Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pedang Naga Api Melawan Gada Wesi Kuning


__ADS_3

Dyah Bayunata yang melihat perkembangan keadaan pasukan Jenggala mulai merasa khawatir, segera mendekati Mapanji Garasakan yang masih diatas kereta perang nya. Dengan wajah sedikit pucat dia berkata dengan penuh kegugupan.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Pasukan kita terdesak oleh para prajurit Panjalu. Sebaiknya kita segera mundur. Hamba khawatir jika pasukan kita terus bertahan, takut nya kita akan kalah", ujar Mapatih Jenggala, Dyah Bayunata sambil menghormat pada Raja Jenggala itu.


Mapanji Garasakan tidak segera menjawab ucapan Sang Mapatih Jenggala, namun segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya. Benar saja, para prajurit Jenggala mulai terlihat keteteran meladeni gempuran bertubi-tubi dari para prajurit Panjalu.


Sebagai seorang raja, dia tidak menerima dengan kekalahan para prajurit nya, namun di sisi lain memang terlihat bahwa pertempuran berjalan berat sebelah.


Hemmmmmmm


Mapanji Garasakan menghembuskan nafas panjang dengan kesal.


"Paman Bayunata,


Apa kau sudah mendengar kabar pasukan yang di pimpin oleh Samarotsaha?", tanya Mapanji Garasakan sambil menatap ke arah Dyah Bayunata.


"Belum ada Gusti Prabu,


Hamba khawatir jika mereka telah di kalahkan oleh para prajurit Panjalu. Sebab jika menilik waktu mereka, seharusnya mereka telah membuat sisi belakang pasukan Panjalu berantakan. Namun hingga saat ini, pasukan Panjalu tetap saja tidak terlihat kacau", ucap Dyah Bayunata sambil menghormat pada Mapanji Garasakan.


Sejenak Mapanji Garasakan mencerna ucapan Sang Mapatih Jenggala. Maharaja Jenggala itu terlihat berfikir keras. Setelah beberapa saat lamanya berfikir, Mapanji Garasakan menggeram kesal. Kemudian pria paruh baya itu segera menoleh ke arah Dyah Bayunata.


"Baiklah Paman Mapatih,


Kita mundur", titah Raja Jenggala itu dengan raut muka kesal.


Mapatih Jenggala, Dyah Bayunata segera mengangkat tangan kanannya. Seorang prajurit Jenggala yang bertugas meniup terompet tanduk kerbau, yang melihat isyarat dari Mapatih Dyah Bayunata segera meniup terompet nya dengan cepat.


Thhhuuuuuttttttthhh...


Thuuuuuuuuutttttthhhh!!


Para prajurit Jenggala yang tengah bertarung melawan para prajurit Panjalu segera berkumpul di tengah begitu mendengar terompet tanduk kerbau di bunyikan.


Kekuatan para prajurit Jenggala menjadi terkumpul di tengah. Perlahan mereka mulai bergerak menuju ke arah hutan Marsma yang lebat setelah melihat sang pemimpin tertinggi pasukan Jenggala, menggebrak kereta perang nya menuju kearah timur.


Panji Watugunung yang melihat perubahan pertempuran rupanya tidak mau membiarkan mereka mundur dari medan tempur begitu saja.


"Senopati Narapraja,


Kakang Warigalit...


Pimpin pasukan kita. Kejar mereka, jangan sampai lolos", perintah Panji Watugunung yang segera membuat kedua petinggi pasukan Panjalu itu segera mengangguk mengerti. Mereka berdua dengan cepat memimpin pasukan yang ada di bawah perintah mereka masing-masing untuk memburu para prajurit Jenggala yang bergerak menuju ke arah timur hutan Marsma.


Panji Watugunung dan keempat istri nya segera memacu kuda tunggangan mereka bergerak memutari hutan Marsma dengan di kawal para prajurit dari Pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Jarasanda.


"Bangsat!


Mereka tidak membiarkan kita lolos dengan mudah.


Wahana dan kau Wastra,


Hadang mereka jangan sampai mereka bisa menyusul kami", perintah Dyah Bayunata pada dua perwira tinggi prajurit Jenggala yang ada di dekat nya.


Kedua orang perwira prajurit Jenggala itu saling berpandangan sejenak. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan di jadikan sebagai tumbal pelarian Mapatih Bayunata dan Maharaja Garasakan. Tapi sebagai ksatria, mereka pantang untuk menolak perintah dari junjungan nya. Keduanya segera mengangguk mengerti dan dengan cepat menarik tali kekang kudanya. Kuda meringkik keras sebelum akhirnya berhenti.


Para prajurit bawahan Tumenggung Wahana dan Demung Wastra segera menghentikan langkah mereka begitu melihat pemimpin mereka menghentikan laju kuda mereka masing-masing.


"Ada apa Gusti Tumenggung?


Kenapa kita berhenti?", tanya seorang prajurit Jenggala yang ada di depan Tumenggung Wahana.


"Kita akan menghadapi prajurit Daha itu di sini. Cegat mereka agar mereka tidak bisa mendekati Gusti Prabu Garasakan", jawab Tumenggung Wahana sambil menatap tajam ke ribuan prajurit Panjalu yang bergerak menuju mereka.


"Tapi kita tidak mungkin bisa mengalahkan mereka, Gusti Tumenggung.


Jumlah pasukan Daha terlalu ba....", belum sempat si prajurit menyelesaikan omongannya, sebuah pedang berkelebat cepat kearah leher si prajurit Jenggala.


Chrraaasssshhh...


AAAARRRGGGHHHH!!!


Si prajurit Jenggala itu menjerit keras saat pedang Tumenggung Wahana menebas leher nya. Dia tewas di tangan pemimpin nya sendiri.


"Barangsiapa berani mencoba untuk melarikan diri dari medan perang ini,


Nyawanya tidak pantas untuk digunakan. Kita adalah ksatria Jenggala. Menjadi pembela Kahuripan adalah tugas kita walaupun nyawa kita menjadi taruhannya.


Apa kalian mengerti?", teriak Tumenggung Wahana sambil menatap wajah para bawahan nya.


"Kami mengerti Gusti Tumenggung", ucap para prajurit Jenggala bersamaan.


"Bagus,


Sekarang ayo kita bantai pasukan Panjalu!", teriak Tumenggung Wahana sambil mengangkat pedang nya tinggi ke udara.


Sorak sorai para prajurit Jenggala terdengar riuh rendah. Mereka segera bergegas membentuk benteng pertahanan pasukan dari serbuan para prajurit Panjalu.

__ADS_1


Dengan jumlah prajurit sebesar 5 ribu prajurit, mereka menghadang laju pergerakan prajurit Panjalu yang berjumlah sekitar 8 ribu prajurit yang dipimpin oleh Senopati Narapraja dan Warigalit.


Perang tak berimbang segera pecah di tengah Hutan Marsma.


Sedangkan 3 ribu prajurit Jenggala sisanya mengawal Mapanji Garasakan dan Dyah Bayunata yang mundur ke arah timur.


Dyah Bayunata terus menerus menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada prajurit Panjalu yang mengejar. Ada sedikit kelegaan di wajah sepuh Mapatih Jenggala itu.


Wajahnya semakin cerah saat melihat mereka terlihat berhasil meloloskan diri. Saat pasukan Jenggala yang dipimpin nya berhasil keluar dari Hutan Marsma, senyum tipis di wajah sepuh Dyah Bayunata segera menghilang.


Di Padang rumput di timur Hutan Marsma, telah menunggu Panji Watugunung dan para pengikutnya. Mereka memang berhasil memotong jalan melewati sungai di selatan hutan itu.


Mapanji Garasakan merasa kaget sekaligus marah melihat Panji Watugunung. Dia yang sedari tadi hanya menahan marah karena merasa di rendahkan martabat nya oleh Panji Watugunung, kini mendelik tajam ke arah Panji Watugunung.


"Bocah edan!


Rupanya kau benar-benar ingin menantang ku", teriak Mapanji Garasakan dengan keras.


"Sudah tidak ada jalan lain, Gusti Prabu.


Menyerahlah. Kau tidak akan bisa lolos dari kepungan kami", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Kauuu....", Mapanji Garasakan menunjuk ke arah Panji Watugunung dengan tangan gemetar. Dia benar-benar murka.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Biarkan hamba yang maju lebih dulu", ucap Dyah Bayunata dengan cepat. Segera dia menggebrak kudanya menuju ke arah Panji Watugunung. Melihat itu, para prajurit Jenggala segera mengikuti langkah sang Mapatih. Perang segera terjadi di timur Hutan Marsma.


Dyah Bayunata segera menggebrak punggung kudanya agar dia bisa melenting tinggi ke udara. Dia bermaksud untuk menyerang Panji Watugunung.


Melihat bahaya mengancam nyawa suami nya, Ratna Pitaloka segera mencabut Pedang Bulan Kembar nya dan melompat tinggi ke udara menyongsong serangan Dyah Bayunata.


Thriiiinnngggggg!!


Terdengar suara nyaring saat dua senjata Ratna Pitaloka dan Dyah Bayunata beradu. Kedua orang itu segera turun ke tanah dan dengan cepat menyabetkan senjata mereka masing-masing.


Thriiiinnngggggg thriiiinnngggggg!!


Bunyi nyaring terus menerus terdengar dari benturan dua senjata pusaka mereka. Meski Dyah Bayunata sudah berumur, namun gerakan warangka praja Jenggala itu masih cepat dan berbahaya. Untung saja yang menghadapi nya adalah seorang pendekar wanita pilih tanding.


Pertarungan antara mereka berlangsung sengit.


Melihat Dyah Bayunata tidak bisa mendekati Panji Watugunung, Mapanji Garasakan perlahan menarik sebuah gada tanggung samping kereta perang nya.


Sebuah pusaka berbentuk gada persegi delapan dengan warna kuning keemasan terlihat berkilat di timpa sinar matahari. Itulah Gada Wesi Kuning yang merupakan salah satu dari tujuh pusaka dunia persilatan. Rupanya pusaka itu selama ini berada di tangan Mapanji Garasakan.


Whhhuuuuuttttthhhh


Seberkas sinar kuning di sertai gelombang tenaga yang luar biasa bergerak cepat kearah mereka.


Panji Watugunung yang melihat itu, dengan cepat mencabut Pedang Naga Api yang ada di punggungnya. Kemudian Yuwaraja Panjalu itu segera melesat cepat kearah pertarungan antara Dyah Bayunata dan Ratna Pitaloka sambil mengayunkan pedangnya kearah sinar kuning yang mengancam nyawa Ratna Pitaloka.


Whhhuuuggghhhh


Sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah sinar kuning dari Gada Wesi Kuning.


Dhuuuaaaaarrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terdengar dari benturan dua kekuatan senjata pusaka dunia persilatan itu yang menciptakan gelombang kejut kuat yang menyebar ke segala arah.


Para prajurit Jenggala dan Panjalu yang naas langsung tewas setelah terkena gelombang kejut yang menakutkan itu. Panji Watugunung yang segera bergerak cepat kearah Ratna Pitaloka, langsung menyambar tubuh selir tertua nya itu menghindari gelombang kejut.


Hampir sepuluh tombak jauhnya lompatan Panji Watugunung menghindari gelombang kejut yang membuat puluhan prajurit Jenggala dan Panjalu tewas dengan dada remuk dan muntah darah.


Dengan gagah, Mapanji Garasakan menggenggam gagang Gada Wesi Kuning di tangan kanannya dan memanggul senjata pusaka itu di pundak kanan nya. Mata Maharaja Jenggala itu menatap tajam kearah Panji Watugunung yang tegak berdiri tak jauh dari tempat nya berdiri.


"Bocah edan,


Sedari tadi aku sudah lama memendam amarah karna kau rendahkan. Ayo kita mengadu nyawa.


Kita buktikan ilmu kanuragan siapa yang lebih tangguh.


Majulah!", teriak Mapanji Garasakan sambil mendelik tajam ke arah Panji Watugunung.


"Rupanya Gusti Maharaja tidak memberikan kesempatan kepada ku untuk bersikap baik.


Baik Gusti Maharaja,


Akan ku penuhi permintaan mu", ujar Panji Watugunung yang segera mempersiapkan diri sebaik mungkin.


Mendengar ucapan itu, Mapanji Garasakan menggeram keras kemudian melesat cepat kearah Panji Watugunung yang sudah bersiap siap. Dengan menjejak kereta perang yang di naiki nya, Penguasa Jenggala itu melesat cepat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Tangan kekar pria paruh baya itu mengayunkan Gada Wesi Kuning kearah kepala Panji Watugunung.


Whhhuuuggghhhh...!!


Panji Watugunung segera memutar Pedang Naga Api di tangan kanannya dan menangkis gebukan Gada Wesi Kuning.


Thrrraaannnnggggg!!


Bunyi nyaring terdengar saat dua senjata pusaka itu beradu. Melihat lawan bisa menangkis gebukan Gada Wesi Kuning, Mapanji Garasakan yang baru saja menjejak tanah langsung merubah gerakan tubuhnya sambil kembali mengayunkan senjata pusaka nya.

__ADS_1


Panji Watugunung yang cekatan, dengan cepat meladeni permainan gada dari Sang Penguasa Jenggala. Pertarungan sengit antara mereka membuat para prajurit Panjalu dan Jenggala memilih menjauhi arena pertarungan karena tidak mau menjadi korban serangan nyasar.


Di lain sisi, para istri Panji Watugunung bertarung dengan lincah membantu para prajurit Panjalu yang memang sudah di atas angin. Darah segar mengalir dari mayat mayat prajurit Jenggala dan Panjalu yang tewas pada pertarungan di timur Hutan Marsma. Mayat mayat bergelimpangan dimana-mana.


Mapanji Garasakan yang sesekali melirik kearah para prajurit Jenggala yang semakin terdesak, mulai berpikir untuk mempercepat pertarungan nya dengan Panji Watugunung.


Dengan cepat, Mapanji Garasakan mengayunkan Gada Wesi Kuning kearah kaki Panji Watugunung yang baru saja menjejak tanah usai menghindari gebukan yang mengarah pada perutnya.


Namun Panji Watugunung yang waspada dengan cepat, membabatkan Pedang Naga Api untuk menangkis gebukan Gada Wesi dari Mapanji Garasakan.


Thrrriiinnnggggg!!


Mapanji Garasakan segera melompat mundur beberapa tombak ke belakang usai serangan nya di tangkis dengan baik oleh Panji Watugunung.


'Bocah edan ini rupanya sakti mandraguna. Tapi aku tidak akan kalah melawan bocah kemarin sore ini', batin Mapanji Garasakan sambil menggerakkan tangan kiri ke depan dada.


Rupanya dia ingin mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya. Dengan ilmu puncak Ajian Dewa Surya, tangan kiri nya perlahan diselimuti oleh sinar terang merah kekuningan yang berhawa panas.


Usai berhasil merapal Ajian Dewa Surya, Mapanji Garasakan segera melesat cepat bagai kilat kearah Panji Watugunung yang baru saja terdorong mundur beberapa tombak usai benturan keras antara Gada Wesi Kuning dan Pedang Naga Api.


Ayunan Gada Wesi Kuning yang mengarah pada kepalanya, membuat Yuwaraja Panjalu itu segera menangkis dengan Pedang Naga Api.


Thriiiinnngggggg!


Namun serangan itu hanya siasat agar pertahanan kiri Panji Watugunung terbuka. Tangan kiri Mapanji Garasakan dengan cepat menghantam dada kiri Panji Watugunung.


Blammmmm!!!


Auuuggghhhhh!!


Tubuh Panji Watugunung terlempar jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Yuwaraja Panjalu itu muntah darah kehitaman pertanda bahwa dia menderita luka dalam.


Melihat itu, Mapanji Garasakan menyeringai lebar.


Namun seringai itu tidak bertahan lama setelah Panji Watugunung segera berdiri usai menotok jalan darah di dada kiri nya. Dengan geram Panji Watugunung segera mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Segera Panji Watugunung menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan tangan kanan tetap memegang Pedang Naga Api. Aura kuning keemasan pertanda Ajian Tameng Waja sudah dia rapalkan muncul menyelimuti tubuh sang Pangeran Daha.


Melihat itu, raut wajah Mapanji Garasakan terkejut bukan main.


"Dari mana kau dapat ilmu itu, Bocah edan?", tanya Mapanji Garasakan yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.


Panji Watugunung tersenyum dingin. Dengan sedikit keras dia berkata,


"Darimana aku dapat ilmu ini, itu bukan urusan mu Gusti Maharaja..


Sekarang bersiaplah,


Aku tidak akan main main lagi!!".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai sobat semua,


Maaf jika update episode nya lama banget, dikarenakan karena author baru saja sakit dan di tambah alat media penulisan nya bermasalah.


Mohon maaf untuk semua keterlambatan nya.


Yang masih setia menanti kelanjutan cerita ini, author mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

__ADS_1


__ADS_2