapal mantra Ajian Tameng Waja ajaran Mpu Narasima. Perlahan sinar kuning keemasan langsung melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung.
Resi Wanamarta segera melesat cepat kearah Panji Watugunung yang telah bersiaga menanti kedatangan serangan Wong Agung Welirang.
Dengan cepat Wong Agung Welirang mengayunkan Tombak Kahyangan ke arah kepala Panji Watugunung. Namun Pedang Naga Api di tangan kanan Panji Watugunung segera menangkis dengan cepat.
Thrrraaannnnggggg!!
Dhuuuaaaaarrrrrr!!
Panji Watugunung terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Resi Wanamarta terlempar sejauh dua tombak saat benturan dua senjata pusaka itu terjadi. Sebelum jatuh, Resi Wanamarta segera memutar gagang tombaknya yang dengan cepat menghentikan laju gerakan tubuhnya.
Usai berhasil membuat gerakan tubuhnya terhenti, Resi Wanamarta segera melesat cepat kearah Panji Watugunung dengan menusukkan tombaknya kearah dada sang Yuwaraja Panjalu.
Panji Watugunung dengan cepat memutar tubuhnya dan segera membabatkan Pedang Naga Api ke arah mata Tombak Kahyangan.
Tringgggg...
Blaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat kembali terdengar, namun Resi Wanamarta yang telah mempersiapkan diri dengan cepat memutar tubuhnya di udara melewati Panji Watugunung dan segera menghantamkan tangan kanannya yang sudah berubah warna menjadi merah menyala ke arah punggung Panji Watugunung yang sudah berubah warna menjadi kuning keemasan.
Whuuussshh..
Dhuuuaaaaarrrrrr!!!
Ledakan keras yang memekakkan telinga terdengar pada saat tangan kanan Resi Wanamarta menghajar punggung Panji Watugunung dengan telak. Senyum tipis terukir di wajah Resi Wanamarta saat melihat asap tebal menutupi tubuh Panji Watugunung. Dia segera berkata dengan nada sedikit meremehkan.
"Ternyata kau tak sehebat yang aku bayangkan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏